![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
...Atas dasar kemenangan yang menyembur dari kedalaman senyummu, kini aku adalah pengungsi resmi yang mendiami matamu....
...- BR -...
...****************...
Sejak hari itu, kami rasanya sudah seperti keluarga sendiri, Kak.. Nenek dan aku selalu peduli akan keadaan Kak Nada, semua ceritanya, dan segala keluh kesahnya.
Tapi, terkadang nenek tidak mau memberi tahu segalanya padaku. Katanya aku masih kecil, belum saatnya aku mendengar semua cerita dari Kak Nada.
Padahal, aku sangat ingin mengetahuinya.
Seperti saat saat dimana Kak Nada datang dengan mata sembab dan pipi yang membiru seperti bekas pukulan tangan, juga luka goresan didekat pelipisnya.. Nenek lebih memilih menyimpan cerita itu sendirian.
Sampai saat ini, hal itu masih menjadi rahasia Nenek, Kak Nada, dan Tuhan saja.
Soobin yang sudah membaca setiap kalimat dari awal sampai penghujung ini, seketika terdiam beberapa detik. Gadis bernama Nada itu punya banyak rahasia akan masa lalunya.
Sebenarnya, bagaimana perjalanannya hingga sampai disini? siapa Nada sebenarnya? darimana asalnya? apa hubungannya dengan Taehyun? ada apa dengan keluarganya?
Lalu, bagaimana dengan kedua orang t-
Cklek.
Soobin dan Jihya menoleh kearah pintu.
"Aku kembali~" Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok cantik Nada yang tersenyum lembut menatap Soobin dan Jihya.
Jihya tersenyum, gadis kecil itu kini tengah duduk disisi kasurnya sedangkan Soobin berada tepat dihadapan Jihya.
"Sedang apa?" Nada mendekat, Soobin segera menyembunyikan kertas cerita Jihya. Pandangannya masih terpaku pada wajah Nada.
Keduanya tidak menjawab. Mereka hanya tersenyum.
"Soobin, kenapa kamu menatapku begitu? apa ada yang salah denganku?" Nada mengerutkan kening menatap Soobin. Anak dua ini kenapa sebetulnya?
Soobin menggeleng pelan, mengalihkan pandangannya kearah Jihya.
"Jika kita bertemu lagi, tolong ajari aku bahasa Isyarat ya?" Jihya menoleh, tersenyum, lantas mengangguk.
"Sudah mau ashar, sebaiknya kita pulang Soobin" Nada tersenyum disebelah Soobin.
"Apa besok kalian akan datang lagi?" Jemari Jihya bergerak, tatapannya kembali mengarah pada Nada.
"Aku tidak tahu, Jihya.. aku tidak bisa memberimu janji" Jawab Nada.
"Jawaban kakak memang tidak pernah berubah sejak dulu, selalu begitu jika ditanya soal esok hari" Jihya tersenyum manis, Nada tertawa kecil.
Soobin? diam saja memperhatikan. Dia tidak paham.
"Apa saja yang kamu katakan padanya?" Nada menjawab Jihya dengan bahasa isyarat. Sengaja, agar Soobin tidak tahu apa yang dia katakan.
"Kakak bisa bertanya pada Kak Soobin langsung, bukan? bertanyalah, lagi pula aku yakin kakak akan sangat senang jika bicara denganya" Jihya tertawa kecil.
"Apa yang kamu katakan? itu tidak benar.. biar kuberi tahu ya, sebenarnya dia itu sedikit menyebalkan," Nada.
"Menurut ku tidak, Kak Soobin baik, dia sangat cocok untuk menjadi suamimu" Jihya
"Hey, pikiranmu itu benar benar ya!" Nada tersenyum sembari sedikit tertawa akibat kalimat yang dibentuk oleh jemari Jihya.
"Sudahi ini, kak.. lihatlah Kak Soobin yang nampak kebingungan melihat kita menggerakkan jemari sembari tertawa" Nada dan Jihya melirik Soobin sembari menahan tawa.
__ADS_1
Jihya benar. Lihat, Soobin sudah seperti orang linglung. Dia tidak memahami satu huruf pun, dari tadi anak ini hanya memperhatikan Nada dan Jihya yang asyik dengan dunianya sendiri.
...----------------...
Pukul 18.00
Soobin dan Nada sudah berpisah sejak adzan ashar berkumandang. Kini keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Soobin tengah pemeriksaan, sedangkan Nada tengah berada di ruangannya bersama Dokter Kang.
"Bagaimana hari ini?" Dokter Kang menoleh kearah Nada yang kini tengah duduk disisi bangsalnya.
Nada mengangkat pandangan, menatap dokter tampan dihadapannya "Alhamdulillah"
"Apa kamu sudah siap untuk esok hari?" Taehyun menatap Nada, lantas beranjak mendekat kearahnya.
Gadis itu menundukkan pandangannya, menghela napas pelan "Dokter Kang.."
"Yaa?" Taehyun kini sudah duduk di sebelah Nada.
"Jika aku melakukan ini, apa itu tandanya aku akan segera pulang?" Nada kembali menoleh.
"Kamu pasti akan sembuh, Nad" Jawab laki-laki itu tanpa ada keraguan.
"Bagaimana jika-"
"Tidak akan, Nad.. Aku ada bersamamu, tolong jangan berkata sesuatu yang tidak ingin kudengar dari mulutmu" Dokter Kang tidak mengalihkan pandangannya dari Nada.
"Taehyun.." Nada menundukkan pandangannya kembali. Logat panggilan itu terdengar sangat sendu.
Mendengar Nada memanggilnya begitu, membuat hatinya sedikit terluka. Ingatan masa lalu tentang perjalanan mereka kembali terulang begitu saja di pikirannya.
Taehyun, bahuku sangat sakit...
Taehyun, aku ingin pulang...
Bagaimana aku bisa melewati ini, Taehyun?
Kalimat lirih itu, kembali terdengar di telinganya.
"Aku akan membantumu, jangan khawatir" Taehyun menjawab Nada dengan jawaban yang selalu sama saat panggilan itu dilantunkan.
Nada menoleh, tersenyum "Kamu tidak berubah rupanya"
"Aku tidak akan pernah berubah, Nad.. aku masih menjadi Taehyun yang sama seperti Taehyun si langganan perpustakaan kota" Taehyun ikut tersenyum menatap Nada.
Ya, dulu saat masih SMA, Taehyun adalah langganan perpustakaan. Hobinya bolak balik mencari buku kedokteran, hanya untuk dibaca satu malam tuntas. Besoknya kembalikan, lalu ambil buku baru yang bertema sama.
"Aku selalu mempercayaimu, Dokter Kang.. Terimakasih sudah mengusir raguku"
"Terimakasih kembali karena sudah mempercayaiku"
Mereka saling bertukar senyuman.
"Aku mau keluar sebentar" Nada beranjak dari duduknya, hendak melangkahkan kaki keluar.
"Kemana?" Taehyun menarik kelingking Nada hingga gadis itu berhenti lalu menoleh.
"Menemui Soobin"
...----------------...
"Bagaimana rasanya?" Gadis cantik itu duduk tepat disebelah bangsal Soobin. Menatap laki-laki tampan yang kini tengah memakan sebuah sup hangat buatannya.
"Enak, terimakasih ya" Soobin tersenyum kecil.
__ADS_1
"Besok, kamu akan mulai melakukan terapi untuk melatih kakimu, Soobin.. kamu harus semangat"
"Benarkah? apa itu artinya aku akan segera pulih?" Soobin melebarkan matanya dengan ekspresi bahagia.
"Tentu saja, kamu akan segera bisa berjalan lagi" Dokter perempuan itu tersenyum lebar hingga deretan giginya nampak.
"Aku tidak sabar menunggu esok hari" Jawab Soobin dengan antusias.
Nakyung tertawa kecil, "Aku yang akan menjadi pemandumu nanti" lanjut Nakyung "Senang sekali rasanya bisa--"
"Assalamualaikum Soob--" Nada yang masuk tanpa mengetuk pintu itu cukup terkejut ketika Soobin tengah duduk bersama Dokter Na.
Mereka menoleh bersamaan kearah Nada. Bedanya, jika Soobin langsung tersenyum, sedangkan Dokter Na terlihat kesal ketika Nada memasuki kamar.
"Ada perlu apa kemari?" Nakyung bangkit menghampiri Nada.
"D-dokter Na? aku-" Nada melirik Soobin.
"Hey, kau.. Soobin sedang istirahat, jadi tolong pergilah sekarang jug--"
"Kemari, Nad" Ketika Dokter Na ingin melarang Nada untuk masuk, laki-laki itu angkat bicara dengan sebuah senyuman lebar.
Nakyung berdecak pelan. Gadis ini selalu saja mengganggunya "Kau. selalu saja membuatku kesal. Ck! dasar!" bisik Nakyung pada Nada.
Hal ini membuat gadis itu terdiam beberapa saat.
Dokter Na menatap wajah Nada dengan tatapan benci, lantas berbalik pada Soobin dengan senyuman pura-pura "Aku harus pergi menemui pasien ku yang lain, Soobin.. Sampai jumpa lagi yaa"
Soobin mengangguk pelan.
Nada masih diam ditempatnya. Saat Nakyung berbalik, tatapanya kembali berubah jadi benci. Perempuan itu beranjak pergi dengan menyenggol pelan pundak Nada.
Seharusnya Nada tidak datang kemari.
"Nad?" Soobin yang melihat Nada masih terdiam diambang pintu itu segera memanggilnya dengan lembut.
"Y-yaa??" Nada mengangkat pandangannya, menatap Soobin.
"Kemarilah, duduk disini" Titah laki-laki itu.
Nada mengangguk pelan, lantas bergerak mendekati Soobin. Setelah gadis itu duduk di kursi yang Soobin suruh, dia masih terdiam.
"Sudah makan, Nad?" Nada kelihatan berbeda sekarang, entah kenapa Soobin tidak paham.
Nada menggeleng pelan.
Soobin lantas menyendokkan makanannya ke hadapan Nada "Aaaa~"
Nada menoleh, tertawa kecil. "Soobin, kamu pikir aku anak kecil?"
"Apa yang salah? aku hanya ingin menyuapimu.. ayo cepat makan ini" Soobin mendekatkan sendok berisi sup itu pada bibir Nada, namun gadis itu masih diam "Nada, buka mulutmu.."
Nada mengalihkan pandangannya, masih maju mundur untuk membuka mulut.
"Nada.." Soobin menatap Nada. Hingga akhirnya, gadis itu mau membuka mulut dan melahap suapan dari Soobin.
"Wah ya ampun, kamu ini pintar sekali" Soobin tersenyum lebar seperti seorang ayah yang berhasil membuat putrinya menurut untuk makan.
"Ada apa, Nad? tumben sekali malam malam kemari.." lanjut Soobin.
"Aku hanya ingin melihat wajahmu, Soobin"
...****************...
__ADS_1
See you in next episode! ^^