
"Ponselku ketinggalan di mobil, sayang."
Ziban merebahkan tubuhnya di ranjang dengan santai. Andin yang masih berdiri, terlihat lega. Mendengar alasan mengapa Ziban tidak mengangkat telepon darinya tadi.
"Permisi, tuan dan nyonya muda. Si Mbok bawakan teh hangat untuk Nyonya Andin. Dan Susu hangat untuk Tuan Ziban."
Tanpa berbicara, Andin hendak melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
"Sudahlah Si Mbok. Aku tidak ingin susu buatanmu. Bawa kembali saja minumannya ke dapur. Lagipula, hujan-hujan seperti ini, lebih hangat dan menggoda punya istriku. Aku yakin, istriku pun memikirkan hal yang sama. Iya kan, sayang?"
Ucap Ziban meminta persetujuan Andin. Tetapi Andin justru melototkan kedua matanya tajam. Seperti menyiratkan, "Heh suamiku , tidak bisakah kau sopan sedikit pada Si Mbok? Dia itu lebih tua darimu. Setidaknya, hargai minuman buatan dari Si Mbok."
Andin membuka pintu kamarnya itu. Mengambil nampan yang tengah dipegang Si Mbok.
"Tapi nyonya, katanya suami anda sedang tidak ingin susu ini. Biar Si Mbok bawa kembali ke dapur."
Ucap Si Mbok hendak mengambil kembali nampannya. Tentu Andin mencegahnya.
"Suamiku hanya bercanda."
Si Mbok pun mengangguk.
"Ah, aku tidak bercanda, sayang."
Andin kembali menatap tajam Ziban. Lalu ia kembali memfokuskan matanya ke Si Mbok. Ia bertanya, dimana Selena. Si Mbok pun menjawab, bahwa Selena sudah pergi beberapa saat yang lalu. Setelah tidak ada pertanyaan lagi dari Andin, Si Mbok pamit kembali bekerja. Andin tersenyum mengiyakan. Ia kembali menutup pintu kamarnya.
"Sekretaris Selena sudah pulang."
Ucap Andin sembari meletakkan nampan diatas meja dekat ranjangnya. Ziban tak merespon apapun.
"Kenapa kau diam saja?"
"Tidak apa-apa, sayang. Kalau Selena sudah pulang, ya biarkan saja. Memangnya dia akan menginap disini? Kan tidak."
Ziban mengucapkan dengan ringannya. Andin tahu itu. Tetapi tak dapat dipungkiri, sebagai perempuan, Andin merasakan kecemburuan. Itu sudah jelas. Walaupun faktanya seperti itu, ia akan berusaha menjadi perempuan yang sewajarnya saja. Ia akan berusaha memikirkan hal-hal baik. Tidak berlebihan.
"Sayang, kau tahu, aku punya kejutan besar untukmu." (ucap Ziban lagi)
Kejutan besar?
"Kejutan apa?"
Ziban yang masih rebahan, lalu merentangkan kedua tangannya lebar. Sedangkan Andin mengernyitkan keningnya. Tak mengerti kejutan apa yang tengah dibicarakan Ziban.
"Aku akan mengatakan kejutannya, tetapi peluk dan cium aku dulu."
Andin mendengus. Tetapi permintaan Ziban tetap ia turuti. Ia menjatuhkan perlahan tubuhnya diatas tubuh Ziban. Ia benar-benar memeluk dan mencium Ziban. Lalu Ziban berbisik di telinga Andin.
"Lebih dari peluk dan cium, baru aku akan mengatakannya."
Andin mendengus kembali.
"Setelah aku melakukan itu, kau pasti tidak akan mengatakannya, kan?"
__ADS_1
"Ya tentu, sayang. Namanya juga kejutan."
Andin lalu memberontak ingin melepaskan dirinya dan menjauh dari Ziban. Merasa dirinya telah diperdaya.
"Kau sudah terjebak, sayang."
......................
Malam hari telah tiba. Hujan deras di sekitar kota, telah usai. Tinggal sisa-sisa air yang berjatuhan dari dahan dan ranting. Suasana jalanan kota kembali normal. Sedangkan di ruang utama, terlihat Andin dan Ziban yang tengah menonton acara televisi berdua.
"Mas."
"Hem."
"Mana kejutannya? Katanya ada kejutan."
"Kejutan!!!"
Seketika Andin dan Ziban melihat ke arah pintu yang terbuka. Terlihat Rossie, Meta, Raditya, dan Sekretaris Chan. Wajah mereka berbinar-binar. Kecuali Sekretaris Chan yang setia dengan wajah datarnya.
"Itu mas kejutannya?"
Ziban mengangguk. Andin menghela nafasnya.
Kejutan macam apa ini. Mereka bahkan selalu datang kesini.
Andin kembali menatap layar kaca televisi. Merasa tidak peduli dengan kedatangan semuanya. Ziban menggenggam tangan Andin.
"Sayang."
Andin hanya diam seribu bahasa. Ia menyesal karena telah berharap lebih dalam ekspektasinya.
"Sayang..."
Andin mengernyitkan keningnya. Mendengar suara yang amat dirindukannya. Terasa hangat sentuhan tangan yang mengelus puncak kepalanya. Ia tersenyum lalu membalikkan badannya.
"Mamah..."
"Andin merindukan mamah."
Mereka berdua lalu saling peluk dan menyampaikan kerinduan. Antara ibu dan anak. Andin melirik ke arah samping Kumala. Ya, ada Arga disana. Papahnya. Yang saat ini, sudah ia sayangi sama halnya mamah. Ia pun menyampaikan kerinduan yang sama pada sosok ayahnya. Laki-laki yang masih terlihat sama tampannya seperti dahulu.
Berbeda ketika didalam pelukan Kumala. Kali ini, ketika Andin berada di pelukan Arga, ia mendongakkan wajahnya. Berbisik padanya.
"Papah selalu terlihat tampan."
Arga tersenyum pada putri semata wayangnya itu. Lalu mereka saling melepas peluk.
Semua orang hendak duduk di ruang utama. Tetapi, tiba-tiba ada satu orang lagi yang masuk ke dalam rumah itu. Semua mata memandang kedatangannya. Ada sepasang mata yang memandangnya dengan penuh keheranan. Ya, Andin.
"Sugeng ndalu, sedoyone."
Semua mengernyitkan keningnya. Tidak mengerti maksud ucapan dari orang itu. Ziban melirik Sekretaris Chan. Bermaksud memecahkan kebingungan dirinya serta semua.
__ADS_1
"Sugeng ndalu sedoyone itu, artinya selamat malam semua." (ucap Sekretaris Chan)
Kali ini, semua mata memandang penuh takjub ke Sekretaris Chan.
"Bagaimana kau tahu?" (tanya Ziban)
"Dia adalah sepupunya Dokter Ferdian. Jadi, saya sudah menduga dia akan mengatakan bahasa yang tidak kita ketahui. Jadi, saya sudah menyiapkan ponsel untuk langsung mengartikan ke Bahasa Indonesia." (jelasnya)
Ziban kembali mengingat nama Dokter Ferdian. Ia adalah dokter yang pernah membantu dirinya dahulu. Ziban sangat ingat akan hal itu.
"Silakan duduk, Dokter Ferana." (ucap Sekretaris Chan)
Mendengar sebutan dokter, Andin melirik suaminya.
"Dokter?"
"Perkenalkan, sayang. Dokter Ferana ini, adalah dokter kandungan. Sekretaris Chan yang menghubunginya, untuk datang kesini. Atas perintah dariku. Dia yang akan memeriksamu. Bukannya tadi siang kau ngidam?"
Seketika Andin meneguk salivanya. Ia tidak mengira, Ziban benar-benar menganggap dirinya tengah ngidam. Andin melihat semua orang tersenyum ke arahnya. Terutama kedua orangtuanya. Tiba-tiba, ia merasakan kesedihan dalam dirinya. Akan harapan yang dinanti-nanti oleh orang terdekatnya.
"Lebih baik, saya langsung memeriksa istri anda saja. Karena lebih cepat kan lebih baik? Lagipula, saya bisa duduk nanti saja, setelah memeriksa." (ucap Dokter Ferana)
Semua mengangguk setuju. Terutama Ziban, Kumala, dan Arga. Tak dapat dipungkiri, mereka pun sudah tidak sabar mendapatkan jawaban sesuai harapan mereka.
Semuanya berjalan naik ke atas. Menuju kamar Andin dan Ziban. Tetapi, ketika baru menaiki anak tangga yang ketiga, tiba-tiba Kumala hampir terjatuh. Ziban yang memang berada di dekatnya, langsung seketika menahan tubuh Kumala.
Semua terlihat panik. Kecuali Dokter Ferana. Mungkin ia sudah terbiasa dengan bersikap tenang apapun yang terjadi. Mungkin saja. Karena bagaimanapun, sebagai seorang dokter kandungan, ia harus menyakinkan hal-hal baik pada pasiennya. Termasuk ketenangan.
"Tenang semua. Mari, biar saya memeriksanya sekalian."
Kumala berjalan pelan dengan dibantu oleh Arga dan Ziban di kanan kirinya.
Mereka semua sudah sampai di kamar Andin dan Ziban. Andin dan Kumala pun diarahkan untuk berbaring di ranjang oleh Dokter Ferana.
"Periksa istriku terlebih dahulu, dok." (ucap Arga dan Ziban bersamaan)
Semua yang mendengar akan hal itu, menertawakan Arga dan Ziban. Mereka berdua jelas terlihat khawatir akan istrinya masing-masing. Itulah mengapa, semuanya tertawa.
"Sudahlah, mas. Mamah duluan saja. Lagipula mamah tadi yang hampir terjatuh." (ucap Andin)
Ziban mengangguk dengan tidak keberatan. Mengingat, mungkin ibu mertuanya itu harus lebih dahulu diperiksa.
"Tidak, tidak. Biar putriku dulu saja, dok. Aku hanya kelelahan ketika dalam perjalanan pulang tadi. Hingga hampir kehilangan keseimbangan."
"Tapi mah..."
Kumala meyakinkan Andin bahwa dirinya baik-baik saja. Andin mengangguk. Dokter Ferana pun mulai memeriksa Andin terlebih dahulu lalu memeriksa Kumala.
Beberapa saat kemudian, setelah Dokter Ferana memeriksa Andin dan Kumala, ia mulai mengambil catatannya. Semua menunggu hasil pemeriksaan Dokter Ferana.
"Selamat, istri anda sedang hamil. Sudah memasuki minggu ke tiga." (ucapnya sembari tersenyum)
Ziban tersenyum berbinar-binar mendengarnya. Tetapi, senyum Ziban tiba-tiba perlahan memudar. Melihat Dokter Ferana justru menjabat tangan Arga. Bukan tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...