![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
..."Who are you?"...
...****************...
Pukul 06.00.
Gadis dengan sweater hijau itu berjalan dengan tergesa menuju kamar seorang pasien yang selalu ia kunjungi setiap waktu. Pasien berusia 65 tahun yang sangat ia sayangi.
Cklek.
Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok wanita tua yang terbaring diatas bangsal. Wanita itu tersenyum ketika gadis ini masuk dengan senyuman indah yang selalu ia bawa.
"Kamu datang"
Jemari nenek itu bergerak, membentuk sebuah pola kalimat menggunakan bahasa isyarat.
Gadis itu mengangguk, "Selamat pagi, nek" lantas duduk disisi bangsal.
"Aku sangat merindukanmu"
Senyuman itu makin mengembang. Kini telapak tangan sang wanita tua itu menyentuh pipi milik gadis dihadapanya.
"Aku juga sangat merindukan nenek" Gadis itu tersenyum lembut menggenggam tangan keriput yang menyentuh pipinya "Sarapan dulu, biar aku suapi nenek"
Nenek itu mengangguk.
Nada mengambil mangkuk bubur yang tersedia diatas meja, lantas mulai menyuapi nenek itu dengan lembut.
Ditatap nya wajah nenek, dengan hati yang sendu. Hanya nenek inilah yang menjadi saksi bisu perjuangan Nada melawan semua rasa sakit akan masa lalu. Nenek inilah yang menjadi penenang Nada saat keadaan membuat dirinya hampir menyerah.
Kedua tangan keriput ini, yang membelai Nada tiap kali air mata jatuh di pipinya. Senyuman inilah yang berhasil membuat Nada kembali merasa kuat.
"Matamu berkaca kaca, ada apa?"
Nada menggeleng, "Tidak kenapa napa, Nek.. Nada sayang padamu" ucapnya pelan.
"Tiap kali kau seperti ini, nenek jadi khawatir ada orang yang menyakitimu tapi kamu enggan menceritakan apapun padaku"
Raut wajah nenek itu berubah menjadi ragu pada Nada. Melihat itu, Nada menggeleng cepat "Sungguh, Nek.. tidak ada yang membuatku sedih saat ini" lantas tersenyum.
Nenek itu tersenyum,
"Kamu sudah banyak berubah, Nada.. Nenek sangat bahagia melihatmu lebih banyak tersenyum.."
"Semuanya telah berlalu, kamu menjalaninya dengan baik, Nak.. Kamu bukan lagi Nada yang menemuiku dengan luka pukulan di pipimu, kamu bukan lagi Nada yang menangis lemah disisi pagar saat malam hari.. Kamu adalah Nada yang cantik dan periang sekarang.."
"Aku ini sudah tua, Nak.. jika aku sudah melihatmu berubah, maka aku tidak lagi harus memikirkanmu saat Tuhan hendak membawaku pulang"
"Aku tidak suka nenek bicara begitu" Nada menatap wajah tua itu sesaat "Nenek akan selalu bersamaku, nenek akan sembuh" lanjutnya.
"Nenek tidak bisa selamanya bersamamu, Nada.."
"Nada tidak ingin nenek pergi, Nada ingin selalu bersama nenek" Mata Nada kembali berkaca kaca. Topik pembahasan paling ia benci bersama Nenek ini.
__ADS_1
"Perjalanan hidupmu masih panjang, Nada.. Sedangkan aku sudah berada dipenghujung jalan, aku sudah melewati semuanya, sekarang tinggal giliranmu.. temui bahagiamu, Nak.. temui semua yang kau sukai, tersenyumlah selalu, kau mengerti?"
"Tapi bahagiaku hanya saat bersamamu, Nek"
Nenek itu tersenyum, "Tidak mungkin Tuhan memberimu banyak tangis dengan bahagia yang sedikit, Nada"
...----------------...
"Siapa kamu?" Soobin menatap seorang gadis yang baru memasuki kamarnya dengan tatapan kesal.
"Astaga sudah kubilang jangan bertingkah menggemaskan" Nada masuk dengan membawa semangkuk makanan juga satu kantung plastik putih di tangannya.
"Kamu bilang akan datang lebih awal? sekarang sudah hampir pukul sembilan" Protes Soobin.
Nada menaruh mangkuk itu, lantas menggeser kursi agar mendekat pada bangsal Soobin "Aku memang datang lebih awal, Soobin.. biasanya aku akan datang pukul sebelas atau dua belas siang"
"Astaga apa kau sudah gila? kemarin kamu bilang akan datang pagi? tapi--" Soobin yang tengah marah marah itu terhenti ketika mangkuk yang tengah dimakannya diambil paksa oleh Nada.
"Berikan padaku" Ucapnya sembari menuangkan bubur itu pada mangkuk yang dibawa Nada.
"Makanlah ini, aku tau kamu sudah menunggunya sejak pagi" Nada menyendok makanan itu, lantas bergerak mendekatkan sendok itu pada mulut Soobin "Buka mulutmu"
Soobin diam, lantas mulai membuka mulutnya seperti perintah Nada.
Ketika makanan itu masuk kedalam mulut Soobin, dia terkejut. Masakan Nada enak juga ternyata. Sungguh, Soobin belum pernah makan makanan seenak buatan Nada sebelumnya.
"Bagaimana?" Nada tersenyum menatap Soobin.
"Lumayan" Soobin tersenyum.
"Lumayan.." Ulang Soobin.
"Makanlah sendiri!" Dengus Nada. Hey, dia sudah berusaha menjadikan masakannya ini seenak masakan chef bintang lima.
"Eh??" Soobin tertawa kecil menatap Nada yang memalingkan pandangannya "Aku hanya bercanda, Nad, masakanmu sangat enak" Soobin menoleh sembari tersenyum.
"Nah, begitu dong" Nada tersenyum lebar.
Soobin kembali menyendok makanan itu "Terimakasih, Nad"
Gadis itu mengangguk pelan dengan sebuah senyuman. Menunggu Soobin selesai makan, membuatnya jadi ikut kenyang.
"Apa yang kamu lakukan saat pagi hari?" Soobin menoleh.
"Aku pergi menyuapi nenekku, menemaninya hingga kembali tertidur, barulah aku bisa pergi meninggalkanya.. itulah sebabnya aku terlambat kemari, maaf"
"Tidak apa, aku tahu kesibukanmu bukan hanya untuk menemuiku Nad.."
"Apa kamu ada jadwal hari ini?" Nada kembali bicara.
"Tidak ada, kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, apa kamu mau?"
__ADS_1
"Ajak aku kemanapun kamu mau" Soobin kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Kalau begitu temani aku ke ruangan jenazah nanti" Nada tertawa kecil.
"Tidak mau. Makasih." Dengus Soobin menatap kesal kearah Nada.
"Ck, dasar penakut" Ejek Nada. "Kamu bilang bawa aku kemanapun kamu mau, giliran kuajak pergi kesana kamu menolaknya mentah mentah"
"Kamu memang tidak waras, mengajak orang lain ke kamar jenazah.. "
"Memang apa salahnya? bilang saja kamu itu penakut" Nada tertawa kecil.
"Aku bukan penakut, berhadapan hantu pun aku tidak lari"
"Aku tidak percaya"
"Sekarang ini buktinya" Soobin tersenyum lebar menatap Nada yang terlihat kesal.
Nada merebut mangkuk makanan yang tinggal sedikit itu, lantas menaruhnya diatas meja.
"Kemari kamu Soobin" Nada bangkit lantas menggelitiki Soobin hingga mereka tertawa bersama. Soobin itu gampang sekali geli rupanya.
"NAD NAD AMPUN NAAADD" Soobin kini tidak berhenti tertawa.
"Jadi kamu bilang aku ini hantu? begitu? kalau begitu biarkan hantu ini menghabisimu dengan serangan saraf" Nada tertawa.
"NAD ASTAGA PERUTKU SAKIT" Mendengar itu, Nada berhenti membuat Soobin geli.
Laki-laki itu mengusap ujung matanya yang berair akibat tertawa. Nada menghela napas, berusaha untuk kembali diam tanpa tertawa.
Nada lantas menyodorkan segelas air mineral pada Soobin yang terlihat sangat kelelahan. Mampus, suruh siapa anak ini mengatai Nada hantu?
"Minumlah" Soobin menerima uluran tangan Nada, lantas meminumnya. Akhirnya Soobin kembali normal tanpa harus sakit perut.
"Oh iya, aku hampir lupa"
"Ada apa?" Soobin menoleh.
"Aku belikan ini, satu untukmu, satu lagi untukku" Nada membuka kantung plastik diatas meja, lantas menyodorkan susu pisang pada Soobin.
"Kenapa kamu memberiku susu?" Soobin menerimanya, lantas menoleh.
"Dokter Kang bilang, seseorang yang lumpuh butuh nutrisi untuk tulangnya. Aku tidak tahu susu ini mengandung kalsium yang banyak atau tidak, tapi aku yakin pasti ada kandungan kalsiumnya,.. begitu, Soobin" Nada tersenyum.
"Kapan kamu membelinya?"
"Pagi tadi, saat keluar bersama Dokter Kang untuk olahraga, aku pergi membeli sebotol minuman, lalu aku melihat ini (mengangkat susu pisang) dan seketika aku teringat padamu, Soobin"
"Apa dokter yang kamu bilang itu bekerja disini?"
"Iya, dia dokter pendampingku.." Nada mengangguk pelan.
Dokter pendamping??
__ADS_1
...****************...
[ to be continued ]