Just One Feeling

Just One Feeling
Bicara


__ADS_3

72 jam, 4.320 menit, 259.200 detik telah berlalu. Dengan alur serta arus yang terus bergerak. Kisah maupun kasih yang turut mewarnai kehidupan setiap insan. Berbahagia, atau berlarut dalam kesedihan. Semua pribadi yang menentukan. Sesuai ego, atau perasaan.


Bagi sebagian orang, tiga hari bukanlah waktu yang lama. Terlebih, mereka yang disibukkan dengan kebahagiaan. Hari akan terasa cepat berlalu. Dan sangat menyayangkan. Berbanding terbalik dengan tiga hari bagi orang yang tengah bersedih dengan kehidupan yang melelahkan.


Tiga hari bagi mereka, akan terasa tiga puluh hari. Begitupun dengan sepasang Andin dan Ziban. Andin yang masih kalut dalam kesedihan. Sedangkan Ziban yang tak tahan akan kerinduan. Dua hal berbeda, memang. Tetapi, pada dasarnya sepasang itu, memiliki beban.


Keseharian Andin selama tiga hari ini, adalah melamun dan merenung. Memang benar, tak ada teman terbaik dalam kesendirian selain melamun dan merenung.


Tak ada kebencian didalam matanya. Ia memang terbiasa memendam apapun yang terjadi pada dirinya. Jika sudah seperti itu, hanya Andin dan Tuhannya lah yang tahu. Akan arti diamnya itu.


"Andin sayang..."


Mata Andin bergerak mengarah ke sumber suara.


"Iya, mah."


Kumala tersenyum pada Arga yang berada disampingnya. Arga membalas senyumannya itu. Mereka berdua merasakan perubahan yang baik terhadap putrinya. Mata mereka yang saling tatap. Memiliki arti, "Andin sudah terlihat lebih baik, bukan?"


Kumala dan Arga mengelus puncak kepala Andin secara bersamaan.


"Mah, pah?" (tanya Andin)


"Ada apa sayang. Kau perlu sesuatu?" (jawab Kumala)


"Tolong panggilkan Si Mbok untuk menemuiku."


Mendengar permintaan Andin, terlihat keraguan di mata Kumala. Ia pun menatap Arga. Mencari jawaban disana. Dan Arga mengangguk pelan. Meyakinkan Kumala. Kumala pun hendak beranjak memanggil Si Mbok.


"Kau disini saja, mah. Biarkan papah yang memanggilnya." (ucap Arga)


Kumala kembali duduk tanpa berniat mendebat. Semenjak Arga mengetahui Kumala tengah mengandung, Kumala diminta untuk tidak bekerja terlalu keras. Meskipun hanya naik turun tangga. Tentu itu akan melelahkan, jika terlalu sering dilakukan.


Kumala mencium kening Andin dan tersenyum kepadanya. Tak akan ada habis-habisnya, rasa sayangnya itu ia curahkan untuk putrinya.


"Sudah beberapa hari ini, kau tidak mengelus-elus calon adikmu. Janin yang ada didalam sini pun ingin dielus-elus oleh kakak cantiknya."


Ucap Kumala sembari memegang perutnya yang belum membuncit. Andin melirik Kumala. Tak berniat mengiyakan ucapan Kumala tadi. Kumala pun memahami keadaan putrinya itu. Dalam pikirannya, dalam pikiran seorang ibu, ia akan terus dan selalu berusaha untuk membuat anaknya bahagia. Tentu saja. Setiap ibu, menjadi malaikat bersayap bagi putra-putrinya.


"Ayo, elus-elus calon adikmu, dulu."


Kumala menarik dan mengarahkan tangan Andin untuk memegang perutnya. Seperti sebelum-sebelumnya.


"Kau merasakan, calon adikmu menendang-nendang?"


Ucap Kumala dengan mata berbinar-binar. Sedangkan Andin masih dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dia kan masih terlalu kecil, mah."

__ADS_1


"Mamah, hanya bercanda, sayang."


Seketika Andin pun memeluk Kumala. Dalam bentuk pelukan, ia mengucapkan syukur atas dirinya yang memiliki ibu, seperti Kumala.


"Permisi, ini Si Mbok."


Suara Si Mbok dibalik pintu.


"Masuk saja, tidak dikunci." (ucap Kumala)


Si Mbok pun masuk kedalam kamar itu. Ia terlihat ragu dalam mendekati Andin dan Kumala. Setelah Si Mbok sudah cukup dekat dengan Andin, Andin pun mulai berbicara tanpa menyuruh Si Mbok untuk duduk terlebih dahulu.


"Si Mbok ingat kan mengenai pil yang selalu aku minum?"


"Ingat sekali, non."


"Setahu ku, yang aku minum adalah pil vitamin kesuburan. Dan Si Mbok juga tahu, kan? Karena pil vitamin kesuburan itu, adalah rekomendasi dari Si Mbok? Karena Si Mbok lebih tua, dan berpengalaman?"


"Aku meminumnya, karena mempercayai Si Mbok. Bahkan lebih dari mempercayai. Oleh karena itulah aku menyembunyikan pil itu dari suamiku. Karena, aku pikir akan memberikan kejutan dengan hasil cepat hamil. Dan faktanya, berbanding terbalik."


"Apa Si Mbok menukarnya dengan pil kontrasepsi?!"


Andin berucap tanpa henti dengan cepat, dengan nada tinggi. Si Mbok memasang wajah tidak tahu apa-apa. Kumala yang melihatnya pun, segera menyudahi tuduhan dari Andin untuk Si Mbok. Dengan meminta Si Mbok untuk keluar dari kamar itu. Tetapi, Andin mencegahnya. Karena Andin masih belum selesai berbicara dan belum mendapatkan jawaban dari Si Mbok.


"Andin sayang, biarkan Si Mbok bekerja saja..." (ucap Kumala)


"Tidak apa-apa, nyonya. Non Andin harus mendengarkan jawaban dari Si Mbok. Itu akan membuat Non Andin tidak menyalahkan Si Mbok." (ucap Si Mbok)


"Si Mbok tidak melakukan apa-apa, non. Lagipula, untuk apa Si Mbok melakukan hal hina seperti itu. Si Mbok ini sudah tua. Yang ada, Si Mbok pasti akan lebih memilih mendekatkan diri kepada sang pencipta dibandingkan melakukan pekerjaan hina seperti tuduhan, non Andin."


"Kemungkinan ada orang lain dibalik semuanya, non. Coba non Andin ingat-ingat lagi. Apakah ada orang yang membenci non Andin dan suami non? Tolong jangan salahkan, Si Mbok, non. Si Mbok sudah tua."


Andin terdiam sejenak. Merasa, ucapan Si Mbok ada benarnya. Kumala mengelus tangan Andin.


"Minta maaflah pada Si Mbok. Kau mendengarnya kan ucapan Si Mbok? Lagipula, Si Mbok itu sangat baik dan penyayang. Iya kan, Si Mbok?"


Si Mbok tersenyum mengangguk. Percaya diri dengan ucapan Kumala untuknya.


"Dan mamah setuju yang dikatakan Si Mbok. Mungkin saja, ada seseorang dibalik semuanya ini."


Andin pun meminta maaf pada Si Mbok. Si Mbok tidak keberatan memaafkan Andin. Dan setelah itu, Andin meminta Kumala dan Si Mbok untuk keluar dari kamarnya.


Ia tidak bermaksud mengusir. Tetapi ada alasan yang kuat. Yaitu, untuk menelepon Ziban. Ia berniat mengatakan ucapan Si Mbok padanya. Mengenai kemungkinan ada seseorang dibalik semuanya.


Dan itu, adalah alasan yang tepat untuk membela dirinya. Bahwa dirinya tidaklah bersalah. Dan Ziban harus menyesali tindakannya. Karena telah menyalahkan Andin. Begitu tujuan Andin.


"Mas?"

__ADS_1


Secepat itu, Ziban mengangkat telepon dari Andin.


"Siapa ini? Jangan ganggu aku. Aku sedang sibuk!"


Apa dia menghapus nomorku?


Apa dia tidak mengenali suaraku?


"Mas, ini istrimu."


"Ooh, istri."


"Mas, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


Tak merespon ucapan Andin, Ziban justru mengalihkan pembicaraan.


"Eh, tunggu. Istri yang mana? Seingatku, istriku hanya satu. Dan dia pun, yang mengonsumsi pil kontrasepsi dan bertemu dengan laki-laki lain dibelakangku."


Andin berdecak pelan. Dari suara Ziban, Andin tahu, suaminya itu masih marah dan kecewa padanya. Ia pun mulai mengatakan semua yang ia katakan pada Si Mbok tadi. Mengenai niatnya meminum pil apa, mengapa ia menyembunyikannya, dan mengenai pil yang tiba-tiba ia minum adalah pil kontrasepsi.


"Sungguh, mas. Aku mengetahui bahwa itu pil kontrasepsi, ketika hasil uji yang Sekretaris Chan bawa."


"Percayalah, mas. Aku tidak serendah itu. Aku pun menginginkan kehamilan. Bukan hanya dirimu saja."


"Dan mengenai, satu hal lagi. Mengenai, aku yang bertemu dengan laki-laki tanpa sepengetahuan darimu. Itu..."


Tut...Tut...Tut...


Ziban mematikan panggilannya. Merasa, tidak puas dengan ucapannya, Andin pun kembali menelepon Ziban. Tetapi tak tersambung walau ia mencobanya berkali-kali.


Dia memblokir nomor ku.


Mata Andin berkaca-kaca. Hingga pecah menjadi buliran bening yang menyiratkan kesedihan. Setelah menelepon Ziban, justru semakin menambah derita kesedihan yang ia rasakan.


Masih dirumah yang sama, dikamar yang berbeda. Kumala duduk didekat Arga yang tengah membaca sebuah buku.


"Apa papah tahu, wanita tua itu berkata sangat manis didepan putri kita. Untuk membela dirinya. Padahal kan kita sudah tahu, bahwa dia dibalik semuanya. Dasar."


Ucap Kumala dengan kesal. Arga antusias mendengarnya.


"Tapi mamah tidak mencurigakan, kan?"


"Tenang saja, pah. Setelah itu, mamah bahkan sudah memberikan banyak uang kepada wanita tua itu untuk berbelanja apapun. Wanita itu itu sudah pergi dengan diantar sopir."


Arga mengernyitkan keningnya. Tak mengetahui maksud Kumala. Sudah jelas-jelas, Kumala tidak menyukai Si Mbok. Tetapi, Kumala justru memberikan uang untuk berbelanja apapun. Itulah yang ada di benak Arga. Kumala pun mengetahui pertanyaan tak terucap dari Arga.


"Beberapa jam kedepan, wanita tua itu akan berada di luar rumah ini. Tentu saja mamah akan sedikit lega. Mamah sangat membencinya. Dia membuat Andin, putri kita, menunda kehamilan tanpa sepengetahuan Andin dan suaminya. Huh!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


.


__ADS_2