Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 9 ] of Juli.


__ADS_3


...- FLASHBACK 1 -...


...Jihya & Nada...


...****************...


...Kamis, 29 Januari 2016...


...pukul 21.00...


Seorang gadis berjalan menunduk dengan sepasang headset putih yang menyumbat kedua telinganya. Sebuah lagu ballad berjudul Downpour milik girlband IOI mulai terdengar lembut seolah menjadi teman setia saat langkahnya tiba di penghujung hari.


Menghela napas panjang, lantas mengangkat pandanganya kearah gang redup yang hanya diterangi oleh lampu jalan.


Udara malam sudah mulai terasa menusuk. Mantel coklat lusuh miliknya bahkan sudah tidak lagi mampu menangkal hawa dingin saat ia melangkahkan kaki.


Rambutnya yang terlepas dari ikatan itu bergerak, mengikuti arah yang berlawanan dengan laju tubuhnya. Poninya yang basah akibat keringat itu bahkan sudah berubah menjadi lembab diterpa angin.


Tiba di persimpangan jalan, nampak seorang gadis yang terlihat jauh lebih muda darinya kini tengah meringkuk sendirian dibawah salah satu lampu jalan.


Samar Samar, terdengar suara isakan pelan saat ia bergerak mendekat kearah sang gadis. Saat ia sudah berjarak cukup dekat, dilepasnya kedua headset yang menyumbat itu. Suara isakan itu makin terdengar.


Nada berjongkok, terlihat sebuah kotak yang tertutup rapat disebelah tiang lampu. Entah apa isi kotak itu, Nada tidak bisa menebaknya.


"Permisi, dik.. kenapa kamu menangis?" Nada mengusap pelan pundak kecil itu dengan lembut.


Anak itu mengangkat pandangan, nampak matanya yang sudah bengkak juga wajah yang memerah. Perlahan, gadis itu menggerakkan jemarinya dengan tatapan sendu.


Gadis ini tunawicara.


"Dik, maaf.. aku tidak bisa bahasa isyarat, aku tidak mengerti apa maksudmu.." Tatapan Nada berubah saat mengatakan hal ini.


Gadis itu mengusap pipinya, lantas kembali memberikan isyarat yang lebih mudah pada Nada. Tangannya bergerak seolah ingin mengatakan pada Nada, apa dia membawa kertas dan pena?


"Apa kamu membutuhkan kertas dan pena?" Tanya Nada.


Dia mengangguk.


"Baiklah, tunggu sebentar.." Nada melepaskan totebag nya, lantas mengeluarkan note book mini dan sebuah pena "Ini, tulis disini" lanjutnya.


Dia menerima buku dan pena itu, lantas mulai menuliskan sesuatu diatasnya.


Aku hanya sedang lelah, kak.. aku tidak apa apa.


"Kenapa kamu tidak pulang? ini sudah larut malam, dik.."


Aku tahu.. tapi, aku malu untuk pulang


"Malu? kenapa harus malu? keluargamu pasti cemas jika kamu pulang terlambat seperti ini"


Aku malu, daganganku belum laku satupun kak.. sedangkan dirumah, nenek sedang menunggu obat dariku.. Bagaimana aku bisa pulang dengan tangan kosong? apa yang harus kukatakan pada nenek nanti? aku tidak ingin pulang..


Membaca tulisan ini, hati Nada seolah tengah disayat.


Gadis sekecil ini, dengan segala kekurangannya, harus banting tulang sendiri demi mencari obat untuk sang nenek.


Demi apapun, Nada sudah ingin menangis.


"Nenekmu, sakit apa?"


Nenek bilang, dia hanya kelelahan. Tapi aku tidak yakin, sebab dia terus batuk dan selalu memijat kepala dan kakinya. Aku tidak tahu, apa penyakit nenek sebenarnya..


"Lalu, apa yang sedang kamu jual?"


Ini, aku menjual kerupuk udang. Apa kakak mau?


Nada mengangguk. Dia masih punya sedikit uang untuk membeli dagangan milik gadis ini. Walaupun sebenarnya Nada membutuhkannya.


Benarkah?

__ADS_1


Tatapan mata gadis itu berubah, dia nampak sangat senang mendengar Nada ingin membeli dagangannya.


"Tentu, berapa harganya?"


Sepuluh ribu saja, kak


Gadis itu mengambil satu bungkus kerupuk udang dari kotak yang tadi sempat kulihat. Satu bungkusnya berisi delapan buah kerupuk udang yang berukuran sedang.


"Ini," Nada menyodorkan uang lima puluh ribu dari sakunya.


Apa kakak punya uang kecil? aku tidak punya kembalian


"Tidak usah, ambil semuanya.. apa itu cukup untuk membeli obat nenek?"


Aku tidak bisa menerima ini, kak.. aku harus mengembalikan uang milikmu, bukankah kakak hanya membeli satu?


"Tidak apa, dik.. sungguh"


Ini, kak.. aku tidak bisa menerimanya. Nenek bilang, aku harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan, bukan hasil dikasihani seperti ini..


Nada diam sejenak. Gadis ini sangat menyentuh.


"Baiklah begini saja, aku akan membeli lima bungkus.. tapi pesananku dibawa saat aku akan pulang nanti, sekarang mari kita pergi ke apotek untuk membeli obat nenek, ya?"


*Baiklah, t*erimakasih banyak kak..


Nada mengangguk sembari tersenyum.


Keduanya bangkit, lantas berjalan mencari apotek yang masih buka. Semoga saja Nada bisa mencarikan obat itu, juga semoga uangnya cukup untuk membelinya.


...----------------...


"Berapa harganya, kak?" Nada sudah tiba di apotek, setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka menemukan apotek yang buka 24 jam.


"Totalnya 40 ribu, kak" Pelayan itu tersenyum lembut.


"Alhamdulillah, uangnya cukup" Ucap Nada dalam hati.


Ini hanya obat biasa, tapi Nada berharap semoga obat ini mampu meringankan penyakit nenek gadis itu.


Nada keluar apotek, lantas memanggil gadis yang tengah duduk itu agar mendekat padanya. Gadis itu berlari kecil menghampiri Nada dengan sebuah senyuman.


"Ini, berikan pada nenekmu.. kita pulang, ya?"


Gadis itu mengangguk, lantas menyatukan kedua tangannya dihadapan Nada dengan mata yang berkaca kaca. Dia terlihat sangat bahagia bisa membelikan neneknya obat.


Melihat itu, Nada merunduk lantas memeluk gadis itu dengan erat. Sepedih apapun hidup Nada, anak ini merasakan hal yang lebih pedih darinya.


Mereka terlihat saling menguatkan dengan sebuah pelukan hangat dibawah sinar rembulan.


"Ayo, kita harus bergegas" Nada mengusap lembut air mata milik gadis kecil dihadapannya, lalu berdiri.


Baru saja Nada hendak melangkahkan kaki, anak ini menggoyangkan tengan Nada pelan. Nada menoleh, merunduk.


"Apa kamu butuh sesuatu yang lain?"


Gadis itu menggeleng. Dia menyuruh nada untuk membuka telapak tangan dihadapannya.


Nada melakukannya.


Gadis itu mulai menggerakkan jemarinya diatas telapak tangan Nada. Menyuruhnya untuk membaca huruf yang tidak nampak.


"N-a-m-a-k-u," Ejanya.


Gadis itu mengangguk.


"J-i-h-y-a?" Nada mengangkat kedua alisnya. Lagi lagi, gadis kecil bernama Jihya itu mengangguk dengan senyuman.


Senang bertemu denganmu, Kak..


"Aku juga senang bertemu denganmu, Jihya.. panggil aku Nada, itu adalah namaku" Nada tersenyum tipis.

__ADS_1


Baiklah, Kak Nada..


Mereka saling bertukar senyuman.


Sesampainya dirumah Jihya, Nada menunggu diluar. Rumah ini begitu sederhana, mungkin luasnya sama seperti rumah kontrakan yang hanya ada satu ruangan dan satu kamar mandi.


Jihya sedang didalam menemui neneknya terlebih dulu, kulihat mereka saling berpelukan hangat didalam, membuat Nada jadi menangis haru.


Dilihat dari caranya memeluk sang nenek, Jihya pasti sangat mencintai neneknya. Begitu juga sang nenek yang nampak sangat mencintai Jihya melalui tatapan matanya.


Beberapa detik kemudian, Jihya berlari kecil menghampiriku lantas langsung membawaku masuk kedalam menemui neneknya.


Kini aku sudah duduk didalam rumah bersama nenek dan Jihya.


"Nak.. terimakasih banyak atas kebaikanmu" ucap nenek itu lembut.


"Sudah menjadi tugasku untuk saling membantu satu sama lain, Nek.." Nada tersenyum "Semoga nenek cepat sembuh"


"Aamiin, terimakasih.. Obat ini mirip dengan punyaku, pasti harganya tidak murah, kan? nenek janji, di lain waktu aku akan membayarnya padamu"


"Apa yang nenek katakan? obat ini adalah hasil jerih payah Jihya, aku hanya mengantarnya ke apotek"


Nenek itu terdiam, lalu menoleh kearah cucunya "Jihya?"


"Dia menjual kerupuk udang ini, nenek.. dia bekerja keras dengan sangat baik hari ini" Lanjut Nada.


Jihya hanya diam, menundukkan pandanganya.


"Jihya, kemari nak" Nenek itu bicara dengan suara gemetar seolah ingin menangis. Jihya mendekat, lantas sang nenek langsung memeluknya dengan erat.


"Kenapa kamu melakukan ini? kamu masih kecil, nak.. tidak seharusnya kamu mencari uang untuk membeli obat nenek.." Nenek itu kembali menangis dalam pelukan Jihya.


Nada yang melihat itu bahkan jadi ikut menangis.


"Maafkan aku, nak.. maafkan aku.. aku sudah membuatmu lelah, aku sudah merepotkanmu, maafkan aku.."


Jihya melepaskan pelukan itu, lantas menggeleng cepat. Kulihat, dia juga menangis menatap sang nenek. Mereka hanya tinggal berdua, tapi rumah ini terasa begitu hangat.


Setelah saling melepas pelukan, nenek itu menyuruh Nada untuk mendekat. Begitu Nada sudah berada dekat denganya, Nenek itu merangkup pipi kiri Nada, memandangnya dengan lembut "Kamu terlihat sangat lelah, Nak.."


Nada bergeming sesaat. Nenek ini benar, Nada memang sangat lelah.


"Kemarilah, mendekat padaku" Nenek itu merengkuh tubuh Nada, membawanya pada pelukan hangat.


Nada menangis sejadi-jadinya dipelukan nenek. Melepaskan segala keluh kesah yang selama ini dia tanggung sendirian, ingatan ingatan menyakitkan itu, luka bengkak pada hatinya, seolah tumpah begitu saja bersama tangisannya.


Telapak tangan lembut sang Nenek bergerak naik turun mengusap punggung rapuh Nada sembari berkata pelan, "Tidak apa apa, nak.. kamu sudah berjuang dengan baik, kamu adalah anak yang kuat.." Ucapnya.


Beberapa detik kemudian, Nada melepas pelukan itu dengan pelan. Kini hatinya sudah cukup lega setelah sekian lama menahan tangis "Terimakasih, nek.. Nenek sudah bersikap sangat baik padaku, tapi.. aku tidak bisa berlama lama disini, aku harus pulang nek,"


"Sama sama, nak.. pulanglah, lalu segeralah istirahat.. Tapi sebelum itu, nenek minta maaf karena tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah"


"Apa yang nenek katakan? aku bisa pulang sendiri, nenek tidak perlu repot repot.. nenek hanya perlu beristirahat yang cukup agar lekas pulih"


Nenek itu tersenyum lembut "Siapa namamu, nak?"


"Nada, nek"


"Nada, mulai sekarang, anggaplah aku sebagai nenekmu sendiri.. jangan ragu untuk datang kemari untuk menemuiku, jangan ragu untuk bercerita padaku, ya?" Nenek itu tersenyum, Nada mengangguk pelan.


"Terimakasih banyak, nek.. aku pamit dulu,"


"Hati hati dijalan, Nada"


Nada mengangguk, lantas menyalami tangan nenek. Tiba diambang pintu, Nada menoleh sejenak kearah Jihya dan nenek sembari tersenyum lalu kembali berjalan pulang.


...****************...


...- END OF FLASHBACK -...


Halo, readers!

__ADS_1


gimana episode kali ini?? komen ya! ^^


__ADS_2