![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
..."Aku hanya ingin dicintai kembali, Nad"...
...- Nakyung -...
...----------------...
"Radioterapi?" Soobin mengerutkan kening.
"Ya, alat kedokteran untuk pasien penderita penyakit tertentu, Soobin.." Nakyung tersenyum, "Lebih baik kita pergi ke tempat lain saja yuk" Lanjutnya.
Soobin hanya diam. Penyakit apa memangnya? atau Nada dan Dokter Kang kemari hanya untuk mengambil sesuatu? bisa jadi, kan? ini membuat Soobin jadi semakin penasaran.
Sesampainya di taman, Soobin meminta Nakyung untuk duduk dihadapannya. Laki-laki itu menatap Nakyung beberapa saat, lantas mulai bicara.
"Apa kamu mengenal Dokter Kang?"
Nakyung mengangkat kedua alisnya. Kenapa tiba-tiba Soobin bertanya tentang Taehyun? "Aku? tentu saja aku mengenalinya"
"Aku ingin tau, siapa dia sebetulnya.. bisa kamu menjelaskannya padaku?"
"Tentu," Nakyung mengangguk pelan "Dokter Kang, dia adalah asisten dari Dokter Lee yang menjadi kepala Dokter sekaligus pemilik rumah sakit ini, Soobin"
"Dia juga teman seperjuanganku saat kuliah dulu, kami berjuang bersama untuk mendapatkan gelar Dokter dan hingga akhirnya bisa bekerja disini" Jelas Nakyung.
"Itu berarti, kamu mengenalnya sudah cukup lama.." Ucap Soobin.
"Ya, sejak SMA sebetulnya, namun mulai dekat saat kuliah" Nakyung tersenyum lembut sembari mengangguk pelan.
"Jika kamu mengenal Dokter Kang sejak lama, berarti kamu pasti kenal dengan Nada juga, kan?"
Mendengar nama Nada disebutkan oleh Soobin, ekspresi wajah gadis itu berubah. Dia menghela napas, mengalihkan pandangannya dari Soobin.
"Bisakah kita membahas topik selain gadis bernama Nada itu?" Nakyung menoleh kembali, namun dengan tatapan yang berbeda. Gadis ini nampak kesal.
"Apa kamu tidak menyukainya?"
"Aku hanya bosan menjawab pertanyaan pertanyaan tentangnya, Soobin"
...----------------...
Sudah hampir sore, Nada masih terbaring lemah diatas bangsalnya dengan selang oksigen yang menjulang diatas wajahnya. Matanya terpejam, namun dia tidak tidur.
Dokter Kang masih duduk disebelahnya. Dua puluh lima menit yang lalu, efek samping dari Radioterapi mulai bereaksi pada tubuh Nada. Gadis itu merasakan sesak napas yang tak tertahan, namun sepertinya sekarang sudah mulai mereda.
Nada memejamkan mata, merasakan sulitnya bernapas bebas seperti biasanya. Dadanya masih terasa sakit ketika mengambil napas. Menggerakkan tubuhnya saja ia tidak sanggup.
Beruntungnya tadi Taehyun bergerak cepat menolong Nada. Jika laki-laki itu meninggalkannya, ah entahlah apa yang akan terjadi padanya sekarang.
Sejujurnya, Nada tidak berani untuk menangis didepan orang lain. Bahkan didepan Taehyun pun Nada tidak ingin. Tapi jika dalam keadaan begini, Nada tidak mungkin menghindari Taehyun.
Napasnya terasa sangat berat, Nada tidak sanggup jika ia harus menahan segalanya tanpa tangis.
Beberapa saat kemudian, Taehyun mengusap lembut air mata yang menetes dari mata Nada. Mengusap pelan pundak Nada, berusaha menguatkannya.
Taehyun kadang berpikir, kenapa Tuhan begitu kejam pada Nada. Tapi, Taehyun juga yakin pada setiap ujian yang menimpa Nada, pasti ada sesuatu yang dapat diambil dari ujian tersebut.
"Kuat ya, Nad.. Allah mencintaimu" Lirih Taehyun sembari menahan tangis.
...----------------...
__ADS_1
Soobin termenung sesaat.
"Kalau begitu, kamu bilang dekat dengan Dokter Kang.. tapi, aku tidak merasakannya? ataukah aku tidak tahu?" laki-laki itu kembali bertanya.
Nakyung menghela "Ya, dulu aku memang dekat dengan Taehyun.. dan gara gara Nada lah kami jadi menjaga jarak"
"Apa yang terjadi? apakah sejahat itu Nada memisahkan kalian?" Soobin menatap Nakyung penuh tanya.
"Nada, dia merebut Taehyun dariku, Soobin"
...- FLASHBACK -...
...Nada & Nakyung...
Malam itu, pukul 21.00.
Ketika seluruh lampu jalanan telah benar-benar menerangi jalanan kota, Nakyung baru pulang dari perpusatakaan tempat favoritnya belajar.
Dia melintasi jalanan, menuju sebuah restoran kecil. Perutnya sudah mulai terasa sakit, sedangkan perjalanan menuju rumahnya masih jauh. Jadi, Nakyung pikir akan lebih baik jika dia mengganjal perutnya terlebih dahulu di sekitar sini.
"BERANI BERANINYA KAMU MERAHASIAKAN LAKI-LAKI ITU DARIKU?!!" Tiba-tiba, suara teriakan seorang pria terdengar lantang dari gang kecil yang berada dihadapannya.
Nakyung segera mendekat kearah lorong itu diam diam.
"KATAKAN!! IBUMU ITU SELINGKUH KAN?!!" Teriak pria itu lagi.
"I-ibu tidak melakukan i-tu, Ayah" Nakyung cukup terkejut ketika mendengar suara lirih seorang gadis yang menjawab pria tadi.
"KAMU DAN IBUMU MEMANG TIDAK ADA BEDANYA!!!"
BUGHH.
"HENTIKAN!" Nakyung berjalan menghampiri keduanya.
Matanya membulat sempurna ketika melihat seorang gadis yang tengah menangis terisak sembari memegang pipi kanannya.
"Apa yang anda lakukan pada putrimu sendiri? sikapmu sangat kasar!" Nakyung menatap pria itu lamat lamat, lantas menghampiri gadis itu.
"Siapa kamu berani ikut campur?!" Pria itu menatap balik Nakyung.
"Anda tidak perlu tau siapa saya.. yang harus anda tau adalah, sikap buruk anda terhadap putri anda sendiri" Nakyung merangkul tubuh gadis itu, membawanya pergi dari tempat lembab itu "Ingat, apapun permasalahannya, anda tidak pantas memukul seorang gadis kecil sepertinya"
"HEY! MAU KAMU KEMANAKAN DIA?!!" Pria itu menarik lengan gadis kecil itu dari Nakyung.
Nakyung mengangkat tinggi tinggi layar handphone nya, menekan tombol telfon dengan tujuan nomor 911.
"Anda masih punya waktu untuk kabur dari sini, Tuan. Jika anda tidak melepaskan gadis ini, itu artinya anda sendirilah yang menghabiskan waktu untuk melarikan diri" Tegas Nakyung.
Pria itu nampak panik, dia menggeram, lantas mendorong gadis kecil itu asal, lalu pergi berlawanan arah.
"?!!" Nakyung membulatkan matanya.
Dengan sigap, ia menolong sang gadis yang terduduk lemah itu "Ayo, kita pergi dari sini" Nakyung kembali merangkul gadis itu, membawanya dengan sangat hati hati.
...----------------...
"Jadi, orang itu adalah ayahmu?" Nakyung dan gadis tadi kini sudah berada di salah satu cafe, berbincang.
Gadis itu mengangguk pelan, menatap kebawah.
"Dia kasar sekal-"
__ADS_1
"Beliau hanya sedang marah, kak.." Gadis itu memotong ucapan Nakyung, menoleh kearahnya. Seketika, Nakyung bergeming.
Tergambar jelas dimatanya, gadis ini berusaha untuk membuat ayahnya tidak bersalah didepan orang lain.
"Kamu tinggal dengan siapa?" Tanya Nakyung lagi.
"Ibu, Kakak laki-laki, dan Ayahku.." Jawabnya pelan.
"Ah~ begitu ya.. ngomong ngomong, siapa namamu?" Nakyung tersenyum lembut.
"Nada"
...----------------...
Seorang remaja laki-laki dengan gitar dan gaya metal berjalan ke suatu rumah. Dia mengerutkan kening, menatap pintu rumahnya yang terbuka lebar.
Ditatapnya sekeliling sudut, nampak sepasang sandal sang ibu yang tergeletak asal disekitar pintu. Matanya membulat sempurna, teringat sesuatu.
Ibunya tidak akan bersikap asal begini.
"IBU?!!" Remaja bernama Yeonjun itu bergegas masuk, mencari sosok wanita yang dicintainya.
"BU??!!" Ia berjalan tergesa menyusuri kamar kamar, tidak ada seorang pun disana. Adik perempuannya juga tidak ada di rumah. Kemana mereka?
"ASTAGHFIRULLAH IBU?!!" Yeonjun bergegas menaruh gitarnya, lantas menghampiri sang Ibu yang tergeletak lemah di area dapur.
"IBU? IBU KENAPA?? BUU.. BUU??" Laki-laki itu merengkuh kepala ibunya, menepuk lembut pipi sang ibu dalam pelukannya.
Nampak beberapa luka lebam disekitar wajah cantik sang Ibu. Melihat keadaan Ibu yang seperti ini, membuat hati Yeonjun terasa remuk seketika. Dia tau, ibu pasti habis bertengkar lagi dengan ayah.
"J-jun.. N-nada, dia- dibawa oleh ayahmu.. t-tolong, cari dia, J-jun.." Lirih ibunya.
...----------------...
"Terimakasih ya, kak.." Nada dan Nakyung sudah selesai makan. Nakyung mentraktir Nada, karena merasa kasian padanya. Walaupun Nada sempat menolaknya beberapa kali.
"Sama sama, mau kuantar?" Nakyung tersenyum.
"Tidak usah, kak.. kakak sudah banyak membantuku tadi" Nada tersenyum kecil, menoleh kearah Nada.
"Kamu yakin akan aman selama perjalanan pulang? ini sudah malam, lho.."
"Kakak juga kan harus pulang, bukan? lagipula tidak apa, kok.. aku sudah biasa pulang sendiri"
"Yaa, kamu benar juga, yasudah.. jaga dirimu baik baik ya.. nanti jika ada apa apa, segera minta tolong pada orang yang lebih tua darimu.. oke, Nad?"
Nada mengangguk.
Ketika mereka hendak melangkah lebih jauh dari cafe tadi, langkah keduanya langsung terhenti oleh seorang laki-laki yang baru tiba di hadapan mereka. Sepertinya laki-laki ini ingin masuk ke cafe ini juga.
Nada mantap laki-laki itu sejenak. Berusaha mengingat wajah yang sepertinya tidak lagi asing di matanya.
"Nakyung? kamu-" Laki-laki itu menatap Nakyung sesaat, lalu menoleh kearah Nada "Loh? kamu?"
...****************...
[ Terimakasih yang masih bertahan baca sampai episode ini ππ»π, Episode berikutnya masih flashback Nada & Nakyung yaa.. pstt.. ada Taehyun juga nantiππ» ]
Btw gimana episode hari ini?? komen yaa
-Hyleemachaa
__ADS_1