Just One Feeling

Just One Feeling
Istriku Segalanya Bagiku


__ADS_3

Pagi hadir atas nama simbol kebahagiaan. Mengelilingi, menghias, juga mewarnai. Sebuah titik puncak kenikmatan yang tak dapat terlukis.


"Semangat untuk hari ini, mas."


Ziban hendak berangkat ke kantor. Andin mencium punggung tangan Ziban. Setelah itu, Ziban mencium kening Andin. Seperti biasanya.


Ketika Ziban sudah melangkah ke arah pintu, tiba-tiba Ziban berhenti karena Andin.


Hoek...hoek...


"Kenapa sayang?"


Ziban langsung cepat mendekati Andin. Menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. Ia lalu membuka kerudung yang menutupi kepala Andin. Dan segeralah, ia mengambil minyak angin dan mengoleskannya di sekitar pundak Andin.


"Sayang, apa yang kau rasakan? Apa rasanya sakit sekali?"


Andin menggeleng lemas. Ia terlihat tidak baik-baik saja.


"Tidak mas. Tidak apa-apa. Aku bisa menjaga diriku."


Andin tahu, bahwa Ziban hari ini ada pertemuan penting dengan koleganya. Karena merasa dirinya bisa menjaga dirinya sendiri, akhirnya ia menyuruh Ziban untuk berangkat ke kantor saja.


Ziban tak langsung mengiyakan. Tentu ia sangat khawatir dengan keadaan Andin yang mengejutkan itu. Setelah Andin membujuk Ziban beberapa saat, akhirnya Ziban menyetujui. Tetapi setelah Ziban mengatakan padanya, bahwa ia akan memanggil dokter untuk Andin.


"Jika nanti dokter sudah memeriksa mu, cepat kabari aku, ya?"


Andin mengangguk. Ziban langsung menghubungi dokter untuk datang ke rumah tersebut. Setelah memastikan dokter akan langsung datang, Ziban mencium pipi Andin. Mengatakan padanya, bahwa ia akan segera menyelesaikan pekerjaannya. Dengan batas waktu maksimal, setengah hari. Yaitu, jam 12.00 WIB.


Sebelum Ziban pergi ke kantor, ia sempat berbicara pada Kumala dan Arga mengenai kondisi Andin. Tentu ia akan lebih tenang, jika Kumala dan Arga mengetahui kondisi Andin. Respon Kumala terlihat baik kepada Ziban. Tetapi Arga menunjukkan respon yang sebaliknya.


Ziban pun bergegas pergi ke kantor karena waktunya mepet. Ia tak bisa berlama-lama lagi. Sedangkan Kumala dan Arga memeriksa keadaan Andin di kamarnya. Mereka tak membawa bayi kecil mereka. Kumala dan Arga memilih untuk meninggalkan bayi kecil mereka dengan baby sitter. Dan pilihan mereka memang benar. Tidak baik, jika membawa bayi kecil ketika hendak melihat keadaan Andin yang sedang tidak baik-baik saja.


"Andin sayang..."


Kumala dan Arga masuk ke dalam kamar Andin. Tak ada jawaban dari Andin di dalam kamar. Rupanya, Andin tengah berada di kamar mandi. Mereka mendengar Andin tengah muntah-muntah. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu Andin keluar, karena pintu kamar mandi yang di kunci.


"Pah, apakah putri kita tidak apa-apa? Dia terlihat sangat tidak baik."


Arga hanya diam saja. Ia pun sangat menghawatirkannya.

__ADS_1


"Harusnya suaminya tetap di sampingnya. Tidak bertanggungjawab sekali." (ketus Arga)


Kumala yang sedikit mengharapkan Arga dapat membuatnya lebih tenang, justru sebaliknya. Beberapa saat, Andin akhirnya keluar.


"Ayo, Andin sayang..."


Kumala dan Arga memapah Andin untuk berbaring di ranjang. Sembari menunggu dokter datang, Kumala memijit-memijit tengkuk Andin pelan.


Beberapa saat kemudian, dokter datang dengan diantar salah satu pelayan rumah ke kamar Andin. Dokter segera disuruh untuk memeriksa keadaan Andin.


"Bagaimana dok? Apa keadaannya sangat serius?"


Dokter tersebut mengangguk.


"Sangat serius."


Kumala dan Arga sontak saja berdiri. Mereka tak mampu menyembunyikan rasa keterkejutan dan ketakutannya. Melihat ekspresi mereka berdua, dokter kembali berucap. Karena merasa, ucapannya tadi, membuat mereka salah paham.


"Maksud saya, keadaan putri kalian sangat serius. Karena putri kalian sedang hamil. Kalian perlu ikut serta dalam menjaga kesehatannya."


Tiga pasang mata tersebut bersinar berseri-seri. Betapa bahagianya mereka. Andin sempat memejamkan matanya. Berterimakasih kepada sang pengatur segalanya.


"Mas, coba tebak apa kata dokter."


"Apa katanya? Kau baik-baik saja kan?"


Dari jawabannya, terdengar kekhawatiran untuk Andin. Andin sengaja diam saja. Ia berniat, membuat Ziban penasaran dengan kabar yang akan dikatakan olehnya.


"Sayang, ayo cepat katakan apa kata dokter. Aku izin keluar sebentar dari pertemuan penting untuk mengangkat telepon darimu."


Andin mendengus. Rupanya, ia tak dapat membuat Ziban penasaran terus. Karena, Ziban memang sedang sibuk. Akhirnya, Andin pun mengatakannya.


"Hamil."


Di seberang sana, Ziban melongo tak mempercayai pendengarannya.


"Iya, mas. Yang kau dengar itu benar. Istrimu ini sedang hamil."


"Sayang, aku akan langsung pulang."

__ADS_1


"Tapi bukankah kau sedang ada pertemuan penting mas?"


Telepon langsung dimatikan tanpa menjawab lagi ucapan Andin. Melihat kelakuan Ziban yang begitu saja mematikan sambungan teleponnya, Andin tersenyum.


"Anda tidak bisa seenaknya saja meninggalkan kami, tuan Ziban."


Ucap kliennya tidak terima. Ketika Ziban mengatakan akan meninggalkan kolega pentingnya itu dengan Sekretaris Chan.


"Sebelumnya aku sangat meminta maaf. Lagipula ada Sekretaris Chan disini. Kau tahu sendiri, Sekretaris Chan adalah tangan kananku. Dia selalu dapat diandalkan."


Ziban berusaha memberikan pengertian padanya. Tetapi koleganya itu terlihat tidak bisa menerima alasan darinya. Oleh karena itu, Ziban langsung meninggalkannya saja. Tentunya setelah menyerahkan semuanya pada Sekretaris Chan.


"Baik tuan muda. Anda boleh pergi sekarang."


Sekretaris Chan menerima kepergian Ziban dari pertemuan penting dengan kolega tersebut. Tanpa mengetahui alasannya, tentunya. Sedangkan koleganya itu masih tidak menerimanya.


"Maaf tuan Ziban, memangnya hal penting apa yang membuat anda harus meninggalkan pertemuan penting ini?"


Ziban menatapnya datar. Untuk pertama kalinya ia mulai tidak menyukai koleganya itu.


"Istriku baru saja meneleponku. Dia mengabariku bahwa dia hamil."


Terlihat koleganya itu yang memainkan bolpoin di atas meja. Mengetuk-ngetuk bolpoin nya pelan beberapa kali.


"Istri anda hanya sedang hamil, tuan Ziban. Dia tidak sedang melahirkan, hingga anda harus berada disisinya. Lagipula anda tahu, saya tidak mempunyai banyak waktu jika akan ada pertemuan ulang dengan anda."


"Istriku segalanya, bagiku. Tidak ada yang lebih penting darinya. Jika kau tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan ini, pergilah. Kau tahu jalan pulang, kan?"


Ziban menegaskan padanya. Lalu ia pergi meninggalkan salah satu koleganya itu dan Sekretaris Chan di ruangan. Ia segera menuju ke rumah dengan perasaan bahagia dalam dada.


Perasaan yang sangat langka seperti ini, sudah ia rasakan dua kali dalam ingatannya. Yang pertama, waktu resmi menikah dengan Andin, perempuan terkasihnya. Dan yang kedua, kabar kehamilan Andin, istri terkasihnya.


Syukurlah, jalan raya pun mendukung kebahagiannya itu. Ia bahkan tak sampai menemukan lampu merah sekalipun. Suasana jalanan yang selalu ia pandang sebelah mata, kini terlihat berbeda. Ia merasa, dunia turut berbahagia atas kabar kehamilan istrinya.


Sesampainya di depan rumah, Ziban langsung berlari ke kamarnya. Setelah membuka pintu kamar, ia melihat Kumala, Arga, dokter. Dan bintang utamanya adalah Andin. Istrinya itu yang menatapnya penuh cinta ke arahnya. Ia tak dapat mengontrol kebahagiaannya itu. Ia berlari membopong tubuh Andin lalu menggerakkan dirinya memutar dengan Andin yang berada dalam bopongannya. Ia tak dapat mengontrol kebahagiaannya itu.


"I love you, i love you, i love you, istriku!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2