
Semuanya pun keluar rumah. Mereka bahkan menunda sarapan pagi demi melihat siapa dan ada apakah didepan gerbang rumah.
Dan benar saja, ada dua ibu-ibu paruh baya yang tengah berdiri didepan gerbang. Tanpa ada yang berkata satupun, mereka semua berjalan menuju gerbang.
"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?" (ucap Ziban)
Andin tertegun. Benar-benar tertegun. Mendengar Ziban berbicara sangat manis dan sopan pada dua ibu-ibu paruh baya itu. Andin memandang Ziban seakan tak percaya. Lalu ia menatap Sekretaris Chan. Mencari jawaban darinya.
Sekretaris Chan mengisyaratkan dengan lirikan matanya. Andin membulatkan mulutnya. Membentuk huruf O. Dan langsung ikut melirik Arga dan Kumala.
Hemm, dasar bermuka seribu.
Benar sekali isyarat Sekretaris Chan. Bahkan Andin melupakannya. Tentang Ziban yang seakan memang sangat manis kepada siapapun jika ada Arga dan Kumala didekatnya. Entah apa tujuannya. Yang pasti Andin tahu, bahwa Ziban hanya ingin mendapatkan tempat terbaik dihati Arga dan Kumala.
Ziban hendak membuka pintu gerbang. Tetapi, tiba-tiba Sekretaris Chan melarangnya.
"Maaf tuan muda, sebaiknya anda harus menjaga jarak dengan orang yang tidak dikenal. Karena, tidak semua orang bisa dipercaya begitu saja. Walau ibu-ibu paruh baya sekalipun."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Sekretaris Chan. Apa kau lupa? Bahwa aku pernah mengajarimu untuk menghormati perempuan di level teratas?" (Jawab Ziban)
Mendengar ucapan Ziban, Andin memalingkan wajahnya ke belakang dan tersenyum.
Benar-benar menjijikan, suamiku ini.
Ziban akhirnya membuka pintu gerbang. Ia mempersilakan dua ibu-ibu paruh baya itu, untuk berbicara. Mengatakan alasan datangnya menemui dirinya.
"Kami adalah ibu dari dua office boy yang pernah bekerja di kantor anda. Yang anda keluarkan dan anda tuntut atas sikap mereka yang merugikan karyawan lainnya. Kami sangat menyesali perbuatan memalukan dari anak kami."
"Benar, tuan muda. Dan kami datang kesini, untuk meminta maaf dan meminta keringanan hukuman atas putra kami. Kasihanilah kami. Kami berasal dari keluarga yang tidak berada. Untuk makan saja, hanya makan apa adanya. Ditambah lagi, melihat putra kami mendekam di penjara. Itu membuat kami sebagai ibu, sangat tersiksa, terluka, juga sengsara."
Ucap kedua ibu-ibu paruh baya itu secara bergantian. Sekretaris Chan tiba-tiba angkat bicara. Ada satu hal yang terekam jelas dan perlu diperdebatkan olehnya.
"Maaf jika saya lancang. Ada sesuatu yang mengganjal diotak saya mengenai ucapan kalian. Ini mengenai gaji putra kalian berdua. Tuan muda bahkan memberikan gaji yang cukup besar dibandingkan dengan perusahaan yang lainnya. Dan kerapkali ada bonusnya. Walau itu office boy sekalipun. Dan rasanya tidak masuk akal, jika untuk makan saja susah?"
Ziban mengangkat tangan kanannya ke depan. Bermakna, "Cukup." Lalu ia meninggalkan mereka semua tanpa berkata apapun lagi. Semua menatap kepergian Ziban masuk ke dalam rumah.
Andin yang pertama mengejar Ziban. Dan disusul oleh Arga dan Kumala. Hanya Sekretaris Chan yang masih tetap ditempatnya.
"Tolong berikan waktu tuan muda untuk berfikir. Jika ada kabar baik, saya akan menemui kalian. Berikan alamat rumah kalian." (ucap Sekretaris Chan)
__ADS_1
Andin berhasil mengimbangi Ziban yang terus berjalan ke kamarnya. Sedangkan Kumala dan Arga memilih untuk kembali ke meja makan. Tanpa ikut campur urusan menantunya itu.
"Mas kau tidak apa-apa?"
Andin menghentikan langkah Ziban persis didepan pintu kamar.
"Hemm."
"Kau harus sarapan terlebih dahulu, mas."
Tidak ada respon. Andin tersenyum.
"Ya sudah, biar aku ambilkan. Kau di kamar saja."
Andin turun kembali ke bawah menuju meja makan. Sedangkan Ziban masuk ke kamar. Dalam diamnya, ia memikirkan hal apa yang harus ia putuskan. Mengenai dua ibu-ibu paruh baya tadi. Tak mudah baginya untuk memaafkan kesalahan yang fatal. Tentu saja. Tetapi, segala sesuatunya memang perlu dilihat dari sisi yang berbeda. Dan perlu dipertimbangkan.
Ziban mengangguk-angguk sendiri. Ia tahu, apa yang harus ia lakukan sebelum memutuskan. Ia duduk di tepi ranjang. Dan hendak mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. Tiba-tiba, bola matanya tertuju pada sesuatu yang membuatnya dahinya berkerut. Ia mengambilnya.
Pil apa ini?
Pil. Tepat sekali. Belum usai Ziban mengamati, ia dikejutkan dengan Andin yang masuk ke dalam. Ziban sempat membuka dan mengambil satu pil karena penasaran. Dan masih menyisakan yang lainnya. Yang ia pegang ditangan kanan.
Ucap Andin sembari meletakkan nampan berisi sarapan untuk mereka berdua. Ia menatap Ziban yang wajahnya terlihat penuh tanya.
"Ada apa?"
"Apa aku boleh bertanya?"
Andin mengangguk.
"Pil apa ini?"
Ziban menunjukkannya pada Andin. Seketika, wajah Andin terlihat pias. Ia bahkan tak mampu menyembunyikan wajah terkejutnya.
Bagaimana suamiku menemukan pil itu?
"Ti-tidak. Bu-bukan aku. Eh, maksudnya aku tidak tahu, mas. Mungkin saja, itu milik Si Mbok atau salah satu pelayan yang membersihkan kamar. Akan aku tanyakan pada mereka." (jawabnya)
Andin mengambil pil yang tengah dipegang oleh Ziban ditangan kanan. Dan segera meninggalkan kamar. Ziban hanya menatap punggung Andin dengan wajah yang biasa saja.
__ADS_1
......................
Matahari tepat di atas ubun-ubun. Panas. Panas. Dan panas. Satu kata, yang tidak akan terlewatkan dari ucapan. Meminum air dingin sebanyak-banyaknya, membuka seluruh kain yang menempel di badan lalu menyalakan kipas, atau bahkan menceburkan badan di bak mandi.
Impian bagi mereka-mereka yang bekerja dengan label, panas kepanasan, hujan kehujanan. Tiada hari tanpa mengeluh. Tiada hari tanpa mengelap peluh.
"Huh, akhirnya, istirahat juga."
Meta menyandarkan kepalanya dan meluruskan kakinya di ruang tempat beristirahat bagi waiters. Ia hanya sendiri di ruangan itu. Karena yang lainnya tengah berada ditempat lain. Ia merasa, waktu berjalan sangat lamban. Dan berjalan sangat cepat jika istirahat.
Memang benar, tiada hal yang paling dinanti-nanti selain waktu istirahat. Dan tiada hal yang paling dibenci selain jam kerja harus dimulai. Ya, harus bagaimana lagi. Jika menginginkan uang, tentu saja harus bekerja terlebih dahulu. Bahkan orang kaya sekalipun. Hanya saja, di segi pekerjaan dan pendapatan yang membedakan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Menandakan ada pesan masuk untuknya. Meta membacanya dalam hati.
"Jangan melamun seperti itu. Jika lelah bekerja, berhenti saja. Aku sanggup membiayai kebutuhan kekasihku."
Meta terkejut dengan isi pesan dari Sekretaris Chan. Yang mengetahui bahwa dirinya tengah melamun. Ia lalu mengarahkan matanya ke arah pintu. Dan benar saja, ada Sekretaris Chan disana.
"Mas Chan, kau sudah lama?"
Tanpa menjawab pertanyaan Meta, Sekretaris Chan justru mengalihkan pembicaraan. Ia mengajak Meta untuk mencari makan di luar. Meta terlihat ragu.
"Ayo, dik."
Tak membutuhkan waktu lama untuk membujuk Meta. Mereka berdua pergi keluar untuk mencari makan sesuai ajakan Sekertaris Chan. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Sekretaris Chan mengendarai dengan kecepatan sedang. Tak ada satupun yang berbicara.
"Mas Chan, Kau tidak sibuk?"
Meta mengangkat suaranya untuk memecahkan keheningan diantara mereka.
"Sibuk sekali, dik. Bahkan hari ini harus menemui Dokter Ferana atas perintah tuan muda."
Meta mengangguk tanpa mempertanyakan hal lainnya lagi. Sedangkan di tempat lain, di waktu yang sama, terlihat Si Mbok yang tengah menelepon dengan serius.
"Sudah tenang saja. Sudah Si Mbok bereskan."
Diseberang sana, terdengar suara dari lawan bicara Si Mbok tengah berbicara tanpa merespon ucapan Si Mbok terlebih dahulu.
"Iya bu, sebentar. Selena sedang menelpon Si Mbok."
__ADS_1
BERSAMBUNG...