
40 hari telah berlalu. Duka masih terasa bukan hanya di rumah duka saja. Semua yang mengenalnya, masih tidak mempercayainya. Kepergian Selena dari dunia untuk selama-lamanya. Kepergiannya, yang secara tiba-tiba.
Memang benar, jika seseorang meninggal setelah melalui panjangnya rasa sakit, mungkin orang-orang akan lebih mudah menerimanya. Tetapi ini berbeda. Cara meninggalnya yang tragis akan selalu teringat dalam memori.
Kejadian pada malam itu tak mudah bagi Ibu Selena. Hingga ia masih menganggapnya Selena ada di dekatnya. Setelah semuanya berangsur membaik, ibu Selena menceritakan pada Si Mbok. Tentang dirinya yang tidak berbohong. Saat ambulans datang membawa jenazah putrinya itu.
Ia sangat yakin, putrinya itu sudah masuk kamar bersamanya. Dan ibu Selena dalam kesadaran sepenuhnya. Si Mbok pun mempercayainya. Hal diluar nalar seperti itu, memang kerap terjadi. Terlebih, Selena yang sangat menyayangi ibunya itu. Karena, ibunya itu adalah satu-satunya support sistem terbaik bagi dirinya. Mungkin, Selena hanya ingin mengucapkan perpisahan terakhirnya.
Sekarang tidak ada lagi. Tidak ada lagi Selena yang selalu didukung oleh ibunya. Tidak ada lagi.
Setiap hari, ibu Selena, mendapatkan kekuatan dari Si Mbok. Mereka yang saling menguatkan memang mampu kuat dalam menghadapinya.
Dan ibu Selena memilih untuk mengikhlaskannya. Menyingkirkan jauh-jauh, rasa ingin menangisi putrinya. Ia merasa, putrinya itu, akan berbahagia jika ia tak menangisinya dengan terus menerus.
Hari sebelumnya, ia sudah mengatakan permintaan maaf dari putrinya itu untuk Andin dan Ziban, yang memang datang ke rumahnya. Mereka berdua sudah memaafkan segala perbuatannya dengan ikhlas. Ibu Selena lega mendengarnya. Dan mereka bersepakat, akan menjaga silaturahmi diantara mereka.
......................
"Sayang!"
Ziban memanggil Andin dengan sedikit menekan suaranya.
"Iya mas, sabar sebentar!"
Jawaban Andin terlihat lebih keras dibandingkan Ziban. Lalu beberapa saat, terlihat ia yang keluar dari kamar mandi. Dengan hanya, memakai handuk yang menutupi tubuhnya. Rambut indahnya yang digulung dalam handuk yang berukuran lebih kecil.
"Ayo cepat mandi. Katanya sudah terlambat berangkat ke kantor." (ucap Andin)
Andin langsung duduk didepan meja riasnya. Berniat akan mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum mengambil pakaian. Ziban memperhatikannya sejak Andin keluar dari kamar mandi. Andin yang memakai handuk kecil, terlihat indah dipandang. Menurutnya.
Andin memang jarang memakai handuk kecil yang hanya menutupi bagian dadanya sampai atas lutut. Andin lebih terbiasa dengan baju handuk. Dan itu hal yang masih baru bagi Ziban.
Ziban datang memeluknya dari belakang. Memejamkan matanya. Merasakan aroma wangi yang semerbak di tubuh istrinya itu.
"Hemm, tubuh istriku ini sangat wangi."
Ucapnya sembari memainkan jemarinya di tubuh Andin meraba-raba. Andin sontak melepaskannya.
"Tentu saja. Aku sudah mandi. Memangnya kau?"
"Sudah, mandi sana."
"Bermesraan dengan istri sendiri pun tidak boleh. Dasar istri pelit!"
__ADS_1
Wajahnya terlihat masam. Andin terkekeh geli dengan tingkahnya. Andin lalu mengecup bibir Ziban hingga dengan seksi. Kecupan manis dipagi hari dengan mengeluarkan suara "Emuah."
"Ahh sayang..." (rintih Ziban)
Ziban terlihat kegirangan setelah mendapatkan kecupan dari istrinya. Andin adalah alasan terkuat mengapa Ziban bersemangat di setiap harinya.
"Sayang lagi...ayolah." (pintanya)
Ziban sampai menghentakkan kakinya pelan. Pertanda, ia ingin mendapatkan apa yang ia pinta.
"Kau sudah terlambat, kan? Cepat mandi dan segeralah pergi ke kantor."
"Justru karena sudah terlanjur terlambat, sayang. Aku mau dikamar saja dengan istriku."
Ziban memeluk Andin kembali. Andin tak menolaknya. Dalam pelukan itu, terlihat tangan kanan Ziban yang bergerak. Mencari-cari sesuatu. Ya, ketemu!
Ia mulai menarik ujung handuk yang melilit di bagian dada istrinya.
"Andin sayang, mamah sudah siap. Mamah tunggu di bawah, ya?"
Seketika Andin mendorong tubuh Ziban. Ia kembali memasang lilitan handuknya yang sudah mulai longgar.
"Iya, mah. Sebentar lagi."
Ziban baru mengingatnya. Mengenai Andin yang akan menemani Kumala memeriksa kandungannya ke dokter Ferana. Dokter Ferana memang sedikit sibuk. Jika tidak, maka dokter Ferana lah yang akan datang ke rumah itu untuk memeriksa Kumala.
Dan mengenai Arga. Ia tengah ada pekerjaan penting akhir-akhir ini. Hingga Arga tak bisa menemani Kumala. Akhirnya, Andin lah yang menemani Kumala.
"Pantas saja, istriku ini mandi di pagi hari, sebelum suaminya mandi. Biasanya kan hanya mandi sebulan sekali."
Ucap Ziban sembari membuang wajahnya ke segala arah. Berniat meledek Andin.
Andin menggeram.
"Memangnya apa masalahnya. Mandi tidak mandi, aku akan tetap wangi. Karena sudah dari sananya!"
Andin menjulurkan lidahnya. Tidak menerima kekalahan tentunya. Lalu ia mendorong paksa tubuh Ziban untuk ke kamar mandi dan segera mandi.
"Baiklah, suamimu ini akan mandi dan berangkat ke kantor. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Itu..."
__ADS_1
"Sebentar saja..."
Ziban menunjuk dua gundukan di dada Andin.
Andin mengambil handuk untuk Ziban tanpa menggubris permintaannya. Ia tahu, sebentar yang dimaksud oleh Ziban adalah sampai dirinya merasa puas. Itu sudah menjadi kebiasaannya.
Andin memberi ancang-ancang kepada Ziban untuk menangkap lemparan handuk darinya. Ziban pun menangkapnya dengan baik.
"Senangnya, punya payudara!" (ucap Ziban menggerutu)
"Eh, kau juga punya kan, mas?"
"Tapi punyaku tidak berbuah besar, seperti punyamu."
Ziban masuk ke dalam kamar mandi. Andin tersenyum geli melihat suaminya yang menggerutu.
......................
Hari ini, Meta mendapatkan jatahnya untuk libur. Terlihat gadis itu, yang tengah mengikat tali sepatunya. Di pagi hari ini, ia sudah memakai rok plisket warna mustard dipadu dengan kaos polos warna abu-abu. Serta, kerudung segiempat untuk menutupi bagian dadanya pula. Dan ada satu lagi. Tas yang ia gendong di punggungnya.
Meta berniat akan jalan pagi hari ini. Ia sangat menyambut dengan bahagia di hari liburnya itu. Beberapa saat, ia terlihat berlari. Dan beberapa saat pula, ia terlihat jalan terbiasa. Sebelum-sebelumnya, ia memang tidak pernah jalan pagi seperti yang lainnya. Ini adalah pengalaman pertamanya. Oleh karena itu, baru jalan sebentar saja, ia sudah mulai kelelahan.
Ia berhenti sejenak di tempat yang cukup ramai yang dilalui oleh orang yang berjalan sehat, berlari, bersepeda, dan yang lainnya.
"Huh. Aku tidak tahu, jalan pagi akan terasa sangat melelahkan dan menguras keringat. Untung saja, aku membawa botol minum air putih."
Meta duduk dipinggir jalan. Ia mulai membuka botol minumnya. Dan meminumnya beberapa tegukan. Setelah ia menutup botolnya, tiba-tiba tiga perempuan yang tengah berlari, berhenti mendekatinya. Penampilannya, sangat kekinian. Meta sebenarnya mengetahui dan mengakui akan hal itu, tetapi Meta tak mampu menyamainya. Terlebih memakai celana. Meta tidak bisa.
"Halo, apa kau sedang tersesat? Disini kan, tempatnya berolahraga."
Ucap salah satu dari mereka bertiga.
"Benarkah? Pantas saja, disini sangat ramai yang berolahraga. Aku juga sedang jalan pagi disini." (jawab Meta)
Seketika mereka bertiga tertawa. Kemudian salah satu dari mereka kembali berbicara.
"Ups, kami mengira, kau adalah perantau yang tersesat disini."
Tawa mereka bertiga kembali pecah. Meta hanya diam saja. Entah mengapa, lidahnya sangat susah untuk berbicara. Ia menerima mereka bertiga yang menertawai dirinya. Dengan diam dan menunduk malu.
"Ada hak apa kalian menertawai Dik Meta ku, hah?!"
Tiga perempuan itu pun berhenti tertawa. Mereka membalikkan badannya secara bersama-sama. Melihat, siapa yang berucap dengan sangat keras. Sedangkan Meta hanya melirikkan matanya sebentar. Lalu kembali diam dan menunduk.
__ADS_1
BERSAMBUNG...