Just One Feeling

Just One Feeling
Pendapat


__ADS_3

Ziban melepaskan Andin yang memegangi lengannya. Lalu ia bergerak mendekati seseorang yang baru masuk ke ruangannya tersebut. Andin mengikuti Ziban. Ia harus membantu suaminya mengendalikan dirinya sendiri.


"Pergi dari kantorku, sana!"


Ziban mengucapkan dengan nada keras terhadap seseorang tersebut. Andin mengelus-elus pundak Ziban. Berusaha meredakan emosi suaminya.


"Mas, sudah." (ucap Andin pelan)


Ucapan Andin, berhasil membuat Ziban menatap Andin. Bukan karena ia mendengarkannya, tetapi karena sesuatu lain yang baru Ziban sadari. Ia menatap seseorang yang ia anggap lancang tersebut, yang berada tidak jauh dari hadapannya itu. Seseorang itu, masih menunduk dalam.


Terlihat dirinya, yang memegang sapu. Ia menggenggam sapu tersebut dengan kuat. Terlihat pula, keringat bercucuran. Serta telapak tangannya, yang gemetar.


"Pejamkan matamu, heh!"


Ziban menyuruh seseorang tersebut, untuk memejamkan matanya rapat-rapat. Tentu, yang langsung dituruti olehnya. Setelah memastikan seseorang tersebut yang benar-benar sudah memejamkan matanya dalam-dalam sembari menunduk, Ziban menatap Andin.


Berbicara kepadanya, dengan nada selembut mungkin. Sangat berbeda ketika Ziban marah pada orang tersebut.


Ziban menggandeng lengan Andin, untuk menunju ke arah sofa. Andin yang mengikuti saja gandengan dari Ziban, menolehkan kepalanya ke belakang. Melihat seseorang tersebut yang masih berdiri di sekitar pintu sembari memejamkan matanya dan menunduk.


Ziban menyuruh Andin untuk duduk di sofa. Sedangkan dirinya, memasangkan kembali kerudung warna peach, untuk menutupi rambut istrinya. Andin membulatkan matanya.


Ia bahkan, melupakan, bahwa kerudungnya sudah terlepas. Dan ia lupa untuk memasangkan kembali, ketika ada seorang laki-laki yang bukan mahramnya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Andin masih diam saja, menunggu Ziban selesai memasangkan kerudung untuknya. Sembari menunggu Ziban selesai, Andin melirik seseorang tersebut.


Dia office boy. Dan dia pasti pekerja baru disini.


Andin seketika mampu mengerti perasaan dan keadaan office boy tersebut. Dengan hanya melihatnya saja.


Dan melihat kejadian tadi, dimana Ziban menyuruh office boy tersebut untuk memejamkan matanya, Andin mengulas senyum. Bukan karena, ia merasa senang melihat office boy tersebut dimarahi. Dan bukan pula, karena melihat suaminya, marah.


Tetapi karena hal itulah, Andin tahu. Ia tahu, suaminya benar-benar peduli dengan dirinya. Dan sangat menjaga dirinya. Andin sangat beruntung dan bersyukur akan hal itu.


Setelah Ziban selesai memasangkan dan merapikan kerudung Andin, ia berdiri. Mengambil ponselnya dan terdengar ia yang berbicara dengan seseorang.


Dan tak menunggu waktu lama, Selena dan Sekretaris Chan masuk kedalam ruangan tersebut. Dapat ditebak, Ziban menelpon dan berbicara kepada Sekretaris Chan.

__ADS_1


Sekretaris Chan menatap office boy, Andin, dan Ziban secara bergantian. Tengah menduga-duga apa yang telah terjadi dan ia lewatkan. Ia mendekat ke Ziban. Untuk mempertanyakan pertanyaan yang ada dibenaknya. Selena terlihat lebih memerhatikan Sekretaris Chan, kali ini.


Sepertinya, ia memang tengah banyak belajar dari Sekretaris Chan. Itu menurut Andin. Tak dapat dielak lagi, sejak mereka berdua masuk, Andin hanya memperhatikan sekretaris baru Ziban.


Dan tak dapat dielak pula, bahwa Andin memang merasakan keanehan sejak awal. Hanya saja, Andin tak ingin berfikiran macam-macam mengenai Selena. Ia hanya menunjukkan dirinya yang sedikit waspada.


"Apa yang office boy ini lakukan, tuan muda?" (tanya Sekretaris Chan)


Ia tentu sudah mampu menebak, bahwa sesuatu telah dilakukan oleh office boy yang masih dalam posisi yang sama itu. Walau ia sudah mampu menebak, tentunya Sekretaris Chan adalah manusia biasa. Yang harus mengetahui segala sesuatunya dengan jelas, dengan harus bertanya dari sumber yang terpercaya. Atau jika tidak, dengan menyelidikinya secara langsung. Itulah, Sekretaris Chan.


Ziban pun menjelaskan akar permasalahannya. Mengenai office boy tersebut yang membuka pintu dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan dengan tidak meminta izin darinya. Ditambah, ia dan Andin yang memang tengah berduaan di ruangan tersebut. Ziban menceritakan keluhan terhadap office boy kepada sekretaris andalannya.


Sekretaris mengangguk faham. Dengan semua ucapan Ziban, dan sudah tahu apa yang harus ia lakukan.


Tapi sebelum memutuskan untuk bertindak, ia tiba-tiba mendapatkan kesempatan yang jarang dijumpai.


"Tuan muda, apa saya boleh sedikit berpendapat?"


Ziban mengibaskan tangannya sendiri.


Sekretaris Chan, merasakan kepercayaan dirinya naik seketika. Ketika Ziban mengucapkan hal tersebut padanya. Sangat jarang. Ya, betul. Sangat jarang, Ziban berucap yang menyenangkan bagi Sekretaris Chan.


"Seperti ini tuan muda, anda memiliki dua sekretaris. Ada baiknya, jika Selena juga harus segera belajar menangani beberapa masalah yang sekiranya akan terjadi di kantor, seperti hari ini, tuan muda."


Mendengar ucapan Sekretaris Chan, Ziban memutarkan bola matanya.


"Aku tahu itu. Oleh karena itulah, aku memanggil kalian berdua."


Sekretaris Chan segera meminta maaf, karena ia mengucapkan sesuatu yang sudah Ziban fikirkan. Dan seperti biasa, Ziban hanya mengucapkan kata, "Hemm."


Sekretaris Chan beralih menatap Selena.


"Bagaimana menurutmu, Selena? Sekiranya hukuman apa yang pas untuk office boy itu?"


Sedangkan sejak tadi, Andin masih diam saja. Sesekali, melirik ke arah office boy yang masih berdiri di dekat pintu itu. Dengan mata yang masih terpejam. Andin terperanjat melihatnya. Selena mulai berbicara menjawab pertanyaan Sekretaris Chan.


"Menurut saya, office boy tersebut..."

__ADS_1


"Tunggu, sebentar!"


Andin terlebih dahulu memotong ucapan Selena. Seketika Ziban dan Sekretaris Chan menatap Andin.


"Mas office boy, kau buka matamu saja. Jangan terus memejamkan mata seperti itu."


Andin menunjukan ucapannya itu, pada office boy tersebut. Dan yang dituju pun, masih tak bergeming dan masih memejamkan matanya.


Ziban melihat ke arah office boy tersebut, lalu menatap Andin.


"Kau suka sama office boy itu?" (tanya Ziban)


Ziban mengucapkan dengan nada seriusnya. Andin menatap Ziban kembali tidak mengerti ucapannya itu. Ziban yang menyadari Andin yang tidak mengerti ucapannya, kembali berbicara.


"Kau baru saja, memanggilnya dengan panggilan mas."


Ziban menunjuk office boy itu kepada Andin.


"Memangnya apa salahnya sih? Kau mas, dia mas, dan Sekretaris Chan juga mas."


"Tidak! Panggilan mas hanya untukku saja,"


"Dan lihatlah, Sekretaris Chan yang kau sebut dia adalah mas juga. Dia bahkan sudah berbau tanah. Kau panggil dia om, itu baru pantas."


Sekretaris Chan yang merasa namanya dibawa-bawa, hanya sedikit mengernyitkan keningnya. " Tolong jangan bawa-bawa saya, tuan muda." Jika ia mampu untuk berbicara, maka kalimat itulah yang akan terucap.


"Heh! Buka matamu. Dan kau hadapkan wajahmu di tembok. Jangan berani melirik-lirik istriku!" (ucap Ziban pada office boy tersebut)


Merasa Ziban yang memerintahnya, office boy tersebut membuka matanya dan benar menuruti ucapan Ziban. Dengan menghadapkan wajahnya ke tembok.


Semua diam beberapa saat. Selena segera mengangkat suaranya kembali, tanpa disuruh. Melanjutkan ucapannya tadi, yang sempat dipotong.


"Menurut saya, pecat saja office boy itu. Kesalahannya tidak bisa dimaafkan. Dan hal itu, akan menjadi contoh yang bagus untuk pada pekerja lainnya di kantor ini. Semua pekerja, akan lebih berhati-hati lagi, dan tidak seenak jidatnya sendiri."


Ziban dan Sekretaris Chan terlihat tidak mempermasalahkan pendapat Selena. Dan hal itulah, yang sebenarnya ada dibenak mereka masing-masing. Tetapi Andin tidak. Ia memikirkan hal yang berbeda. Dan ia harus berbicara. Membantah pendapat Selena.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2