![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
..."Jangan khawatir, aku ada bersamamu"...
...- Na Da -...
.......
.......
"Jika ini yang kamu mau, aku tidak bisa lagi menolaknya Jihna" Soobin angkat bicara.
Jihna yang mendengar itu, menoleh kearah Soobin tidak menyangka. Dia akan melepaskan Jihna begitu saja, tanpa ada paksaan seperti kemarin saat Jihna meminta Soobin untuk putus.
"Tapi, sebelum kamu pergi.. ada sesuatu yang ingin aku katakan"
"Kalau begitu, katakan saja" Jihna.
"Pergilah dariku selama yang kamu mau, tapi saat kamu kecewa, jangan pernah ragu untuk mencariku" Soobin tersenyum "Karena aku akan selalu berada di tempat yang sama saat kamu pergi meninggalkanku" lanjutnya.
Jihna tertegun sesaat. Pandangannya terpaku pada kedua mata Soobin yang dalam.
"Selamat tinggal, Soobin" Jihna berdiri, lantas segera keluar dari kamar Soobin.
Kenapa tiba-tiba perasaannya jadi bercampur begini? Jihna merasakan sesuatu yang berbeda saat Soobin mengatakan hal manis, padahal sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal ini.
Jihna tidak mungkin mencintai Soobin, dia mencintai Kyuhyun.
Ah, sudahlah.
Lebih baik Jihna segera pergi dari sini.
...----------------...
Bunda masuk dengan mata sembap. Menatap Soobin yang tengah memejamkan matanya diatas bangsal. Melihat pemandangan seperti ini saja hatinya terasa sangat perih, sungguh.
Ingin sekali bunda mengatakan semuanya, tapi wanita itu tidak sanggup. Dia tidak sanggup untuk terang-terangan meninggalkan Soobin sendirian disini.
Tapi, dia tetap harus pergi.
Bunda mendekat pada Soobin, lantas mencium singkat keningnya "Maafkan bunda, Soobin" ucapnya dalam hati.
Dengan sigap, bunda pergi mengemasi barang barangnya, lantas pergi dari kamar Soobin sebelum anak itu terbangun.
Saat ia hendak membuka pintu, seorang dokter muda juga tengah masuk kedalam ruangan Soobin. Mungkin, karena sekarang sudah waktunya Soobin melakukan pemeriksaan.
"Dokter, bisa kita bicara?"
...----------------...
Pukul 12.00.
Soobin terbangun dari tidurnya. Dia menatap sekitar, merasa ada sesuatu yang aneh. Kenapa ruangannya begitu terasa sepi?
Oh iya, dimana bunda? apa dia belum juga kembali dari minimarket? kenapa lama sekali?
__ADS_1
Entahlah, bunda juga mungkin merasa bosan jika hanya diam menemani Soobin yang tidur tadi. Nanti juga bunda akan kembali kesini, pikirnya begitu.
Soobin menoleh kearah meja. Sudah ada menu makan siang disana. Mungkin sekarang dia akan mulai makan sendiri tanpa harus merepotkan bunda lagi. Kasihan bunda, pasti lelah.
Namun saat Soobin mengangkat gelas berisi air mineral, pandangannya terpaku oleh sebuah kertas yang terlipat di bawah gelas tadi. Kertas apa itu? kelihatannya seperti sebuah surat?
Laki-laki itu mengambilnya, lantas membacanya.
-📃-
Soobin, ini bunda.
Sebelumnya, bunda ingin mengucapkan kata maaf untukmu, Nak. Maaf karena bunda tidak bisa merawatmu dengan baik, maaf karena bunda sering meninggalkanmu sendirian dikamar, hingga maaf kali ini yang benar-benar diluar keinginan bunda.
Maaf, karena bunda harus meninggalkanmu sendirian dalam waktu yang lebih panjang.
Nak, bunda tidak akan sanggup meninggalkanmu saat kamu menangis. Mungkin kamu akan mengatakan, bunda begitu egois. Tapi, bunda memintamu untuk memahami satu hal.
Bunda pergi, bukan tanpa alasan, Nak. Bunda pergi, bukan karena bunda ingin, tapi bunda pergi karena terpaksa.
Ayahmu, dia mengalami kecelakaan tunggal di luar kota.. dan sekarang keadaanya sedang kritis.. Ayah membutuhkan bunda, nak.
Bunda akan kembali padamu, suatu saat nanti.
Maaf, bunda telah melukai hatimu, Soobin..
-📃-
Soobin mulai menitikkan air mata.
Lihat, ruangan ini hanya punya satu penghuni yang dipenuhi oleh kesunyian. Pada siapa Soobin harus mengungkapkan keluh kesahnya nanti? pada siapa Soobin akan bercerita tentang hari harinya?
Mereka semua, pergi. Tanpa mementingkan Soobin sedikitpun. Apakah Soobin tidak pantas untuk di berikan kasih sayang?kenapa orang yang Soobin sayang justru pergi tanpa simpati?
Jika memang sudah tidak ada yang peduli, untuk apa Soobin ada?
Jika bundanya saja sudah meninggalkan Soobin, untuk apa Soobin masih berada disini? Untuk apa?
...----------------...
Gerimis.
Tapi, hal ini tidak menghalangi niat Soobin untuk keluar dari kamarnya menuju sebuah taman yang dipagar untuk menjadi pemisah antara jurang dekat laut dengan area rumah sakit yang berada di dataran yang lebih tinggi.
Soobin ingin pulang, Tuhan. Soobin ingin segera menemui-Mu. Tolong jangan halangi jalan Soobin.
Kursi roda itu semakin mendekat pada pembatas besi. Dengan hati gemetar, air mata yang mengalir deras, hujan yang turun membasahi bumi, Soobin harap hari ini semuanya usai.
Soobin tidak akan sanggup menjalani hari sendirian. Soobin tidak mau.
Dia sudah berada tepat didekat pembatas. Digenggamnya pembatas besi dingin itu erat erat, lantas bersiap untuk memajukan tubuhnya agar jatuh ke dalam jurang yang penuh dengan ranting.
Soobin memejamkan mata, dan--
Grepp.
__ADS_1
"?!!" Soobin membuka matanya ketika lengan bagian kanannya ditarik pelan oleh seseorang.
"Apa yang kamu lakukan?" Ucap seorang gadis yang dikucir kuda dengan mata merah dan sembap yang samar akibat hujan "Tidakkah kamu sadar apa yang akan terjadi?" lanjutnya dengan nada suara yang bergetar.
"Apa yang kamu lakukan? biarkan aku pergi.." Soobin menahan tangisnya dalam dalam. Tapi, sekuat apapun ia menahannya, mata seseorang tidak pernah berbohong.
Gadis itu langsung memeluk erat Soobin dengan punggung yang naik turun. Soobin makin menangis dibuatnya.
"Jangan, jangan pergi.. kumohon" Ucapnya berbisik pada telinga Soobin.
Keduanya menangis dibawah derasnya hujan bulan Juli. Dengan deru ombak yang terdengar mengamuk seperti emosi Soobin.
Dia melepaskan pelukannya, lantas merangkup kedua pipi Soobin dengan lembut "Ayo pulang bersamaku, kamu bisa sakit jika terus disini"
Gadis itu bergerak kebelakang, lantas membawa Soobin kembali ke tempat teduh. Dia membawa Soobin pergi bersamanya dengan pakaian yang basah kuyup.
Sesampainya di luar kamar seseorang, gadis itu beranjak kedepan Soobin. Menatap Soobin dengan lembut, tersenyum.
"Tunggu disini yaa, berjanjilah padaku kamu tidak akan pergi kemana mana" Soobin tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, gadis itu kembali dengan sebuah handuk, lantas menyodorkannya pada Soobin.
"Pakai ini," Soobin menerimanya, lantas memakainya seperti yang gadis itu katakan "Dimana ruanganmu?" Gadis itu bertanya dengan lembut.
"Ruang 108" Jawab Soobin dengan pelan.
"Biar aku antar, ya.. kamu harus mengganti pakaianmu" Gadis yang sudah berpakaian kering itu kembali mendorong kursi roda Soobin hingga tiba di kamarnya, lantas menyuruh para perawat untuk memberikan pakaian kering untuk Soobin.
Setelah mengganti baju, Soobin kini berada diatas bangsalnya. Juga gadis tadi yang menolongnya. Kini dia masih berdiri disisi bangsal.
"Boleh aku duduk?" Soobin mengangguk pelan.
Gadis itu kemudian duduk, lalu menatap Soobin "Siapa namamu?"
"Soobin" Jawabnya pelan.
"Ah~ Soobin.. Namaku, Nada" Ucapnya "Tadi itu, kamu mengingatkanku akan masa lalu.. Sungguh, sejujurnya tanganku sudah gemetaran melihatmu ingin loncat dari sana, Soobin" Nada menundukkan pandangannya.
Soobin diam menatapnya.
"Aku, memang tidak mengenalmu.. aku juga tidak tahu apa masalahmu.. tapi, tolong jangan lakukan itu lagi Soobin" Nada menatap Soobin yang menundukkan pandangannya.
"Kamu, boleh ceritakan segalanya padaku.. apapun itu, aku akan mendengarkanya, jangan pernah merasa jika kamu sendirian, lihat, aku ada disini.. aku ingin menjadi seseorang yang memahamimu, aku ingin jadi pendengar setiamu, Soobin.."
Mendengar itu, Soobin berusaha untuk tidak menangis. Walaupun hidungnya sudah berair, dan matanya sudah berkaca kaca, Soobin tidak ingin terlihat lemah dihadapan seorang gadis.
"Terimakasih, Nada-yaa" Ucapnya, lantas tersenyum pada gadis itu "Maaf karena aku belum bisa menceritakan semuanya padamu"
Bagaimanapun, Nada adalah orang asing bagi Soobin. Dia tidak bisa menceritakan segalanya pada Nada.
"Tidak apa apa, Soobin.. memang seharusnya kamu menjaga hal hal seperti ini pada orang asing" Nada tersenyum "Aku juga pasien disini, sudah lama.. sekitar empat bulan yang lalu"
...****************...
[ to be continued ]
__ADS_1