
Pagi hari di kediaman Marvin dan Nada . Awalnya semua tampak biasa saja . Tapi ketika bangun Nada merasakan mual di perutnya hingga membuatnya untuk terus ke kamar mandi , untuk membuang isi dalam perutnya .
" Hoek hoek hoek "
" Kamu kenapa sakit ?" tanya Marvin yang mengikuti Nada ke kamar mandi .
Marvin juga memberikan pijitan di tengkuk Nada .
" Aku tidak tahu " jawab Nada
" Hanya saja perutku rasanya tidak nyaman . Dan kepala ku sedikit pusing " jawab Nada .
" Kita ke dokter sekarang " ucap Marvin panik .
" Tidak usah . Biasanya kalau masuk angin aku juga seperti ini . Setelah aku tidur nanti juga sembuh " ucap Nada .
" Baiklah . Aku akan buatkan teh panas dulu "
Marvin segera turun ke lantai satu untuk membuatkan teh istrinya .
Selama satu minggu di rumah baru mereka segala perlengkapan sudah terisi . Marvin juga mempekerjakan 5 art untuk mengurus rumahnya dan 2 tukang kebun . Semua itu Marvin lakukan supaya Nada tidak mengurus rumahnya dan membuatnya lelah . Mereka berdua sedang menyiapkan untuk memiliki seorang anak .
" Ada apa Tuan ? Ada yang bisa saya bantu ?" tanya salah satu art yang bernama bi Ijah .
" Tidak usah bi . Biar saya saja " jawab Marvin tanpa menatap bi Ijah . Pikirannya saat ini hanya tentang istrinya .
" Baiklah Tuan kalau begitu saya permisi " pamit bi Ijah .
Marvin hanya menganggukkan kepalanya .
Setelah itu Marvin segera beranjak menuju kamar di mana istrinya berada . Di dalam kamar Nada masih bolak balik kamar mandi karena perutnya yang terasa di aduk .
" Apa masih mual ?" tanya Marvin .
__ADS_1
" Ya " jawab Nada dengan lemas .
Nada menyandarkan tubuhnya di pinggiran kasur empuknya .
" Ini minum dulu teh nya " ucap Marvin .
" Hari ini aku tidak ke kantor . Biar Bram yang mengurusnya " ucap Marvin .
" Aku tidak apa . Aku hanya masuk angin . Nanti juga sembuh kok " ucap Nada .
" Tidak . Aku mau di rumah saja " kekeh Marvin .
" Baiklah terserah . Apa kalian sudah baikan ?" tanya Nada .
" Aku hanya memberinya pelajaran . Biar tidak seenaknya sendiri " ucap Marvin .
" Tapi dia hanya bercanda " ucap Nada .
" Tapi aku bos nya " ucap Marvin tak mau kalah .
" Hahahaha " tawa Marvin gemas melihat tingkah istrinya .
Marvin lalu mengacak acak rambut istrinya dengan gemas .
Nada sempat terpana dengan tawa sang suami yang jarang dia lihat . Tampan nya bertambah berkali kali lipat begitulah kira kira .
" Apa aku tampan ?" goda Marvin .
" Kamu terlalu percaya diri pak " elak Nada lalu meminum tehnya .
" aww panas " ucap Nada .
" Hati hati tidak usah gugup . Di tunggu pria tampan jadi gugup " ucap Marvin lalu mencium bibir Nada untuk menghilangkan rasa pedih akibat teh panas .
__ADS_1
" Sudah sembuh ?" tanya Marvin setelah melepaskan pangutan bibirnya .
" Ck " pipi Nada menjadi merah akibat ulah Marvin .
" Tidurlah . Aku akan menghubungi Bram terlebih dahulu " Marvin mencium kening Nada sebelum meninggalkan kamarnya .
Nada menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh .
" Apa yang aku pikirkan " Nada lalu menepuk pipinya .
Di lantai bawah . Bram sudah berada di ruang tamu untuk menemui Marvin . Ini dia lakukan selama 1 minggu ini . Bram di beri tugas untuk menghadapi model model yang susah untuk di atur dan banyak maunya .
" Selamat pagi bos " ucap Bram .
" Hem " jawab Marvin .
" Hari ini kamu urus kantor . Aku tidak masuk istri ku sakit " ucap Marvin .
" Sakit apa ? Bukannya kemarin dia baik baik saja " tanya Bram .
" Aku tidak tahu . Tadi pagi dia selalu bolak balik ke kamar mandi " ucap Marvin .
" Menurut informasi yang pernah gue dengar . Itu tanda tanda ibu hamil " ucap Bram .
" Serius ? " tanya Marvin .
Bram mengangguk semangat . Marvin pasti akan kembali mempekerjakannya di kantor . Bukannya pergi mengurus para model yang banyak maunya .
" Oke . Lo sekarang urus kantor . Kalau istri gue beneran hamil . Lo udah boleh kembali ke kantor kalau belum lo balik lagi ke pekerjaan lo saat ini " ucap Marvin .
" Oke . Deal " ucap Bram lalu dengan semangat kembali ke kantor yang sudah satu minggu ini tidak dia kunjungi .
" Gue cabut " pamit Bram .
__ADS_1
Marvin hanya menganggukkan kepalanya .