Just One Feeling

Just One Feeling
Dia Istriku


__ADS_3

Suara mobil yang hidup, terlihat mulai dijalankan. Keluar dari rumah tersebut melewati gerbang. Andin yang melihat dari jendela kamarnya pun memicingkan matanya. Lalu ia segera bersiap-siap secepatnya. Mengingat jawaban yang baru saja didapat dari Sekretaris Chan. Bahwa, ia tidak akan bisa menjalankan tugas darinya dengan baik.


Andin hampir melupakan sesuatu. "Ah, ya. Sekretaris Chan kan sekretaris setianya suamiku. Dia tentu hanya akan menuruti segala perintahnya. Bukan istrinya. Huh!"


Andin tentu menyesali karena telah meminta tolong pada Sekretaris Chan. Seharusnya, ia berfikir matang terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat kemudian, Andin hampir selesai bersiap-siap. Tentu setelah berbicara kepada neneknya, bahwa ia akan pergi keluar karena ada urusan yang sangat penting.


Tidak mudah meyakinkan neneknya itu. Apalagi, Andin sangatlah tahu. Bahwa kedatangan neneknya adalah karena alasan dirinya. Andin pun tentu merasa tidak enak pada neneknya, jika harus meninggalkannya walau sebentar saja.


Tetapi lagi-lagi, Andin memang harus pergi apapun alasannya.


Andin mengembuskan nafasnya, sangat lega. Nenek mengizinkannya.


Sebelum ia keluar dari rumah, Andin sempatkan untuk sholat sunnah Dhuha empat rakaat di kamarnya. Setelah selesai menjalankan sholat sunnah, terlihat ia yang menengadahkan kedua tangannya. Memejamkan matanya lalu tersenyum.


Seakan untaian kalimat yang diucapkan hatinya, terjawab sudah. Seakan Tuhan yang ia sembah, memberinya kebahagiaan dan kedamaian pada saat itu juga.


Dan memanglah benar. Ketika Andin seusai sholat sunnah Dhuha, hatinya, batinnya, dan semua organ tubuhnya, merasa tiba-tiba baik-baik saja. Seakan dirinya yang hanya manusia biasa, tidak pernah memiliki beban masalah sedikitpun.


Entah perasaan apakah ini. Yang pasti, jika hamba mu ini berada di dekatmu, maka ketenangan jiwa bersemi di hatiku. Jadikanlah perasaan ini, adalah perasaan cinta sejati kepadamu. Wahai Tuhanku, Tuhan semesta alam, Allah SWT.


Andin mengusap kedua tangannya ke wajahnya. Lalu ia melepaskan mukena yang dikenakannya. Melipat kembali mukena yang sudah dikenakannya itu dan menyimpannya kembali ditempatnya.


Ia mengambil kerudung segiempat berwarna peach. Itu sengaja ia padukan dengan gamis yang ia kenakan saat ini. Gamis berwarna hitam polos. Memang akan selalu padu dengan kerudung warna apapun. Tetapi bagi Andin, warna peach akan lebih cocok menurutnya.


Kali ini, ia mengambil tas selempang mini miliknya. Dan heels yang tidak terlalu tinggi. Andin memang sudah memiliki tubuh yang ideal, yang bahkan semua perempuan menginginkan.


Setelah menemui nenek yang tengah menonton televisi, lagi-lagi Andin merasa tidak tega jika harus meninggalkan neneknya. Tetapi ia segera menepiskan perasaan tidak teganya itu. Ia tahu apa yang harus dilakukan.


Andin membawa mobil mewah berwarna putih miliknya. Rasanya sudah lama, ia tidak menyetir mobil sendiri. Saat pertama ia berlatih menyetir mobil, dulu waktu awal-awal kuliahnya di semester pertama.


Dan hari ini, adalah pertama kalinya ia mengendarai mobil setelah menikah dengan Ziban. Tetapi, tidak ada keraguan sedikitpun yang terlihat.


Sebelum Andin mengendarai mobilnya tersebut, ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rossie.


"Kau datang ke rumahku, ya? Tolong temani nenekku sebentar. Aku ada urusan sebentar. Abangmu pergi ke kantor. Sebenarnya aku malas meminta bantuan darimu. Lebih baik aku meminta bantuan pada Meta. Ah, tapi sayangnya Meta sedang sibuk bekerja. Aku tahu, kau tidak sibuk. Cepat datang ke rumahku. Kau kan sahabat serta adik iparku yang baik. Love adik ipar."


Di akhir kalimat, Andin mengirimkan tiga emot love padanya. Lalu ia menyimpan ponselnya kembali. Dan segera menyetir mobilnya dengan rileks.


......................

__ADS_1


Mobil terparkir sembarangan di depan kantor miliknya. Semua karyawan karyawati yang mulai berdatangan ke kantor memandanginya. Yang ada dibenak mereka semua adalah, mengenai mereka yang tidak pernah melihat atasannya yang menyetir mobil sendiri.


"Apa lihat-lihat?!"


Ziban yang merasa risih dengan semua mata yang memandangnya pun, menunjukkan tidak sukanya. Seketika semua yang memandang Ziban, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak mengucapkan sepatah katapun.


Ia menyesal karena melarang Sekretaris Chan ketika hendak menjemput. Ia bersikeras akan menyetir sendiri hari ini. Rupanya, keputusannya itu berakhir tidak mengenakkan bagi Ziban. Ia benar-benar tidak menyukai tatapan dari semua karyawan karyawatinya. Walaupun Ziban tidak mengetahui apa arti tatapan mereka.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapanya, dari arah belakangnya. Ziban membalikkan badannya.


"Selamat pagi tuan muda. Jangan marah-marah. Lihatlah, wajah dan mata anda ikut berwarna merah. Persis banteng."


Diujung kalimatnya, Selena tertawa.


Ziban tidak memikirkan kalimat ucapan Selena. Saat ini, pikirannya tengah tertuju pada penampilan Selena.


"Kau memakai kerudung?"


"Ya, seperti yang anda lihat."


"Kenapa tiba-tiba kau memutuskan untuk memakai kerudung?"


"Menjadi sekretaris anda yang taat agama, adalah misi saya kali ini."


"Walau di hari pertama kau bekerja denganku, tetapi kau sudah terlihat seperti sekretaris profesional."


Ziban dan Selena menggelengkan kepala mereka pelan sembari tertawa kecil. Mereka masuk ke dalam bersama-sama.


Ziban terlebih dahulu mendatangi ruang Sekretaris Chan. Ia tentu harus membicarakan banyak hal bersama Selena dan Sekretaris Chan mengenai posisi mereka yang berstatus sama. Sang sekretaris.


"Silakan masuk, tuan muda." (ucap Sekretaris Chan)


Ia melihat Ziban yang sudah membuka pintu ruangannya serta Selena yang di belakangnya.


"Tentu saja aku akan masuk. Kau tidak perlu menawariku. Ini kan kantor milikku." (ucap Ziban)


Mendengar ucapan Ziban, Sekretaris Chan sudah terbiasa. Begitupun dengan Selena. Ia tahu, bahkan sangat tahu. Dibalik punggung Ziban yang memang memunggunginya, Selena tersenyum.


Rupanya, kau benar-benar masih Ziban yang sama.


Mereka berdua masuk ke dalam. Sekretaris Chan berdiri dari tempat duduk kerjanya. Ia mempersilakan Ziban untuk mendudukinya. Sedangkan dirinya dan Selena duduk di depan Ziban. Mengisi dua kursi yang memang sudah tersedia di meja kerjanya untuk siapapun yang berkepentingan dengan Sekretaris Chan.

__ADS_1


Ziban langsung mulai mendiskusikan perihal sistem kerja kepada dua sekretarisnya. Dengan tetap meminta pendapat mereka berdua. Hal itu tentu, mengenai pekerjaan dan kenyamanan mereka dalam bekerja. Jadi, Ziban tentu harus mendiskusikannya terlebih dahulu. Bagaimanapun, Sekretaris Chan adalah sekretaris kepercayaannya. Dan Selena adalah teman lamanya. Ziban tidak ingin membeda-bedakan antara mereka berdua, di kantor.


Ia menegaskan pada dirinya sendiri, bahwa semuanya harus diperlakukan adil. Tidak terkecuali karyawan karyawatinya. Begitu prinsipnya.


"Dan kau Sekretaris Chan, kau harus meluangkan waktumu selama satu minggu, untuk Selena. Kau harus mengajarinya segala hal, supaya dia menjadi sepertimu."


Ziban mengucapkan dengan nada wibawanya. Selena yang baru kali ini, mendengar kewibawaan dan caranya berbicara jika mengenai pekerjaan, tertegun sejenak.


Tak dapat dipungkiri lagi. Ada sesuatu menenangkan yang mengalir didalam hatinya.


"Maaf tuan muda. Bukan maksud saya menyanggah ucapan anda. Sepertinya Selena tidak membutuhkan bantuan dari saya selama itu. Seminggu itu sangat lama."


Seketika Ziban dan Selena menatap Sekretaris Chan. Terutama Selena. Ia tidak mengerti, mengapa Sekretaris Chan seperti keberatan dalam hal membantu dirinya.


"Apa maksudmu, Sekretaris Chan?" (tanya Ziban)


"Maksud saya, Selena tidak memerlukan waktu seminggu untuk belajar dari saya. Karena dalam satu hari saja, Selena pasti sudah memahami segalanya. Dia sangat berbakat."


Selena mengembuskan nafasnya, setelah menahannya beberapa saat. Ia tersenyum dengan ucapan Sekretaris Chan. Begitupun dengan Ziban.


Tiba-tiba terdengar pintu tersebut diketuk. Sekretaris Chan yang membuka dan melihat siapa yang datang. Ziban dan Selena menatap ke arah pintu, ingin melihat siapa yang datang.


"Silakan masuk, nyonya muda."


Andin mengangguk pada Sekretaris Chan. Ia lalu mulai bergerak melangkahkan kakinya. Ziban mengulas senyum sangat manis, melihat Andin datang. Sedangkan Selena menatap Ziban. Melihat Zihan yang menunjukkan senyum merekah yang bahkan tidak pernah ditunjukkan kepadanya. Perasaan kesal tiba-tiba muncul.


Ziban berdiri dari tempat duduknya. Memeluk Andin.


"Perkenalkan aku kepada dua sekretarismu, mas."


Andin berbisik-bisik di telinga Ziban. Ziban pun melepaskan pelukannya.


"Sekretaris Chan, ini Andin, istriku."


"Dan Selena, ini Andin istriku."


Ziban memperkenalkan Andin kepada dua sekretarisnya bergantian. Sekretaris Chan mengernyitkan keningnya. Seperti mengatakan, "Saya sudah mengenalnya, tuan muda. Untuk apa anda mengenalkan pada saya."


"Istriku ini, sangat cantik kan? Sekretaris Chan? Selena?" (ucap Ziban lagi)


Sekretaris Chan mengangguk mengiyakan. Sedangkan Selena merasakan darahnya mendidih seketika.

__ADS_1


"Iya tuan muda, istri anda sangat cantik." (ucap Selena sembari tersenyum)


BERSAMBUNG...


__ADS_2