Just One Feeling

Just One Feeling
Bejo


__ADS_3

"Mas, boleh aku berpendapat juga?"


Andin terlebih dahulu meminta izin pada Ziban mengenai dirinya yang ingin mengeluarkan pendapat juga. Ia takut, jika dirinya tidak berbicara, maka keadilan akan dilupakan begitu saja.


"Tidak boleh. Kau pasti akan membela office boy itu kan?"


"Tidak mas. Aku hanya akan mengeluarkan pendapatku saja."


Ziban akhirnya mengiyakan permintaan Andin. Dan Andin pun mulai berbicara.


"Tapi aku rasa, seseorang pun perlu mendapatkan kesempatan kedua, kan?"


Andin bertanya pada mereka bertiga. Sesekali melirik office boy tersebut, yang terlihat membelakangi semuanya. Dengan menghadapkan dirinya ke tembok.


Selena menatap mata Andin.


"Benar sekali, nyonya muda. Terkadang seseorang memang akan lebih seenaknya sendiri, jika seseorang tersebut diberikan kesempatan kedua."


Ziban dan Sekretaris Chan diam saja. Pandangan mereka kali ini, terfokus kepada Andin dan Selena bergantian. Andin menatap Selena kembali dengan segala keyakinannya.


"Kau tidaklah salah, Sekretaris Selena,"


Andin mengulas senyum dan mengangkat satu alisnya.


"Tapi bagaimana kau tahu, bahwa itu adalah murni kesalahannya?"


"Itu jelas kesalahannya, nyonya. Office boy itu, masuk ke ruangan atasan tertingginya dengan seenaknya saja."


Andin menghembuskan nafasnya teratur. Tersenyum kembali. Lalu tatapannya, beralih ke Sekretaris Chan.


"Sekretaris Chan, apakah office boy ini, memang baru disini?"


Sebelum menjawab pertanyaan Andin, ia terlebih dahulu menatap punggung office boy tersebut.


"Benar sekali, nyonya muda. Dia baru tiga hari bekerja disini sebagai office boy."


Entah mengapa, Andin merasa semakin ada sesuatu yang telah terjadi. Dibelakang jangkauan pengawas kantor. Ya, benar. Ada sesuatu yang telah terjadi. Mengingat office boy tersebut, yang bercucuran keringat dan tangan yang gemetar.


Andin meyakini, hal tersebut, bukan terjadi karena mendengar kemarahan Ziban tadi. Karena sebelum Ziban meluapkan kemarahannya, Andin sudah melihatnya terlebih dahulu. Mata yang sayu, wajah pucat, keringat bercucur, dan tangan yang gemetar, serta rambut yang sedikit berantakan.


Andin menatap Ziban. Berusaha menyampaikan segala sesuatu yang dirasakannya.

__ADS_1


"Mas, dia baru tiga hari disini,"


Ziban menatap Andin lekat-lekat. Dan Andin menggantungkan kalimatnya. Ia tahu, Ziban tengah berusaha memahami ucapannya. Dan ia tahu, suaminya itu adalah laki-laki yang bijaksana.


"Kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan?"


Ziban tersenyum pada Andin. Lalu ia berdiri dari duduknya. Sebelum ia mendekati office boy tersebut, ia sempatkan untuk mencium kening istrinya. Andin hanya diam saja. Begitupun dengan Sekretaris Chan. Hanya saja ada satu yang meliriknya dengan tatapan aneh. Ya, Selena.


Ziban memegang pundak office boy tersebut. Dan menanyakan namanya.


"Siapa namamu?"


Tidak ada jawaban darinya. Ia masih tetap menunduk. Ziban tak mengulangi pertanyaannya lagi. Ia masih menunggu office boy itu menjawab pertanyaannya. Sembari, menatapnya. Mencoba melihatnya dengan hatinya. Karena, itu adalah permintaan dari Andin. Istrinya.


Permintaan yang tak diucapkan secara langsung. Tetapi, Ziban tahu. Bahkan sangat tahu.


Andin, Skretaris Chan, dan Selena, melihat ke arah mereka Ziban dan office boy itu. Terlihat Sekretaris Chan dan Selena yang mengernyitkan keningnya bersamaan. Entah apa yang mereka pikirkan. Sedangkan Andin hanya menunjukkan ekspresi biasa saja.


Sekretaris Chan ikut mendekati office boy tersebut. Ia merasa harus ikut campur dalam hal itu. Karena, jawaban dari pertanyaan Ziban, masih belum saja terdengar. Selena diam ditempat. Tak mengikuti Sekretaris Chan. Ia lebih memilih untuk diam ditempat, sembari terus memperhatikan.


"Tuan muda Ziban menanyakan namamu, apa kau tidak dengar? Jangan membuatnya mengulangi pertanyaannya lagi." (ucap Sekretaris Chan)


Ziban yang menyadari Sekretaris Chan yang berada didekatnya, dan mendengar ia mengucapkan sesuatu, langsung menjatuhkan tangannya yang memegang pundak office boy tersebut.


Ia menegaskan kalimat tersebut, tanpa mengalihkan perhatiannya dari office boy itu. Dan mendengar ucapan Ziban, yang menyuruhnya untuk diam, Sekretaris Chan benar-benar langsung bungkam.


Ziban membuat nafasnya teratur. Dan memelankan suaranya pada office boy tersebut.


"Yang dikatakan Sekretaris Chan memang benar. Aku tidak suka mengulangi pertanyaanku."


Office boy tersebut pun, akhirnya mengangkat suaranya. Walau pelan.


"Nama saya Bejo."


Walaupun Bejo tidak melihatnya, tetapi Ziban tetap mengangguk. Yang memang ditujukan kepada Bejo.


Ia memerintah Sekretaris Chan untuk mengambilkan kursi empuknya. Dan yang diperintah pun, segera menyeret kursi kerja empuk milik Ziban.


"Silakan duduk tuan muda."


Ziban melirik kursinya yang memang sudah berada tepat dibelakangnya itu. Ia menyeret kembali, supaya benar dekat dengan office boy yang berada dihadapannya. Bejo.

__ADS_1


Ia menyuruh Bejo untuk duduk.


"Duduklah."


Bejo tidak langsung cepat duduk. Mungkin ada rasa tidak enak yang mengganggunya. Sedangkan Andin tersenyum melihat Ziban bertindak sangat bijaksana menurutnya. Ia merasa senang. Benar-benar senang.


Kenapa dia tersenyum juga?


Senyum Andin pudar. Setelah melihat Selena yang tersenyum sama sepertinya. Dan Andin terlihat tidak menyukainya setelah melihat senyuman yang mungkin saja memiliki arti lain.


Tidak seperti Andin dan Selena. Justru Sekretaris Chan berbanding terbalik dengan ekspresi yang ditunjukan mereka berdua.


"Maaf tuan muda, lebih baik anda saja yang duduk di kursi anda."


"Sebenarnya atasannya aku atau kau? Kenapa kau yang memerintah diriku."


"Maaf, bukan memerintah, tuan muda. Tapi ini adalah kursi anda. Dahulu, anda tidak mengizinkan sembarang orang untuk mendudukinya."


Ziban mengibaskan tangannya sendiri.


"Itu dulu, Sekretaris Chan. Sudahlah kau tidak usah berusaha memerintahku lagi. Terima saja, bahwa kau adalah bawahanku. Dan aku adalah atasanmu."


Sekretaris Chan menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah saya bilang, saya tidak memerintah anda." Itulah, arti dari gelengan kepala Sekretaris Chan.


Mendengar keheningan yang tercipta di ruangan tersebut, Bejo yang mengingat bahwa Ziban tidak senang mengulangi kalimatnya pun, segera duduk. Ia hanya tidak ingin menambah bebannya, dengan tidak menuruti atasannya itu.


"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam ruangan ini, dengan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Kau tahu kan, hal seperti itu sangat tidak sopan. Terlebih, ini adalah ruangan atasanmu sendiri." (ucap Ziban)


"Ma-maafkan saya, tuan muda. Sa-saya memang bersalah karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu." (ucap Bejo sedikit gagap)


Semua yang mendengarkan ucapan Bejo pun, langsung memahami segalanya. Bahwa Bejo memang bersalah


Ziban yang sudah merasa melaksanakan tugasnya untuk membuktikan pada Andin pun, seketika membalikkan badannya. Ia mengangkat kedua tangannya pada Andin. Seperti mengatakan, "Semuanya, sudah jelas."


Andin tidak sertamerta mempercayai ucapan Bejo. Ia sudah memikirkan semuanya sejak awal. Dan semakin kesini, ucapan Bejo semakin membuat Andin semakin yakin. Ada sesuatu.


"Mas, tapi dia tidak akan..."


"Siapa yang buang angin sebau sampah busuk!"


Ucapan Andin terpotong oleh pekikan Ziban. Diiringi dengan dirinya yang menjepit hidungnya. Tidak hanya Ziban saja. Andin, Sekretaris Chan, dan Selena pun melakukan hal yang sama. Menjepit hidung mereka masing-masing. Dan hanya satu orang saja dari mereka yang tidak menjepit hidung. Ya, Bejo. Ia mengangkat suaranya tanpa diperintah.

__ADS_1


"Ma-maafkan sa-ya..."


BERSAMBUNG...


__ADS_2