
" Terus gue harus apa ? Tanggung jawab apa yang lo mau ? Nikah ?" ucap Bram asal .
Bram lalu mengatupkan kedua bibirnya merasa salah ucap .
Nada dan Marvin hanya menjadi pendengar di sana . Sebenarnya Marvin sudah mau mengajak Nada pulang tapi Nada ingin melihat pertunjukan sampai akhir .
Suasana masih terasa canggung . Nada masih terlihat menikmati drama keluarga malam ini .
" Boleh " ucap Mama Maurin.
Bram dan Meta membuka mulutnya lebar lebar .
" Ma " ucap Meta .
" Saya itu .. Anu .. begini .. tante .. aduh " ucap Bram jadi gagap .
Bram melihat ke arah Marvin yang memang masih duduk dengan tenang .
" Saya hanya bercanda " tawa mama Maurin pecah menatap wajah panik keduanya .
" Hahaha " tawa Bram kaku karena dia sendiri juga panik ketika di minta untuk menikah dengan orang baru yang sangat menyebalkan baginya .
" Sudah malam . Hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi . Meta jangan asal minta pertanggung jawaban dari orang dengan asal . Atau itu akan membuat kamu malu sendiri . Dan Bram kalau ada mobil yang mogok ya di tolong . Siapa tahu nanti mobil kamu juga mogok terus kamu juga butuh pertolongan dan saat itu Meta lewat dan nggak mau nolong juga. Jadi kan ini pembelajaran saja . Dan siapa tahu juga kalian jadi saling kenal dan juga dekat . Saya tahu kamu asisten nak Marvin kan ?" tanya papa Herman .
__ADS_1
" Iya om " jawab Bram .
" Saya minta maaf om atas kejadian itu " ucap Bram lagi .
" Tidak . Meta yang harus minta maaf . Dia yang terlalu gegabah . Mungkin dia liat cowok ganteng jadi pengennya deket terus dengan alasan minta tanggung jawab apa itu hal sepele " ledek papa Herman .
" Apaan sih pa " ucap Meta tidak terima .
" Om tante . Karena sudah malam kami pamit pulang dulu " ucap Marvin berpamitan .
" Iya saya tahu kalian anak muda apalagi kalian baru saja mengadakan pesta pasti kalian maunya berduaan terus " ucap papa Herman .
Marvin hanya tersenyum menanggapinya .
" Mama " Nada segera memeluk Mama Maurin yang tak lain mama dari Meta .
" Sudah sana pulang . Suamimu pasti lagi butuh kasih sayang " ucap mama Maurin
Nada hanya mengangguk patuh .
" Kalau kamu mau ikut pulang juga tidak apa apa . Tidak usah meminta bantuan bos mu " gurau papa Herman .
Bram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .
__ADS_1
" Maaf om saya juga pamit " ucap Bram ikut pamit .
" Iya kalian semua hati hati " jawab Mama Maurin
Papa Herman hanya mengangguk .
Marvin dan Nada berjalan menuju mobilnya .
" Dasar lo sahabat nggak guna . Udah tau temennya kesusahan malah muka lo bikin kesel " ucap Bram yang mengikuti Nada dan Marvin .
" Sayang ayo masuk . Udah biarin anggep aja angin " ucap Marvin lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nada .
Nada lalu menurut dan ikut masuk ke dalam .
" Wah sialan lo . Gue pecat lo jadi bos " teeiak Bram kesal .
Marvin lalu menurunkan kaca mobilnya dan menggerakkan tangannya agar Bram mendekat ke arahnya .
" Apa ?" tanya Bram ketus
" Besok lo ke kantor . Rapikan meja lo , nggak usah kerja lagi " ucap Marvin lalu menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya menjauh dari Bram .
" Dia mecat gue ?" tanya Bram dengan menunjuk dirinya sendiri .
__ADS_1
" Wah nggak bisa di biarkan " Bram lalu mengikuti Marvin .