
Ternyata dugaannya salah. Arga justru melepaskan cengkeramannya. Ia lalu keluar meninggalkan Ziban dan Selena tanpa sepatah katapun.
Setelah Arga benar-benar keluar dari ruangan Ziban, Selena berjalan sampai di ambang pintu. Ia terkejut melihat Arga yang bersama rombongan anak buahnya. Ziban pun mendekat ke Selena. Ingin memastikan apa yang sedang Selena lihat.
"Mertuamu itu membawa banyak anak buahnya." (ucap Selena)
Ziban tak merespon apapun.
"Eh, kau baik-baik saja, kan?"
Ziban mengangguk pelan. Lalu ia segera menyuruh Selena untuk kembali bekerja. Selena pun mematuhinya. Ia meninggalkan Ziban di ruangan sendirian. Ziban mengacak-acak rambutnya. Frustasi dengan kedatangan tak terduga dari Arga ke kantornya.
Sedangkan di tempat lain, di dalam taksi, Meta dan Rossie tengah duduk dengan tenang di tempat duduk penumpang. Mereka berdua memang sudah berjanjian untuk mengunjungi Andin. Setelah Meta mengatakan semua hal yang diucapkan Sekretaris Chan semalam pada Rossie dan semuanya, ia merasa sangat ingin bertemu dengan Andin.
Dalam hatinya, sangat yakin. Bahwa Andin mungkin saja memiliki alasan tersendiri hingga memutuskan untuk mengonsumsi pil kontrasepsi. Mungkin saja. Dan mengenai Andin yang menemui laki-laki lain tanpa memberitahu Ziban, Andin pasti memiliki alasan lagi. Begitulah hati Meta berbicara.
Meta dan Rossie pun membicarakan hal itu ketika didalam taksi. Hanya saja, Rossie tidak sepenuhnya membela Andin. Bagaimanapun, ia berada di tengah-tengah. Antara Ziban, kakaknya. Dan Andin, temannya.
"Ah, sudahlah. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua. Lagipula, nanti kita akan kesana. Jika Andin tidak mau berbicara dengan siapapun, mungkin saja, dia mau bercerita padamu. Karena kau dan Andin jauh lebih dekat dibandingkan dengan diriku."
Meta tersenyum menyetujui. Ia sangat mempercayai dirinya sendiri. Akan keberhasilannya nanti dalam merayu Andin untuk mencurahkan isi hatinya padanya. Karena ia sangat mengenal Andin dengan sangat baik.
Beberapa saat, mereka kemudian terdiam. Meta melirik Rossie sekilas. Ia melihat Rossie yang tengah sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya ia masih ingin mengobrol lagi. Tetapi, tak ada bahan obrolan. Dan sepertinya, Rossie sangat serius dengan ponselnya.
Meta pun membuka ponselnya sendiri. Pikirannya kembali ke kekasihnya, Sekretaris Chan. Ia tahu, memikirkannya tidak akan berakhir hari ini saja. Tetapi, yang ia pikirkan kali ini, berbeda.
Pesan dari Sekretaris Chan tadi pagi, ia baca kembali dalam hati.
"Dik, kau suka ciuman dariku kemarin?"
Meta membalas, "Biasa saja."
"Kemarin, aku sangat menikmatinya. Kau tahu, itu ciuman pertamaku. Begitupun denganmu. Aku tahu itu. Karena kau tidak tahu, caranya berciuman. Dan sangat kaku. Tapi tidak masalah. Nanti kita coba lagi. Kau mau kan, dik?"
Meta tak menjawabnya sampai saat ini. Sebelumnya, ia sudah mengatakan pada Sekretaris Chan. Bahwa, hari ini ia akan bekerja full seharian. Dan keputusannya untuk berbohong, ia rasa adalah benar. Sejujurnya, ia masih takut bertemu dengannya.
Untuk hari-hari selanjutnya, akan ku pikirkan lagi. Alasan untuk tidak dulu bertemu dengannya. Mungkin itu lebih baik.
Tiba-tiba, ia menemukan topik pembicaraan dengan Rossie. Ia ingin mengetahui pendapat dari orang lain juga.
"Rossie..."
__ADS_1
"Ya, Met. Ada apa?"
"Aku ingin bertukar pikiran dengan mu. Kau tidak keberatan?"
"Dengan senang hati. Kebetulan, aku senang berbicara."
Meta merasa ia akan mendapatkan jawaban yang tepat dari orang yang tepat pula. Selama ia mengenal Rossie, ia tahu, Rossie akan berbicara apa adanya. Dan itu sangat Meta butuhkan saat ini.
"Apa pendapatmu, tentang berpacaran sebelum menikah?"
Rossie mengerucutkan bibirnya. Meta menanyakan mengenai berpacaran sebelum menikah. Dan Rossie melakukan hal itu. Tentu saja ia sedikit kebingungan menjawabnya.
"Huh. Sebenarnya dalam agama kan memang tidak diperbolehkan. Haram. Kau pasti lebih tahu akan hal itu."
Meta mengiyakan dalam hati ucapan Rossie. Ia memang mengetahui hukumnya berpacaran.
"Aku punya kekasih, dan kau pun punya. Kita hanya perempuan biasa kan, Met? Memiliki perasaan dan hasrat. Ah, entahlah. Jangan tanyakan padaku, yang berlumuran dosa ini."
Rossie terlihat tidak terlalu menyukai topik pembicaraan tersebut. Ia menyandarkan kepalanya rileks. Tiba-tiba, ia ingin memberitahu sesuatu tentang dirinya.
"Eh, apa kau tahu, Met?"
"Apa?"
"Sebenarnya aku juga tidak diperbolehkan berpacaran dengan siapapun oleh ibuku."
"Tapi kau nekat?" (tebak Meta)
Rossie menggeleng.
"Bang Ziban yang menyetujui. Dia yang meyakinkan ibuku. Dia mengatakan pada ibuku, seperti ini."
"Raditya memang terlihat banyak berulah dan dekat dengan siapapun tidak terkecuali perempuan. Tetapi, dia tahu batasannya dan caranya bersosial. Dia tidak macam-macam dengan perempuan walau itu kekasihnya sendiri. Aku sangat mengenalnya. Biarkan Rossie mengenal laki-laki lebih dalam. Dia sudah dewasa. Dan sebagai kakaknya, aku menyetujui Rossie untuk mengenal Raditya."
Rossie menceritakan semuanya dengan nada yang dibuat-buat. Seakan-akan yang mengatakan kalimat tadi, adalah Ziban seluruhnya.
"Akhirnya ibu mendengarkan ucapan Bang Ziban. Aaa, Meta. Aku sangat menyayangi Bang Ziban. Sangat. Sangat. Sangat."
Meta masih ingin menanyakan sesuatu lagi.
"Dan setelah kau dengan Raditya, apakah benar jika dia tidak bertindak yang macam-macam kepadamu?"
__ADS_1
Rossie sejenak terlihat berpikir mengingat-ingat. Lalu ia menggeleng dengan cepat.
"Dia hanya memegang tanganku. Sesekali merangkul. Dan selebihnya, tidak."
"Kenapa memangnya? Apa Sekretaris Chan macam-macam denganmu? Seperti mencium, misal?"
Seketika wajah Meta terlihat pias. Rossie dapat melihatnya dengan jelas. Mulutnya seakan membisu. Tak tahu harus menjawab apa. Rossie membuat diantara mereka berdua menjadi kaku dengan pertanyaannya itu. Rossie pun tidak bersalah. Ia memang terbiasa berbicara apa adanya. Hanya itu.
"Ah ayolah, Met. Aku hanya bercanda. Haha."
"Sosok seperti Sekretaris Chan tidak mungkin melakukan itu padamu."
Rossie tertawa terpingkal-pingkal. Mendapati perubahan ekspresi dari Meta. Ia tak tahu, Meta akan mudah tegang walau hanya candaan tidak pentingnya itu. Dan kali ini ia baru menyadari ucapan kakak iparnya pada saat itu benar adanya. Yang tidak lain tidak bukan adalah Andin.
Mengenai Meta yang banyak berubah setelah bersama dengan Sekretaris Chan. Meta yang ceria, saat ini, tidak ceria sepenuhnya. Ia kerapkali menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah. Dan yang sering terjadi, adalah diam. Ia sudah tak terlalu banyak berbicara seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi, Rossie memutuskan untuk tidak mengomentari tentang perubahan Meta. Lagipula, ia merasa, itu tidak penting. Menurutnya.
Rossie tak menyadari mereka berdua terlalu terbuka dalam berbicara. Dan saat ini, ia baru menyadari sepenuhnya. Mengenai ucapannya, dan mengenai sopir taksi.
Oh my God!
"Pak sopir, selama kami bercerita, kau tadi menutup telingamu, kan?"
Meta pun baru menyadarinya. Topik pembicaraan mereka memang tidak pantas didengar oleh orang asing.
"Saya tidak menutup telinga. Saya bahkan mendengar dan memahami semua obrolan kalian berdua." (jawabnya dengan jujur)
Rossie menggeram.
"Huh! Katakan pada kami, bahwa kau tidak mendengarnya, cepat!"
Mendengar geraman dari salah satu penumpangnya, sopir itu pun langsung bergidik ngeri.
"Ba-baik. Saya tidak mendengarnya."
"Nah, bagus."
Rossie tersenyum puas dengan jawaban sopir tersebut. Sedangkan Meta, tak ada niat ingin ikut berbicara sedikitpun. Pikiran dan hatinya masih kalut dengan hubungannya yang sudah mulai berlebihan. Ia takut bertemu dengan Sekretaris Chan. Karena tubuhnya tidak akan bisa menolaknya. Walau pikirannya tahu, bahwa itu adalah salah.
Ya Tuhan, ajarkan padaku caranya bilang "tidak."
BERSAMBUNG...
__ADS_1