Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 24 ] of Juli.


__ADS_3


..."Bring back your promise, Soobin"...


.......


.......


...- Jihna -...


...****************...


"Jadi rupanya kalian berdua menangis karena masa laluku," Nada tersenyum lembut di hadapan Soobin dan Taehyun.


Sekarang mereka berada di kamar Nada untuk makan siang bersama. Jadwal Taehyun hari ini juga sedang tidak padat, jadi dia bisa ikut bergabung bersama Nada dan Soobin.


Soobin tidak menjawab, dia asyik memakan sandwich di tangannya. Taehyun juga begitu, dia menundukkan pandangan.


"Kalian itu sebenarnya kenapa sih? lagi pula itu kan masa laluku, kenapa kalian yang sedih begini?" Nada kembali bicara.


"Sebaiknya kamu makan saja, tidak usah banyak bicara" Soobin menanggapi Nada dengan wajah datar.


"Dia benar" Taehyun angkat suara kemudian.


"Ck, kalian berdua ini" Dengus Nada lantas kembali menggigit sandwichnya kembali.


"Aku sempat iri padamu, Taehyun" Soobin bicara tanpa menoleh. Taehyun yang disebut namanya itu menatap Soobin penuh tanya.


"Apa yang kamu inginkan dariku?"


"Kesempatan bersama Nada" Soobin menoleh kearah Taehyun yang juga tengah menatapnya.


"Soobin-" Ucapan Nada terpotong.


"Aku iri saat tau kamu datang di saat yang tepat baginya, saat dimana dia membutuhkan seorang yang bisa menguatkanya dalam masa sulit itu, Taehyun" Ucapan Soobin itu membuat Nada bergeming.


"Aku juga sebetulnya iri padamu, Soobin" Jawaban Taehyun ini membuat Soobin kebingungan. Apa yang membuat Taehyun iri?


"Kamu ingin lumpuh sepertiku?"


Taehyun mendecak,"Bukan itu, bodoh"


Nada terkekeh pelan melihat Taehyun naik darah karena ulah Soobin.


"Aku iri padamu karena kamulah orang yang selalu berhasil membuat Nada tersenyum lebar hingga dia tertawa" Baik Nada maupun Soobin, keduanya bungkam.


"Taehyun-" Lagi-lagi, ucapan Nada terputus.


"Tidak, kamu bilang begitu karena tidak tau bagaimana yang sebenarnya terjadi" Ucap Soobin kemudian.


"Maksudmu?"


"Aku pernah membuatnya menangis, jarang membuatnya tersenyum, lebih sering membuatnya marah marah" Soobin kembali menggigit sandwichnya.


"Kamu juga tidak tau yang sebenarnya" Ucap Taehyun.


"Huh?" Soobin menoleh dengan mulut yang masih mengunyah.


"Aku itu tidak selalu ada di sisinya, saat itu aku lebih menyibukkan diri untuk belajar. Bertemu dengan Nada hanya sesekali saja, tapi beberapa momen aku mengetahuinya" Taehyun menjawab tanpa menoleh kearah Soobin.

__ADS_1


"Hey kalian ini dari tadi tidak meladeni ku, sebenarnya aku ini masih hidup atau sudah tiad-" Mendengar itu, keduanya langsung menatap tajam kearah Nada. Gadis itu langsung menghentikan kalimatnya.


"Oke, maaf, aku tidak akan melanjutkan kalimatku" Ucap Nada lantas mengalihkan pandangan dari keduanya.


"Astaga" Nada menelan ludah, masih menatap kearah lain. Ditatap dua manusia ini membuatnya seperti seekor kelinci yang tengah diincar dua harimau yang kelaparan.


"Aku hanya ingin mengatakan, kalian tidak perlu saling iri satu sama lain.. sebab kalian punya tempat masing-masing dalam hatiku" Kalimat lanjutan dari Nada itu membuat kedua laki-laki itu bergeming.


Nada lantas tersenyum lembut, tapi entah kenapa senyuman itu justru membuat hati kedua laki-laki itu mencelos.


...----------------...


Sorenya, Soobin dan Nada pergi menemui Jihya. Gadis kecil itu nampak sangat bahagia saat melihat Soobin yang sudah bisa berjalan, plus bisa paham atas apa yang Jihya maksudkan.


Setelah menghabiskan satu jam di panti, Nada dan Soobin kembali pulang. Tapi sebelum mereka benar-benar pulang, Nada mengajak Soobin ke pantai untuk melihat senja.



Langit yang didominasi oleh warna oranye itu nampak sangat mempesona. Pemandangan ini tidak pernah membuat Nada dan Soobin bosan.


Kini mereka duduk di tepi pantai, bersebelahan.


Rambut Soobin menyilak beberapa kali ditiup angin, membuat wajahnya semakin tampan. Apalagi saat laki-laki ini tersenyum dengan lesung pipinya.


Mereka bercanda, menghabiskan waktu untuk berdua bersama dengan sang mentari yang tenggelam. Bermain air, tapi tidak sampai basah kuyup. Mencari kerang, lantas saling melempar senyuman.


Bersamaan dengan matahari yang tenggelam itu, Nada menjatuhkan hatinya pada Soobin. Ditatapnya netra indah itu lamat-lamat, senyuman mulai tercipta di bibirnya.


Nada menyukai Soobin. Meskipun Soobin belum tentu menyukainya balik.


Sementara, laki-laki itu juga tengah merasakan hal yang sama dengan Nada. Soobin sudah mulai menyukai gadis ini sejak ia mendengar kisah masa lalu Nada.


"Hey, kamu.. manusia paling menyebalkan yang pernah aku temui" Nada terkekeh pelan.


"Kamu, manusia yang paling menyenangkan untuk dijahili" Soobin ikut terkekeh. "Ayo pulang, aku diamuk oleh dokter Kang nanti"


"Jadi kamu membawaku pulang hanya karena takut oleh dokter Kang?" Nada mulai menjajari langkahnya dengan Soobin. Laki-laki itu menoleh, tersenyum.


"Tidak, aku takut kamu sakit, makanya aku menyuruhmu untuk pulang" Jawab Soobin.


"Soobin, datanglah ke kamarku besok, pukul delapan pagi, ya?"


"Aku akan datang pukul tujuh, setelah jam sarapan"


"Jangan sarapan dulu, aku ingin masak sesuatu"


"Aku tidak akan sarapan, aku ingin menyuapi nenek dulu, baru aku datang ke kamarmu. Kamu diam di kamar saja menyiapkan bahan, ya?"


"Soobin, seharusnya kan aku yang menyuapi nenek, kenapa jadi kamu?"


"Aku ingin, jangan menganggu keinginanku"


"Iya, iya, terimakasih karena sudah mau ikut memperhatikan nenek, Soobin.. maaf jadi merepotkan kamu"


"Bicara apa kamu? sudah kubilang ini keinginanku" Soobin menatap Nada datar. Gadis ini membuatnya kesal karena terus saja merasa dirinya bersalah.


"Tolong jangan mengucapkan kata maaf selagi kamu tidak bersalah, Nad.." Lanjutnya.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan harinya.


Soobin datang ke kamar Nada pukul 07.30. Gadis itu ada disana, dia tengah memotong beberapa sayuran di area dapur. Begitu Soobin masuk, gadis itu menoleh.


Dia terlihat sangat cantik, sial. Umpat Soobin dalam hati.


"Yah, belum selesai sudah datang" Ucap Nada.


"Masakan apa yang ingin kamu buat?" Soobin tersenyum, lantas berjalan menghampiri Nada. Gadis itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Hanya masakan simpel saja, Soobin.. juga ini, ada sandwich" Nada menoleh, tersenyum.


"Apa yang bisa aku bantu?" Soobin kini sudah berada di sebelah Nada.


"Tidak ada, kamu hanya akan merusuh nanti" Nada terkekeh pelan.


"Enak saja. Sini akan kubuktikan aku ini pandai memasak" Dengus Soobin.


Laki-laki itu mendorong pelan Nada agar gadis itu bergeser dari tempatnya. Rupanya tenaga Soobin jauh lebih besar dari Nada. Disenggol sedikit, Nada sudah mau jatuh.


"Soobin-" Melihat Nada yang kehilangan keseimbangan, dengan sigap Soobin langsung menahan lengan Nada lantas menariknya hingga tubuh Nada menempel dengan tubuh Soobin. Dia merangkul tubuh mungil itu dengan tangan kirinya.


"Hati-hati, aku tidak mau tubuhmu menghantam lantai," Tatapan keduanya bertemu. Degup jantung Nada bergerak cepat saat Soobin mulai bersikap seperti pelindung baginya.


Gadis itu berdeham pelan, Soobin kembali menyiapkan makanan lantas membebaskan tangannya dari pundak Nada.


*Nada kalo masak gini kira-kira :



*Bedanya, Nada mah rambutnya diiket bawah ><


...----------------...



Seluruh makanan dan tempat piknik sudah siap. Soobin dan Nada pun kini sudah duduk diatas hamparan kain berwarna coklat dengan motif kotak-kotak.


Cuaca hari ini sangat mendukung, cerah namun tidak panas. Lebih terasa sejuk. Keduanya duduk berhadapan, mulai memakan makanan yang sudah mereka masak sendiri tadi.


Sepuluh menit berlalu, seluruh makanan itu sudah hampir habis. Kini tinggal muffin dan sandwich buah saja yang tersisa.


Minuman? mereka membawa dua botol air mineral. Kali ini Soobin yang mengusulkannya dengan alasan agar lebih sehat. Nada hanya mengiyakan.


"Soobin" Suara seorang gadis lain terdengar kemudian.


Soobin menoleh, ekspresinya berubah seketika. Dia tidak menyangka siapa gadis yang tengah berdiri di belakang Nada saat ini.


Nada yang melihat Soobin berekspresi aneh itu ikut menoleh ke belakang.


Nampak seorang gadis cantik dengan rambut yang digerai tanpa ikatan tengah menangis. Beberapa detik kemudian, gadis itu langsung memeluk erat tubuh Soobin.


"Aku pulang, Soobin.. aku sangat merindukanmu" Ucap gadis itu. Soobin hanya diam tanpa memeluk balik pelukannya.


Itu bukan Bunda, itu..


Jihna.


...****************...

__ADS_1


[Adakah yang mau menyambut kedatangan Jihna? β˜ΊπŸ™]


__ADS_2