
Keluarga besar tengah berkumpul. Kumala, Arga, bayi kecil mereka, ibu Ziban yaitu Helen, nenek Jeje serta paman dan bibi Andin. Mereka tengah bercanda ria bersama. Serta Ibu Selena dan Si Mbok pun ikut diundang untuk berkumpul bersama. Tetapi, hanya Andin dan Ziban yang tak ikut berkumpul di keluarga itu.
Hal itu terjadi, setelah Andin meminta pada Ziban akan sesuatu. Mungkin sesuatu itu, adalah bagian dari keinginan ibu hamil.
Dan jelas saja, Ziban sudah pasti mengabulkan. Andin menginginkan berlibur ke luar negeri. Dan dengan dua pasangan lainnya. Yaitu, Meta dan Sekretaris Chan, juga Rossie dan Raditya. Beruntung, Meta dan Rossie juga antusias setelah diajak berlibur ke luar negeri.
Tidak ada pilihan lain bagi para suami, selain mengiyakan. Itu mereka lakukan, atas bukti cinta pada istri. Dan ya, calon bayi mereka. Kebanyakan dari sosok ayah maupun calon ayah, akan berusaha menyulap dirinya sendiri menjadi suami yang siaga dan baik, jika sang istri sedang mengandung. Kebanyakan. Untuk selain itu, hanya Tuhan yang tahu.
Swiss, adalah pilihan liburan mereka. Suasana pegunungan yang indah, menjadi pilihan. Andin, Meta, dan Rossie sangat bersemangat membayangkan berlibur disana. Entah mengapa, selera keinginan mereka tiba-tiba sama. Dan karena itulah, mereka menjadi lebih dekat. Tiga ibu hamil yang selalu bersama. Sangat menarik.
Tiga pasangan suami istri itu, baru tiba di bandara. Dengan Andin, Meta, dan Rossie yang terkadang saling menggandeng tangan satu sama lain. Pemandangan itu lebih terlihat sebagai anak kecil, bukan ibu hamil.
Sedangkan Ziban, Sekretaris Chan, dan Raditya berjalan di belakang istri mereka. Sekretaris Chan yang memakai pakaian resminya seperti biasa. Dengan tatapan yang lebih sering lurus ke depan. Raditya yang memakai kemeja dan celana panjang. Ia memasukkan tangan kirinya ke saku celana. Terlihat ia yang mempercayai dirinya sendiri, bahwa ia berjalan sangat cool.
Dan sesekali Raditya bersiul di tengah-tengah keramaian. Mungkin dalam bayangannya, tempat yang dilalui hilir mudik keramaian sama sekali tak dianggap. Semua ia lihat dengan santai layaknya di taman yang indah dan tentram.
Ia menghentikan siulannya.
"Ya ampun, apa yang aku lakukan?!"
Semuanya pun terkejut dengan ucapan Raditya yang keras. Mereka menatap Raditya dengan heran.
"Maafkan aku semua. Tiket pesawatku dan Rossie ketinggalan. Beb, kita pulang saja, ya? Nanti kita akan berlibur berdua saja."
Ucapnya sembari membuat Rossie mengerti dengan ucapannya. Tiket pesawat mereka berdua, ketinggalan. Sedangkan tidak ada waktu lagi, untuk mengambil tiketnya. Pilihan terakhir, adalah tidak mengikuti liburan bersama dua pasangan yang lain. Begitulah maksud Raditya.
"Tiket kalian berdua, saya yang menyimpan." (ucap Sekretaris Chan)
Raditya menatap Sekretaris Chan tidak suka. Tentu saja. Raditya memang sengaja meninggalkan tiket mereka berdua di sofa rumah Andin. Itu terjadi, ketika mereka semua berkumpul di rumah tersebut.
Dari awal, memang Raditya lah yang paling menentang keputusan untuk berlibur bersama di Swiss. Sebenarnya bukan karena apa, tetapi karena dengan siapa. Ia memang hanya menginginkan berlibur dengan Rossie saja. Dan kemungkinan, Ziban dan Sekretaris Chan pun memikirkan hal yang sama. Hanya saja, mereka berdua memilih untuk menuruti istri mereka.
Dan pada akhirnya, rencana Raditya berakhir gagal. Sekretaris Chan membuat dirinya pasrah. Raditya menghembuskan nafasnya berat. Kali ini, ia benar-benar harus menjalani liburannya dengan suka hati. Jika tidak, maka liburannya akan berakhir percuma.
__ADS_1
Baiklah, Raditya. Mari nikmati liburannya mulai dari sekarang.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Menunggu penerbangan mereka ke Swiss. Raditya tiba-tiba melirik Ziban. Yang dilirik pun merasa tidak terima.
"Kenapa lihat-lihat terus, heh?!"
Ziban menyadari, Raditya terus meliriknya terus.
"Ayolah, kakak ipar. Tidak perlu kau bawa perasaan. Bagaimana aku tidak melirik mu terus? Lihatlah apa yang kau pakai."
Raditya menunjuk pakaian yang Ziban pakai. Ziban tak mendengarkannya. Ia memalingkan wajahnya ke sisi lain. Tetapi, Raditya justru tertawa kecil. Walau tertawa kecil sekalipun, Ziban tidak akan menerimanya.
"Ini karena keinginan istriku!" (ucap Ziban menahan suaranya)
Ia sampai menginjak kaki Raditya. Hanya saja, tidak keras.
"Istrimu memang aneh. Bersyukur, Rossie tidak seperti itu, haha."
Jawab Raditya lirih. Sembari melihat Andin, Meta, dan Rossie yang tengah asik mengobrol. Untuk memastikan, Andin tidak mendengarnya.
Ziban mendengarkan ucapan Raditya kali ini. Ia melihat dirinya sendiri dari bawah. Dengan sendal jepit, celana boxer, kaos putih polos, dan juga topi.
"Biarkan saja. Apapun yang aku pakai, tidak akan menghapus fakta bahwa aku adalah laki-laki yang sukses."
Ucapnya membela dirinya sendiri. Padahal, tak dapat ia elak, ia pun merasakan sedikit malu. Tetapi itu ia lakukan atas keinginan Andin. Baginya, Andin lebih penting dibandingkan dengan rasa malunya. Selama keinginannya Ziban mampu mengabulkan. Mengapa tidak? Begitu pikirnya.
Raditya mengacungkan jempolnya. Tak ingin memperdebat Ziban.
Berbelas-belas jam lamanya telah berlalu. Mereka semua, telah tiba di tempat tujuan. Mereka menginap di hotel yang sama. Dengan kamar yang saling bersebelahan.
Wajah penuh kebahagiaan, paling terlihat di wajah ketiga istri tersebut. Mereka memiliki alasan kebahagiaan mereka sendiri-sendiri. Meta yang berbahagia, karena baru pertama kali menginjakkan kaki ke luar negeri. Rossie, yang menyukai suasana di Swiss. Dan Andin yang berbahagia karena keinginan utamanya untuk berlibur dengan yang lainnya terkabulkan.
Mereka masuk ke dalam kamar mereka dengan suami masing-masing. Malam membuat mereka harus segera beristirahat untuk membayar segala lelah selama perjalanan. Waktu yang tidak sebentar untuk pergi ke tujuan mereka itu. Ditambah dengan keadaan Andin, Meta, dan Rossie yang tengah hamil muda. Tentu hal itu membuat para suami khawatir. Walau yang mengandung, tidak merasakan beban khawatir yang sama dengan suami mereka.
__ADS_1
Ziban, Sekretaris Chan, dan Raditya mengurus istri masing-masing di dalam kamar. Dengan perhatian yang lebih, mereka curahkan. Ziban langsung menyuruh Andin untuk rebahan dengan nyaman di ranjang.
"Kau pasti lelah kan, sayang? Sudah ku bilang dari awal, mungkin kita bisa memilih lokasi berlibur di tempat yang lain. Yang mungkin lebih dekat. Yang pasti, tidak banyak menghabiskan banyak waktu dan tenaga."
Ucap Ziban menceramahi. Seakan Andin adalah anak kecil. Andin mengerucutkan bibirnya.
"Bilang saja, kau yang kelelahan, mas. Aku sangat menikmati perjalanan kesini. Dan begitupun dengan Meta dan Rossie."
Ziban menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. Dalam hatinya, ia menyetujui ucapan Andin. Andin memang terlihat menikmati perjalanan jauh itu. Dan Ziban kelelahan. Karena, selama perjalanan, Andin menjadi tanggung jawabnya. Belum lagi, apapun yang Andin lihat, Andin bahkan lebih banyak memintanya. Dibandingkan melihatnya saja. Dan itu tentu, membuat Ziban kewalahan.
"Seminggu disini, cukup, sayang?" (tanya Ziban)
Andin tersenyum mengangguk, lalu memeluknya erat. Ziban membalas pelukan itu. Ia memejamkan matanya, merasakan aliran darahnya yang sedikit terkontrol. Ia pun turut berbahagia, karena Andin tidak kekurangan apapun darinya.
"Mas, kau tahu, ketika waktu bersekolah di MAN 102 Bandung, aku sangat menyukai jajanan batagor disana." (ucap Andin)
"Iya sayang..."
Respon Ziban dengan mengelus-elus puncak kepala Andin.
"Mas, tiba-tiba aku ingin makan batagor Bandung. Hemm, rasanya sangat lezat."
Sontak saja Ziban membuka matanya. Dan kali ini pula, ia merasa ucapan Raditya adalah benar. "Istrimu memang aneh." Hanya kalimat itu yang ada dipikirannya.
"Sayang tidak akan ada batagor Bandung disini. Jika kau memintaku, untuk membawakan satu truk salju, akan ku bawakan. Tapi tidak dengan batagor Bandung."
Andin lalu melepaskan pelukannya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kau mau, calon anakmu selalu meneteskan air liur?" (ucap Andin dengan nada sedih)
Ziban dengan sigap berdiri. Ia keluar dari kamarnya itu. Menuju kamar sebelahnya. Ia menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
"Sekretaris Chan! Bawakan batagor Bandung untuk istriku, apapun dan bagaimanapun caranya!" (teriak Ziban)
__ADS_1
BERSAMBUNG...