
Seorang gadis yang sedang di cari-cari kini sudah dalam keadaan yang berbeda . Sonya , dia merubah penampilannya menjadi jauh berbeda dari biasanya . Rambut panjangnya dia potong pendek hingga hampir menyerupai pria . Baju yang dia kenakan yamg biasanya juga sering terbuka . Kini dia berpenampilan sedikit bisa di bilang tomboy . Atau terkesan lebih cuek .
Entah bagaimana bisa dia lari kejaran polisi . Yang tadinya sudah terkepung . Tapi , begitu akal licik Sonya . Dia merubah seorang gadis berpenampilan seperti dirinya . Sonya mengatakan jika itu untuk sebuah pekerjaan . Tanpa gadis itu ketahui .
Sonya berjalan dengan santainya . Seperti tanpa beban . Melihat sepasang suami istri yang sedang bermesraan tanpa peduli dengan sekitarnya . Ya , mereka memang pasangan halal .
" Aduh maaf " ucap Sonya yang memang sengaja menabrak Nada hingga hampir membuat Nada hampir jatuh .
" Tidak papa " jawab Nada dengan senyum lembutnya .
Marvin dengan sigap memegang Nada . Memastikan keadaan sang istri bahwa Nada baik-baik saja .
" Lain kali hati-hati " tegas Marvin menatap tajam gadis yang menabrak istrinya , yang tak lain adalah Sonya. Gadis yang sedang mempermainkannya .
Bram yang mendapat kabar jika bukan Sonya yang di tangkap melainkan gadis lain . Merasa gusar dan juga kesal . Baru kali ini Bram mendapatkan lawan yang sebanding dengannya .
Di ruangan Marvin .
" Maaf " satu kata yang terucap dari bibir Bram .
" Bukan salahmu " jawab Marvin apa adanya .
Kali ini Marvin juga merasa di permainkan oleh Sonya . Gadis yang terlihat lembut ketika di depannya . Dan juga mengejarnya karena obsesinya . Kini benar-benar sudah di luar akal .
Nada dan Meta juga turut di ruangan Marvin . Namun keduanya sedang sibuk dengan majalah di tangannya . Meskipun telinga keduanya tetap tertuju pada Pembicaraan kedua pria tampan itu .
Marvin memang memutuskan untuk mengajak Nada untuk ke kantor . Itu akan membuat Nada aman jika bersamanya . Jika ke rumah kedua orang tua mereka . Marvin juga akan bekerja dari rumah . Tidak akan meninggalkan Nada sedikitpun .
Nada tidak merasa keberatan dengan tindakan Marvin . Itu membuat Nada merasa bahagia dan di cintai oleh suaminya . Meskipun pernikahan mereka bermula dari sebuah perjodohan .
" Nanti kita lanjutkan lagi " ucap Marvin seraya melirik Nada yang sedang duduk bersama Meta .
__ADS_1
Bram mengikuti arah pandang Marvin . Lalu akhirnya mengangguk dan meninggalkan ruangan Marvin .
Marvin lalu melanjutkan pekerjaannya . Membuatkan setiap keinginan dan apa yang ingin dilakukan istrinya .
Dan juga Yang cukup mengganggu pikiran Marvin . Dia harus meninggalkan istrinya karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan . Tapi Marvin belum mengatakan itu kepada Nada . Tapi dia sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya juga kepada Nada .
" Aku lebih suka yang ini . Ini lebih simple dan juga nyaman " ucap Nada seraya menatap gambar dress untuk ibu hamil .
" Iya aku juga merasa begitu . Warnanya juga cocok untuk mu " jawab Meta kepada Nada .
Nada lalu menatap Marvin bersamaan dengan Marvin yang juga tengah menatapnya .
" Ada apa ?" tanya Marvin masih pada posisi duduknya .
" Aku mau beli baju untuk ibu hamil " ucap Nada ragu .
" Aku sudah bilang . Beli yang kamu inginkan " Ucap Marvin seraya berjalan menghampiri Nada . Lalu mengecup Kening Nada .
" Sudah . Dia memang sahabat yang pengertian " ucap Marvin kepada Nada yang hendak menghentikan Meta .
Nada terlihat pasrah saja .
Meta yang keluar dari ruangan Marvin berpapasan dengan Bram yang juga sedang menuju ruangan Marvin .
Meta ke kiri , Bram juga berjalan ke sebelah kiri . Meta ke kanan , Bram begitu juga .
Meta mendesah kesal lalu menatap Bram sesaat sebelum melanjutkan langkahnya .
Bram lalu menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis yang di kenalnya dengan cara aneh itu .
Meta lalu berbalik hendak mengingatkan Bram untuk tidak mengganggu bos nya terlebih dahulu . Tapi ..
__ADS_1
Bram sudah lebih dulu membuka pintu ruangan Marvin . Terlihat dari wajah Bram yang sudah berubah pasti terjadi sesuatu . Karena kebiasaan Bram jika masuk ruangan Marvin pasti tidak mengetuk pintu . Meskipun pemilik ruangan itu selalu mengingatkan . Dan terjadilah sekarang .
Meta menahan tawa melihat wajah Bram yang terlihat gusar . Bram lalu menatap Meta dengan kesal karena tidak memberitahunya .
" Kenapa ?" tanya Bram yang kini sudah berdiri di hadapan Meta .Tanpa Meta sadari .
Meta lalu terdiam . Berusaha menormalkan dirinya .
" Tidak " ucap Meta tanpa rasa bersalah . Lalu berbalik hendak meninggalkan Bram . Namun tangan Bram dengan sigap mencekal tangan Meta .
" Mau mencoba apa yang tadi aku lihat ?" tanya Bram dengan nada yang sudah berbeda .
Meta merasa aneh dengan perubahan Bram yang biasanya terlihat cuek dan pasti menghindarinya setelah kejadian itu .
" Apa maksud mu ? Aku harus pemotretan " ucap Meta berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Bram . Namun usahanya tentu saja gagal .
Bram berjalan mendekat kearah Meta , bahkan semakin dekat . Meta yang di tatap oleh Bram yang seperti akan menerkamnya memundurkan tubuhnya .
" Ja..Jangan seperti ini " ucap Meta yang menjadi gugup . Padahal tadi Meta sudah berusaha untuk tidak terlihat canggung di hadapan Bram .
Bram semakin mendekat ke wajah Meta . Tapi tatapan Bram tak lepas dari Meta .
Meta menjadi takut dan juga salah tingkah dibuatnya .
" Tali sepatu kamu lepas " bisik Bram kepada Meta .
Meta langsung di buat cengo oleh ucapan Bram baru saja . Meta menatap ke arah sepatunya . Dan benar saja tali sepatunya terlepas .
" Nanti jatuh . Kan nggak lucu " senyum mengejek dari wajah Bram .
Meta merutuki kesalahannya . Karena percaya dengan pria menjengkelkan itu .
__ADS_1
Bram masih tersenyum membayangkan apa yang baru saja dia lakukan . Membuatnya menggelengkan kepalanya .