
Andin dan Ziban telah membersihkan badan dan bersiap-siap. Tentu setelah meyakinkan dan membuat Nenek Jeje keluar dari kamar mereka dengan penuh susah payah.
Andin turun ke bawah terlebih dahulu. Mengingat neneknya, yang pasti sudah menunggunya di dapur. Neneknya, yang sudah ia janjikan, akan masak dengannya. Didampinginya. Sebenarnya, Andin tidak menginginkan. Tetapi itu adalah satu-satunya cara yang berhasil Andin temukan.
Untuk membuat neneknya sibuk di dapur terlebih dahulu. Dengan dirinya yang berjanji akan menyusul setelah mandi dan bersiap-siap.
"Nek, biar Andin bantu." (ucap Andin)
Andin ikut membersihkan sayuran lainnya lalu memotongnya. Tiba-tiba Nenek Jeje berhasil menghentikan pekerjaan Andin, dengan ucapannya.
"Bukan seperti itu bentuk potongannya." (ucap Nenek Jeje)
Ia merebut sayuran tersebut. Dan mulai memotongnya sesuai maksudnya. Bertujuan, mengajari Andin bahwa bentuk potongan yang Nenek Jeje adalah sebaik-baiknya potongan.
Andin mengernyitkan keningnya.
"Memang apa bedanya, nek? Yang terpenting kan sayurannya terpotong rapi dan dimasak dengan tepat."
Sedangkan Nenek Jeje menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar anak zaman sekarang."
Andin tidak mengucapkan apapun lagi. Kali ini, ia hanya melihati saja cara dan seperti apa bentuk potongan sayurannya. Ya, itu atas perintah Nenek Jeje supaya untuk memperhatikannya.
Andin mulai menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
"Heh! Jangan menyangga kepalamu seperti itu." (ucap Nenek Jeje)
Andin terkejut dengan ucapan Nenek Jeje yang terdengar tegas tidak seperti biasanya.
"Memangnya apa salahnya, nek? Andin kan nyaman menyangga kepala Andin seperti ini. Dan tentunya fokus dalam memerhatikan nenek."
"Nenek bilang tidak boleh, ya tidak boleh,"
"Dasar anak zaman sekarang."
Andin memonyongkan bibirnya. Merasa apa yang dilakukan olehnya, adalah salah di mata neneknya sendiri. "Tetapi tidak apa, Andin tetap menyayangi nenek. Sama seperti nenek menyayangiku." Seperti itu, hati kecilnya berbicara.
Sekali lagi, semua orang memang memiliki caranya masing-masing dalam menyampaikan kasih sayang.
Di ruang utama, yaitu ruang tamu. Terlihat Ziban yang mulai duduk di sofa. Meletakkan laptopnya. Yang sengaja ia bawa dari kamarnya.
Ia terlebih dahulu, menggenggam ponselnya. Hendak menghubungi Sekretaris Chan. Tetapi pintu rumah tersebut, sudah terbuka terlebih dahulu. Sekretaris Chan datang.
__ADS_1
"Baru saja, aku akan menghubungimu." (ucap Ziban)
"Saya baru saja mengantar Meta kembali ke kos-kosannya, tuan muda."
Ziban mengangguk-angguk. Tidak ingin memperpanjang jika perihal Meta. Itu ia lakukan, tentu tidak ingin Sekretaris Chan merasa tidak nyaman. Terkadang Ziban memang pengertian tidak ada bandingannya. Hanya terkadang.
"Kenapa bawah matamu seperti itu?"
Ziban menanyakan pada Sekretaris Chan sembari menatap lekat sekretarisnya tersebut.
"Bawah mata saya? Memangnya terlihat seperti apa, tuan muda?"
Ziban diam saja. Ia tidak menjawab pertanyaan Sekretaris Chan. Sekretaris Chan yang memahami Ziban yang tidak berniat menjawabnya, berfikir kritis sendiri. Seperti biasa. Lalu ia segera memahami segalanya dengan cepat. Lagi-lagi, seperti biasa.
"Mungkin karena saya kurang tidur, tuan muda. Jadi, terlihat seperti mata panda."
Ziban mengangkat kedua kakinya dan duduk dengan bersila nyaman di sofa. Ia mengetuk-ngetuk pelan hidungnya menggunakan jemarinya.
"Bukan terlihat seperti mata panda. Tapi bekas lipstik yang berbentuk bibir yang dimonyongkan." (ucap Ziban)
Seketika Sekretaris Chan kesusahan menelan salivanya. Ia segera mengusap-usap dengan cepat bagian bawah matanya. Ziban menyembunyikan wajahnya untuk menyengir. Merasa hebat. Lagi-lagi, ia yang menangkap basah kelakuan mesum sekretarisnya tersebut.
"Nikahi Meta secepatnya. Kasihan dia. Kau harus menghargainya sebagai perempuan yang pernah berasal dari asrama pesantren. Jangan membuatnya memberikan apa yang kau mau dengan ikhlas atas nama cinta. Dia tidak akan melakukannya, jika kau tidak meminta darinya."
Ziban mengucapkannya dengan nada bicara yang terdengar sangat serius. Mengingatkan sesama manusia. Mengingatkan kepada manusia yang dekat dengannya, yang memang dianggapnya adalah salah. Dan itu memang faktanya.
"Baik tuan muda. Terimakasih atas nasihat dari anda. Anda memanglah benar, seorang perempuan tidak akan pernah memberikannya dengan cuma-cuma. Jika tidak, laki-lakinya yang meminta."
Ziban menatap sekretarisnya tersebut dengan penuh makna. Kebanggaan dirinya, karena memiliki sekretaris yang bisa diandalkan dalam segala hal, dan setia kepadanya, tidak berkurang sedikitpun walau telah melihat kesalahannya kali ini. Manusiawi dan hilaf. Semua kesalahan juga kekeliruan berhak dimaafkan, selama Tuhan pun masih berbaik hati memberi kesempatan pada hambanya tersebut.
"Eh, lalu Rossie dan Raditya?" (tanya Ziban)
Ziban baru menyadari Rossie dan Raditya yang belum terlihat.
"Raditya sudah pergi lebih awal tadi. Katanya, dia harus berangkat bekerja lebih pagi karena geseran jam kerja. Sedangkan Nona Rossie, saya belum melihatnya keluar dari kamar."
Seketika Ziban membulatkan kedua matanya. Tak berbicara lagi, ia langsung saja bergerak menuju ke kamar yang Rossie dan Meta tiduri semalam.
Dan benar saja. Rossie masih tengkurap di ranjang dengan lelap. Ziban mengembuskan nafasnya kesal. Ia mendekati adiknya tersebut. Berniat untuk membangunkannya.
Ia mengangkat badan Rossie paksa dengan tarikannya. Dengan membalikkan badan Rossie terlebih dahulu tentunya. Rossie melepaskan tarikan tangan Ziban dengan malas.
"Apaan sih, bang!"
__ADS_1
"Katanya mau sukses, sudah jam dua puluh lima belum bangun."
Rossie menguap lebar.
"Jam dua puluh lima hanya ada di duniamu, bang."
"Lalu jam berapa sekarang, dalam duniamu?"
Rossie kembali menguap lebar. Menandakan bahwa ia masih mengantuk. Ah ya, lebih tepatnya malas.
"Mana aku tahu, bang. Jamku tidak berjalan. Walaupun berjalan sekalipun, aku menganggapnya mati."
Ziban berdecih mendengar adiknya yang sangat pintar menjawab. Ia meninggalkan Rossie setelah memastikan adiknya tersebut sudah benar-benar bangun dan tidak akan tidur lagi. Dan tentunya, setelah menyuruhnya untuk segera keluar dari kamar.
Ziban kembali duduk nyaman di sofa. Ia mulai membuka laptopnya. Melihat pekerjaannya yang mulai menumpuk. Dan menuntut untuk dikerjakan secepatnya. Sekretaris Chan pun terlihat sibuk dengan ponselnya. Dengan dirinya yang masih tetap berdiri tegap. Melihatnya, Ziban menyuruh sekretarisnya untuk duduk.
Terlihat Andin yang datang ke arah mereka.
"Mas, sarapan dulu, yuk?"
"Sudah kubilang masakanmu tidak enak, sayang."
Andin memukul bahu Ziban dengan keras. Menggambarkan dirinya yang memang kesal dengan jawaban Ziban yang menyebalkan seperti biasa.
"Masakan resep nenek selalu enak."
"Nenek yang memasak?"
Andin mengangguk. Ziban terlihat tidak mempercayainya. Lebih tepatnya tidak berminat untuk sarapan. Mengingat ulah Nenek Jeje, yang menurutnya lepas dari kodrat nenek-nenek sedunia pada umumnya.
"Iya nanti, ya sayang. Sebentar lagi. Kau duluan saja."
Pada akhirnya, hanya itu yang mampu Ziban ucapkan untuk memberi jawaban pada Andin. Andin mengiyakan. Ia meninggalkan Ziban dan Sekretaris Chan.
"Tuan muda, ada pesan masuk dari perempuan yang kemarin sempat membuat kekacauan di kantor. Dia mengatakan bahwa dirinya ingin melamar menjadi sekretaris anda di kantor."
Selena?
Itu permintaannya?
Ziban terdiam beberapa saat. Disisi lain, ia sudah memiliki Sekretaris Chan yang dapat diandalkan dalam segala hal. Tetapi disisi lain, permintaannya tersebut bukanlah hal-hal aneh. Lagipula, kedatangannya mungkin akan sedikit meringankan beban Sekretaris Chan.
"Baiklah. Katakan padanya, bahwa aku menerimanya. Dia bisa langsung bekerja besok."
__ADS_1
Sekretaris Chan mengernyitkan keningnya. Tidak memercayai Ziban yang sangat perfeksionis dalam memilih orang-orang kepercayaan, tiba-tiba semudah itu dalam menerima lamaran pekerjaan, yang hanya melalui pesan singkat tanpa adanya berkas-berkas atau bahkan interview.
BERSAMBUNG...