![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
..."Jadilah temanku, teman ceritaku, juga teman suka dan dukaku"...
...- Juli -...
.......
.......
"Empat bulan?" Soobin menatap Nada dengan kebingungan.
"Ya, dua bulan aku menemani ibuku, dua bulan kemudian aku kembali kemari, Soobin" Nada tersenyum tipis "Oh iya, kamu sudah makan?"
Soobin menggeleng "Belum"
"Kalau begitu, ayo makanlah, makan yang banyak agak perutmu tidak kosong.. tapi jangan terlalu banyak, hingga membuat perutmu ingin pecah" Nada tersenyum lebar.
Soobin tersenyum kecil, "Bagaimana denganmu?"
"Hey, jatah makanan ini hanya untuk satu orang, Soobin"
"Makanlah bersamaku, Nada.. lagi pula aku tidak menyukainya, jadi tolong bantu aku untuk menghabiskan makanan ini"
"Kau tau? bubur ini tidak menggunakan MSG.. rasanya aku tidak bisa membayangkannya, pasti sangat hambar.. iyakan?"
"Tidak kok"
"Apa kamu berusaha menipuku?" Nada menatap Soobin dengan tatapan curiga. Hal ini membuat Soobin tersenyum kecil.
"Prasangkamu itu terlalu buruk, Nad, ayo cobalah sedikit"
"Entahlah, perasanku jadi tidak enak" Ucap Nada.
Soobin tertawa kecil "Makanlah, cepat"
Nada menyendok bubur itu, lantas memasukkannya pada mulutnya. Sialnya Nada menyendok bubur itu dengan takaran yang tidak sedikit.
"Bagaimana?"
Nada terdiam menatap Soobin yang juga tengah menatapnya dengan sebuah senyuman. Setengah mati Nada berusaha menelan bubur itu agar masuk kedalam perutnya.
"Lebih baik aku makan makanan orang diet daripada harus menelan bubur encer hambar ini" Dengus Nada.
Lagi lagi, Soobin terkekeh.
"Stress kamu Soobin.. Besok, biar aku yang memasak makanan untukmu" Lanjut Nada.
"Benarkah?"
"Sungguh"
"Kalau begitu, aku akan menunggunya" Ucap Soobin dengan sebuah senyuman lebar hingga menimbulkan palung di pipinya.
Nada menatap Soobin lamat lamat.
"Yaa~ Soobin"
__ADS_1
Soobin menoleh.
"Tetaplah tersenyum seperti ini, kamu terlihat sangat tampan" Nada tersenyum, rupanya hal ini membuat Soobin jadi malu.
"Benarkah?"
"Tidak juga sih" Nada tertawa.
...----------------...
Pukul 15.10
Hujan diluar sudah mereda. Soobin dan Nada masih bersama menghabiskan waktu untuk berbincang. Kini mereka terlihat lebih akrab.
Nada menoleh kearah jam dinding, lalu kembali menatap Soobin.
"Sebentar lagi, aku harus menemui Tuhanku"
Mendengar itu, Soobin menatap Nada dengan penuh tanya "Apa maksudmu?"
Nada tersenyum, "Sholat, Soobin.. pikiranmu itu terlalu jauh"
Soobin tersenyum, "Bicaramu yang punya banyak makna itu, aku ingin memahaminya lebih dalam, Nad"
"Tetaplah bersamaku, Soobin" Jawab Nada "Aku pamit dulu, ya.. Seseorang pasti akan mencariku jika aku pergi terlalu lama. Kamu harus ingat janjiku besok, bantulah aku untuk mewujudkannya.. oke?"
Soobin mengangguk. Gadis itu berbalik, lantas--
"Nada, tunggu" Soobin memanggil pelan, membuat gadis itu kembali berbalik "Segeralah menemuiku besok"
"Pergilah, kutarik kembali ucapanku barusan" Jawab Soobin.
Mendengar itu, Nada semakin tergelak "Hey, tanpa kamu suruh pun aku akan datang cepat.. jangan marah begitu Soobin, aku jadi gemas ingin memakanmu"
"Kau--" Soobin membulatkan matanya pada Nada.
"Bye Soobin, aku pamit duluuu~" Gadis itu berlari kecil meninggalkan ruangan Soobin sembari tertawa.
Nada terlihat cantik saat tertawa.
Sepeninggal Nada, Soobin terdiam sejenak. Dia mengingat semua kejadian lalu, saat perasaan putus asa itu datang melanda hatinya.
Tentang bagaimana Tuhan menghadirkan Nada dalam hidup Soobin dengan cara yang diluar dugaan, namun sangat indah.
Seseorang dengan senyuman secerah musim semi, dengan sikapnya yang hangat bak sinar mentari, juga tatapannya yang teduh bagai sang rembulan.
Maafkan Soobin, Tuhan.. Aku sudah salah menilai rencana-Mu, padahal aku tidak mengetahui apapun.
...----------------...
Pukul 23.52.
Soobin masih belum bisa memejamkan matanya. Pikiranya terus saja tertuju pada janji yang diberikan oleh Nada sore tadi.
Mungkin karena Soobin terlalu semangat dan tidak sabar mencicipi makanan Nada, jadilah dia tidak bisa tidur.
Sejujurnya tadi Soobin sudah berencana akan tidur lebih awal, namun usahanya gagal hingga saat ini. Nada, kamu benar-benar membuat Soobin jadi tidak bisa tidur.
__ADS_1
Oke, Soobin. Berhenti memikirkan Nada. Segeralah tidur agar kau bangun lebih awal. Ya.
Soobin memejamkan matanya perlahan, lantas mulai menghitung domba yang kabur dari ladang peternak. Hitungan ke 50, benar saja. Soobin akhirnya tertidur lelap.
Pukul 06.00.
Soobin terbangun akibat suara seorang gadis yang mengusap lembut lengannya. Dengan membuka matanya perlahan, sosoknya semakin terlihat jelas. Gadis dengan ikatan rambut kuncir kuda, outfit putih kini berdiri tepat disebelah bangsalnya.
Dia adalah gadis yang kemarin datang ke kamarnya.
Tunggu, kalian pikir dia Nada?
Bukan. Dia bukan Nada.
Dia adalah dokter perempuan berusia muda yang memberikan obat pada Soobin kemarin. Dia gadis yang ramah juga pintar, namanya Nakyung.
"Maaf karena aku harus membangunkanmu, Soobin" Ucapnya, lantas tersenyum "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Nakyung meletakkan stetoskop yang menggantung di lehernya kepada Soobin. Pemeriksaan pagi rupanya.
"Baik, Dok" Jawab Soobin dengan senyuman tipis.
"Wah, aku sangat senang mendengarnya.." Nakyung tersenyum lebih lebar "Apa kamu butuh sesuatu? ayo katakan.."
"Tidak ada, dok.." Soobin menggeleng pelan.
"Begitukah?" Nakyung menaikkan sedikit alisnya "Oke, tapi jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa mengatakannya padaku, Soobin"
"Baiklah"
"Maaf karena aku belum bisa menemanimu seharian," Nakyung menatap Soobin.
"Tidak apa, jangan risaukan tentang itu.. lagipula aku mengerti bagaimana sibuknya seorang dokter seperti kamu"
"Hmm, ya.. begitulah Soobin.." Nakyung tersenyum kecil "Kalau begitu, sarapan dengan baik ya, jangan lupa minum obatmu, kita bertemu lagi nanti" lanjutnya.
Soobin mengangguk, lantas membalas senyuman Nakyung.
Nakyung berlalu dari hadapan Soobin. Laki-laki itu melirik kearah jam dinding, sudah pukul setengah tujuh.
Dia bilang, akan datang lebih awal? sarapan bahkan sudah datang, dia belum juga nampak. Baiklah, Soobin akan menunggunya.
Pukul 08.00.
Ya, anak itu belum juga datang. Bubur dimeja yang tertutup oleh selembar plastik sudah berembun didalam. Sudah satu jam lamanya Soobin menunggu.
Terserah, Nada.
Soobin terpaksa harus makan ini, perutnya sudah tidak lagi bisa ditahan. Soal rasa belakangan, yang terpenting sekarang adalah perutnya terisi.
Laki-laki itu mengambil menu sarapan nya, membuka plastik, lalu mengambil sendok. Baru saja suapan pertama hendak masuk ke mulutnya, seseorang masuk secara tiba-tiba.
"Jangan makan itu, Soobin"
...****************...
[ to be continued ]
__ADS_1