Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 28 ] of Juli.


__ADS_3


..."Ini, Dunia. Tempat dimana ada sebuah pertemuan yang akan selalu diikuti oleh sebuah perpisahan"...


.......


.......


...- Juli -...


...****************...


"Orang tuamu sudah menunggu di kamar" perawat itu tersenyum, lantas berbalik meninggalkan keduanya.


Soobin bergeming. Rasa sesak memenuhi ruang dadanya. Pandangannya jatuh menatap lantai. Nada terdiam sesaat, namun beberapa detik kemudian senyumnya merekah lantas berdiri seolah tengah merasa senang.


Nada menoleh pada Soobin, lantas menatapnya "Soobin, orang tuamu sudah kembali.. ayo, temuilah mereka!" Gadis itu menggenggam tangan Soobin, hendak membawanya pergi.


Namun, Soobin melepaskannya. Dia menolak pergi.


"Ada apa, Soobin?" Nada menoleh, menatap laki-laki itu. Soobin bergeming. Tatapannya tidak beralih.


"Soobin.." mata laki-laki itu mulai berair, Nada menghampirinya, lantas mengusap lembut pundak Soobin "Ada apa denganmu, Soobin?" tanyanya kemudian.


"Kami sudah mengecek semuanya, Soobin.. hasilnya sangat mengesankan.. fungsi otot di kakimu sudah kembali normal dalam waktu satu bulan"


"Kami juga akan mengirimkan dokumen ini pada orang tuamu, kamu sudah boleh pulang, Soobin.. tinggal menunggu konfirmasi tentang kapan orang tuamu akan kemari untuk menjemputmu"


Hening sesaat. Jika orang tuanya datang, itu artinya Soobin akan berpisah dengan gadis ini. Bagaimana hatinya tidak terluka?


Saat pertama kali dia datang kemari, hatinya dipenuhi oleh dengki. Namun, Nada merubah segalanya menjadi kasih sayang hingga membuat Soobin tidak ingin pergi kemanapun dari tempat ini.


"Nada kamu senang dengan ini?" Soobin menoleh, menatap Nada dengan mata yang berair dan mulai memerah.


Nada bergeming sesaat, "Bagaimana aku tidak senang, Soobin? orang tuamu, Bunda.. dia orang yang kamu sayangi sudah kembali padamu.. kamu sudah sembuh, kamu bisa menunjukkan segalanya pada beliau, dan kamu bisa-" Gadis itu memotong ucapannya sendiri, masih terpaku pada wajah laki-laki di hadapannya "Bisa segera pulang, itukan yang kamu inginkan selama ini?"


Soobin lantas menyingkirkan tangan Nada dari bahunya dengan sedikit kasar, lantas berbalik pergi dari hadapan Nada.


Melihat Soobin yang berlalu, hatinya terasa begitu sakit. Nada tidak bisa menunjukkan perasaan sebenarnya di hadapan Soobin, laki-laki itu harus kembali, dia hanya pasien yang butuh perawatan sementara.


...----------------...


"Soobin, Bunda sangat merindukan kamu, nak.." Bunda berderai air mata ketika melihat putranya berdiri di ambang pintu kamar.


Ayah ada disana, dia tersenyum.


Wanita itu langsung merengkuh tubuh jangkung Soobin dengan penuh kasih sayang. Hatinya tidak mampu menahan tangis ketika melihat putra tersayangnya sudah kembali pulih.


"Kamu bisa melewati ini semua, kamu hebat, Soobin.. Bunda sangat bangga padamu.." Bunda melepaskan peluknya, lantas menatap Soobin dengan wajah riang.


"Kamu bisa pulang bersama kami malam ini, nak.."


Deg.

__ADS_1


Ucapan dari Bunda itu justru menjadi panah yang menusuk tepat di dadanya. Napasnya mulai terasa sedikit sesak. Air matanya jatuh bebas.


"Soobin tidak mau pulang malam ini, Bunda.. Soobin masih mau disini," lirihnya.


Begitu mendengar ucapan Soobin, Bunda dan Ayah bertukar pandang. Mereka merasa heran dengan keputusan yang baru saja keluar dari mulut putranya.


"Soobin, apa maksudmu? kamu sudah sembuh, nak.. kamu bisa pulang.." ucap Bunda sembari mengusap kepala Soobin.


"Bunda, aku masih tidak sanggup untuk meninggalkan seseorang yang selama ini membuatku bertahan dalam masa sulit kemarin, jadi tolong, beri aku waktu untuk menyiapkan segalanya.."


...----------------...


Nada. Gadis itu menangis menatap jendela kamar yang berhiaskan rintik hujan dari luar. Entah kenapa tiba-tiba cuaca jadi mendung begini.


Pikirannya juga seolah tengah memutar kembali kenangan lama saat bersama dengan Soobin.


.


"Apa yang kamu lakukan? biarkan aku pergi.."


"Jangan, jangan pergi.. kumohon"


.


"Siapa namamu?"


"Soobin"


.


"Benarkah?"


"Sungguh"


"Kalau begitu, aku akan menunggunya"


.


"Nad.. terimakasih banyak, kamu sudah menolongku, kamu sudah mau bersamaku hingga hari ini, dan aku akan selalu berdoa agar Nada bisa selalu bersama Soobin di masa yang akan datang"


.


"Kini giliranku, sebutkan hal yang sangat kamu sukai"


"Kamu"


.


"Si menyebalkan ini punya nurani untuk menangis juga rupanya"


PUKK.


"Dasar menyebalkan. Kamu ini minta dibanting sepertinya"

__ADS_1


"Hey, hey, jangan dong"


.


"Heh, kurang ajar kamu ya, Nad"


"Pegang ini, pegang"


"Kamu puas melakukan ini? kamu pikir aku akan baik-baik saja saat kalimat manismu itu keluar lalu langsung masuk ke telingaku? hah?"


"Tidak, Nad, tidak.. jantungku tidak baik"


.


Nada menghela napas sejenak, mengusap air matanya. Ah, kenangan-kenangan manis itu hanya akan membuatnya semakin sedih. Gadis itu mengusap habis air matanya, lantas berbalik, dan-


"Taehyun? sejak kapan kamu berdiri disana?" ya, laki-laki itu sudah berada di belakang Nada dengan jarak dua meter.


"Sejak kamu menangis" jawab Taehyun singkat, lantas menghampiri Nada, lalu duduk di atas bangsal "Kemari," titahnya kemudian.


Nada mengangguk pelan, duduk disebelah Taehyun.


"Kudengar Soobin sudah kedatangan orang tuanya, ya?" pertanyaan Taehyun itu membuat Nada terdiam. Gadis itu menatap kearah ujung kakinya "Apa itu yang membuatmu sedih?" lanjutnya.


"Entah, mungkin aku hanya terlalu takut dengan perpisahan, Taehyun" jawab Nada dengan suara pelan.


"Kamu tidak mau menghabiskan waktu bersama Soobin?"


"Entahlah.. aku sudah banyak menghabiskan momen indah bersama Soobin, dan jujur itu membuatku makin sedih.. kurasa, nanti saja kutemui dia"


"Ah~ begitu.. jangan sedih, Nad.. Soobin juga kan harus kembali bersama orang tuanya, ke rumah yang sebenarnya.. jangan sedih, ya.." Taehyun menepuk pelan pundak Nada.


"Oh iya, Nad.. Soobin bilang dia akan pulang pukul delapan malam ini"


...----------------...


Nada berlari kencang menuju kamar Soobin. Nada ketiduran, ini sudah terlambat tiga puluh menit dari pukul delapan malam. Rambutnya yang terbebas dari ikatan itu bergerak mengikuti laju tubuhnya.


Hatinya berdegup sangat kencang, dia takut. Sangat takut.


Tiba di kamar Soobin, pintu itu tertutup rapat. Deru napasnya bergerak cepat. Tanpa basa-basi, Nada membukanya dengan perlahan.


Begitu dia masuk, ruangan itu kosong. Bangsal itu sudah rapih seperti belum digunakan oleh pasien. Hening memenuhi kamar ini. Sunyi. Soobin benar-benar sudah pergi.


Kakinya melemas, gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dia mulai menangis menatap setiap sudut ruangan ini.


"Soobin aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal..." Suara gadis itu terdengar sangat menyedihkan. Hatinya terasa sangat sakit. Deru napas Nada bergerak cepat, dadanya terasa sangat sesak.


"Soobin.." tangisnya semakin menjadi-jadi. Nada tidak sanggup lagi untuk menyembunyikan segala kesedihanya "Soobin aku tidak mau kamu pergi, Soobin.." lirihnya sembari mendekatkan kepalanya pada ubin dingin kamar kosong itu.


"Soobin aku mohon.."


...****************...

__ADS_1


[Jiah dobel up >< wakakaka, gasabar pengen Nada nyesel soalnya :)]


thanquu readers 🙌🏻❤


__ADS_2