![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
..."Seseorang tidak akan mengingat apa yang kamu katakan, melainkan apa yang kamu lakukan pada mereka."...
.......
.......
...- Juli -...
...****************...
Taehyun dan Nada kini telah tiba di tujuan, sebuah festival lampion di pusat kota yang satu tahun sekali di rayakan.
Tahun lalu, keduanya juga datang.
Bedanya, Nada belum tinggal di rumah sakit waktu itu. Dan dengan segala rasa syukur, Nada tidak menyangka dia bisa kembali datang kemari dengan seseorang yang sama.
Taehyun turun dari mobil lebih dulu, lantas beranjak ke sisi lain untuk membukakan pintu mobil agar gadis itu bisa keluar.
Ditariknya tuas itu, nampak Nada yang tersenyum lebar sembari turun dari mobil. Gadis itu kini berdiri di sebelah kiri Taehyun.
"Ayo kesana" ajak Taehyun. Nada mengangguk, mulai berjalan di sebelah laki-laki itu.
"Padahal tadi aku kan bisa buka sendiri, Hyun.." Nada menoleh, tersenyum.
Taehyun ikut menoleh, dia terkekeh pelan "Tidak apa, aku suka membukakan pintu untukmu" ucapnya.
"Terimakasih, anak baik" kedua netra indah Nada masih terpaku pada wajah Taehyun.
"Sama-sama, cantik" jawab laki-laki itu sembari mengalihkan pandangan.
Mendengar itu, Nada terkekeh pelan.
"Kamu betulan cantik, Nad.. sangat malah" ucap Taehyun tanpa menoleh.
"Nyenyenye" jawaban Nada ini membuat Taehyun tertawa. Anak ini selalu saja begitu tiap kali Taehyun terang-terangan memujinya.
"Mau jajan apa?" tanya laki-laki itu setelah mereka tiba di area tengah festival.
"Aku tidak bawa uang saku, tertinggal tadi.." jawab Nada.
"Hey, aku tidak menanyakan dimana uangmu, Nad.. aku tanya, kamu ingin jajan apa? kenapa jawabnya masalah uang?" Taehyun menoleh, menatap Nada yang juga tengah menatapnya.
Lenggang sejenak.
"Ayo katakan" ucap Taehyun kemudian.
"Toppoki" setelah melirik sekitar, Nada kembali menatap Taehyun dengan tersenyum.
"Yuk, beli" Taehyun hendak berjalan, namun tangan mungil Nada menahan lengannya.
"Tunggu, aku kan-"
"Ayo.. aku tau kamu tidak membawa uang.. tapi tolong peka sedikit" Taehyun menoleh, merangkul tubuh Nada, lantas membawanya pergi ke kedai toppoki.
Peka apa maksudnya? Nada tidak tahu. Dia hanya mengikuti apa kata Taehyun saja sekarang.
Tiba di kedai, Nada mengerutkan kening. Dari banyaknya pedagang toppoki di sisi jalan, kenapa anak ini justru membeli makanan di kedai? bukankah harganya akan jauh berbeda? kalau begini, Nada akan menghabiskan uang tabunganya nanti.
Gadis itu menarik kelingking Taehyun, membuat laki-laki itu menoleh "Ingin tanya" ucapnya.
"Nanti dulu ya, sebentar lagi jadi pesanannya" jawab Taehyun dengan seutas senyuman.
"Terimakasih, paman" laki-laki itu menerima pesanan toppoki, lantas berjalan menuju bangku kosong yang langsung menghadap hamparan air yang berada di bawah jembatan penghubung antar kota.
"Ingin tanya apa tadi?" dia menoleh pada Nada yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kamu tadi lihat banyak pedagang toppoki di sisi jalan kan? tapi kenapa kamu memilih di kedai? bukankah itu akan membuat harganya jadi lebih mahal?" Nada menoleh "Aku takut tabunganku tidak cukup, Taehyun"
__ADS_1
"Astaga jadi kamu belum paham juga?" Taehyun memandang Nada dengan tatapan sedikit kesal. Kenapa anak ini susah sekali peka terhadap apa yang Taehyun lakukan untuknya?
"Paham apa? Taehyun?" Nada mengerutkan dahi.
"Yaampun Nada... begini saja deh, aku mengajakmu keluar, bukan untuk menghabiskan tabunganmu"
"Hah?"
"Aku traktir.. tadi habis cair" Taehyun mengalihkan pandangan, kesal.
"Ooh, begitu.." Nada tertawa kecil menatap Taehyun yang sudah lelah dengan ke-tidak-pekaanya "Bilang dong, traktir, begitu..."
"Sudahlah, makan nih," Taehyun menyodorkan toppoki itu pada Nada "Gratis" lanjut Taehyun.
Entah kenapa mendengar kata 'gratis' dari Taehyun membuat Nada makin tidak sanggup menahan tawa.
"Iya, iya, gratis.." Nada masih terkekeh "Lagipula siapa suruh bicara pakai kode, aku kan tidak paham"
"Sudah cepat dimakan" titah Taehyun, masih sedikit kesal "Tidak enak jika sudah dingin" lanjutnya.
Nada tersenyum, lantas mulai memakan toppoki itu bersama dengan Taehyun. Netranya memandang sekitar, sudah banyak perubahan yang terjadi di tempat ini sejak dia meninggalkan perkotaan.
Dia menghela napas pelan.
Dan entah kenapa, kepalanya jadi tiba-tiba pening. Semakin lama, pandangannya seolah berputar. Jemarinya bergerak menggenggam tangan Taehyun dengan erat, seolah hendak jatuh.
"Kenapa Nad?!" Taehyun yang mulai khawatir itu menyentuh pundak Nada.
"A-aku tidak tahu, Taehyun.." Nada memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lemas "Taehyun, tolong jangan lepaskan aku.."
"Nada-"
Deg.
Dada laki-laki itu makin berdebar, kini Nada sudah tidak sadarkan diri di pundaknya. Tangan yang tadinya menggengam erat Taehyun, kini terlepas begitu saja lantas jatuh.
Tanpa menunggu apapun, Taehyun berdiri lantas menggendong Nada ke atas punggungnya, lantas berlari menuju mobil untuk segera pulang. Tidak memperdulikan toppoki yang tersisa di atas bangku.
"Bertahanlah, Nad.." jemarinya bergerak menggenggam tangan dingin Nada yang tak menggenggamnya balik. Taehyun tidak melepaskan genggaman itu hingga keduanya tiba di rumah sakit.
"Aku mohon, aku mohon.." lirihnya.
...----------------...
"NADA?!" setibanya di rumah sakit, Nakyung yang tidak sengaja lewat itu terkejut ketika mendapati Taehyun dengan Nada yang tidak sadarkan diri di atas punggungnya.
"Na, tolong panggil Dokter Lee, sekarang." Napas Taehyun terdengar berat, dengan segera, Nakyung mengangguk lantas berlari menuju ruangan Dokter Lee.
Taehyun kembali gerak cepat menuju kamar Nada.
Laki-laki itu membaringkan tubuh Nada, menyelimutinya, lantas mulai bergerak mengecek kondisi tubuh Nada.
Beberapa detik kemudian, Dokter Lee masuk, mengambil alih pekerjaan Taehyun. Keduanya terlihat sangat panik namun tetap teliti dan cekatan.
Nakyung juga membantu, dia menyiapkan beberapa cairan infus untuk Nada.
Beberapa cek dilakukan. Ketika hasilnya sudah keluar, baik Dokter Lee, Taehyun, maupun Nakyung hanya bisa membeku. Tidak, Nakyung sudah menangis sebenarnya.
Lampiran surat itu berada di tangan Taehyun yang mulai gemetar.
Leukosit pasien : Tinggi
Taehyun yang sudah tidak sanggup lagi untuk membaca hasil cek itu langsung memasukkan lembaran tadi ke dalam map yang ia taruh di kolong bangsal Nada dengan kasar.
Beralih pada Nakyung, gadis itu menitikkan air matanya beberapa kali.
"Maaf Nad, aku banyak menyusahkan kamu.." Nakyung yang tengah berdiri di sisi bangsal itu mengusap lembut kepala Nada.
Terasa hangat ketika telapak tangannya berada di atas kening Nada. Hati Nakyung mencelos begitu menatap wajah gadis cantik yang terlelap dengan tenang di atas bangsal.
__ADS_1
...----------------...
"Soobin! kamu itu kemana saja? huh?! dihubungi pun susah" Beomgyu, teman dekat Soobin di sekolah hari ini datang menemuinya ke rumah.
Laki-laki itu tidak sendirian, dia bersama Hueningkai yang juga bernotabene sebagai sahabat Soobin.
"Ya, mau bagaimana lagi? handphone ku terbawa oleh Bunda, bagaimana bisa aku membalas pesan kalian?" jawab Soobin.
Ketiganya kini tengah berada di kamar Soobin.
"Jujur, melihatmu begini aku jadi lega, Bin.." Hueningkai angkat bicara. Soobin menoleh, tersenyum.
"Ya, kami tau kamu pasti melewati masa-masa sulit disana.. tapi aku yakin kamu bisa bertahan" Beomgyu tersenyum, menepuk pundak Soobin.
"Oh iya, satu lagi.." Beomgyu dan Soobin bertukar pandang "Aeri mencarimu" lanjutnya.
Aeri, gadis sekelas Soobin yang selama ini selalu peduli pada Soobin, namun laki-laki itu selalu menolak dan menghindar karena dulu dia masih berpacaran dengan Jihya.
Beomgyu dan Hueningkai tersenyum lebar, sementara Soobin hanya menghela napas.
"Hey, bukankah kamu juga sedikit menyukainya?" Beomgyu mengerutkan kening.
"Tidak, aku menyukai orang lain" jawab Soobin dengan menjatuhkan pandangannya ke lantai.
"Apa? siapa?" Hueningkai.
"Beritahu kami, cepat" Beomgyu.
"Tidak akan, nanti kalian ikut menyukainya juga" Soobin menoleh.
"Apa dia cantik?" ucap Beomgyu seketika.
"Tentu" Soobin tersenyum "Dia cantik luar dalam"
"Kamu tau, kan.. sesama teman harus berbagi?" timpal Beomgyu. Dia saling bertukar pandang dengan Hueningkai.
"Tidak akan aku berikan dia pada manusia macam kalian berdua" Soobin menghela.
"Ck! dasar pelit" kali ini, Hueningkai yang menjawab.
"Kalian pikir dia manusia bongkar pasang yang bisa dibagi? sekalipun iya aku tetap tidak akan memberikannya" Soobin mulai mendengus.
"Kalau begitu izinkan kami untuk mengetahui siapa gadis yang kamu maksud" Beomgyu.
"Sayangnya, dia jauh dari sini" Soobin.
"Dimana memangnya?" Hueningkai.
"Rumah sakit tempatku dirawat, Ningning.." Soobin.
"Kalau begitu, ayo kesana" Beomgyu.
"Apa?" Soobin mengerutkan kening.
"Kesana.. kami tau kamu pasti sangat merindukan gadis itu.." Beomgyu. Soobin tersenyum.
"Kami antar, mau kapan?" Hueningkai.
"Kalau bisa, besok.." Soobin.
"Gass" jawab Beomgyu dan Hueningkai serentak.
Ketiganya tersenyum.
Mereka tidak tahu, yang ingin mereka temui sebenarnya ingin pulang dengan jejak kaki abadi dalam hati banyak orang.
...****************...
[ Nada pulang yok, tuh ibu Yoona udah nunggu :)) ]
__ADS_1
Beloved, Nada