
Suasana didalam kantor stabil terkendali. Para pekerja bekerja dengan bijak. Dengan lebih banyak bekerja, dibandingkan berbicara. Gambaran baik seperti itu, adalah cerminan dari sang pemimpin. Tentu saja.
Kebanyakan orang diluar sana, tidak menyukai pekerjaan mereka. Yang lebih mengejutkan, rupanya tidak sedikit yang mengutuk tempat mereka bekerja. Beragam-ragam alasan tentunya. Yang pasti, semuanya berawal dari yang memimpin. Menemukan pemimpin ya baik, adalah hal yang perlu dibanggakan.
Begitupun dengan semua karyawan yang bekerja di perusahaan milik Ziban. Mereka mendapatkan anugerah dengan bekerja di perusahaan miliknya. Kecuali beberapa yang memang tidak tahu caranya bersyukur.
Pemimpin perusahaan itu, tengah berjalan berkeliling. Mengamati karyawan karyawatinya disaat jam kerja. Kegiatan seperti itu, memang kerap ia lakukan dengan rutin. Dengan catatan, tak ada pekerjaan lainnya. Dengan kata lain, sedang sedikit senggang.
Semua karyawan yang berpapasan dengannya, menundukkan kepalanya. Dan beberapa yang lainnya, menyapa atau hanya sekedar tersenyum. Menandakan, mereka menghormati Ziban. Walau Ziban tidak membalas mereka sekalipun. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka yang menghormatinya.
Kejadian seperti itu, memang sangat simpel dan mudah dijelaskan. Seperti orang yang mencintai dalam diam. Walau yang dicintainya tak memberi respon baik sekalipun, pecinta sejati, akan tetap memilih mencintainya. Itu karena si pecinta merasa, sang pujaan berhak dicintai. Simpel. Hal itu bermakna sama dengan Ziban dan karyawannya.
"Tuan muda, saya membawa berkas yang anda minta."
Suara Sekretaris Chan menghentikan langkah Ziban. Ia membalikkan badannya.
"Letakkan dimeja. Itu berguna untuk besok."
Sekretaris Chan merasa dibohongi. Dan faktanya memang seperti itu. Tapi tak ada yang perlu diperpanjang lagi. Lagipula, ia memang tak terbiasa protes. Terlebih, pada Ziban.
Ia meminta izin untuk meletakkan berkas dimeja ruangan Ziban. Tetapi, Ziban menahannya sebentar.
"Darimana saja, kau? Apa kau tahu, papah mendatangiku dengan bola mata amarahnya yang berapi-api?"
"Saya tahu, tuan muda. Itulah yang akan saya ceritakan setelah meletakkan berkas ini. Dan sebaiknya, anda ikut dengan saya ke ruangan anda, tuan muda. Disini, sangat terbuka untuk membicarakan hal yang sangat penting."
Ziban melihat ke kanan kiri. Memang benar yang dikatakan Sekretaris Chan. Semua karyawannya bisa lewat kapan saja ke tempat mereka berdiri.
"Kau memerintah ku untuk mengikuti mu? Berani sekali!"
Ziban mendengus. Ia lalu melangkah ke depan. Yang artinya, menuju ke arah ruangannya. Sekretaris Chan pun berbalik badan. Mengikuti Ziban dari belakang.
Atasan dan bawahan itu pun, telah sampai di ruangan tujuan mereka. Ya, ruangan Ziban. Sekretaris Chan menutup pintu rapat-rapat. Lalu ia meletakkan berkasnya di meja. Ziban sudah duduk ditempat duduknya. Tanpa duduk terlebih dahulu, Sekretaris Chan mulai mengawali pembicaraannya. Tanpa berbasa-basi.
"Saya datang ke rumah untuk mengambil berkas, sesuai perintah dari anda. Ketika saya baru saja mengetuk pintu, pintu pun langsung dibuka. Belum sempat saya berkedip, saya sudah ditangkap anak buah tuan besar Arga."
__ADS_1
"Kau?"
"Ditangkap?"
Sekretaris Chan mengangguk.
"Lemah."
Nada ejekan yang keluar dari mulut Ziban. Walau hanya satu kata, rupanya Sekretaris Chan tak terima.
"Mereka berlima, tuan muda."
Ziban hanya mengedikkan bahunya. Acuh. Anak buah yang tengah dibicarakan sekretarisnya itu, sudah mengawal Arga ketika datang ke kantornya.
"Lanjut." (ucap Ziban)
"Saya diikat oleh mereka. Setelah saya tak mampu berkutik sedikitpun, tuan besar menemui saya."
Tak dapat dipungkiri, Ziban sudah berada di level "Penasaran."
"Apa yang papah lakukan?"
"Karena saya merasa kondisinya akan semakin buruk jika dibiarkan, saya pun menceritakan semuanya. Karena, tuan besar bisa melakukan apa saja."
Ziban menyayangkan tindakan Sekretaris Chan.
"Kau mengatakan semuanya? Termasuk aku yang akan memberi kejutan pada istriku? Karena sebentar lagi istriku berulang tahun?" (tanya nya bertubi-tubi)
"Iya tuan muda. Dan terutama mengenai pil kontrasepsi dan nyonya muda yang bertemu dengan laki-laki tanpa sepengetahuan anda. Saya menjelaskan pada tuan besar, atas putrinya yang tidak bersalah. Ada dalang dibalik semuanya."
"Kau kan tahu, di rumah itu ada mata-mata?!" (protes Ziban)
"Tenang saja tuan muda. Saya pastikan, orang itu tidak sedang ada di rumah."
Sekretaris Chan terus menceritakan semuanya. Tidak tertinggal, mengenai Arga yang tidak memercayai semua penjelasannya. Akhirnya, Arga dan lima anak buahnya menemui Ziban dikantornya. Dan itu memang terjadi. Hingga akhirnya, Arga kembali pulang ke rumah, dan melepaskan Sekretaris Chan.
__ADS_1
Ziban teringat akan kejadian tadi. Dimana, Arga yang tiba-tiba meninggalkan dirinya dan Selena tanpa berkata. Terlebih, setelah Selena meninggikan suaranya. Ziban khawatir akan hal itu. Alasannya bukan karena khawatir pada Selena. Tetapi lebih menjurus ke papah mertuanya itu. Yang mungkin saja, akan melakukan hal diluar kendali.
"Dan kau sudah mengatakan pada papah, siapa dalangnya?"
Sekretaris Chan mengiyakan.
Hemm, pantas saja.
Dan lagi, memorinya masih mengingat tentang Arga yang mencengkeram kerah bajunya dengan keras. Ia pun mendiskusikannya dengan Sekretaris Chan. Sekertaris Chan menanggapinya.
Mungkin tuan besar memiliki dendam terpendam.
"Mungkin tuan besar hanya berakting saja. Karena saya sempat memintanya, untuk mengikuti rencana anda. Seperti saya dan anda. Berakting dihadapan nyonya muda. Seakan-akan, anda benar-benar menyalahkan nyonya muda."
Ziban tersenyum. Mengingat malam kemarin. Sekretaris Chan yang datang ke kamarnya. Ia memberikan hasil uji pil yang diberikan oleh Ziban. Dengan hasil, pil kontrasepsi. Yang artinya, pil penunda kehamilan.
Ziban berakting terkejut dengan hasil yang diberikan oleh Sekretaris Chan. Walau sebenarnya ia sudah diberitahu melalui pesan. Ziban dipenuhi dengan kemarahan dan kekecewaan. Andin terlihat akan berusaha menjelaskannya. Tetapi, Ziban tak memberikannya waktu untuk berbicara sedikitpun. Itu memang bagian dari rencananya.
Itu ia lakukan, karena ia tahu, ada seseorang yang mengawasi. Ia benar-benar membuat semuanya terjadi apa adanya. Dan tujuan utamanya, mengecoh dalang yang menggangu kebahagiannya.
Saat Ziban hanyut dalam pikirannya kemarin malam, tiba-tiba, sosok Andin sudah ada didepan matanya. Ziban tersenyum melihatnya, yang menatapnya dengan tatapan datar. Ia lalu meraih jemarinya. Menggenggamnya erat seakan tak ingin melepaskannya.
"Maafkan suamimu ini, istriku sayang. Aku tidak memberitahumu, karena kau tidak bisa berakting sebaik diriku ini. Kau pasti akan penuh emosional setelah mengetahui semuanya. Terlebih kau seorang wanita."
"Aku berjanji, akan menyudahi semuanya sebelum kau berulang tahun."
"Dan kau harus memaafkan suamimu ini. Karena jika tidak, suamimu ini akan menciumimu dengan brutal. Kau pasti takut kan, sayang?"
"Bagaimana? Kau mau memaafkan suamimu ini, atau tidak?"
Apa tuan muda mengira, aku adalah istrinya? Aku harus menyudahinya. Sebelum tuan muda menciumiku.
"Maaf tuan muda. Ini sekretaris anda."
Duar!
__ADS_1
Sosok Andin tiba-tiba menghilang. Wajah cantik yang tergantikan dengan Sekretaris Chan dimatanya. Ziban melepaskan tangannya dengan kasar. Lalu ia menatap sinis Sekretaris Chan sembari membersihkan tangannya menggunakan tissue.
BERSAMBUNG...