
Pagi hari bergulir menjadi siang hari yang cerah. Di kantor berada, waktunya jam istirahat bagi semua karyawan dan karyawati, tidak terkecuali. Kebanyakan dari mereka berhamburan keluar dari area gedung kantor. Dan beberapa dari mereka, memilih untuk tetap berada ditempat kerja mereka masing-masing dengan membuka bekal makanan yang sengaja dibawa dari rumah.
Tidak terkecuali Sekretaris Chan. Setelah lewat beberapa menit dari jam istirahat, ia akhirnya memutuskan menunda sebentar pekerjaannya. Ia pun masih seperti manusia lainnya. Bernafas, bekerja, lalu lapar.
Ia mulai menggerakkan kakinya. Menutup pintu ruang kerjanya. Baru beberapa langkah setelah menutup pintu, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
Sekretaris Chan menoleh ke belakang. Melihat ke arah suara yang memanggil dirinya tersebut.
"Selamat siang, Sekretaris Chan. Aku Selena. Yang mendaftarkan diri sebagai sekretaris."
Sekretaris Chan menatapnya dengan penuh penelisikannya. Seorang perempuan yang berpakaian rapi dengan jas yang berukuran pas di badannya. Yang membawa map lamaran pekerjaan. Memakai kerudung plisket berwarna mocca yang menutupi rambutnya. Dan celana, tidak ketat, tidak besar. Lagi-lagi, sedang. Sangat berbeda dengan yang kemarin ia lihat.
"Aduh."
Selena menundukkan badannya. Mengambil map yang tiba-tiba lepas dari genggaman tangannya. Mata Sekretaris Chan, mengikuti gerakan Selena. Ah, ia melihat, Selena yang memakai heels warna hitam. Sekitar 3 cm. Begitu asumsinya.
"Maaf ya, Sekretaris Chan."
Selena menyatukan kedua telapak tangannya. Meminta maaf kepada Sekretaris Chan, dengan meminta maaf atas sebuah kesalahan yang tidak Sekretaris Chan pahami. Sekretaris Chan sedikit menarik garis senyum dibibirnya. "Dia perempuan baik-baik." Ucapnya dalam hati.
"Sudah kubilang, kau sudah diterima, Selena. Kau tidak perlu membawa berkas lamaran."
Selena mengulas senyum.
"Aku disini untuk mendaftar sebagai sekretaris karena kemampuanku. Bukan karena, diriku yang memang berteman baik dengan Ziban."
Terjawab sudah pertanyaan Sekretaris Chan yang belum sempat ia cari tahu. Rupanya, Selena terlebih dahulu mengatakannya dan memberitahu Sekretaris Chan, bahwa ia adalah teman dekat Ziban. "Ah, pantas saja." Batin Sekretaris Chan.
Sekretaris Chan mengangguk-angguk memahami. Baru kali ini, ia melihat sosok seperti yang dihadapannya saat ini. Tidak memanfaatkan segala sesuatunya atas keinginan diri sendiri.
"Baiklah, kita akan membicarakannya nanti di restoran, bagaimana? Kita akan sekalian makan siang disana."
Selena mengangguk lalu tersenyum.
Mereka berdua menuju ke restoran langganan Sekretaris Chan. Restoran yang tidak terlalu jauh dari gedung kantor. Sekitar sepuluh menit sampai, jika menggunakan mobil dengan mengendarai santai.
Dan benar saja. Sekitar sepuluh menitan, Sekretaris Chan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan.
Sekretaris Chan dan Selena keluar dadi mobil dengan membuka pintu mobil masing-masing pula. Mereka mulai berjalan masuk. Terlihat satpam penjaga pintu restoran yang mempersilakan mereka berdua untuk masuk.
__ADS_1
Ekor mata Sekretaris Chan melirik Selena. Dalam lirikannya, ia melihat Selena yang mengulas senyum kepada satpam tersebut.
Mereka berdua masuk ke dalam dan segera duduk di tempat terdekat. Tempat yang nyaman. Siapapun akan mengatakan hal tersebut, jika masuk ke dalam restoran langganan Sekretaris Chan.
Mereka berdua pun segera memesan makanan dan minuman sesuai keinginan masing-masing. Dan untuk mengisi waktu luang dalam menunggu pesanan datang, Sekretaris Chan meminta berkas lamaran Selena.
Ia mulai membuka semua berkas-berkas. Lengkap. Satu kata yang pertama kali terbesit dalam pikirannya.
Ia mulai melihatnya dengan teliti berkas-berkas tersebut. Tiba-tiba ia menyipitkan matanya ketika melihat berkas-berkas pendukung lainnya. Untuk memastikan, bahwa yang dilihatnya adalah benar.
Selain terlihat baik, perempuan ini, juga sangat berbakat.
......................
Sedangkan di kolam renang rumah. Terlihat Ziban tengah berenang di hari yang cerah tersebut. Turut menikmati suasana yang sangat mendukung untuk berenang santai. Siang santai yang hanya beberapa orang miliki. Terutama bagi kaum laki-laki. Mereka tentu tidak setiap hari memiliki waktu luang apalagi untuk bersantai.
Kerja, kerja, dan kerja. Uang, uang, dan uang. Lagi-lagi, kesejahteraan sebuah keluarga memang memerlukan uang. Uang memang bukanlah segalanya. Tetapi segalanya membutuhkan uang. Begitu kebanyakan orang mengatakan.
Terlihat Andin yang mendekati kolam renang. Melihat Andin yang datang, Ziban pun segera berenang kembali ke pinggiran.
Andin berjongkok di pinggiran kolam renang. Sedangkan Ziban masih berada di dalam air, tetapi dipinggiran.
"Itu sebabnya, kau datang kesini, kan? Kau baru saja membuat nenek tertidur,"
Andin masih diam mendengarkan ucapan Ziban selanjutnya.
"Ah, kau curang. Kau lebih memilih menidurkan Nenek Jeje dibandingkan suamimu sendiri."
Andin menatap tajam Ziban.
"Jika aku lebih memilih menidurkanmu, itu pasti akan sia-sia. Karena apa? Karena, suamiku yang sangat gatal dan sensitif ini, akan dibuat terjaga selama aku bersamanya."
Andin menyentil hidung mancung Ziban. Ziban membulatkan matanya dengan senyum yang mengiringinya. Merasa tengah digoda oleh Andin.
Ziban lalu menarik paksa Andin dan berhasil menceburkan Andin dalam kolam. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Melihat Andin yang menatapnya penuh kebencian. Karena membuatnya basah kuyup. Dan juga melihatnya, tengah memiring-miringkan kepalanya. Air kolam masuk kedalam telinganya yang membuatnya berdengung, dengan kerudung yang masih melekat.
Didalam air kolam yang setinggi dada Andin, ia mendorong bahu Ziban keras. Tetapi tak berpengaruh apa-apa bagi Ziban. Badannya masih menopang dirinya dan membuatnya tidak terjengkang ke belakang. Andin mendengus kesal. Melihat serangannya, tak berarti sama sekali.
Andin memutuskan untuk keluar dari kolam renang. Pakaiannya serta kerudungnya tentu membuatnya tidak nyaman berada di air.
__ADS_1
Tetapi tidak. Bukan Ziban namanya, jika mangsanya lolos begitu saja. Ia dengan sigap memegang pinggang Andin. Tidak mengizinkannya untuk keluar dari air. Andin mendengus dan menolehkan wajahnya.
"Lepaskan, mas, ahhh!" (bentaknya)
Ziban menyengir mendengar bentakan dari Andin, yang dianggapnya adalah suara merintih. Suara paling merdu yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Dan selalu ia rindukan kapanpun dan dimanapun ia berada.
"Penyanyi internasional bahkan kalah dengan suara rintihanmu, itu sayang."
Andin mendorong bahu Ziban lagi.
"Dasar otak mesum!"
Ziban menampakkan cengiran yang amat menakutkan. Itu menurut Andin, ketika di awal-awal pernikahan mereka. Tetapi seiring dengan waktu, tentu saja Andin sudah memahami dan sudah terbiasa.
"Jangan keluar dari kolam, ya? Mas mohon."
Ziban mengucapkannya dengan nada bicaranya, yang bermaksud tertentu. Lagi-lagi Andin sudah memahaminya. Jika Ziban menampakkan wajah dan mata yang seperti saat ini, tengah ditunjukkan, itu berarti keganjalan tengah terjadi.
Kembarannya, sudah bangun! Dan sedang berdiri tegap!
Andin menelan salivanya. Menyapukan pandangannya ke sekitar kolam renang. Mengingat tempat tersebut yang sangat terbuka.
"Lihatlah pakaianku. Aku tidak nyaman berlama-lama didalam air." (ucap Andin)
Ziban mendekatkan bibirnya ke telinga Andin.
"Lepaskan saja semuanya."
Andin membulatkan kedua matanya. Benar dugaannya. Sesuatu harus dilakukan oleh Andin.
"Mas lihat, Sekretaris Chan datang!" (pekiknya)
Andin pun segera keluar dari kolam renang, setelah berhasil mengelabui Ziban.
Ziban yang menyadari dirinya dikelabui, langsung menyudahi berenangnya. Ia mengejar Andin yang berlari terbirit-birit.
"Lihat saja, kau pasti akan ku tangkap, sayang!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1