
Andin, Ziban, Raditya, dan Sekretaris Chan melihat jenazah Selena. Sedangkan Si Mbok masih tergeletak tak berdaya di tempat yang sama. Rossie dan Meta memilih untuk menemani Si Mbok. Mereka semua tahu, diantara mereka, Si Mbok yang paling kehilangan.
Tangis Andin semakin menjadi-jadi. Setelah melihat jenazah Selena. Dengan darah yang berceceran dimana-mana. Andin berlari keluar. Tak cukup kuat melihat Selena yang terbujur tak bernyawa. Ziban mengejarnya. Hanya Arga, Raditya, Sekretaris Chan dan pengurus jenazah yang masih di ruangan itu.
"Baru beberapa saat yang lalu, aku mendorongnya dengan keras di rumah. Dan sekarang...dan sekarang...hiks...hiks..."
"Ini semua salahku...hiks...hiks."
Andin mengeluarkan semua kesedihannya. Juga, ia merasa bersalah akan kecelakaan atas Selena. Itu karena, kecelakaan itu terjadi setelah kejadian di rumahnya. Selena meninggalkan rumah Andin, dengan tangis dan kesedihan.
Ziban menggeleng cepat. Ia memeluk istrinya itu. Lalu mengelus kepala Andin dengan lembut mencoba menenangkan. Seakan mengatakan pada Andin, bahwa semuanya sudah menjadi takdir dari sang maha pencipta. Tak ada yang bersalah. Dan tak ada yang perlu disalahkan atas kecelakaan Selena. Sekali lagi, semua sudah suratan takdir. Tak ada yang bisa menolak, atau sekedar menundanya.
Dalam pelukannya itu, Ziban tak menyadari, ia meneteskan air matanya. Bagaimanapun, Selena sudah sangat dekat dengannya.
"Lihatlah, Sekretaris Chan. Wajahnya terlihat seakan dia baik-baik saja, bukan?" (ucap Arga)
"Benar, tuan besar. Dia tersenyum. Seolah dia berbahagia." (jawab Sekretaris Chan)
Raditya pun ikut mengamatinya. Yang baru ia sadari. Bahwa ucapan Arga dan Sekretaris Chan memang benar.
"Wah, benar. Aku baru menyadarinya. Kata orang, jika seseorang meninggal dalam keadaan tersenyum, itu adalah hal baik. Semoga, Tuhan mengampuni segala dosa-dosanya. Dan semoga Tuhan menerima segala kebaikannya"
"Amin."
Ucap Arga dan Sekretaris Chan di dalam hatinya. Jenazah Selena pun akan segera dibawa ke rumah duka secepatnya. Untuk segera dimandikan dan dimakamkan malam ini juga. Karena, tidak memungkinkan untuk menunggu sampai besok, dalam keadaannya yang seperti itu.
Si Mbok tak henti-hentinya menangis. Walau Meta dan Rossie sudah berusaha menguatkan. Mengatakan padanya, bahwa semua sudah menjadi ketetapan Tuhan Yang Maha kuasa.
Tiba-tiba ponsel Si Mbok berdering. Meta dan Rossie saling berpandangan. Dan akhirnya, Meta lah yang mengambil dan melihat ponsel Si Mbok. Meta kebingungan akan mengangkatnya atau tidak.
Yang memanggil bertuliskan "Ibu Non Selena." Rossie pun sama kebingungannya. Mereka takut, mereka akan salah berbicara. Dalam hati Meta dan Rossie, mereka tahu, ibunya Selena pasti ingin menanyakan keberadaan putrinya kepada Si Mbok. Karena ini sudah malam, dan putrinya tidak kembali-kembali ke rumah.
Sedangkan di tempat lain. Di ruang utama rumah Selena. Ibu Selena tengah mondar-mandir sendirian. Setelah lama menunggu, Selena belum juga kembali ke rumah. Tiba-tiba, hatinya berubah menjadi tidak karuan. Entah apa yang tengah dirasakannya. Perasaan yang tak mampu dijelaskan.
Dimana kau, nak? Ini sudah malam. Kenapa belum pulang juga?
Ia sampai mengigit ujung jari telunjuknya. Merasakan kecemasan yang luar biasa. Ditambah, nomor ponsel putrinya itu, yang tiba-tiba tidak aktif. Dan menelepon nomor Si Mbok, tetapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bu..."
Kecemasannya seketika sirna sudah. Melihat putrinya yang membuka pintu rumah. Ia tersenyum mendengar putrinya mengucapkan salam. Itu adalah hal yang baru.
"Waalaikumsalam, nak. Darimana saja? Dari tadi, ibu menunggumu pulang."
Tak langsung mendapat jawaban dari putrinya itu, ia justru mendapat pelukan. Itu semakin menambah bahagia dirinya. Tetapi, tiba-tiba ia mengernyitkan keningnya.
"Kenapa tubuhmu dingin sekali, nak?"
Ia baru menyadarinya. Tubuh Selena yang dingin. Tak ada kehangatan sedikitpun yang terasa. Lagi-lagi, Selena tak menjawab pertanyaan ibunya itu. Ia tiba-tiba menarik ibunya untuk ke kamarnya.
Ibu Selena pun tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Yang langsung memahami, bahwa putrinya itu tengah kelelahan. Ia ingin beristirahat dan tertidur. Dengan menginginkan ibunya yang mengantar ke kamarnya.
Selena dan ibu Selena pun sudah sampai di kamar Selena. Selena langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya itu dengan sangat pelan. Diikuti oleh ibunya, yang mengelus-elus puncak kepala putrinya.
"Aku mengantuk, bu."
"Tunggu sebentar, nak. Ibu ingin mengobrol dengan putri ibu."
"Tidak bu. Aku ingin tidur saja. Tolong jangan bangunkan aku."
Ia pun mengecup kening putrinya itu. Sebelum ia pergi ke dapur, ia sempat menyelimuti tubuh Selena yang dingin terlebih dahulu.
Ketika ia baru sampai di dapur, tiba-tiba ia mendengar suara ambulans dengan sangat jelas. Seperti berada didepan rumahnya saja. Begitu pikirnya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membuat tehnya nanti saja. Setelah melihat dan memastikan di luar rumahnya itu.
Ia membuka pintu rumahnya. Dan benar saja, ada ambulans dan dua mobil lainnya ada dibelakangnya.
"Ada apa ini?"
Tanya dirinya kepada beberapa orang yang sudah mulai turun dari mobil. Tidak ada yang dikenalnya. Kecuali satu wajah. Foto wajah yang banyak ditempel di dinding kamar putrinya.
"Ada apa ini ramai-ramai?"
Tak ada yang menjawabnya. Tak ada yang berani berbicara. Tiba-tiba terdengar seseorang menangis dengan sesenggukan di dalam mobil ambulans.
Ibu Selena pun menyipitkan matanya. Berusaha melihat siapa yang menangis.
__ADS_1
"Si Mbok? Siapa yang meninggal?"
Ia melihat Si Mbok yang turun dari mobil ambulans. Dan petugas lainnya yang akan menurunkan jenazah dari mobil ambulans. Dalam pikirannya, ia ingin menanyakan banyak pertanyaan pada Si Mbok. Tetapi ia urungkan. Melihat Si Mbok yang larut dalam tangisan. Mungkin saja, itu adalah kerabat Si Mbok yang ada di kota ini. Begitu pikir ibu Selena.
"Silakan, bawa ke dalam saja." (perintah ibu Selena)
Ia mempersilakan petugas untuk membawa masuk jenazah ke dalam. Sekretaris Chan dan Raditya masuk ke dalam rumah itu terlebih dahulu. Mempersiapkan meja untuk tempat jenazah.
Jenazah belum jadi di turunkan. Sekumpulan warga sudah datang ke rumah itu. Sebagian warga perempuan yang akan ikut memandikan jenazah. Dan beberapa orang laki-laki penggali kubur, sudah hendak menggali lubang kuburan.
Ibu Selena mengucapkan terimakasih kepada semua warga yang datang. Semuanya terlihat kebingungan. Tetapi tak ada yang berani berbicara atau mengucapkan belasungkawa.
Ia lalu mendekati Si Mbok yang masih berada didekat mobil ambulans. Ia menepuk-nepuk pelan pundak Si Mbok.
Tiba-tiba satu mobil polisi datang. Warga yang berkerumun, terlihat menepi. Memberikan jalan untuk mobil dapat masuk. Dua polisi turun dari mobil. Salah satu warga, menunjuk ke arah Si Mbok dan Ibu Selena berdiri. Seperti menunjukkan kepada polisi, bahwa, "Itu keluarganya."
Dua polisi itupun mendekati Si Mbok dan Ibu Selena.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya saudari Selena. Semoga keluarga diberikan ketabahan."
Salah satu darinya, memberikan tas korban dengan barang-barang yang masih utuh didalamnya. Ibu Selena sangat mengenal tas itu.
Duar!
Duar!
Duar!
Ia bergerak cepat masuk kedalam mobil ambulans. Ia membuka kain putih yang menutupi jenazah.
"Tidak, tidak. Ini tidak benar. Putriku sedang tidur di kamarnya."
Ia langsung berlari dengan cepat menunju kamar. Meta dan Rossie mengejar ibu Selena. Andin memeluk erat Ziban. Kembali menangis tiada henti. Ia tak sanggup melihat semuanya. Dan sesampainya ia dikamar, ibu Selena mencari-cari putrinya itu.
"Nak, putri ibu...dimana kau. Didepan sana, ada wajah yang mirip denganmu, nak. Tolong katakan pada polisi itu, bahwa itu bukanlah kau."
"Nak, ibu mohon jangan sembunyi."
__ADS_1
Meta dan Rossie yang melihatnya, meneteskan air matanya bersamaan. Tanpa berjanjian.
BERSAMBUNG...