
"Ya, benar! Aku akan tertawa dan bahagia jika berada didalam posisimu. Kau ingin berbahagia setelah menikah dengan Ziban?! Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi padamu!"
"Tolong maafkan aku, hiks."
Selena berlari keluar rumah dengan sesenggukan tangisnya. Mengendarai mobilnya dengan tangisan yang membanjirnya. Semua orang hanya menatapnya tak berkomentar apapun.
Arga yang memutuskan pada akhirnya. Ia mengusir Si Mbok dari rumahnya. Tanpa ia berikan pesangon untuknya. Itu akan menjadi pelajaran bagi semua pelayan di rumahnya. Dan Si Mbok masih beruntung, Arga tak memperpanjang kasusnya itu. Jika ia ingin, ia dapat melakukannya dengan mudah.
"Kita harus selalu waspada. Mungkin saja, Selena akan menciptakan masalah baru karena kekalahannya hari ini." (ucap Sekretaris Chan)
Sekretaris Chan mulai membicarakan mengenai preman yang dahulu datang meninggalkan pertanyaan. Itu memang Selena yang bertanggungjawab dibalik semuanya. Tetapi Ziban menggeleng tak menyetujuinya. Mengenai preman itu, memang benar.
Tetapi, preman yang datang, tak melakukan hal apapun. Mungkin hanya sekedar menakut-nakuti. Tanpa melukai. Hal itu hanya mungkin dilakukan oleh orang yang sebenarnya memiliki kebaikan. Pun jika menginginkan dan tega, Selena akan memilih untuk menghabisi nyawa dibandingkan bermain-main dengan pil kontrasepsi.
"Tidak Sekretaris Chan. Aku sangat mengenalnya. Dalam dirinya itu, tak ada kejahatan. Aku yakin, Selena akan menyadari kesalahannya itu. Dan tidak akan mengulanginya."
Si Mbok tiba-tiba berlutut dihadapan Andin. Ia memohon maaf atas tindakannya itu. Dan ia membenarkan ucapan Ziban tadi. Selena memang tak bermaksud merebut Ziban dari Andin. Ia hanya ingin membuat Andin dan Ziban sedikit merasakan ketidakbahagiaan. Dengan konflik yang selalu ada. Hanya itu.
Si Mbok pun mengatakan, mengenai hubungan Si Mbok dengan Selena. Dahulu sekali, ia pernah mengasuhnya hingga akhirnya Selena tumbuh dewasa dan tidak membutuhkan jasa darinya lagi.
Tetapi, tiba-tiba Selena kembali mengabari dirinya. Menanyakan kepada dirinya, apakah berkenan membantu Selena. Dan karena rasa sayangnya yang bahkan mampu menyamai ibunya Selena, ia pun dengan senang hati mengiyakan permintaan Selena. Ia memang merasakan dirinya sudah sangat sayang pada Selena.
Dalam situasi seperti itu, tentu tak ada yang mempercayai ucapannya. Memang benar, jika seseorang telah terlanjur dikenang bersalah, segala ucapannya tak akan dipercayai begitu saja. Walau ucapannya benar sekalipun.
Andin membiarkan Si Mbok terus berkata-kata. Dan meninggalkannya tanpa memberi maaf atau merespon sedikit pun. Semua menatap Andin yang mulai menaiki anak tangga.
"Sudah cepat pergi dari sini." (perintah Arga)
Si Mbok pun meminta maaf untuk yang terakhir kalinya pada semuanya. Ia lalu melangkahkan kakinya pelan. Hendak membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena ponselnya berdering sangat keras. Semua orang masih menatap dirinya. Termasuk Andin. Ia pun menghentikan langkahnya ditengah-tengah tangga.
"Halo, Non Selena. Ada apa?"
"Selamat malam. Saya ingin mengabari bahwa pemilik ponsel ini, yang bernama Saudari Selena, mengalami kecelakaan. Beberapa saksi mata mengatakan, Saudari Selena melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dan tanpa menghiraukan lampu merah. Hingga sebuah truk bermuatan menabraknya dari arah yang lain. Saya mengabari nomor anda, karena belum lama, kalian saling menelepon. Saudari Selena sudah dibawa ke rumah sakit besar Cipta Guna untuk mendapatkan pertolongan."
Duar!
Bagai disambar petir. Si Mbok menutup mulutnya sembari menangis. Semua bertanya ada hal apa yang terjadi.
"Non Selena ke-ce-la-ka-an. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit besar Cipta Guna."
__ADS_1
Si Mbok sesenggukan menangisinya. Semua orang terlihat panik. Andin pun kembali turun ke bawah.
"Rumah sakit besar Cipta Guna tidak jauh dari sini. Aku akan langsung kesana. Mari, Si Mbok. Ikut denganku."
Ziban mengajak Si Mbok untuk ikut dengannya. Andin pun ingin ikut serta. Ziban mengiyakan. Dan akhirnya, semua yang ada disitu, ikut pergi ke rumah sakit besar Cipta Guna. Terkecuali para pelayan. Dan Kumala. Arga melarangnya untuk ikut ke rumah sakit. Karena ia tengah hamil muda.
Tak berlama-lama, mereka pergi ke rumah sakit dengan menggunakan dua mobil. Andin, Ziban, Arga, dan Si Mbok dalam satu mobil. Dan Meta, Rossie, Raditya, Sekretaris Chan dalam mobil yang lain. Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Andin terus mencoba menenangkan Si Mbok yang terus menangis. Walau ia ingin menangis, tetapi ia tahan. Untuk membuat Si Mbok tidak semakin sedih.
Setelah mereka sampai di sebuah perempatan, mereka melihat keramaian. Dengan polisi yang tengah melakukan olah tempat kejadian perkara. Itu dapat disimpulkan, Selena mengalami kecelakaan disitu. Si Mbok semakin menjadi-jadi dalam menangis.
Beberapa saat berlalu. Dua mobil itu, telah sampai di rumah sakit.
"Maaf, kami dapat info, jika korban kecelakaan di perempatan dibawa ke rumah sakit ini. Dimana ruangannya?"
Tanya Ziban kepada salah satu petugas rumah sakit.
"Mohon maaf, apakah kalian keluarganya?"
"Ya, benar. Kami keluarganya." (jawab Ziban)
"Ada tiga korban dalam kecelakaan ini. Dua korban yaitu pengendara sepeda motor yang berada dibelakang truk. Bersyukur, mereka hanya mengalami luka-luka ringan. Dan satu korban lagi, yaitu pengendara mobil perempuan. Ketika sampai di rumah sakit, sudah tidak bernyawa lagi."
Si Mbok tak dapat mengontrol tangisnya. Ia sampai menjatuhkan tubuhnya tak berdaya. Ia memukuli badannya sendiri. Meta dan Rossie berusaha menguatkan. Dan Andin memeluk Ziban. Menangis dalam pelukannya sekencang-kencangnya.
Sedangkan di tempat lain. Di rumah Selena dan ibunya tinggal. Seorang wanita yang dipanggil Selena "Ibu." Membuka kamar putrinya itu. Menempelkan jemarinya ke dinding kamar, dengan terus berjalan.
Hingga tangannya bergerak ke sebuah kotak surat yang menempel di dinding dekat ranjang. Selena tidak pernah melupakan apa yang harus ia tulis di setiap harinya. Entah itu perasaannya, atau hal besar yang ia lakukan.
Ia tahu, ibunya akan pergi ke kamarnya dengan membawa kacamatanya. Membuka dan membaca surat yang Selena tulis. Termasuk hal besar yang ia lakukan pada Andin dan Ziban. Ibunya mengetahuinya.
Ia mengetahui semuanya melalui ungkapan surat dari putrinya itu. Dan ia tak pernah menyinggungnya jika mereka tengah mengobrol bersama. Ibunya tetap menyayanginya. Karena di usia saat ini, ibunya hanya menginginkan Selena bahagia dengan apapun yang ia lakukan. Walau hal salah sekalipun. Karena jika sampai ia berbicara, maka itu tidak akan berguna. Jika Selena sudah bertekad. Karena itulah, ibunya hanya diam dan mendoakan.
"Apa yang kau tulis hari ini, nak."
Ia membuka surat hari ini yang belum dibaca. Biasanya, ia akan membacanya di siang hari. Entah mengapa, ia hampir melupakannya. Tetapi ia sudah mengingatnya. Ia ingin tahu, apa yang sudah Selena lakukan hari ini. Ia membacanya di dalam hatinya.
Ibu. Aku tahu, ibu selalu membaca suratku ini.
Dan ibu membiarkan putri ibu ini, melakukan sesuai keinginanku.
__ADS_1
Aku berbahagia akan hal itu.
Tapi bu, apa ibu tahu?
Aku juga sedih melakukan keburukan pada Andin dan Ziban.
Jika aku tidak sempat berbicara, tolong ibu sampaikan maaf dariku untuk mereka berdua. Ya, bu?
Bu, apa ibu tahu...
Akhir-akhir ini, aku takut keluar dan menyetir mobil sendiri.
Dan tiba-tiba aku merasa, suatu hari nanti, aku akan kesepian.
Tanpa ibu di sampingku.
Tapi aku mohon.
Ibu jangan menemaniku pada saat itu.
Saat itu, yang entah hari ini, besok, atau lusa akan terjadi.
Aku memang ketakutan bu.
Tapi aku tidak mau, ibu menemaniku.
Aku tidak mau, ibu cepat-cepat menemuiku disana.
Selalu doakan Selena mu ini, bu.
Jaga kesehatan, ibu.
Aku menyayangimu.
Ibu Selena tersenyum setelah membaca surat itu. Yang rupanya, surat untuk dirinya. Dari sekian banyak surat yang Selena tulis, baru hari ini, Selena menulis untuk ibunya. Ibunya pun tak terlalu memahami makna tulisan Selena. Hanya satu hal yang ia tahu. Yaitu, Selena menyayangi dirinya. Dan begitupun dirinya, menyayangi putrinya. Ia tersenyum mengingat putrinya.
"Ibu tidak sabar membaca surat darimu besok, nak." (lirihnya)
BERSAMBUNG...
__ADS_1