Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 36 ] of Juli.


__ADS_3


...Di atas bumi ini, sengaja kupijakkan jejak kenangan lama untukmu. Maaf, kali ini aku ingin egois. Aku ingin kamu ingat aku. Walaupun aku tau, pada akhirnya kamu pasti menangis....


.......


.......


...- Juli -...


...****************...


Keesokan harinya, Kak Yeonjun mengajakku untuk pergi olahraga di sekitar rumah sakit. Pukul 05.00, kami memulai perjalanan dan istirahat sejenak di taman belakang sekitar pukul 07.00.


Sinar mentari mulai terasa hangat menyentuh kulit. Kini aku dan Kak Yeonjun duduk di bangku panjang dekat kolam ikan berbentuk lingkaran dengan air mancur yang menjulang indah di bagian tengah.


Tempat favoritku untuk menulis.


"Jadi selama ini kakak tinggal di Jeju?" mataku agak menyipit ketika menatap Kak Yeonjun yang duduk membelakangi cahaya matahari.


"Iya, Nad.. Jeju sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan kota ini.. Jeju sangat tenang, sedangkan kota ini penuh dengan kebisingan" jelasnya sembari tersenyum.


"Tenang?"


"Ya, disana masih asri.. masih banyak pemandangan hijau dan alam yang tak kalah indah dari gemerlapnya lampu malam kota"


"Benarkah? ah, aku jadi penasaran Kak" senyumku mengembang, begitu juga dengan senyum kak Yeonjun.


"Rencananya, aku akan membawamu kesana Nada.. kita tinggalkan kota penuh luka ini, kita buat kenangan baru bersama di Jeju.. tapi aku kemari punya tujuan, dan baru selesai satu.. jika aku sudah menyelesaikan semuanya, kita akan berangkat"


Aku terdiam sejenak. Meningggalkan kota ini bukan hanya meninggalkan kenangan pedih, tapi juga meninggalkan semua kenangan manis yang telah terlukis di kota ini.


Dan satu lagi, apa dia sanggup tinggal jauh dari rumah sakit? apa dia akan sanggup bertahan sampai waktu yang telah ditentukan Kak Yeonjun untuk pergi ke sana?


"Memangnya apa saja tujuan kakak?"


Kak Yeonjun menoleh, "Pertama, menemukanmu.. kedua, aku ingin menyampaikan sesuatu pada Ayah.. hanya itu"


"Ayah?" netraku terpaku pada wajah Kak Yeonjun.


"Iya Ayah" Yeonjun menoleh.


"Ayah masih hidup?"


Mendengar itu, Yeonjun tersenyum sendu. Selama ini, Yeonjun menyembunyikan segalanya sendirian "Ayah masih hidup, Nada.. dia di penjara"


...----------------...


Nada kini sudah berada di kamarnya, duduk di sisi jendela dengan benang rajut di tanganya. Mentari di luar sudah mulai membakar kulit, jadi Yeonjun menyuruhnya untuk kembali ke kamar.


Ngomong-ngomong, Nada sendirian. Kakaknya sedang keluar untuk membeli sesuatu, entahlah laki-laki itu tidak bilang jelas ingin beli apa.

__ADS_1


Tangan Nada memang fokus pada rajutan, tapi pikirannya tidak. Pikiran Nada terus saja berputar tentang sang Ayah. Perasaannya bercampur aduk antara sedih dan senang. Ayah masih hidup. Ayah tidak pergi.


Bagaimana keadaannya sekarang? apa dia baik? apa selama ini dia merindukan keluarganya? atau malah sudah lupa akan segalanya? seandainya Nada bertemu dengan beliau nanti, apa yang akan terjadi?


Gadis itu menghela pelan.


"Nadaa" suara Taehyun terdengar dari balik pintu. Nada menoleh, tersenyum bahkan sebelum tubuh laki-laki itu terlihat di depan matanya.


"Yaa" jawabnya sembari bangkit membuka pintu "Kenapa tidak langsung masuk saja sih?" ucapnya, tertawa kecil.


"Aku masih ada tugas, aku kesini hanya mengantarkan seseorang" mendengar itu, Nada mengerutkan kening. Pandangannya jatuh pada jinjingan yang dibawa Taehyun. Nada penasaran, tapi sebaiknya dia tidak usah bertanya tentang hal yang tidak perlu.


"Lalu, mana orangnya?"


"Orangnya sedang telfon dulu, nanti juga kesini.. tunggu saja.. dan ini dari dia, untukmu" jelas Taehyun sembari menyodorkan jinjingan itu pada Nada.


"E-eh??" Gadis itu menerimanya dengan penuh tanda tanya. Siapa yang sudah repot-repot membawakan ini semua untuknya?


"Aku lanjut bertugas dulu ya, sampai nanti" Laki-laki itu melangkah pergi dengan senyuman di wajahnya.


"Dokter Kang-"


"Tunggu saja, sebentar lagi!" Taehyun bicara tanpa menoleh.


Nada menghela pelan. Seharusnya Taehyun langsung bilang padanya siapa orang itu, Nada kan jadi penasaran. Tapi yasudahlah, tunggu saja.


Gadis itu kembali berjalan menuju jendela. Tapi sebelum tiba di sana, Nada menaruh jinjingan itu dekat bangsalnya. Dia harus segera menyelesaikan rajutanya sebelum tenaganya berkurang hari demi hari.


Baru saja Nada duduk, pintu kembali diketuk. Gadis itu menoleh "Masuk saja, tidak apa-apa!" ucapnya, masih duduk sembari menghadap ke arah pintu.


Pintu perlahan terbuka, seseorang masuk. Pandangan gadis itu tidak beralih. Satu detik kemudian, sosok laki-laki jangkung yang semula menunduk itu mengangkat pandangannya sembari tersenyum lembut.


Kain itu jatuh begitu saja. Nada bangkit seraya berlari kearah laki-laki itu, memeluknya dengan erat sembari memejamkan mata.


"Kenapa tiba-tiba sekali? aku kan jadi tidak ada persiapan apapun untukmu, Soobin" lirih Nada, masih memeluk erat Soobin yang juga tengah memeluknya.


Air mata keduanya mengalir tanpa aba-aba. Rasa rindu yang telah mereka tabung akhirnya bisa mereka pecahkan sama-sama. Rembulan demi rembulan yang berlalu setengah kini seolah bersinar terang sepenuhnya.


"Aku merindukanmu, Nada" lirih Soobin.


"Kamu pikir aku tidak merindukanmu? huh?" Nada hendak melepaskan peluknya, namun Soobin menahannya.


"Tidak, tolong jangan lepas dulu" mendengar itu, Nada tersenyum lantas kembali memeluk tubuh Soobin. Dia tinggi sekali sekarang.


Beberapa detik kemudian, keduanya saling mengendurkan pelukannya lantas saling bertukar pandang. Nada semakin kelihatan cantik, tapi- tapi kenapa Soobin merasa dia semakin kurus?


Ah, tidak.


"Kemari, aku ingin memberimu sesuatu" ucapnya, menarik lembut lengan Nada lantas menyuruh gadis itu duduk di atas sofa.


"Tunggu di sini" Soobin tersenyum hingga lesung pipinya nampak. Demi apapun, Nada sangat merindukan senyuman itu.

__ADS_1


Soobin beranjak mengambil jinjingan yang berada di dekat bangsal, lantas duduk di sebelah Nada.


"Ini, untukmu.. semuanya" Soobin menyodorkan jinjingan itu pada Nada.


"Untukku?" Nada menoleh, Soobin mengangguk.


"Buka cepat" titah laki-laki itu.


Nada tersenyum kecil, lantas mulai mengeluarkan satu per satu isi di dalamnya. Senyumannya tak berhenti nampak. Soobin ikut tersenyum.


Beberapa kue yang dibungkus cantik, buku, dan satu kotak lainnya dihias sangat indah.



"Aku ingat, kamu sangat menyukai coklat, jadi kubelikan ini untukmu.. nanti dimakan yaa" ucap Soobin.


Nada menoleh, "Kamu tau, kuenya sangat lucu.. aku tidak tega memakannya"


"Hey, jangan begitu.. kamu harus makan di depanku pokoknya" protes Soobin.


Nada terkekeh pelan.


"Ini, aku juga ingat kamu senang menulis" Soobin menunjuk buku putih yang bergambar astronomi di atas meja.



"Tulis apapun yang kamu rasakan di sini, apapun.. aku tau, kamu tidak mudah mengatakan pada orang lain, dan aku juga tau rasanya pasti sangat menyesakkan dada.. setidaknya, kamu bisa melepaskan rasa itu lewat tulisan di sini.. aku tidak akan membacanya bila kamu tidak mengizinkannya, aku janji"


"Aku juga punya satu lagi warna hitam, jadi kita punya sepasang buku yang sama.. nanti aku juga akan menuliskan semuanya, aku akan memberikannya padamu ketika kita bertemu untuk kamu baca" jelas Soobin.


Lagi-lagi, Nada tersenyum.


"Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, Soobin.. tenang saja" jawab Nada. Soobin tersenyum.



"Ini juga" Soobin mengeluarkan dua buah gelang dari kotak kecil itu "Mana yang akan kamu pakai lebih dulu?"


"Pilihanmu, pilihanku juga Soobin.." ujar gadis itu.


Soobin terkekeh pelan, "Baiklah, sini aku pakaikan"


Soobin menggapai lengan kanan Nada, lantas memakaikan gelang berwarna biru tadi. Gelang itu nampak sangat cantik di tangan Nada.


"Aku harap kamu selalu memakainya, jika hilang pakailah yang satu lagi.. ya?"


Nada terdiam sejenak.


"Jika aku yang hilang, gelang ini yang akan selalu jadi ciriku, Soobin"


...****************...

__ADS_1


...[ TBC ] ...


...See youu 😚❤...


__ADS_2