
Marvin meminta Bram untuk bertemu dengan pegawai yang merupakan pelaku dari keracunan istrinya . Meskipun Sonya menunjukkan bukan pelakunya , tetapi tetap saja membuat Marvin tidak tinggal diam dan merasa puas begitu juga dengan hasilnya . Sehingga membuatnya untuk tetap mencari tahu kebenarannya , karena bukti semua terlihat begitu bersih seakan sengaja memang di bersihkan .
Bram dengan sigap melakukan permintaan Marvin untuk bertemu pegawai yang merupakan pelaku itu . Bram sendiri yang notabennya orang yang selalu bisa diandalkan kini merasa dipermainkan oleh kejadian ini . Semua terlihat halus bahkan tanpa jejak sedikitpun . Sehingga membuatnya tetap menaruh curiga atas kejadian ini .
" Gue mau pergi sekarang " ucap Bram kerika berada di dalam mobil bersama Marvin .
" Lo antar gue pulang dulu combro " kesal Marvin karena Bram terlihat begitu semangat untuk segera mengunjungi pegawai itu .
" Oh iya , sorry gue lupa bosku " ucap Bram tertawa .
Marvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu .
Setelah mengantar Marvin , Bram segera melajukan mobilnya menuju jeruji besi dimana pegawai itu berada sekarang . Dia di tangkap oleh polisi Karena ulahnya .
Dan yang lebih membuat heran pegawai itu dengan lantang dan biasa mengakui kecelakaan itu . Tanpa terbebani . Itulah yang membuat Marvin dan Bram semakin melihat kejanggalan dari kejadian ini .
Meskipun Nada sudah melarang Marvin untuk tidak melakukan penyelidikan lagi tapi bagi seorang Marvin itu tidak mungkin dia berhenti begitu saja .
Bram telah sampai di tempat tujuan . Bram segera menghampiri Nanda , pegawai yang meracuni Nada .
" Gue punya sesuatu buat lo " ucap Bram to the point kepada Nanda .
Bram menyerahkan selembaran foto kepada Nanda . Ternyata Bram sudah lebih dulu menelusuri keluarga Nanda m Dan berhasil .
Adik Nanda sedang sakit . Dan dia tinggal bersama ibu dan adiknya . Nanda menjadi tulang punggung ibunya . Sehingga membuat Nanda harus bekerja keras untuk kedua orang yang dia sayangi . Itu juga karena sang Ayah yang berjudi dan juga membuat usahanya bangkrut . Sehingga Ayah nya sering berjudi hingga meninggal karena overdosis . Ayah Nanda juga meninggalkan banyak hutang untuk keluarganya . Dan lebih mengejutkan lagi , Nanda juga teman sekolah dari Nada . Tapi keduanya sama sekali tidak akrab .
Nanda membulatkan matanya menatap lembaran foto di atas meja . Nanda tidak menyangka jika mereka bisa menemukan keluarganya .
" In ..ini ... Dari mana kalian dapat ?" tanya Nanda dengan nada yang sedikit bergetar .
" Mudah saja . Bagaimana pun lo mau nutupin pasti juga bakal terbongkar " ucap Bram menatap Nanda sinis dan senyum remeh .
__ADS_1
Tidak ada yang mengalahkan seorang Bram . Orang suruhan Bram adalah orang ahli semua . Jadi sebaik dan serapat apapun pasti dapat di ketahui .
Nanda terdiam tidak lagi bisa bersuara .
" Katakan yang sebenarnya atau adik lo ini akan terus di rumah dan ya seperti yang lo lihat " ucap Bram seraya menunjuk foto adiknya yang sedang berbaring di ranjang rumahnya .
" Tolong . Jangan sakiti keluarga saya . Saya mohon " tangis Nanda pecah jika mengingat adiknya .
" Lo katakan yang sebenarnya . Maka adik lo akan baik-baik saja " ucap Bram .
Marvin sudah meminta Bram mengantar adik dari Nanda untuk ke rumah sakit . Kondisi dari adik Nanda sudah semakin parah .
Tapi tetap saja Bram tidak mengatakan itu . Bram ingin Nanda mengatakan kejadian yang sebenarnya .
Nanda tampak ragu melihat pria di depannya ini . Apa dia bisa mempercayainya ? Atau dia lebih mempercayai gadis yang telah membuatnya di penjara ? Tapi jika melihat kondisi adiknya Nanda tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pria di hadapannya .
" Tapi jika saya mengatakan yang sebenarnya apa anda bisa membantu saya ? Melindungi saya dan tentunya juga keluarga saya ?" tanya Nanda beruntun .
" Saya ... Saya .. Di suruh " ucap Nanda seraya menunduk .
" Gue nggak dengar " sentak Bram .
Nanda lalu mengangkat kepalanya perlahan ..
" Saya di suruh Tuan . Saya di suruh oleh seorang gadis untuk memberikan makanan dengan di beri obat itu supaya bayi dalam kandungan Nada bisa pergi " ucap Nanda takut.
" Siapa?!" tegas Bram .
" Jawab atau adik lo bakal hilang dari bumi ini " kesal Bram karena Nanda tak kunjung memberitahunya .
" Son.. Sonya Tuan " ucap Nanda .
__ADS_1
Bram menganggukkan kepalanya . Lalu menatap kearah seorang polisi yang sedang berjaga di sana .
" Lo dengar kan ? Cari gadis itu sampai ketemu bagaimanapun caranya " ucap Bram .
" Sudah Tuan . Kami sudah menemukan gadis itu " jawab polisi tersebut .
Bram bertepuk tangan takjub .
" Keren keren . Terima kasih " ucap Bram lalu bangkit dari duduknya .
Nanda segera menghentikan langkah Bram .
" Tunggu Tuan " teriak Nanda .
Bram membalikkan badannya seakan bertanya 'apa'.
" Itu , soal adik dan juga ibu saya . Apa anda bisa menepati janji ?" tanya Nanda tampak ragu .
Bram mengangguk lalu pergi dari sana . Pria berperawakan tinggi tegap itu lalu meninggalkan ruangan itu . Dan menuju kerumah Marvin .
Marvin dan Nada sedang duduk di taman . Hari ini Nada ingin BBQ . Berdua saja bersama sang suami .
" Hahaha, ya ampun sayang kenapa wajah mu hitam semua " tawa Nada pecah ketika melihat Marvin dengan wajah yang terkena abu .
" Sayang ini gerimis . Susah kalau mau bikin api . Kita masuk ya , nanti kamu sakit oke . Kita ke hotel saya makan di sana dan menginap di sana " ucap Marvin mencoba bernegosiasi .
Nada tampak menimbang ucapan suaminya m Sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
Marvin bernafas lega mendapat persetujuan istrinya . Heran saya dengan istrinya yang selalu meninta hal yang aneh-aneh .
" Semoga ntar kalau anak gue keluar dia jadi anak yang baik dan tidak aneh-aneh mintanya " gumam Marvin lalu melepas celemek yang dia pakai untuk menuruti keinginan istrinya ...
__ADS_1
Bram yang saat itu menuju rumah Marvin . Bram tidak bisa menemukan Marvin , karena Marvin dan Nada sudah lebih dulu pergi . Bahkan Bram sudah menghubungi Marvin tapi juga tidak si angkat oleh sang empunya. Bram mendesah kesal , tapi setidaknya semua sudah bisa di selesaikan . Mungkin ........