Just One Feeling

Just One Feeling
Niat Baik


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu. Kegiatan di kantor berjalan normal semestinya. Semenjak kebenaran telah terungkap. Dimana, Bejo adalah korban yang semestinya dilindungi.


Kesabaran Bejo berbuah manis. Ia kembali bekerja di kantor milik Ziban. Dengan hak-haknya. Ia bahkan diberikan pengawasan khusus serta naik gaji. Bejo tak terlalu menunggu waktu yang lama untuk berfikir, ia tahu, apapun dan bagaimanapun yang akan terjadi padanya nantinya. Tak dapat dipungkiri, Bejo membutuhkan uang. Bahkan bukan hanya Bejo saja. Setiap pekerja, pada dasarnya hanya ingin mencari uang. Hanya saja, beberapa orang mungkin lebih senang jika mencari masalah.


Seperti dua senior Bejo, misalnya. Seharusnya jika mereka bekerja dengan baik dan semestinya, mereka akan aman dan baik-baik saja. Tetapi, perbuatan mereka sangat kelewatan batas, bagi seorang office boy biasa. Ziban melaporkan mereka berdua ke kantor polisi. Dua laki-laki, sudah ditahan. Dan terbukti, bahwa merekalah yang bersalah. Tidak terkecuali.


"Sayang."


Ziban berteriak dari bawah, memanggil Andin.


"Ada apa lagi? Ada yang ketinggalan?"


Andin turun dan mendekati Ziban dengan malas. Ziban memang akan pergi ke kantor. Tetapi tiba-tiba saja, ia memanggil Andin. Andin turun ke bawah dengan rambutnya yang masih basah.


"Tentu saja ada yang aku lupakan."


Andin melipat kedua tangannya di depan dadanya, sembari menaikkan satu alisnya.


"Apa? Apa yang anda lupakan? Biar saya ambilkan wahai Tuan Muda Ziban."


Cup!


Ziban mengecup bibir Andin. Lalu mengusap rambut Andin yang masih basah. Setelah itu, ia berbalik badan meninggalkan Andin.


"Hei! Kau tahu, aku baru mandi kan? Kau menodaiku lagi."


Andin berteriak keras.


"Sok jual mahal. Mengecup bibir istrinya saja dibilang menodai."


Respon Ziban tanpa menghadap ke arah Andin. Ia terus saja melangkahkan kakinya ke depan. Setelah Ziban benar-benar pergi, Andin hendak kembali ke kamarnya. Ia akan mengeringkan rambutnya.


Tiba-tiba Si Mbok memanggilnya.


"Iya Si Mbok, ada apa?"


Si Mbok memberikan tatapan hangat pada Andin.


"Sudah waktunya Non Andin minum pil nya."


Andin menepuk jidatnya sendiri. Ia kerapkali kelupaan akan hal itu. Ia pun berterimakasih pada Si Mbok karena sudah mengingatkan hal itu padanya.


Andin lalu kembali ke kamarnya. Sebelum mengeringkan rambutnya, ia harus minum pil nya terlebih dahulu. Pil yang sudah tersimpan aman. Si Mbok pun mengekor dibelakang Andin. Itu ia lakukan, karena Andin memang menyuruhnya untuk ikut ke kamarnya. Mungkin ada sesuatu yang harus ia lakukan untuk Andin. Mungkin saja.

__ADS_1


Setelah mereka berdua sampai di kamar, Si Mbok memperhatikan gerakan Andin yang menuju ke lemarinya. Terlihat Andin yang mengambil pil. Pil yang ia sembunyikan di salah satu saku gamisnya yang digantung rapi.


Andin duduk di tepi ranjang dekat meja. Si Mbok menuangkan air ke dalam gelas. Dan mempersilakan kepada Andin untuk meminumnya. Sebelum Andin meminumnya, ia terlebih dahulu mengucapkan terimakasih pada Si Mbok. Respon Si Mbok masih hangat seperti biasa.


Gluk!


Bunyi air putih di tenggorokan Andin terdengar jelas. Air yang digunakan untuk membantu Andin mendorong pil tersebut agar mudah masuk ke dalam perutnya. Lalu meletakkan gelas kosong. Karena seluruh isinya, sudah diteguk tandas olehnya.


Andin memberikan pil sisanya kepada Si Mbok. Si Mbok mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Si Mbok yang simpan ya? Jika sudah waktunya aku minum, Si Mbok yang memberitahuku. Karena aku sering kelupaan. Oh ya, jangan sampai suamiku tahu."


Si Mbok mengangguk mengiyakan permintaan Andin.


"Baik non. Si Mbok permisi, mau pergi ke dapur."


......................


"Apa itu tidak berlebihan tuan muda?"


Suara berat dari Sekretaris Chan menganggu suasana hati Ziban di siang hari yang terasa lebih terik dibandingkan hari biasanya. Sekretaris Chan yang menyadari ucapannya terdengar salah di telinga Ziban pun, mengulangi ucapannya.


"Maksudnya, saya sangat senang dan setuju dengan niat baik anda."


"Bagus. Kau cari data semua yang bekerja di Sinar Natana Group. Dengan catatan, yang sudah berniat baik akan menikah di tahun ini. Katakan pada mereka, semua biaya pernikahan akan ditanggung olehku."


"Baik tuan muda."


Sekretaris Chan mengangguk dan hendak beranjak.


"Termasuk kau."


Deg!


Ziban melihat ekspresi tegang yang terlihat jelas.


"Aku melakukan semua ini, karena semua karyawan ku bekerja dengan baik. Dan tentu saja, itu berlaku juga untukmu. Kau sekretaris setia juga kepercayaanku. Kau hampir memberikan semua hari-harimu demi bekerja denganku."


"Ya, dan aku tidak bisa melakukan hal besar untuk membalas pekerjaanmu itu. Hanya saja, aku sudah berniat akan memberikan kejutan pernikahan yang istimewa untukmu. Kau tidak perlu menggesek kartu mu untuk uang sepeserpun."


"Aku yang akan menyelenggarakan semuanya dengan uangku. Sebesar, semewah, dan seistimewa apapun yang kau inginkan nantinya, itu tidak masalah bagiku."


Ziban yang melihat Sekretaris Chan hendak menyanggahnya, kembali berucap dan mengangkat lima jarinya ke depan.

__ADS_1


"Eits, jangan menolak."


Ziban selalu seperti biasa. Tidak pernah terlihat main-main. Sekretaris Chan akhirnya mengiyakan. Ziban tersenyum melihatnya. Tetapi Ziban lalu menciutkan senyumannya itu, ketika Sekretaris Chan memberikan kata, "Tapi." Di belakangnya.


"Tapi apa?" (tanya Ziban)


"Saya akan menikah dengan Dik Meta, tapi jika anda dan Nyonya Muda Andin sudah memiliki momongan."


Ziban mengibaskan tangannya. Merasa ucapan Sekretaris Chan sama sekali tidak memberatkan dirinya.


"Ah, baiklah. Itu tidak masalah bagi kami. Aku dan istriku akan segera mendapatkan momongan. Kami tahu, itu."


Mendengar ucapan Ziban, entah mengapa Sekretaris Chan berani menjawabnya. Tidak biasanya. Entah apa yang tengah terjadi padanya. Kali ini.


"Anda terlihat yakin sekali, tuan muda."


"Diam kau!"


Ziban melemparkan map yang berada di meja kerjanya ke badan Sekretaris Chan. Sekretaris Chan pun menunjukkan dirinya yang menyadari kesalahannya lagi. Ziban mengetuk-ngetuk meja.


"Kau akan menikahi Meta, jika istriku hamil, begitu saja ya?"


"Benar tuan muda. Tapi, lebih tepatnya setelah anak pertama anda lahir."


Ziban menatap mata Sekretaris Chan dengan penuh amarah. Ia mendengus kesal. Ziban berdiri dengan cepat. Menuding Sekretaris Chan menggunakan jari telunjuknya.


"Ah, aku tidak peduli, urusanmu dengan Meta. Terserah, kau akan menikahinya kapan. Yang terpenting, kau urusi perintahku tadi."


Ziban membanting pintu ruangannya dan pergi keluar. Sekretaris Chan menatap kepergiannya. Lalu ia pun segera pergi keluar. Bukan mengikut Ziban. Tetapi, hendak menjalankan tugas yang diberikan oleh Ziban kepadanya.


Sedangkan Ziban terlihat keluar dari area kantor miliknya. Menggunakan mobil yang ia kendarai sendiri tanpa supir. Tentu pula tanpa membereskan tas kerjanya yang ia tinggalkan di ruangannya. Mungkin, ia akan menyuruh Sekretaris Chan atau Selena untuk mengantarkannya. Mungkin saja.


Mobil terlihat menepi. Ia harus mengabari seseorang sebelum ia kembali melajukan mobilnya.


"Sayang, kau bersiap-siap ya? Aku akan menjemputmu. Siang ini, kita makan siang di luar."


Terkirim. Ziban kembali melajukan mobilnya. Sedangkan di tempat lain, terlihat Andin yang panik. Setelah mendapati pesan dari suaminya itu. Tetapi, ia mungkin sedikit beruntung, karena langsung mendengar bunyi notifikasi yang memang berbeda dari yang lainnya.


"Maaf, saya izin pulang terlebih dahulu. Ada hal yang sangat penting yang tiba-tiba mendadak. Tidak apa-apa kan?"


Andin yang tanpa berfikir panjang lagi, sudah langsung mengatakan pada laki-laki yang ada dihadapannya itu, bahwa dirinya sedang ada urusan lain. Dengan menelungkupkan kedua tangannya di depan wajahnya tentunya. Berharap, respon baik, akan ditunjukkan olehnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2