Juli [ Soobin ]

Juli [ Soobin ]
[ Episode 40 ] of Juli.


__ADS_3

...Happy crying~...


...*eh, happy reading...


.......


.......


Hujan gerimis mulai turun membasahi bumi, walaupun langit masih belum begitu mendung. Semerbak wangi air yang menyatu dengan tanah menyebar kemana-mana, salah satu wewangian yang menjadi favorit Soobin semenjak mengenal Nada di hidupnya.


Oh iya, Soobin sudah kembali sekolah. Dia kini duduk di bangku perkuliahan dengan jurusan Broadcasting. Aktivitasnya kembali normal, keluarganya kembali hangat, semuanya terasa damai setelah ia menjalani masa sulit.


Helaan napas mulai terdengar begitu lembut, kedua netranya tak kunjung beralih dari tetesan hujan yang menggoyahkan dedaunan di taman lantai dasar.


Kalau kalian masih ingat, Soobin dan Nada pernah berada di bawah guyuran hujan. Dia rindu masa itu, lebih tepatnya seseorang yang bersamanya kala itu.


Sudah lima bulan lamanya, ia tak pernah mengunjungi Nada. Dia sibuk, sangat sibuk dengan aktivitasnya sekarang ini. Bukan, bukan berarti dia lupa pada seseorang yang telah membuatnya bangkit, hanya saja waktu seolah tak mengizinkannya untuk menemui Nada sekali lagi.


Hal ini tentu sering membuat hatinya merasa bersalah. Sedang apa? apa dia baik? masihkah dia di tempat itu? Anak-anak kesayangannya bagaimana? kakaknya? ayahnya? dokter favoritnya? apa dia masih ingat dengan Soobin? apa dia rindu? semua pertanyaan itu seolah menumpuk dari hari ke hari.


Ctak.


"Ngelamun saja kamu, sedang mikirin apa?" teman kampusnya baru saja membuyarkan angan Soobin. Laki-laki itu tersenyum, dia kawan yang baik.


"Bukan apa-apa" Soobin ikut tersenyum.


"Langsung pulang? atau mau pergi ke tempat lain dulu?"


"Pulang, kamu bagaimana?"


"Aku masih ada kerjaan, duluan kalau begitu"


"Iya, silakan.. hati-hati"


"Kamu juga"


Keduanya berpisah, hari ini kuliah hanya sampai disini. Jadwal lenggang, kesempatan emas untuknya agar bisa menemui Nada.


Ia segera bergegas, lantas beranjak pergi dari ruang kelas.


...***...

__ADS_1


Roda mobil Soobin melaju dengan kecepatan rata-rata diatas aspal yang nampak mengkilap setelah diguyur hujan. Gerimisnya sudah reda, kini hanya tersisa awan cerah yang tidak terasa panas sedikitpun. Udara dan suasana terasa begitu damai dan tentram, sesuai dengan hati Soobin yang bahagia hendak bertemu dengan kawan lama.


Senyumnya bahkan tak kunjung memudar sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Beberapa playlist lagu ceria diputarnya untuk menemani perjalanan, sesekali bibirnya mengikuti sang vokalis bernyanyi.


Sesampainya di tujuan dan setelah mobilnya selesai parkir, dia baru ingat sesuatu. Soobin lupa membawa sesuatu untuk Nada, saking semangatnya ia datang ke sini. Yang ada di pikirannya hanyalah bertemu dengan gadis itu, tidak ada yang lain.


Soobin berdecak pelan. Tapi ide lain muncul, kenapa dia tidak ajak Nada untuk membeli apa yang dia mau saja nanti? ah ya, itu pilihan yang lebih baik.


Laki-laki dengan mantel coklat itu turun dari mobil, bergegas menuju lobby rumah sakit.


"Pasien atas nama Nada, dimana ya kak?"


Jawaban yang sama, setelah sekian lama tak ia dengar. Masih di kamar yang sama seperti beberapa bulan lalu, kamar gadis itu tak berpindah.


"Terimakasih" tuturnya dengan senyuman. Soobin tak pernah merasa sebahagia ini akhir-akhir ini. Gadis yang bertugas di ruang informasi, tersenyum ramah.


Langkah kakinya terasa begitu tak sabar, sesekali Soobin berlari kecil menuju ruangan yang ia cari.


Tiba di gedung belakang, lantai tiga, langkah kakinya melambat begitu melihat dokter Kang yang keluar sembari menundukkan kepala. Tak biasanya, jadi Soobin memutuskan untuk diam sejenak memperhatikan gerak-gerik dokter muda yang kini telah cukup usia itu.


Dokter Kang mengusap wajahnya beberapa kali, menatap langit-langit, lalu akhirnya menyenderkan bahunya pada dinding. Dia mulai menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ada apa dengan Dokter Kang? tubuh yang selama ini tegap berdiri itu kian merosot jatuh diatas ubin.


Beberapa detik kemudian, ponsel Soobin bergetar, panggilan dari nomor tidak dikenal. Ia mengangkat telpon genggamnya, membiarkan seseorang di seberang sana bicara.


Suara perempuan, tak asing. Tapi Soobin sedikit lupa.


"Benar, dengan siapa?"


"Ini, ini dengan Dokter Na.. kamu ingat?"


Deg. Perasaan tak enak mulai memenuhi hatinya.


"Ya, aku ingat.. ada apa?"


"Soobin, Nada--"


Detik kemudian, Dokter wanita keluar dari kamar Nada. Pandangan keduanya bertemu, mereka sama-sama membeku.


"Nada telah berpulang.."


Seketika, hatinya terasa begitu perih. Soobin menurunkan tangannya perlahan, air matanya tak lagi dapat ia bendung. Dengan langkah pelan, Soobin memberanikan diri untuk mendekat ke kamar Nada.

__ADS_1


Begitu melewati Taehyun dan Nakyung, Soobin tetap berjalan. Dia tidak menoleh, lebih memilih untuk masuk ke dalam ruangan itu.


Sesak langsung memenuhi ruang dadanya ketika melihat para dokter senior kini tengah melepaskan beberapa selang yang menempel pada tubuh pasien diatas bangsal sana. Tangan seputi susu dengan gelang yang sama dengan milik Soobin itu, nampak tak bergerak sedikitpun. Demi apapun, sebenarnya kakinya sudah tidak sanggup bergerak. Tapi hatinya terus memaksa Soobin untuk terus melangkah.


"Soobin.. kamu disini, nak.." Dokter Lee menatap sosok Soobin dengan sorot mata sendu. Beliau juga habis menangis. Soobin tidak menggubris Dokter Lee, laki-laki itu terus mendekati bangsal Nada.


Emosinya pecah ketika melihat wajah Nada yang terpejam. Tangisnya tak dapat ia tahan lagi, air matanya mengalir begitu deras. Suaranya bahkan sulit ia keluarkan. Diraihnya tangan dingin itu, lantas ia ciumi dengan lembut. Dengan suara yang tersengal, Soobin memejamkan mata sembari mengucap kata maaf berulang kali.


Maaf karena dia datang lambat, maaf karena selama ini ia tak pernah datang mengunjunginya, maaf karena ia tidak pernah usaha untuk meluangkan waktu untuk kemari, maaf untuk rindunya yang tak terbalas, maaf untuk seluruh kesalahannya.


Digenggamnya erat erat tangan itu, kedua netranya menatap Nada yang telah tinggal jasad. Dia ingin bertemu dengan gadis ini, tapi bukan dengan keadaan seperti ini. Soobin ingin melihat gadis ini tersenyum lagi setelah sekian lama tak ia lihat, kenapa ia hanya bisa melihat gadis ini tertidur lelap?


Nakyung yang kembali mengusap pundak Soobin pelan, dia tahu bagaimana hancurnya Soobin ketika melihat seseorang yang disayanginya pergi. Bahkan ketika awalnya dibuat bahagia dulu.


Taehyun di luar sana lebih hancur lagi, tapi dia sudah melepaskan Nada pergi. Dia hanya sedih, sedih sekali. Nada adalah satu-satunya orang paling tulus yang ada di hidupnya, kini harus pergi meninggalkannya seorang diri. Sekarang siapa lagi yang akan ia paksa untuk makan teratur? siapa lagi yang akan mengomelinya tiap kali ia lalai istirahat?


Rupanya hari ini damai karena luka semesta yang dititipkan pada Nada sudah sembuh, kini Dia telah mengampuni Nada, Dia sudah rindu dengan anak itu.


Nada pun kini sudah bersama dengan orang-orang tersayangnya.


Yeonjun? dia tak sanggup melihat adiknya pergi. Yeonjun dari tadi menunggu di taman, menunggu kabar bahwasanya adik perempuannya telah dimakamkan dengan layak, setelah itu baru dia kan mengunjunginya. Ayah mereka hari ini bebas dari penjara, namun lihat apa yang Nada siapkan untuk menyambut kedatangan sang ayah? sangat indah, kan?


Kini, semuanya usai. Buku ini, kisah ini, kisah trio yang terjebak cinta segi tiga, tiga dokter yang penyayang, tentang gadis yang sangat kuat, juga berakhirlah seluruh part yang dibaca olehmu, pembaca setia buku ini.


Terimakasih, sampai jumpa di waktu yang telah ditentukan.


Salam hangat,


Hyleemachaa 💛


.......


.......


.......


.......



...[ hug ]...

__ADS_1


...- tamat -...


__ADS_2