
Taman sore itu begitu ramai dengan pengunjung . Muda mudi maupun yang sudah berusia senja juga berada di sana untuk menikmati langit sore yang kala itu terlihat begitu cantik .
Sore itu nenek memang sengaja ingin jalan-jalan sore . Sudah lama dari nenek keluar dari rumah sakit belum keluar rumah . Dengan di temani seorang perawat dan sopir yang selalu menemani nenek .
Papa Arya selalu menegaskan jangan jauh-jauh dari sang ibu . Sebenarnya membiarkan ibunya keluar adalah hal yang cukup berat tapi papa Arya juga tidak mau jika nenek terus memikirkan kakek .
Mungkin jika bisa papa Arya sendiri yang akan menemaninya . Jika papa Arya tidak keluar kota .
" Di sini selalu ramai " ucap Nenek seraya menatap sekeliling taman yang memang di penuhi orang yang berlalu lalang.
" Iya bu . Di taman ini selain nyaman juga banyak mainan untuk anak-anak. Pohon nya juga rindang " ucap Sang suster .
" Iya kamu benar . Aku mau makan itu boleh minta tolong belikan pak " ucap Nenek kepada sang supir .
" Apa ibu tidak apa-apa saya tinggal belikan itu . Saya hanya tidak ingin meninggalkan ibu di sini . Saya di minta untuk selalu menjaga ibu " jelas sang supir .
" Hahaha . Kamu ini . Kamu beli hanya dekat di sana . Tidak jauh . Kamu bisa melihat saya dari sana " ucap nenek dengan tersenyum ramah .
" Baiklah . Saya akan belikan " ucap Sang supir .
" Suster tolong jaga ibu dengan baik . Kalau ada apa-apa teriak " bisik supir itu dengan suster yang berada di belakang nenek .
Supir itu lalu berjalan menuju ke penjual singkong keju . Makanan kesukaan nenek . Dengan langkah terburu-buru bahkan lari supir itu segera menuju penjual . Supaya tidak terlalu lama meninggalkan nenek ,yang begitu baik kepada pekerja bahkan tidak pernah menganggap mereka itu pekerjanya . Semua keluarga bagi nenek .
" Ibu " sapa seorang wanita paruh baya menghampiri sang ibu
Ya , Karin sudah bisa menebak kemana ibunya pergi . Biasanya akan meluangkan ke taman atau ke mall ke salon langganannya . Hanya untuk sekedar merilekskan diri.
" Mau apa kamu ke sini " jawab nenek tanpa menatap Karin . Anak yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling . Meskipun begitu dia juga anaknya . Anak yang di lahirkan dari rahimnya . Tapi semua kasih sayang yang mereka curah kan untuk Karin tak membuat Karin wanita yang sederhana.
__ADS_1
" Aku kangen sama ibu. Tadi aku datang ke rumah tapi ibu nggak ada . Jadi aku ke sini " ucap Karin .
" maaf waktu ibu sakit aku tidak bisa menjenguk ibu . Saat itu aku sedang menemani mas Irwan ke bali " Karin terus mencoba untuk mengajak mengobrol sang ibu meskipun tidak di respon dengan baik .
" Suster aku mau pulang saja . Panggil pak supir " ucap nenek sudah merasa jengah dengan anaknya itu .
" Tunggu ibu aku masih ingin mengobrol sama ibu. Kita jalan ke sana bu . Ibu mau "
Karin lalu menarik tangan sang ibu untuk ke tempat yang lebih sepi .
Mereka berjalan menuju tempat yang sedikit sepi . Suster Eni , merasa panik takut jika anak dari majikannya itu berbuat yang tidak baik . Dia sudah tahu jika anak perempuan majikannya itu selalu berbuat semaunya .
" Aduh kemana sih mang ujang kok belum datang " gumam suster Eni .
Setelah membelikan singkong keju mang ujang lalu mencari keberadaan nenek lagi . Tapi dia tidak menemukan di tempat yang tadi mereka gunakan untuk istirahat .
" kemana mereka ? Aduh gimana kalau Tuan Arya tahu " mang ujang lalu berjalan mencari di sekitar taman.
" Kenapa kamu membawaku ke sini ?" tanya. nenek
" Aku hanya ingin bersama ibu . Aku kangen " hanya itu yang di ucapkan Karin .
" Mau apa kamu ?" tanya nenek tanpa basa basi .
" Kenapa ibu bertanya seperti itu ? Apa aku seburuk itu ?" tanya Karin sedikit kesal .
" Apa kamu tidak menyadari dengan apa yang kamu lakukan selama ini . Semenjak kamu dekat dengan suami mu itu kamu sudah berubah . Seperri bukan anak ku lagi " ucap nenek .
" Ibu tapi aku mencintai mas Irwan . Keluarganya juga baik selalu mensuport ku " ucap Karin .
__ADS_1
" Mereka hanya mau uang mu bukan diri mu kalau kamu tidak bod*oh " ucap nenek .
" Bu ..
" Sudahlah aku mau pulang " nenek lalu berdiri lalu meninggalkan Karin .
" Ibu . Ibu kenapa sih . Ibu selalu seperti ini . Tolong aku bu . Sekarang perusahaan sedang butuh dana . Dan mas Irwan tidak mendapatkan lagi investor . Hanya ibu harapan aku . Tolong bu , bantu aku untuk membangkitkan lagi perusahaan . Itu dulunya juga perusahan ibu . Perusahaan yang ibu bangun dari nol . Apa ibu rela jika perusahaan yang ibu bangun itu bangkrut ?" ucap Karin mencoba untuk membuat hati sang ibu terbuka .
" Ayo sus . Kamu hubungi mang ujang . Kuta pulang sekarang " ucap Nenek
" Ibu " teriak Karin sedikit teriak karena sang ibu sudah menjauh darinya .
Karin lalu mengejar sang ibu dan terus memohon kepada ibunya . Karin terus merengek kepada sang ibu dan memeluk tangan sang ibu dengan erat .
" Stop Karin . Sudah cukup ibu selalu membantu keluargamu . Tapi kamu tidak pernah mengerti apa yang ibu sampaikan " ucap nenek yang sudah tidak kuat menghadapi anak perempuannya itu .
" Ibu . Ini yang terakhir bu " ucap Karin memohon .
" Ceraikan suamimu . Aku akan membantu perusahan mu lagi " ucap nenek lalu benar-benar meninggalkan Karin .
" Ibu jahat . Ibu macam apa yang menelantarkan anaknya . Ibu pilih kasih " teriak Karin histeris . Beruntung mereka berada jauh dari orang.
Suster Eni lalu memapah majikannya itu menuju mobil . Dan sebelumnya dia juga sudah menghubungi mang ujang untuk langsung menuju mobil saja .
" Ibu tidak papa ?" tanya Suster Eni .
" Jangan ceritakan kejadian tadi kepada Arya . Saya tidak mau mereka melarang saya keluar jika mereka tahu aku bertemu Karin " ucap Nenek .
Mang ujang melirik dari kaca spion mencoba memahami situasi yang baru saja di alami majikannya .
__ADS_1
Suster Eni hanya mengangguk patuh takut juga jika nanti sampai dia sampai kehilangan pekerjaannya .