Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 3 ] of Juli.


__ADS_3


..."The way i meet you"...


...Happy Reading...


.......


.......


"Bunda, kenapa hanya diam? kenapa kau menatapku begitu?" Soobin menatap sang bunda dengan tatapan gelisah.


"Soobin, bunda sangat berharap kamu akan ikhlas menerima semuanya.." Air mata bunda mulai terjun bebas membasahi pipinya.


"Apa maksud bunda sebenarnya? bicaralah lebih jelas lagi" Soobin menatap wajah sangat bunda yang sudah basah akibat menangis. Wanita itu menunduk, tak sanggup melihat wajah putranya.


"Bunda--" Soobin menggerakkan tubuhnya, namun ada yang aneh dengan pergerakan ini.


Kakinya, kakinya tidak ikut bergerak. Degup jantung Soobin bergerak cepat, tangannya mulai bergerak menyentuh kaki.


Alangkah terkejutnya Soobin ketika sentuhan tangannya tidak menimbulkan rasa apapun pada kakinya. Air mata laki-laki itu jatuh seketika.


Bunda semakin menangis.


"Bunda, Soobin tidak bisa merasakan apapun pada kaki Soobin," Soobin menoleh dengan matanya yang basah "Bunda, jawab Soobin.. Ada apa? kenapa Soobin tidak bisa menggerakkan kaki Soobin?" lanjutnya.


"Bunda.. jawab" Soobin kini sudah menangis sejadi jadinya. Masih tidak percaya dia akan kehilangan kedua kakinya.


Melihat Soobin yang menangis, Bunda bergegas untuk memeluknya erat erat. Berusaha untuk saling menguatkan, antara Soobin dengan Bunda.


Ayah Soobin bekerja di luar kota, beliau tidak bisa pulang karena baru kemarin lusa berangkat.


"Soobin, yang sabar ya nak.. kamu pasti bisa melalui ini semua" Ucap bunda, masih dalam pelukan.


Hari ini, Soobin merasakan begitu banyak luka besar. Yang pertama oleh Jihna, yang kedua dia harus kehilangan kakinya.


Berkali kali hatinya harus menahan perih.


...----------------...


"Soobin, ayo, buka mulutmu" Bunda menghela pelan. Dia menurunkan sendok bubur dihadapan Soobin.


Laki-laki itu terus saja melamun. Dia bahkan tidak bicara sejak berhenti menangis. Soobin hanya duduk dengan menatap kosong kedepan.


Bundanya bicara pun tidak Soobin hiraukan.


"Soobin," Bunda mengusap pelan lengan Soobin "Bunda tau kamu pasti merasa sangat terpukul atas ini, tapi jangan biarkan tubuhmu juga sakit.. mereka perlu asupan makanan, Soobin.. Perutmu, jangan kamu sakiti dia" Lanjutnya.


Soobin mengedipkan matanya.


"Ayo, makan dulu ya?" Tangan wanita itu terangkat, hendak menyuapi Soobin.


"Soobin tidak lapar, bun" Jawabnya.

__ADS_1


"Sedikit saja, nak.. siang tadi kamu belum makan, setidaknya jangan tinggalkan makan malam mu.. ayo, satu suap saja"


Soobin akhirnya menurut. Dia membuka mulutnya.


Satu suap masuk. Bubur ini, rasanya benar-benar hambar. Tidak enak. Soobin langsung menolak suapan kedua dari sang bunda mentah-mentah.


"Rasanya tidak enak, Bunda.. Soobin bisa mual nanti" Tolaknya.


"Kalau begitu biar bunda belikan sandwich ya?"


"Soobin sudah kenyang, Bunda.. Soobin sudah mengantuk, mau tidur saja" Soobin menurunkan bangsalnya, lantas menutupi kedua matanya dengan tangan.


Bunda tau, Soobin masih tidak bisa menerima keadaannya yang sekarang. Tapi wanita itu yakin, Soobin pasti akan berusaha untuk kembali bangkit dari keterpurukan ini.


Malam berlalu begitu cepat.


Jarum jam kini menunjukkan pukul 04.30 pagi. Bunda sudah bangun, tapi Soobin masih terlelap dalam tidurnya.


Habis menjalankan tugasnya dalam beribadah, Bunda membuka ponselnya. Mengecek apakah ada chat yang masuk atau tidak.


Semua nampak baik baik saja, jadi ia putuskan untuk membaca Al-Quran di sofa sembari menunggu Soobin bangun.


Pukul 04.45, Soobin nampak tak nyaman. Sebetulnya dari semalam laki-laki ini kelihatan sangat terganggu dalam waktu tidurnya. Miring ke kanan maupun ke kiri juga tidak bisa. Soobin hanya bisa menggerakkan tangannya saja.


Pukul 05.00.


Soobin membuka matanya perlahan. Berharap semua yang terjadi hari lalu hanyalah sebuah mimpi, namun ternyata harapannya itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Ini semua telah terjadi.


Soobin meraih ponselnya-yang selamat dari kecelakaan kemarin, berharap Jihna menghubunginya. Tapi, bukan notif dari Jihna, melainkan notif dari sahabatnya, Beomgyu.


.


"Ponselmu bahkan tidak aktif"


.


"Soobin??"


Tiga notifikasi itu berhasil membuat Soobin kembali muram. Para wartawan itu tidak sepenuhnya benar, Jihna memang telah selingkuh dibelakang Soobin. Tapi Soobin belum memutuskan hubungannya dengan Jihna.


^^^Tidak, Gyu.. aku tidak putus dengan^^^


^^^Jihna. Tapi, berita itu benar adanya..^^^


^^^.^^^


^^^Kini aku sedang di rumah sakit^^^


Setelah mengetik jawaban tadi, Soobin lebih memilih untuk menyembunyikan semuanya dari media sosial. Cukup keluarga Soobin saja yang tau akan ini. Tapi, Soobin tidak yakin dia bisa menyembunyikan semuanya dalam jangka waktu lama.


Waktu terus berjalan. Pukul 6.00, sarapan datang dengan menu yang sama--sayur sop hambar dan bubur tanpa kecap. Walaupun Soobin tidak menyukainya, tapi dia harus tetap memakannya meskipun hanya satu suapan.


Bunda yang dengan sabar mengurusi segala keperluan Soobin.

__ADS_1


Pukul 10.00.


Soobin diam diatas bangsalnya dengan pikiran yang melayang entah kemana. Bunda sedang pergi keluar, katanya ingin mencari sesuatu yang manis untuk Soobin.


Jadi, dia sendirian sekarang.


Dengan keadaan Soobin yang sekarang, apakah Jihna masih mau bersamanya? Jihna sudah tidak mencintai Soobin, lantas untuk apa hubungan ini?


Ditengah angan angan Soobin, seorang wanita berambut panjang masuk dengan ramah kedalam kamar Soobin, membuat laki-laki itu menoleh.


Wanita cantik pemilik hatinya.


"Jihna?" Soobin langsung menaikkan bagian kepalanya untuk merubah posisi menjadi duduk. Kini jihna sudah duduk disamping bangsalnya dengan tangan yang berhimpit diatas paha.


"Soobin, masalah kemarin, aku-"


"Tidak apa, Jihna.." Soobin buru buru memotong ucapan Jihna. Membuat gadis itu tertegun sejenak.


"Ya, Soobin.. sekarang, semua media telah mengklaim hubungan kita sudah berakhir kemarin.. Sejujurnya, aku tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan mereka. Belum lagi kau dikabarkan kecelakaan, itu membuatku sulit untuk menghubungimu hari lalu.."


Soobin diam menatap Jihna.


Lihat, gadis ini sangat cantik. Dia hampir dikatakan sempurna. Soobin, dia punya banyak kekurangan sekarang, masih pantaskah dia untuk Jihna?


Soobin mencintai Jihna, namun Jihna tidak mencintai Soobin. Laki-laki itu tidak berhak memaksa Jihna untuk mencintainya dengan sepenuh hati.


"Soobin, sebaiknya kita usaikan saja hubungan ini"


...----------------...


"*Halo, bisa saya bicara dengan nyonya Choi?"


^^^"Ya, dengan saya sendiri.. ada apa?"^^^


"Tuan direktur mengalami kecelakaan tunggal akibat rem blong, nyonya. Kini beliau tengah berada di ruang ICU rumah sakit kota, saya harap nyonya bisa segera kemari*"


Deg.


Bunda menitikkan air matanya. Dia tidak pernah menduga ujian ini datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Juli kali ini terasa sangat kelabu.


Apa yang harus dia lakukan sekarang? Soobin masih belum pulih, tapi dia harus pergi menemui suaminya yang juga butuh seorang istri disisinya.


^^^"A-aku akan segera menemuinya"^^^


Ucapnya, lantas bergegas menemui Soobin.


...----------------...


"Keputusanku sudah kupikirkan matang matang, Soobin. Dan inilah hasilnya, aku tidak bisa lagi bersamamu kedepannya" Jihna menundukkan pandangannya dihadapan Soobin yang masih menatapnya.


"Aku harap kau merasa bahagia kedepannya, kau juga akan dipersatukan dengan seseorang yang bisa mencintaimu dengan sepenuh hati, orang yang tulus menerima keadaanmu, orang yang pantas untukmu.. Tapi orang itu bukanlah aku" Gadis itu mengangkat pandangannya kearah Soobin, lantas tersenyum.


...****************...

__ADS_1


[ to be continued ]


__ADS_2