Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 1 ] of Juli.


__ADS_3


..."*Kebohongan yang sangat kusukai adalah, Kamu."...


...- Choi Soobin* -...


.......


.......


...[ Happy Reading ]...


Soobin sudah berada di area pertandingan ice skating tingkat kota bersama bunda dan pacarnya, Jihna.


Laki-laki itu nampak gugup ketika melihat kontestan lain menari dengan indah diatas dinginnya lapangan es. Ya, walaupun Soobin sudah terbiasa ikut lomba, tetap saja perasaan gugup seperti ini selalu saja datang.


"Pokoknya kamu harus menang, Soobin" Jihna berbisik, dia duduk disebelah kiri sang kekasih "Aku tidak ingin melihatmu kalah oleh peserta yang lain" lanjutnya dengan wajah datar.


Soobin menghela kecil. Jihna tidak pernah menyemangatinya sejak dua bulan terakhir, entah ada apa dengan gadis ini. Tapi tidak masalah, masih ada bundanya yang selalu memberikan dukungan.


Tentang Jihna, dia sudah mau ikut menonton saja sudah membuat Soobin bersyukur.


"Bunda yakin Soobin pasti bisa mengalahkan mereka, Semangat ya" Bunda tersenyum lembut disebelah kanan. Wanita paruh baya itu nampak sangat cantik saat tersenyum.


Soobin mengangguk sembari membalas senyumannya.


Lima menit kemudian, nama Soobin terdengar lewat pengeras suara. Dengan sigap, dia berdiri lantas pergi ke tengah lapangan.


Detik detik berlalu dengan indah. Soobin menari diatas es dengan sangat tenang dan berlagak seperti pangeran.


Guratan diatas es yang tercipta oleh besi pada sepatu Soobin seolah membentuk sebuah karya yang indah luar biasa. Dia berputar, mengangkat satu kaki, bergeser ke kanan dan ke kiri dengan mulus.


Bunda dan Jihna masih menonton dari atas.


Namun tiba-tiba, ponsel Jihna bergetar. Panggilan masuk dari seorang laki-laki bernama Kyuhyun. Wajahnya mulai berubah, dia terlihat sedikit bingung.


"Bunda, aku ingin pergi ke toilet sebentar" Ucapnya, lantas segera meninggalkan kursi penonton dengan langkah terburu buru.


Bunda hanya mengangguk mengiyakan.


"H-halo, sayang?" Jihna kini berada dibalik tembok penghalang antara ruangan penonton dan area luar.


"Kamu dimana? aku sudah menunggumu di cafe, Jihna" Ucap seseorang diseberang telfon.


"Kan sudah kubilang, aku hanya bisa menemuimu setelah Soobin tanding. Kamu ini tidak paham juga?"

__ADS_1


"Dengar, Jihna.. sampai kapan kamu akan terus mengutamakan Soobin dibanding aku? Seharusnya kamu tidak perlu menemaninya, kamu bisa langsung pergi denganku, apa susahnya?"


"Ya! itu tidak semudah yang kamu pikirkan, bagaimana jika Soobin tau aku pergi dengamu? huh?"


"Kamu terlalu membuatku bingung, sebetulnya kamu ini mencintaiku atau Soobin?"


"Astaga Kyuhyun, sudah kubilang aku tidak mencintai Soobin. Aku hanya ingin terkenal, hanya itu" Gadis itu berdecak "Sudah jangan banyak bicara, sebentar lagi aku akan pergi menemuimu" Ucapnya, lantas mematikan telfon itu sepihak.


"Ck, dasar!" Dengusnya.


Jihna kembali memasuki ruangan penonton.


Seluruh orang yang menyaksikan pertandingan itu bersorak ramai. Rupanya Soobin sudah selesai, dan karena inilah mereka bertepuk tangan.


Syukurlah, dia datang sebelum Soobin kembali.


Gadis itu lantas duduk di tempatnya semula. Berlagak seolah tidak pergi kemanapun barusan. Hingga Soobin datang dengan rambut yang masih basah akibat keringat, menghampiri keduanya dengan senyuman.


"Kamu tampil dengan sangat indah, Soobin" Bunda tersenyum, menyodorkan sebotol minuman pada Soobin.


Laki-laki itu tersenyum lebar sembari menerima botol dari bundanya. Jihna hanya diam memperhatikan Soobin dengan pura-pura tersenyum.


Saat Jihna sadar kamera tengah menyorot kearahnya, segera ia mengelap kening Soobin dengan lembut menggunakan tisu hingga beberapa penonton berbisik.


Soobin tersenyum lembut menatap Jihna yang tengah mengusap keringat di keningnya. Gadisnya sangat cantik, juga perhatian.


Jihna hanya tersenyum kecil tanpa berucap sepatah kata pada Soobin. Seandainya Soobin tau Jihna hanya berpura-pura, laki-laki itu pasti akan membencinya. Jihna hanya ingin dikenal banyak orang seperti Soobin, padahal hatinya tidak tulus menerima Soobin.


Jihna menoleh kearah Soobin, "Setelah ini, aku harus pulang Soobin.. maaf karena tidak bisa bersamamu terlalu lama"


Laki-laki itu mengangguk, "Tidak apa apa, Na. Aku tidak keberatan atas itu"


...----------------...


Bunda dan Soobin sudah berada di rumah, mereka baru saja datang. Pengumuman pemenang akan diumumkan esok hari, jadi bunda menyuruhnya untuk istirahat dirumah.


Bunda tengah menonton tv, sedangkan Soobin berada di kamarnya.


Ditengah rasa khawatirnya akan pengumuman besok, hatinya juga sibuk menghawatirkan Jihna. Dia sempat melihat Jihna tidak berada di bangku penonton tadi, hal ini cukup membuat konsentrasi Soobin terganggu.


Soobin bertanya tanya, kemana Jihna pergi. Dia sudah bertanya pada bunda, tapi jawaban bunda tidak dapat meyakinkan hatinya. Sejak tadi pagi, Jihna terlihat sibuk dengan ponselnya.


Kemarin, saat Soobin hendak menyentuh ponsel Jihna, gadis itu langsung marah marah pada Soobin tanpa mengatakan alasan yang jelas. Jihna benar-benar terlihat sangat marah waktu itu.


Sebetulnya, ada apa dengan Jihna?

__ADS_1


Mengabaikan pikiran buruknya, Soobin beranjak keluar kamar. Dia ingin membeli beberapa minuman kaleng di minimarket kota, sembari berjalan menikmati suasana menjelang sore. Dia harap, hal ini bisa meringankan beban pikirannya.


"Soobin? mau pergi kemana?" Bunda yang melihat anak lelakinya sudah berpakaian rapih itu bertanya.


"Aku ingin pergi membeli minuman sebentar, Bun" Ucapnya dengan sebuah senyuman. Soobin selalu tersenyum pada bundanya, dia anak yang lembut dan sopan.


"Oh begitu, hati hati di jalan ya" Jawab bundanya.


Soobin mengangguk, lantas berlalu dari hadapan bunda. Pergi menggunakan mobil, menyusuri jalanan kota yang terlihat lebih ramai dari hari biasanya.


Sejujurnya, perasaan bunda agak tidak nyaman saat melihat Soobin pergi. Tapi, wanita itu berusaha berpikir positif. Soobin tidak akan mengalami hal buruk, dia pasti baik baik saja.


Setibanya di minimarket, Soobin melirik kearah jendela kaca sebuah cafe yang tepat berada di sebelah minimarket tempat ia berdiri.


Matanya memicing, memperhatikan seorang gadis yang terlihat sangat familiar dimatanya. Dia seperti- Jihna?


Sedang apa dia disini?


Soobin melangkah lebih dekat, nampak seorang laki-laki lain yang duduk dihadapannya. Mereka telihat saling menggenggam tangan antara satu dengan lain.


Jihna? kenapa kamu melakukan ini?


Laki-laki dengan luka yang mulai membengkak di hatinya itu berjalan menghampiri Jihna. Betapa terkejutnya Jihna ketika melihat Soobin yang kini berada dihadapanya dengan wajah datar yang belum pernah dilihat oleh kedua matanya.


Soobin terlihat sangat marah padanya.


"S-soobin? k-amu-"


"Jihna, katakan dengan jujur, siapa laki-laki ini?" Ucap Soobin dengan nada mengancam.


"D-dia, d-dia tem-"


"Dia kekasihku, Soobin" Kyuhyun bangkit dari duduknya, menatap Soobin dengan santai.


"A-apa?" Jihna membulatkan mulutnya, tidak menyangka Kyuhyun akan berbuat se-nekat ini.


"Hayalanmu terlalu tinggi" Soobin menatap Kyuhyun datar.


Kyuhyun terkekeh pelan mendengar ucapan Soobin barusan "Dengar, Soobin.. dia, Jihna.. tidak benar-benar mencintaimu, dia mencintaiku Soobin, bukan dirimu.. Seharusnya kau yang berhenti berhayal terlalu tinggi" Kyuhyun tersenyum sinis.


"Benarkah, itu? Jihna?" Soobin menoleh, menatap Jihna yang tengah gugup setengah mati.


"S-sobin, D-dia.."


...****************...

__ADS_1


See you next episode! ^^


__ADS_2