
Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Dimana siang hari yang sangat panas akan benar-benar berlalu. Dan hari-hari yang melelahkan pun akan diganti dengan istirahat. Menyelesaikan sebuah atau bahkan berbuah-buah pekerjaan, adalah hal yang utama. Karena dengan setelah menyelesaikan semuanya, tubuh serta pikiran, benar-benar dapat beristirahat dengan normal.
Begitupun dengan Sekretaris Chan. Semua urusan-urusan pentingnya hari ini, telah selesai dengan cepat. Sangat jauh dari kata terlambat. Dan tentunya, diwaktu yang tepat.
Terlihat mobilnya yang terparkir di depan kedai kopi. Sudah dapat ditebak oleh akal manusia, bahwa ia akan membeli kopi. Ya, tentu saja. Tidak usah diperdebat lagi mengenai tujuannya itu.
"Terimakasih, dan selamat menikmati." (ucap penjual laki-laki sembari tersenyum)
Sekretaris Chan menerima cup kopi. Dan membayarnya. Tanpa menggubris ucapannya atau membalas senyumannya. Sekretaris Chan bergegas memasuki mobilnya.
"Maaf membuatmu menunggu, dik."
Meta menebarkan senyum kepadanya.
"Tidak lama. Dan seharusnya aku yang berterimakasih."
"Untuk?"
"Untuk kau, mas. Karena, hari ini, kau sudah dua kali bolak-balik datang ke tempatku bekerja. Padahal, kau kan sangat sibuk."
Sekretaris Chan hanya menarik garis senyum di bibirnya sedikit. Lalu, ia mulai menyeruput kopinya. Dan, setelah kopinya hampir habis, ia meletakkannya di bawah.
"Kenapa ditutup rapat?"
Meta mempertanyakan kepada Sekretaris Chan alasan mengapa ia menutup rapat semua kaca mobilnya. Bukannya mendapatkan jawaban, Meta justru dihadapi dengan keadaan yang membuatnya bingung.
Setelah melihat, tangan Sekretaris Chan yang mulai bergerak ke arahnya. Meta semakin dibuat kikuk. Setelah Sekretaris Chan meraih tubuhnya.
Deg!
Jantung Meta berdegup kencang. Begitupun dengan seseorang yang tengah memeluknya. Meta merasakan degupnya jantung dari Sekretaris Chan yang sama cepatnya dalam berpacu.
Tak berlama-lama dalam memeluk, Sekretaris Chan melepas. Ada hal lain yang tengah ada di otaknya.
Deg!
Kedua bola mata Meta melotot sempurna. Merasakan sesuatu yang kenyal bersentuhan dan terasa menggesek di bibirnya.
"Hmmmppphhh..."
Hanya suara itu saja yang mampu Meta lepaskan. Dirinya sebenarnya bisa saja memberontak melepaskan diri. Tetapi, entah mengapa tubuhnya seakan tak menyetujuinya. Seakan otak dan tubuhnya tak mampu bekerjasama dalam keadaan seperti itu.
Plumph.
Sekretaris Chan menyudahinya.
"Maaf ya, dik?"
Meta dan Sekretaris Chan benar-benar tengah dihadapkan dengan suasana yang canggung. Hanya saja, Sekretaris Chan mampu menutupinya.
Meta hanya mengangguk pasrah. Ia sungguh tidak tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya itu. Karena tidak tahu, apa yang harus ia lakukan dan tidak. Atau mungkin, ia memang belum sadar sepenuhnya.
Lalu Sekretaris Chan mengambil sisa kopinya dan keluar dari mobil. Ia membuang sisa kopinya di tempat sampah umum yang ada didekat mobilnya. Meta menatap Sekretaris Chan dari dalam. Lalu ia menundukkan kepalanya. Karena melihat Sekretaris Chan kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu, pulang."
......................
Sedangkan di ruang utama, terlihat Kumala dan Arga yang tengah menonton televisi berdua. Duduk berdekatan dengan tangan kanan Arga yang merangkul pundak Kumala.
Tiba-tiba pintu utama terbuka tanpa mengetuk atau memencet bel terlebih dahulu.
"Eh, maaf om, tante. Kami masuk sembarangan."
Raditya yang berbicara. Terlihat ia dan Rossie tidak enak hati. Mereka memang terbiasa masuk dengan seenaknya saja. Mengingat tidak ada Arga dan Kumala di rumah itu. Hingga menjadi kebiasaan sampai saat ini.
Kumala tentu tersenyum melihat tingkah kikuk mereka.
"Tidak masalah. Duduklah."
Kumala menyuruh Raditya dan Rossie untuk duduk bersama ia dan suaminya. Arga tak merespon apapun. Bahkan, ia tak melepaskan tangan kanannya yang merangkul Kumala. Dan mengenai ia yang tak berbicara walau satu katapun, itu memang adalah dirinya.
Jarang berbicara. Atau mungkin memang tidak suka berbicara yang tidak terlalu penting. Dan mungkin saja sikap tidak terbukanya itulah yang membuat siapapun akan merasa tidak enak jika bertemu dengannya.
Ya, dan kemungkinan sembilan puluh lima persen adalah benar. Siapapun orangnya, jika menemukan lawan hadap atau lawan bicaranya tidak berada dalam zona aman, pasti akan merasa tidak nyaman. Dan mau tidak mau harus menyesuaikan. Begitupun dengan Raditya dan Rossie.
"Tidak, tante. Kami hanya ingin mengantar ini saja." (ucap Rossie)
Arga terlihat tertarik dan sempat melirik sekilas. Kumala mengernyitkan keningnya. Melihat kantong plastik di tangan Rossie. Rossie pun segera menjelaskan tanpa harus ditanya terlebih dahulu.
"Hari ini, kami habis jalan-jalan berdua ke Bandung. Dan Andin memintaku untuk membelikan ini. Ini adalah jajanan tradisional khas Bandung. Katanya, Andin sangat menyukainya. Oleh karena itu, dia memaksaku untuk membelikan untuknya."
"Dan katanya, jika sampai aku tidak membelikannya, maka dia akan membujuk Bang Ziban untuk tidak memberiku uang lagi seperti biasa."
"Selamat malam, tuan dan nyonya besar."
Sapa Sekretaris Chan yang sudah berada diantara mereka. Kumala dan Arga mengangguk.
"Maaf, saya izin untuk menemui tuan muda Ziban."
Arga melepas tangan kanannya yang merangkul pundak Kumala. Lalu ia mengayunkan tangannya itu ke depan. Mempersilakan Sekretaris Chan melakukan apa tujuannya datang ke rumahnya itu. Dan langsung dipahami oleh Sekretaris Chan. Ia pun segera naik ke atas menuju kamar Andin dan Ziban.
"Duduklah."
Perintah Kumala untuk kedua kalinya. Akhirnya, Rossie dan Raditya pun ikut duduk dengan Kumala dan Arga.
"Kalian mau minum apa?" (ucap Kumala)
"Ah, tidak tante. Tidak usah merepotkan."
Kali ini, Raditya yang menjawab. Rossie pun mengiyakan ucapan Raditya. Tetapi, Arga melirik mereka berdua.
"Jika haus, katakan."
"Kopi. Dengan gula, satu sendok teh lebih setengah. Mengaduk kopi dan gula, harus tujuh kali adukan. Dan itupun harus memutar dari arah kiri ke kanan. Karena jika salah, rasanya akan berbeda. Oh ya, dan juga cake brownies." (jawab Raditya dengan cepat dan lancar)
Rossie menyikut lengan Raditya dengan keras.
__ADS_1
"Beb, apa yang kau ucapkan. Kau seperti pesan ke pelayan saja. Sepertinya, papahnya Andin tersinggung. Mati kau. Aku tidak ikut-ikutan, ya." (bisiknya)
"Sungguh, aku tidak sadar, beb." (balasnya)
Benar-benar diluar dugaan Rossie. Arga justru memanggil salah satu pelayannya. Dan menyuruhnya untuk membawa kopi dan cake brownies sesuai ucapan Raditya. Termasuk takaran, cara mengaduk, dan berapa kali adukan.
Raditya berbisik kepada Rossie.
"Ternyata, papahnya Andin tidak seperti yang kita duga."
Rossie pun menanggapinya.
"Makannya, kau tidak boleh su'udzon."
Mendengar bisikan Rossie, Raditya menyipitkan matanya. Menggerutu dalam hati.
Bukankah kau yang su'udzon terlebih dahulu, beb.
Kumala terus memerhatikan mereka berdua. Pasangan yang konyol. Tiga kata yang terlintas di benaknya. Ia pun mulai mencari-cari topik pembicaraan. Sembari menunggu Andin yang sebentar lagi akan turun ke bawah. Kumala tahu itu.
Karena, sudah waktunya makan malam. Andin dan Ziban memang kerapkali menghabiskan waktu berdua hanya di kamar saja. Arga dan Kumala memaklumi akan hal itu. Tetapi, jika sudah waktunya makan, mereka akan mengumpul menjadi satu.
"Ucapkan tiga kata jika kalian mendengar nama Ziban?"
Ya. Akhirnya Kumala menemukan topik pembicaraan. Arga, Rossie, dan Raditya terlihat antusias. Seperti, tidak sungkan untuk menjawab.
"Dia abang yang penuh pengertian." (ucap Rossie)
Raditya pun mengomentari Rossie.
"Heh, beb. Itu lima kata. Tante Kumala hanya menginginkan tiga kata."
Rossie tidak menerimanya begitu saja.
"Bahkan berjuta-juta puisi di buku pun, tidak mampu menceritakan tentang Bang Ziban."
Kumala tersenyum. Dan kali ini, Arga pun ikut tersenyum tipis. Kumala menunggu jawaban dari Raditya. Ia pun segera menjawabnya tanpa sungkan.
"Arogan, angkuh, congkak." (ucapnya)
Semua terkekeh dengan jawaban Raditya. Tiga kata yang bermakna satu. Arga lah yang terlihat paling terkekeh. Mendengar menantunya itu dijelek-jelekkan. Ia justru menganggapnya, adalah lucu.
Tiba saatnya Arga yang menjawab.
"Dia itu..."
"Mas!!!"
"Mas!!!"
"Maaas!!!"
"Dengarkan aku dulu!!!"
__ADS_1
Arga, Kumala, Rossie dan Raditya sangat terkejut. Melihat Ziban yang berjalan begitu cepat dengan dibuntuti Sekretaris Chan dibelakangnya. Dan disusul oleh Andin yang tergopoh-gopoh mengejarnya sembari menangis tiada henti.
BERSAMBUNG...