Just One Feeling

Just One Feeling
Kepergian Nenek Jeje


__ADS_3

"Cepat mas!"


Andin berjalan lebih dahulu dibandingkan Ziban, yang terlihat malas. Itu terjadi, setelah Andin sempatkan untuk mengecek ponselnya saat perawatan belum selesai.


Ia melihat banyak panggilan tak terjawab dari Rossie. Dan tanpa berfikir panjang lagi, Andin memutuskan menyudahi perawatannya yang belum selesai. Mengingat Neneknya, yang ia titipkan kepada Rossie.


Tak dapat dipungkiri, Andin tentu menghawatirkan keadaan neneknya. Dan berharap tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Ya, ampun!


Melihat Ziban yang masih berjalan dengan malas, Andin menarik tangan Ziban. Dan sampai tepat didepan mobil, Andin benar-benar dibuat kesal dengan Ziban yang sepertinya enggan untuk pulang ke rumah. Dari wajahnya saja, Andik tahu. Bahwa tidak ada wajah kekhawatiran yang terlihat darinya.


"Sudahlah, terserah kau saja!"


Andin melepaskan genggaman tangannya. Lalu ia berjalan dengan sedikit berlari menjauhi mobil. Ziban yang langsung menyadarinya, pun segera mengejar Andin.


"Sayang, mau kemana?"


Andin membalikkan badannya.


"Cari ojek. Kau pergi saja, sana!"


Tap!


Karena Andin berhenti, Ziban berhasil meraihnya. Membuatnya tak berjalan dengan cepat seperti tadi. Tetapi ada hal aneh yang dirasakan Ziban saat itu juga. Ia merasakan sensasi kenyal pada genggaman tangan kanannya.


Andin yang terlebih dahulu menyadari. Ia melepas tangan kanan Ziban yang memegang sebelah dari dua gunung kembarnya. Ia benar-benar kesal.


"Apa-apaan sih!"


"Itu salahmu. Kenapa tadi kau berbalik badan. Yang niat awalnya akan menegang tanganmu, justru salah sasaran,"


"Ah, tapi menurutku tidak salah sasaran tidak. Tanganku memang selalu memegang hal yang benar."


Andin semakin kesal dengannya. Dan baru ia sadari, ternyata ada banyak orang disekitarnya. Andin membulatkan kedua bola matanya. Mereka semua tengah menatap ke arah Andin dan Ziban.


Lalu Andin berlari menuju mobil, sembari menutupi wajahnya menggunakan tas selempang mininya. Ia tentu sudah tidak berniat mencari tumpangan ojek lagi. Yang terdapat dipikirannya kali ini adalah, menyembunyikan wajahnya dari tatapan-tatapan mereka semua.


Ziban pun menyadari keadaan disekitarnya. Ia pun pergi ke arah mobilnya. Hanya saja, ia tetap berjalan dengan santainya. Tidak seperti Andin. Sesekali merapikan rambutnya. Ia tahu, ia tidak melakukan kesalahan. Ataupun hal memalukan dan semacamnya.


Setelah Ziban menyusul Andin masuk ke dalam mobil, Ziban terlebih dahulu mengajaknya berbicara. Hanya saja, Andin menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Menyadari, semua tatapan masih tertuju ke arah mobil.


Setelah mobil membelah jalanan, Andin langsung melupakan perihal tadi. Saat ini, pikirannya kembali ke neneknya.

__ADS_1


Ziban yang merasa dirinya salah karena tidak memahami kekhawatiran Andin terhadap Nenek Jeje pun, menyetir mobil dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya.


Selama perjalanan, mereka berdua hanya saling diam. Ziban yang terus fokus menyetir. Sedangkan Andin yang terus saja mengetuk-ngetuk pahanya. Tentu, cepat sampai di rumah adalah keinginannya saat itu.


Beberapa saat kemudian. Mobil masuk ke dalam rumah mereka. Mereka sama-sama melihat, gerbang rumahnya yang sudah terbuka tanpa ditutup kembali. Perasaan Andin semakin tidak karuan. Neneknya. Neneknya. Neneknya. Hanya itu yang ada dipikirannya.


Andin langsung berlari masuk ke dalam tanpa menunggu Ziban yang terlebih dahulu memarkirkan mobilnya.


Brak!


Andin membuka pintu utama rumahnya dengan keras karena terburu-buru. Tiba-tiba pandangannya langsung melihat Rossie, Selena, dan Sekretaris Chan yang tengah duduk di sofa.


Menyadari Andin yang baru saja masuk, Sekretaris Chan sontak saja berdiri dari duduknya. Selena pun mengikuti Sekretaris Chan. Itu adalah salah satu penghormatan menurut Sekretaris Chan.


Merasa dirinya tidak menemui neneknya, Andin bertanya pada Rossie.


"Apa yang terjadi? Dan dimana nenek?"


Ucap Andin, masih mengelilingkan pandangannya. Berusaha mencari keberadaan neneknya.


Rossie yang melihat kegelisahan Andin pun, segera menjawabnya.


"Nenek Jeje baru saja dijemput oleh pamanmu."


Andin dan semuanya mengarahkan pandangannya pada arah suara Ziban. Yang berada dibelakang Andin.


Ia menuntun Andin, untuk duduk di sofa. Setelah Andin dan Ziban duduk, Sekretaris Chan dan Selena pun ikut duduk tanpa diberi komando.


Tak menunggu Andin dan Ziban bertanya lagi, Rossie mulai menceritakan apa yang sudah terjadi. Mengenai seorang preman yang mondar-mandir didepan gerbang rumah. Dan preman tersebut yang tidak ada respon apapun setelah kedatangan Raditya.


"Dan mengenai Nenek Jeje, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba dijemput oleh paman mu, Ndin."


Rossie mengedikkan kedua bahunya. Sedangkan Andin terlihat semakin merasa bersalah, karena telah meninggalkan neneknya walau tidak terlalu lama.


Harusnya aku tidak menyusul suamiku ke kantor. Walau ada hal penting apapun, seharusnya aku tahu, bahwa nenek lebih penting saat ini.


Andin menatap kosong kebawah kakinya. Rossie kembali angkat bicara.


"Ndin, menurutku Nenek Jeje sangat kesal padamu. Melihat kejadian tadi, dan cucunya meninggalkan dirinya di rumah cucunya tersebut."


Mendengar ucapan adik kandungnya, Ziban langsung menatap tajam Rossie. Ia tahu, sebenarnya Rossie tidaklah perlu repot-repot mengatakannya. Karena Andin pun sudah mengetahuinya. Dan ia tahu, ucapan Rossie semakin membuat Andin merasa sangat bersalah.


"Hehe, iya bang, maaf."

__ADS_1


Ucap Rossie sembari menunjukkan deretan giginya pada Ziban.


Ziban menyuruh Andin untuk ke kamar saja. Dan ia berjanji akan berbicara dengan Nenek Jeje. Ziban pun meminta Rossie, untuk menemani istrinya itu. Rossie mengangguk. Menuruti perintah abangnya. Mereka berdua lalu naik ke atas menunju kamar Andin dan Ziban.


Sekretaris Chan yang melihat Andin dan Rossie sudah tak terlihat dijangkauan mata, mulai berbicara.


"Tuan muda."


"Hemm."


"Mengenai preman itu, saya merasakan keganjalan sedang terjadi."


Ziban tak memahami ucapan Sekretaris Chan.


"Maksudnya?"


"Jika preman itu berniat melakukan hal yang tidak-tidak, maka dia akan melakukannya dengan sigap. Tidak seperti yang diceritakan oleh adik anda."


Ziban menopang dagunya. Dan seketika ia pun, menyetujui ucapan Sekretaris Chan. Bahwa, mungkin saja ada yang sengaja mempermainkan. Seorang preman yang berniat buruk, tidak akan hanya mondar-mandir didepan gerbang saja. Terlebih, dengan kedatangan Raditya, justru preman tersebut langsung pergi meninggalkan.


Dan jika preman itu ingin masuk ke dalam rumah, pun akan sangat mudah baginya. Karena tidak ada yang menjaga rumah itu. Kali ini, Ziban baru menyadari kesalahannya karena keputusannya dahulu.


"Kau benar, Sekretaris Chan. Setelah ini, tolong kau hubungi semua orang yang bekerja di rumah ini. Mereka harus langsung segera kembali dan bekerja lagi disini." (ucap Ziban)


Sekretaris Chan mengangguk.


"Baik, tuan muda."


Tiba-tiba ponsel Sekretaris Chan berdering. Ziban menyuruh Sekretaris Chan mengangkatnya. Karena, ia tak tahan dengan nada dering yang terus saja berbunyi. Sekretaris Chan kembali mengangguk.


Menunggu Sekretaris Chan mengangkat teleponnya, Ziban mengecek ponselnya. Sedangkan mata Selena melihat ke arah Sekretaris Chan yang tengah berbicara dengan seseorang. Selena mengangkat satu alisnya dan tersenyum menyeringai.


"Maaf tuan muda, tiba-tiba di kantor ada perubahan meeting penting dari pihak sana secara mendadak."


Ziban mengernyitkan keningnya. Sebelumnya, hal seperti itu tidak pernah terjadi. Kecuali, sebaliknya.


"Untuk meeting, kau saja yang menangani. Aku akan mengurus mengenai Nenek Jeje. Istriku pasti sangat sedih. Dan mengenai semua pekerja di rumah ini, aku tidak mau tahu, pokoknya semua harus sudah ada disini hari ini juga."


Sekretaris Chan diam sesaat. Mengingat meeting penting itu, akan berlangsung lebih lama tidak seperti biasanya. Dan besar kemungkinan, akan ada sesuatu penting di kantor tak terduga lainnya setelah meeting. Lalu ia memandang Selena.


"Bagaimana jika Selena saja yang mengurus semua pekerja di rumah ini, tuan muda?"


Ziban mengedikkan kedua bahunya acuh. Seakan menyerahkan semuanya terserah pada Sekretaris Chan. Lagi-lagi, Selena tersenyum menyeringai. Entah apa maksud dari senyumnya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2