
Setelah Sekertaris Chan dan Selena pamit undur diri untuk tugas mereka masing-masing, Ziban naik ke atas menuju kamarnya. Ia berniat akan menghubungi paman Andin yang menjemput Nenek Jeje. Ia berfikir, dengan berbicara dihadapan Andin, itu akan membuat Andin lebih puas walau apapun yang akan dikatakan olehnya nantinya.
"Sayang."
Ziban membuka pintu kamarnya. Matanya langsung tertuju kepada Andin dan Rossie yang duduk berjejeran dipinggir ranjang. Mereka berdua saling diam. Dan wajah murung pun terlukis jelas di wajah Andin.
"Aku telepon paman dulu, ya?"
Ziban menawarkan pada Andin. Dan tawarannya pun langsung diterima. Andin mengangguk mantap.
Ziban pun langsung menelepon nomor ponsel paman Andin. Hendak menanyakan alasan mengapa Nenek Jeje tiba-tiba pulang secara mendadak. Tanpa memberitahu dirinya dan terutama Andin, cucunya.
Sambungan telepon langsung terhubung. Pamannya Andin langsung menjawab panggilannya. Yang dilakukan Ziban pertama adalah, memperbesar suara panggilannya. Hal itu ia lakukan, tentu supaya Andin dan Rossie dapat mendengarnya dengan jelas.
"Halo, paman."
"Ini bibi mu, Nak Ziban. Paman mu sedang di kamar mandi."
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Ada apa nak? Andin baik-baik saja, kan?"
Suara dari seberang sana justru yang terdengar khawatir.
"Andin baik-baik saja. Apa yang sedang nenek lakukan?"
"Nenek sedang di kamarnya. Kau mau bicara dengannya?"
"Tidak. Bukan seperti itu. Apa bibi tahu, kenapa nenek pulang secara mendadak? Nenek bahkan tidak memberitahu kami."
"Benarkah?"
"Iya."
Tiba-tiba saja, Andin langsung merebut ponsel Ziban. Dan Ziban pun membiarkan keinginan istrinya itu.
"Bibi Winda, tolong katakan pada Andin, kenapa nenek pulang tanpa mengabari Andin sekalipun?"
Ucap Andin dengan nada penuh penasaran kepada Winda.
"Kau mungkin kurang memerhatikan nenekmu, Ndin."
Mendengar ucapan Winda, hati Andin semakin merasa bersalah. Dan merasa, bahwa yang dikatakan olehnya adalah benar. Andin pun tak mampu menyanggah, ataupun berkata-kata lagi. Selain tidak tahu apalagi yang akan dikatakan oleh dirinya, ia pun lebih memilih untuk menilai dirinya sendiri saja.
"Nenekmu tidak mau buang air besar ketika berada di rumahmu."
Tiga pasang telinga yang mendengar pun dibuat terkejut. Terlebih lagi, Andin.
__ADS_1
"Emm, yang dimaksud Bibi Winda apa?"
Winda pun mulai menceritakan secara runtut. Mengenai Nenek Jeje yang tiba-tiba menghubungi nomor ponsel suaminya Winda. Dan Nenek Jeje yang menghubunginya melalui telepon rumah yang terdapat di rumah tersebut. Lalu mengenai Nenek Jeje yang memintanya untuk segera menjemput dirinya. Dengan alasan, tidak bisa buang air besar.
"Seperti itu ceritanya, Ndin."
"Kenapa tidak mau buang air besar ketika di rumahku, bi?"
"Entahlah. Namanya juga nenek kan sudah tua. Kau tahu sendiri."
Andin mengangguk. Seakan lupa, bahwa anggukannya tidak akan terlihat oleh Winda.
"Tapi bi, kenapa nenek bisa memanggil nomor paman? Maksudnya, biasanya nenek selalu lupa, kan."
"Bibi pernah melihat buku yang selalu dibawa nenek ketika berpergian kemanapun. Dan disitu, ada beberapa nomor anggota keluarganya."
Andin tersenyum mendengar ucapan Winda. Tak dapat dielak lagi, Andin bangga pada neneknya. Neneknya yang sudah tua itu, sudah mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Mengingat bahwa sesuatu yang akan terjadi, tetap akan terjadi. Dimana situasinya tidak selalu mudah. Adakalanya, ia membutuhkan bantuan dari orang terdekatnya. Tentu tidak akan mudah menghadapi dirinya yang menahan rasa ingin buang air besarnya.
"Apa benar bibi tidak tahu, kenapa nenek tidak mau buang air besar disini?"
"Sebentar ya, Ndin. Bibi akan tanya ke paman mu dulu. Dia yang lebih memerhatikan nenek. Ya, walau yang anak kandungnya adalah bibi sendiri."
Di seberang sana, Winda menghampiri suaminya yang baru saja selesai mandi.
Tak menunggu waktu lama bagi Andin, Ziban dan Rossie yang masih menanti, Winda kembali berbicara.
"Tidak suka bagaimana, bi?"
"Mungkin nenek mau buang air kecil di toilet manapun, tapi jika buang air besar, tidak."
Ucapan Winda semakin membuat yang mendengarnya kebingungan. Hingga sampai akhirnya, Winda mengatakannya dengan jelas, baru mereka bertiga memahami.
"Toilet kesayangan nenek, full bermotif bunga-bunga. Nenek tidak akan pernah mau buang air besar selain di toiletnya itu."
"Apa?!"
Andin, Ziban, dan Rossie sangat terkejut. Mereka memikirkan hal yang sama dalam benak mereka.
Setelah beberapa saat, dan setelah mengetahui alasan sebenarnya, akhirnya telepon diakhiri. Dengan perasaan Andin yang lebih baik tentunya. Setidaknya, dirinya tidak merasa sangat bersalah lagi seperti tadi.
Sedangkan Rossie tiba-tiba berbicara pada Ziban bahwa dirinya akan pulang ke rumah. Andin pun ikut memusatkan perhatiannya pada Rossie. Respon pertama yang diucapkan Ziban adalah sebuah penolakan dan larangan. Mengingat, seorang preman telah datang ke depan rumah. Tidak meninggalkan pesan. Tetapi meninggalkan pertanyaan.
"Abang, ayolah bang. Aku sangat bosan disini. Ada banyak hal yang harus ku lakukan di rumah nanti." (Rengek Rossie)
"Tidak. Nanti saja. Menunggu semua pekerja di rumah ini kembali."
"Tapi taksinya sudah sampai di depan rumah bang."
__ADS_1
Seketika Ziban melototkan kedua matanya. Sedangkan Rossie hanya cengengesan saja.
Ziban akhirnya menghembuskan nafasnya.
"Baiklah, pulanglah. Salam untuk ibu, ya?'
"Oke bang."
Ucap Rossie sembari mengangkat jempolnya dan sedikit memiringkan kepalanya.
Rossie pun langsung turun kebawah. Diikuti oleh Andin dan Ziban dibelakangnya. Dengan Ziban yang sesekali memegang jahil dua bulatan bagian belakang Andin. Yang terus saja ditepis oleh Andin. Yang terus berjaga-jaga karena masih ada Rossie yang tengah berjalan didepannya.
"Stop, tunggu dulu."
Ziban menghentikan langkah Rossie yang hendak membuka pintu mobil taksi. Ia pun menoleh kebelakang dengan sedikit malas.
"Ada apa sih, bang?"
"Sebentar."
Ziban mengambil ponselnya, lalu menelepon seseorang. Terdengar langsung dijawab dari seberang. Tetapi Andin dan Rossie tidak mendengar suara dari seberang sana. Dan setelah lama mereka berdua mendengarkan, akhirnya mereka tahu. Bahwa, yang di telepon oleh Ziban adalah Sekretaris Chan.
Dan Rossie dibuat terkejut dengan yang didengarnya dari mulut Ziban.
Bang Ziban ini, apa-apaan sih.
Ziban memutuskan sambungannya. Lalu tersenyum ke arah Rossie.
"Ayo masuk mobil. Hati-hati dijalan ya, adik manis ku."
Rossie mendengus kesal. Dan memaksakan senyumannya. Lalu segera masuk ke dalam mobil taksi tersebut.
......................
Sedangkan di kantor, tepatnya di ruang meeting. Sekretaris Chan mengucapkan kata maaf pada semua yang terdapat di ruang meeting tersebut. Pertama tadi, karena Ziban menelepon dirinya. Dan kedua saat ini, karena Ziban menyuruhnya melakukan sesuatu.
Jadi, ia meminta sedikit waktu lagi untuk dirinya. Ada sesuatu yang harus dilakukan. Dan ia berjanji hanya sebentar saja. Semua yang ada di ruang meeting itu, mengangguk memahami.
Ia pun segera keluar dari ruangan meeting itu. Dan langsung mengirim pesan pada Selena. Ada yang harus ia katakan padanya. Ah ya, lebih tepatnya, ia membutuhkan sedikit bantuan lagi darinya.
Tak menunggu waktu yang lama, Selena membalas pesan darinya. Ia pun tersenyum membacanya. Merasa kehadiran Selena, sangat membantu dan mengurangi pekerjaannya.
Ia membacanya sekali lagi, pesan jawaban dari Selena. Memastikan Selena benar-benar menyanggupi perintah Ziban kepadanya, yang di oper kepada Selena.
"Baik, Sekretaris Chan. Aku akan langsung menemani Rossie selama perjalanan di dalam taksi. Melalui video call. Sesuai perintah Ziban. Rossie itu adiknya, berarti dia itu adikku juga."
BERSAMBUNG...
__ADS_1