Just One Feeling

Just One Feeling
Mata Kemarahan


__ADS_3

Keesokan harinya. Matahari sudah menunjukkan dirinya sepenuhnya. Malam yang terasa begitu berat bagi sepasang suami istri itu, akhirnya berlalu juga. Ziban yang memilih untuk menginap di hotel. Dan Andin yang masih mengurung dirinya di kamarnya.


Entah bagaimana nantinya mereka akan menyelesaikan masalahnya. Yang pasti, semua pasangan memiliki masalahnya masing-masing. Begitupun dengan tingkat kebijakan dan keegoisan . Entah, akan dilanjutkan, atau cukup berhenti sampai disini saja.


Tepat didepan kantor. Terlihat mobil yang mengerem disana. Itu mobil Sekretaris Chan. Dan Sekretaris Chan lah yang turun dari mobil terlebih dahulu. Membukakan pintu mobil untuk Ziban.


Ziban pun turun dari mobil dengan wibawanya yang selalu terlihat. Ia merapikan dasi yang melingkar di kerah kemejanya. Dengan luaran jas berwarna abu-abu. Hari ini, ia terlihat sangat rapi.


"Hari ini, kau tidak perlu ke kantor. Selesaikan urusan mengenai kasus Bejo. Kau ingat kan? Dua ibu-ibu paruh baya yang datang ke rumah. Selidiki dan cari tahu kebenarannya semua. Apakah ucapan mereka berdua adalah benar. Atau tidak. Jika benar, selesaikan hari ini juga. Apa yang terbaik."


Sekretaris Chan mengangguk memahami. Dalam hatinya, ia mengagumi keputusan Ziban. Yang memilih, untuk mengumpulkan segala informasi, sebelum mengiyakan.


"Tapi tuan muda. Apa anda tidak akan kerepotan jika saya tidak datang ke kantor? Maksudnya, saya pasti bisa menyelesaikan tugas tadi, dengan cepat. Dan segera kembali ke kantor ini."


"Kau meremehkan diriku? Kau lupa, aku adalah bos mu?"


Sekretaris Chan tak bermaksud untuk membuat Ziban merasa diremehkan. Dan itu, memang terdengar jelas dari kata-kata Sekretaris Chan. Sejatinya, ia hanya tidak ingin jika Ziban kerepotan. Dan selain itu, Sekretaris Chan memang terbiasa mengerjakan semuanya dengan cepat.


"Maaf tuan muda, maksud saya..." (ucap Sekretaris Chan tergantung)


Ziban menyelanya terlebih dahulu.


"Iya, iya. Aku tahu maksudmu, Sekretaris Chan."


Tiba-tiba, ekor matanya mendapati Selena yang tengah berjalan ke arahnya dan Sekretaris Chan. Ziban menyeringai tipis.


"Lagipula, apa kau kehilangan ingatan?"


Sekretaris Chan tak mengerti apa yang dibicarakan Ziban.


"Sekretarisku bukan kau saja. Ada Selena di kantor ini. Dan dia sangat dapat ku andalkan karena kinerjanya yang bagus dan profesional."


Belum benar-benar sampai di dekat Ziban dan Sekretaris Chan, tiba-tiba Selena menghentikan langkahnya. Hatinya begitu berdesir-desir. Telinganya baru saja mendengar sesuatu yang membahagiakan. Ia lalu berbalik badan. Membatalkan niatnya untuk mendekat ke Ziban dan Sekretaris Chan.


Ia menutupi mulutnya dengan map berisi berkas-berkas yang tengah dipegangnya. Senyumnya begitu lebar. Ia berjalan dengan langkah cepat. Dengan sesekali menggigit bibirnya sendiri dibalik map berkas-berkas.


Tanpa berjanjian terlebih dahulu, Ziban dan Sekretaris Chan menatap punggung Selena hingga hilang dari jangkauan mata.


"Sudahlah. Turuti saja perintahku. Dan jika tugas dariku tadi sudah selesai dengan cepat sekalipun, itu lebih bagus. Karena apa? Karena, setelah itu, aku membebaskan mu, hari ini. Kecuali malam. Kau boleh menemui kekasihmu. Bebas."


"Tapi hari ini Dik Meta kerja full seharian, tuan muda."

__ADS_1


"Memangnya aku peduli dengan masalahmu? Tentu saja tidak. Aku ini bos mu. Tidak tahu diri sekali!"


Ziban melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor, meninggalkan Sekretaris Chan. Yang ditinggal pun, segera masuk ke dalam mobilnya. Akan mengerjakan tugas dari Ziban. Dengan menyelidikinya sendiri dengan cepat.


Dik Meta, hari ini aku akan mengerjakan tugas dengan cepat. Dan akan memintamu untuk berkerja separuh hari saja. Tentu setelah aku meminta atasanmu, untuk mengizinkanmu.


Bukan meminta. Tapi memaksa.


Beberapa jam kemudian, Sekretaris Chan menepikan mobilnya. Ia sudah sampai di alamat tujuannya. Untuk memastikan alamatnya adalah benar, Sekretaris Chan mengeceknya sekali lagi.


Dan lagi-lagi benar. Ia memang tidak pernah salah selama ini. Walau, ia hanya membaca satu kali pun atas sebuah informasi.


Ia menghembuskan nafasnya. Mobilnya tentu tak dapat masuk ke dalam gang sempit dengan permukiman padat penduduk. Ia mengedikkan kedua bahunya.


Yaps. Mau tidak mau.


Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan yang baru saja masuk. Dari Ziban. Ia membacanya.


"Ada satu berkas penting yang ada di rumah. Berkas itu sangat dibutuhkan hari ini. Ambilkan dan serahkan padaku."


Pesan kedua.


"Walau kau berada di planet mars sekalipun, cepat bergegas ke rumah. Jika tidak, kau yang akan menanggung kerugian atas keterlambatan datangnya berkas itu."


Apa tuan muda mengerjai ku?!


Beberapa jam bahkan sudah ia habiskan diperjalanan. Dan ia harus memutar balik lagi untuk mengambil berkas. Tentu rencananya untuk menghabiskan waktu bersama Meta pupus sudah.


Beberapa saat cepat berlalu. Sedangkan di kantor, Ziban tengah membaca laporan keuangan kantor keseluruhan dari Selena. Dengan Selena yang masih menunggu. Setelah beberapa saat, Ziban telah selesai membacanya.


"Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Silakan bekerja kembali." (ucap Ziban pada Selena)


"Ziban, boleh aku berbicara?"


"Tentu."


"Apa kau sedang ada masalah?"


"Apa menurutmu begitu?"


Selena mengangguk.

__ADS_1


"Memangnya wajahku terlihat sedang ada masalah?


Selena menggeleng pelan.


"Kau mungkin menyembunyikan masalah mu. Melarang wajahmu untuk berekspresi sedih. Tapi aku tahu, hatimu sedang tidak baik-baik saja."


Ziban terdiam sesaat. Mengingat fakta yang terbongkar semalam. Fakta yang membuatnya sedih dan kecewa. Melihat raut wajah Ziban, Selena kembali berbicara.


"Ceritakan saja semuanya padaku. Itu akan membuat hatimu merasa lebih tenang."


"Kau yakin?"


Selena mengangguk mantap. Ziban pun mulai menceritakan sesuatu yang mengganjal dirinya. Mengenai permasalahan antara dirinya dan Andin. Hingga, membuatnya keluar dari rumah dan memilih menginap di hotel. Semuanya ia ceritakan. Tak ada yang terlewatkan. Mengenai, kekecewaan dirinya atas Andin. Istri yang sangat dicintainya.


Selena tiba-tiba memberanikan diri untuk meraih punggung tangan Ziban. Dan mengelusnya. Ziban pun diam saja.


"Menangis lah. Itu akan sedikit meredakan kekecewaan mu."


"Aku ini laki-laki, Selena. Aku tidak menangis didepan perempuan."


Tiba-tiba, pintu ruangan Ziban terbanting ke tembok dengan sangat keras.


"Wah, wah. Hebat sekali menantuku ini."


Ziban sontak saja melepaskan punggung tangannya dari tangan Selena. Ia tidak mengira, Arga akan datang menemuinya. Benar-benar diluar dugaan. Tetapi apalah daya. Semua hal-hal yang tidak terduga, memang sangat mungkin terjadi. Harusnya, ia memikirkan hal itu lebih awal. "Harusnya". Sebuah, kata yang pasti terucap setelah adanya penyesalan.


Arga melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Ziban. Ziban pun langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia melihat amarah dalam mata Arga. Tetapi ia tahu, ia akan menghadapinya dengan bijak, melihat Selena ada didepan matanya juga. Ia tidak mau, semuanya akan berantakan. Tidak mau.


Ziban yang ingin berbicara, tiba-tiba terkejut. Arga menarik keras kerah kemejanya. Bukan hanya kemarahan yang terlihat dimata Arga. Tetapi kemurkaan yang berapi-api. Dalam cengkeraman Arga, Ziban menelan salivanya.


"Maaf tuan, lepaskan Ziban!"


Ziban terkejut mendengar Selena tiba-tiba membentak Arga.


"Diam kau wanita tidak tahu malu!"


Jawab Arga tak kalah dengan Selena. Ziban pun menggelengkan kepalanya setelah melihat Selena yang hendak membelanya kembali. Akhirnya Selena hanya bungkam menuruti Ziban. Dan Arga, semakin mempererat cengkeraman untuk Ziban.


"Astaga kakek peot! Apa kau tidak sadar dengan usiamu! Ziban bisa saja melawanmu. Tapi dia urungkan, karena menghormati usiamu!"


Ucap Selena kembali dengan nada yang sangat tinggi. Pada akhirnya, ia tidak bisa menahan diri untuk membela Ziban. Dan Ziban pun kembali menelan salivanya berat. Melihat Arga yang mengalihkan matanya. Menatap Selena dengan mata tajamnya.

__ADS_1


Harusnya kau diam saja, Selena. Kau tidak tahu sedang membentak siapa. Dia bahkan mampu melakukan segalanya melebihi ambisi ku.


BERSAMBUNG...


__ADS_2