Just One Feeling

Just One Feeling
Terimakasih Mas


__ADS_3

Rembulan menampakkan wajahnya. Malam yang begitu indah dengan tambahan kerlap-kerlip bintang menghias di langit. Perempuan yang selalu terlihat cantik itu, telah memakai baju tidurnya. Dengan kerudung sport yang nyaman digunakan. Ia bergerak ke arah pintu kamarnya. Hendak mengunci pintu kamarnya itu. Tetapi, kuncinya tiba-tiba sudah raib.


Dimana kuncinya? Bukankah selalu tergantung ditempatnya.


Ia tak semerta-merta menerima kuncinya yang raib begitu saja. Mencari ke sekitar pintu, adalah usahanya. Tetapi usahanya tak membuahkan hasil. Justru, ia terlihat kesal karena tak menemukan kunci kamarnya.


Sebenarnya terdapat kunci cadangan yang disimpan di ruangan lain. Mengantisipasi, terjadi sesuatu yang tidak terduga. Begitupun dengan kamar lainnya. Bukan kamar Andin saja.


Tetapi, Andin memilih untuk tidak mengambilnya. Dalam pikirannya, sudah lelah. Ia akhirnya hanya menutup pintu kamarnya itu dengan rapat. Tanpa menguncinya. Setelah itu, ia mematikan seluruh cahaya penerang yang ada di kamarnya.


Malam yang begitu indah itu, Andin tak merasakannya sedikitpun. Hingga ia memutuskan untuk lekas tidur. Hari-hari kemarin, ia tak dapat tidur dengan tenang. Perasaan kesedihan yang terus membayang. Dan tak tahu caranya menghadapi masalah yang meradang.


Malam ini, rasanya sudah lebih baik. Dalam hatinya, ia berniat akan menemui Ziban besok. Membicarakan dan membujuk Ziban dari mata ke mata. Tentu itu akan lebih baik. Pikirnya.


Sepuluh menit telah berlalu. Andin hampir sampai di alam bawah sadarnya. Ketenangan dan kedamaian sepenuhnya, ada di alam bawah sadar. Tinggal menghitung detik, ia terlelap sangat nyenyak. Tetapi hal itu, tidak terjadi.


"Selamat ulang tahun, istriku." (bisik Ziban di telinga istrinya )


Seketika, Andin merasakan keterkejutan layaknya bermimpi terjatuh. Itulah yang dirasakan olehnya. Hingga akhirnya, ia menyadari semuanya. Lampu kamarnya sudah menyala terang. Ziban, Kumala, Arga, Meta, Rossie, Raditya, Sekretaris Chan. Dan, Si Mbok. Ada di kamarnya itu.


Dengan Ziban yang paling dekat dengan dirinya. Memakai baju rapi. Memegang kue. Dan, tersenyum manis.


"Mas? Kau disini?"


Setengah hati Andin, memercayai kedatangan Ziban dihadapannya. Tetapi setengah hati yang lain, mengira, bahwa yang terjadi adalah mimpi semata. Seperti merasakan mimpi di dalam mimpi. Beberapa orang mungkin pernah merasakan hal yang Andin rasakan.


"Tidak istriku sayang. Kau tidak bermimpi. Ini suamimu. Ada di dunia nyata."


Ziban pun meyakinkan Andin. Ia meletakkan kue ulang tahun yang tengah dipegangnya. Lalu ia menempelkan kedua tangan tangannya di pipi Andin. Mengelus-elus manja istrinya itu. Mata Andin pun berkaca-kaca bahagia, terbaru, terkejut. Menjadi satu.


"Kau sudah tidak marah padaku?"


Tanya Andin. Yang memampangkan wajah kekanak-kanakan. Ziban dibuat gemas olehnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Mengingat, banyak pasang mata tengah memandang. Jika tidak, ia akan langsung memeluk juga menciumnya.


Diantara mereka semua, terdapat satu dari mereka terlihat cemas juga tegang. Mendapati, semua yang dilihat dan didengarnya. Ia pun mulai memundurkan langkah kakinya.


Ketika ia sudah berbelok hendak keluar dari kamar itu, tiba-tiba Sekretaris Chan menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Mau kemana, Si Mbok? Sudah, disini saja. Acaranya belum selesai."


Si Mbok semakin terlihat gugup.


"Si Mbok mau membuat minuman untuk kalian semua."


Sekretaris Chan melepaskan tangan Si Mbok. Dan ia menutup pintu kamar itu dengan rapat. Lalu, mengambil kunci di kantong celananya. Dan segera menguncinya dua kali.


"Tidak usah repot-repot membuat minuman untuk kami. Lagipula, Si Mbok kan sudah tua? Jadi, Si Mbok cukup mendekatkan diri ke sang maha pencipta. Betul kan ucapan saya, Si Mbok?"


Kedua jari telunjuk Si Mbok menyatu. Ia menelan salivanya. Sekretaris Chan berucap cukup keras. Hingga semua mata saat ini, tertuju padanya dan Si Mbok. Ziban, Arga, Kumala dapat mengontrol wajahnya. Dan selebihnya, mereka tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Setelah mendengar, Sekretaris Chan meninggikan suaranya.


"Mas Chan, ada apa?" (tanya Meta)


Meta yang terlihat paling penasaran. Karena, itu menyangkut Sekretaris Chan yang terlihat marah. Andin, Rossie, dan Raditya hanya penasaran saja. Tidak kurang. Tidak lebih.


Sekretaris Chan tersenyum sinis menatap Si Mbok yang tertunduk. Senyum yang terlihat mengerikan. Senyum yang mematikan. Yang membuat lawannya, sedang dalam posisi tidak aman.


"Tidak ada apa-apa. Silakan lanjutkan acaranya." (ucap Sekretaris Chan)


Yang sudah mengetahui, seperti Ziban, Arga, dan Kumala pun meyakinkan Andin untuk meniup dan memotong kue terlebih dahulu. Andin tersenyum mengangguk. Ziban mengambil kue nya lagi.


Andin sudah berancang-ancang meniup lilin diatas kue ulang tahun tersebut. Tetapi, Rossie mencegahnya.


"Ada apa?" (tanya Ziban)


Rossie berdecak menyayangkan. Ada ritual yang tak boleh dilupakan sebelum meniup lilin. Yaitu berdoa. Ya, Rossie mengatakannya pada Andin untuk berdoa atas segala keinginannya. Semua terlihat menyetujui ucapan Rossie. Ya, tentunya hanya Si Mbok yang terlihat masih cemas.


"Berdoalah, sayang." (ucap Kumala)


Andin pun mengiyakan. Sebelumnya, Ziban meminta pada Andin supaya berdoa untuk dirinya saja. Karena ini, adalah ulang tahunnya. Andin tidak menanggapinya. Dan ia pun mulai berdoa dalam hatinya.


"Sudah, sayang? Kau berdoa apa?" (tanya Ziban)


"Berdoa untuk kita. Supaya kita berdua dapat melalui semua ujian rumah tangga, dalam bentuk apapun."


Untuk kedua kalinya, Ziban meletakkan kue tersebut. Ia lalu mencium kening Andin, istrinya.

__ADS_1


Doamu itu, pasti akan dikabulkan, oleh Tuhan.


"Ini untuk ucapan maaf dariku."


Cup!


"Ini untuk ulang tahunmu."


Cup!


"Dan ini untuk istriku yang cantik."


Cup!


Ziban mencium pipi kanan, pipi kiri, dan bibir Andin. Dan pada akhirnya ia tak dapat menahan rasa cintanya pada istrinya itu. Walau semua pasang mata memandangnya. Yang memandang pun, hanya diam seribu bahasa. Mungkin mereka hanya berkata didalam hati saja. Terkecuali Raditya. Ia mencolek lengan Rossie.


"Lihatlah, beb. Sepertinya enak." (bisiknya)


Rossie menatap Raditya dengan mata penuh ancaman. Sedangkan Meta seketika menatap Sekretaris Chan. Tetapi, yang ditatap, tak membalas tatapannya. Tidak tahu, atau sengaja tidak tahu. Entahlah.


Kue ulangtahun telah dipotong dan semua memakannya. Tidak terkecuali Si Mbok. Andin pun memberikan padanya juga. Dan setelah semua memakannya, mereka semua turun ke bawah ke ruang utama. Dengan Sekretaris Chan yang menggandeng lengan Si Mbok. Dan Si Mbok terlihat keberatan. Sebenarnya, Andin bertanya-tanya. Begitupun lainnya, yang belum mengetahui.


"Apa yang kau lakukan, Sekretaris Chan? Lepaskan Si Mbok. Kasihan dia." (ucap Andin)


"Jangan ikut campur urusan Sekretaris Chan."


Arga yang berbicara. Andin pun tak mempunyai pilihan lain selain diam, dan menurutinya.


Di ruang utama itu, sudah tersaji banyak hidangan makanan yang lezat dan menarik. Andin terkejut melihat banyak hidangan. Ia pun mempertanyakannya.


"Ini untuk perayaan kecil-kecilan keluarga di hari ulang tahunmu, nak. Kita akan makan bersama." (ucap Kumala)


Andin terlihat sangat berbahagia. Ia yang melupakan hari ulang tahunnya. Dan ia yang tidak menyangka, akan mendapatkan kejutan yang sangat berkesan di hatinya. Itu terjadi, karena ia dan Ziban sedang tidak baik-baik saja, beberapa hari terakhir. Tentu kejutan hari ini, sangat berarti baginya.


"Terimakasih, ya mas."


Andin memeluk Ziban dengan erat. Ziban mengelus punggung Andin. Beberapa hari terakhir, sepasang suami istri itu banyak menabung kerinduan. Yang mungkin, akan cepat-cepat mereka tuntaskan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2