![Juli [ Soobin ]](https://asset.asean.biz.id/juli---soobin--.webp)
..."Jika kamu tak mampu menjadi pena untuk menulis kebahagiaan orang lain, maka jadilah penghapus yang lembut untuk menghilangkan kesedihan mereka"...
...- Juli -...
...****************...
"Jadi, ada apa Dokter Kang?" Nada menoleh.
Kini ketiganya sedang dalam keadaan canggung dan saling diam. Setelah acara berpelukan tadi tentunya. Soobin duduk diatas bangsal, sedangkan Dokter Kang duduk dikursi tepat disebelah bangsal Soobin. Sedangkan Nada, dia berdiri.
Dokter Kang menatap Nada balik, "Kemana saja kamu? sarapan dimeja sudah berembun. Kamu pasti tidak makan"
Mendengar itu, Soobin mengerutkan dahi sembari menatap Nada.
"Oh- i-itu.. Dokter Kang, aku-" Mampus sudah Nada.
"Nad? jadi kamu belum makan sejak tadi?" Soobin menyela.
"Iya.. hehehe" Nada tertawa kikuk. Kini kedua anak laki-laki itu tengah menatap tajam kearahnya.
"Kurasa kita harus bekerja sama, Soobin" Dokter Kang bicara tanpa menoleh.
"Kau benar, mari kita beri dia pelajaran" Jawab Soobin.
Mampuslah aku.. Dokter Kang saja sudah membuatku kapok, apalagi sekarang ditambah Soobin. Dua laki-laki ini memang punya bakat ekstra untuk membuatku frustasi -Nada, Juli.
...----------------...
[ Nada pov ]
"Makan lagi, cepat" Titah Soobin.
Demi apapun, perutku tidak terbiasa makan banyak. Dan lihat sekarang, dua laki-laki gila ini memaksaku untuk makan lebih dari kapasitasku. Bisa bisa mereka membuatku obesitas dalam sehari.
"Aku sudah kenyang, Soobin" Rengekku.
"Kamu baru makan dua suap, dan dengan mudahnya kamu bilang sudah kenyang?" Kini Taehyun yang bicara "Kamu pikir aku mudah dibodohi?"
Ngomong ngomong, kami berada di taman rumah sakit. Taehyun dan Soobin duduk bersebelahan di seberang meja menghadap kearahku.
"Tapi kalian sudah memberiku dua buah sandwich tebal sebelum makanan ini datang.. dan, kalian menyuruhku untuk menghabiskan satu mangkuk nasi ini? ck.. kalian memang tidak berperi kemanusiaan" Dengusku.
"Sudah jangan banyak bicara, ayo habiskan"Jawab Taehyun.
Aku menghela napas panjang, menaruh kepalaku diatas meja. Disaat yang sama, Taehyun dan Soobin bertukar pandang, lantas saling menukar pendapat tanpa suara. Keduanya tersenyum, lalu menepuk kedua pundakku.
Aku bangkit, "Cukup, aku sudah tidak mampu lagi.." lantas menghela.
"Jadi, apa kamu akan mengulanginya lagi?" Soobin menatapku.
Kedua tanganku terangkat keatas, menyentuh kedua telingaku seperti orang yang dijewer lalu menggeleng pelan "Tidak akan, aku tidak mau lagi makan sebanyak ini"
Kedua laki-laki itu tersenyum lebar. Taehyun dengan deretan giginya yang rapih, Soobin dengan mata yang menyipit plus lesung pipi.
"Bagus sekali" Ucap Taehyun kemudian.
"Turunkan tanganmu, telingamu bisa sakit nanti" Soobin menyentuh lenganku, lantas menurunkanya.
"Dengar, Nad.. kami melakukan ini untuk kesehatanmu juga, kamu selalu memperhatikan jadual makanku, kamu mengatur jadual makan nenek, mungkin juga jadual makan Soobin.. itu hal yang baik. Tapi ketika kamu melupakan dirimu sendiri, itulah titik kesalahanmu.. kamu juga manusia, kan? kamu sama seperti kami yang butuh makanan.. tolong jangan berbuat tidak adil pada dirimu sendiri, Nad" Taehyun menatapku.
Dia selalu begini, tidak pernah berubah sedikitpun. Dia memarahiku sesaat, kemudian berbicara padaku dengan lembut.
Ditengah Taehyun dan aku bicara, Soobin menoleh kearah Taehyun. Batinnya berucap, Nada memang sudah seharusnya mendapatkan Taehyun yang pintar dan bijak, Taehyun yang selalu memperhatikan sekaligus mengurus Nada dengan sangat baik. Bukan malah merepotkan.
Untuk kesekian kalinya, Soobin merasa tidak berguna untuk siapapun.
Soobin mengalihkan pandangan, menatap kebawah kakinya yang masih belum bisa digerakkan. Kira kira, berapa lama lagi? sampai kapan dia akan seperti ini? sampai kapan Soobin merepotkan Nada?
Aku tersenyum, menanggapi Taehyun dengan anggukan kecil.
Tiba-tiba, ponsel Taehyun berbunyi. Itu pasti panggilan dari perawat yang meminta Taehyun untuk membantu pasien. Tanpa berpikir Taehyun sedang apa dan dimana dia sekarang.
"Tunggu, aku akan segera kembali" Laki-laki dengan jas putih itu bangkit, meninggalkan aku dan Soobin berdua.
__ADS_1
Sepeninggal Taehyun, entah kenapa kami jadi canggung. Saling diam satu sama lain. Soobin juga tidak menatapku sejak aku bicara dengan Taehyun barusan.
"Setelah ini, aku akan kembali ke kamar Nad" Soobin akhirnya buka suara.
"Biar kuanta--"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri" Laki-laki itu menoleh.
Ada apa dengan Soobin? kenapa tiba-tiba dia bersikap dingin begini?
"Soobin, tunggu" Ketika anak itu mulai bergerak dari tempatnya, segera ku hentikan niat Soobin dengan menyentuh lengannya.
Dia menoleh.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat, kamu akan ikut kan?" Tanyaku.
"Aku hanya akan merepotkanmu, Nad" Jawabnya.
Sungguh, aku melihat sesuatu yang tersirat dalam tatapan Soobin. Tapi aku belum bisa memahaminya. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu padaku, entah apa itu.
"Tidak, Soobin, tidak.. aku tidak akan merasa sendirian jika pergi bersamamu, bukan seperti yang kamu pikirkan.." Dia masih tidak bergerak, menatapku.
Belum sempat Soobin bicara, Taehyun sudah kembali. Aku dan Soobin refleks menoleh kearahnya.
"Nad, Soobin, aku harus pergi.. maaf ini sangat mendadak aku jadi harus meninggalkan kalian berdua" Ucapnya, masih berdiri.
"Pergilah, Taehyun.. ada Soobin yang akan menemaniku" Aku tersenyum, menatap Taehyun.
Laki-laki itu tersenyum balik kearah kami "Hey Soobin, aku mempercayaimu.. tolong jaga dia yaa"
Soobin diam, dia tidak menjawab. Dia ragu, jelas jelas dia tidak sama seperti Taehyun yang tidak lumpuh. Bagaimana Soobin akan menjaga Nada?
"Dia akan menjagaku seperti kamu menjagaku, Dokter Kang" aku menoleh pada Soobin dengan senyuman lebar.
...----------------...
Kami tiba di suatu tempat diluar area rumah sakit. Baiknya adalah, Soobin ikut bersamaku setelah aku meyakinkan hatinya. Ternyata Soobin cuma merasa insecure dengan keadaannya sekarang.
"Sudah sampai, Soobin" Kami tiba di taman utama.
"Tempat apa ini?" Tanya Soobin.
"Panti asuhan, keluarga keduaku" Aku berjalan ke sebelah kanan Soobin, lantas menoleh "Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang disini" lalu tersenyum.
Kemudian, nampak anak anak melintas dihadapanku. Beberapa dari mereka menoleh, lantas langsung berekspresi bahagia ketika melihatku berdiri dihadapan mereka.
"KAK NADA DATAANGG!!" Gadis kecil itu berteriak.
Aku tersenyum lebar, Soobin menoleh kearahku. Lantas, aku bergerak menurunkan tinggi badanku, merentangkan tangan kearah mereka. Dengan cepat mereka berlari menghampiriku, lantas memeluk erat tubuhku dengan senyuman yang mengembang.
Soobin yang melihat itu tersenyum di dalam hati. Anak anak ini terlihat sangat bahagia saat tau Nada datang menemui mereka.
"Aku sangat merindukanmu, Kak" Ucap salah satu gadis yang berada dipelukanku.
"Kak Nada, lama sekali tidak mengunjungi kami" Gadis kecil lainnya menanggapi.
"Maaf, kakak baru bisa kesini mengunjungi kalian semua.. bagaimana kabar kalian?" Kini sudah ada sekitar delapan anak yang berada di sekitarku. Kulepaskan pelukan ini dengan lembut.
"Kami baik baik saja, kak.. sungguh, kami sangat menghawatirkan kakak ketika tidak kemari selama tiga hari"
"Apa yang kalian khawatirkan tentangku? aku baik baik saja.." Aku tersenyum lembut menatap mereka.
"Kakak.." Seorang gadis melirik kearah Soobin yang hanya diam memperhatikan kami sejak tadi.
"Yaa?" aku menoleh.
"Apa dia pacarmu?"
...----------------...
"Aku datang, Jihya.." Mendorong pelan pintu kamar seorang gadis bernama Jihya dari luar.
Soobin memperhatikan sekitar. Sejak dia masuk, terlihat polaroid yang menempel menghiasi dinding kamar ini. Terlihat ada beberapa foto gadis kecil dengan Nada juga disana.
Saat kami benar-benar sudah masuk, gadis kecil berambut gelombang itu datang dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
__ADS_1
Dia memelukku erat, lantas menoleh kearah Soobin.
"siapa dia, kak Nad?"
Jemari kecilnya bergerak membentuk sebuah kalimat. Soobin cukup terkejut ketika tau gadis ini bisu. Baru kali ini dia melihat anak kecil yang berinteraksi dengan bahasa isyarat.
"Choi Soobin" jawabku dengan lembut.
"apa dia baik padamu?"
"Tentu, dia sangat baik.." aku mengangguk pelan.
Jihya mendekati Soobin, menatapnya dengan kedua bola mata bulat yang cantik. Soobin tersenyum menatap Jihya balik.
Gadis itu tersentak kecil, membuat Soobin kebingungan. Cepat cepat, dia mengambil selembar kertas dan sebuah pena, lantas menuliskan sesuatu diatasnya.
Jihya menyerahkan kertas tadi pada Soobin.
Kau mempunyai lesung pipi yang manis, Kak Nada pernah mengatakan padaku.. dia menyukai seseorang yang memiliki lesung pipi..
Soobin menoleh setelah membaca tulisan itu. Kini Jihya tersenyum tanpa memperhatikan giginya.
"Benarkah?" Soobin memastikan, gadis kecil dihadapannya mengangguk yakin.
Jihya kembali menulis kertas diatas kertas tadi.
Namaku Jihya, seseorang yang mengenal Kak Nada sejak lama.. anggaplah aku ini sebagai adik perempuan Kak Nada, kakak juga boleh menganggapku sebagai adik perempuanmu..
Soobin mengangguk, tersenyum.
"Jihya, aku harus menemui ibu.. bisa kau temani Soobin saat aku pergi?" Aku menoleh.
Gadis itu mengangguk pelan.
"Aku akan segera kembali, Soobin... tidak apa apa kan?" Ucapku pada Soobin.
"Pergilah, aku akan tetap disini bersama adik kecilku" Soobin tersenyum menoleh pada Jihya yang juga tersenyum kearahnya.
"Baiklah, jaga dirimu Soobin" aku tersenyum balik, lantas keluar kamar menemui ibu panti.
...----------------...
"Jadi kamu sudah mengenal Nada sejak dia belum tinggal disini?" Soobin menatap Jihya sesaat.
Jihya mengangguk.
Kak Nada itu, sudah banyak melalui perubahan sejak ayahnya dipenjara.. walaupun aku tau Kak Nada pasti masih sering merasa sepi karena tidak punya keluarga yang utuh..
Jihya menatap kedua kakinya.
"Jihya.." Soobin memanggilnya dengan lembut, gadis itu menoleh.
"Bolehkah aku memintamu untuk bercerita tentang Nada?"
Apa kakak yakin ingin mendengarnya?
"Aku sangat ingin mengetahui siapa Nada, Jihya.. dia tidak pernah mau buka mulut jika ku tanyakan langsung"
Aku akan menceritakan tentang Kak Nada.. tapi hanya yang kuingat saja ya?
"Tidak apa, aku akan mendengarkanmu bercerita"
Baiklah, Kak Soobin.. Tapi sebelum itu, berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan Kak Nada setelah ini..
"Aku tidak akan pernah melakukan itu meskipun kamu tidak membuat janji, Jihya.."
Jihya tersenyum lembut.
*Terimakasih sudah mau bersama Kak Nada, tetaplah berada disisinya kapanpun dan dimanapun kak Nada pergi..
Karena sebenarnya, Kak Nada adalah gadis yang sudah bersahabat lama dengan sendu, meskipun dia terlihat penuh ceria dihadapanmu*..
...****************...
[ flashback mode on, coming soon 🙌🏻 ]
__ADS_1