
"Lari-lari, seperti anak kecil saja!"
Sindiran Nenek Jeje berhasil menghentikan langkah Andin dan Ziban. Ziban menatap Andin dengan tatapan tidak sukanya. Seperti mengatakan, "Katamu, nenek sedang tidur! Dasar kau ini."
Andin yang seakan mengerti pertanyaan tak terucap dari Ziban pun menggelengkan kepalanya pelan. Seperti mengatakan, "Aku tidak tahu, mas! Tadi nenek memang sudah tidur. Jangan menatapku seperti itu!"
Mereka berdua kemudian menarik garis bibinya dengan keterpaksaan bersama-sama. Yang ditujukan untuk Nenek Jeje. Lalu mereka pun segera menuju ke kamar dengan berjalan pelan. Tidak berlari seperti tadi.
Andin yang membuka pintu kamar. karena memang ia yang berjalan lebih depan. Dan Ziban yang menutup pintu kamar kembali dari dalam. Andin dan Ziban segera mengambil handuk mereka masing-masing. Andin yang masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk melepaskan pakaian basahnya. Disusul oleh Ziban. Yang melepaskan boxernya yang basah pula.
Mereka telah mengganti pakaian masing-masing. Ziban mulai merebahkan badannya di ranjang. Dan Andin tengah mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Mereka tidak saling berbicara setelah mereka masuk ke dalam kamar. Dan Ziban lah yang terlebih dahulu mengangkat suara. Ia baru mengingat sesuatu. Perihal dirinya yang memiliki sekretaris baru di kantor. Ziban memang selalu menjadikan Andin adalah sebagai tempat segalanya baginya.
Sebagai tempat curhat, tempat berkelahi, dan istri. Walaupun Andin tidak meminta Ziban untuk selalu melaporkan segala sesuatunya di kantor sekalipun, tetapi Ziban memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu kecil sekalipun. Dengan istrinya.
Ziban mendekat ke istrinya. Andin telah selesai mengeringkan rambutnya. Dan ia mulai mengambil bedak padat miliknya. Ziban merebut bedak padat yang sudah digenggam Andin. Andin tentu menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Hais, apa yang kau lakukan, mas." (ucap Andin)
Ziban mulai menempelkan spons bedak padat tersebut di wajah Andin. Walau Andin tidak berontak sama sekali, tetapi ia tentu sangat dibuat tercengang. Ia baru mengetahui bahwa suaminya lihai dalam mendandaninya.
Ah, suamiku ini, memang sangatlah keren.
Tanpa ia sadari, ia mengulas senyum. Ucapan Ziban lah yang menyadarkan dirinya, bahwa ia tersenyum.
"Kau pasti merasa sangat beruntung kan? Memiliki suami seperti diriku."
Andin menonjok perut Ziban.
"Eh, jangan usil! Nanti wajahmu akan berantakan." (ucap Ziban)
Ucapan Ziban, lagi-lagi membuat Andin merasa tidak terima.
"Wajahku tidak akan terlihat berantakan, walau kau yang mendandaniku. Dan kau pasti sangat mengetahui akan hal itu kan."
Ziban menghentikan gerakan tangannya sesaat. Ia menatap Andin.
"Memangnya kenapa?"
Andin menatap balik Ziban.
"Ya karena aku memang cantik. Dan akan selalu terlihat seperti itu. Kau pun tentu sangat tergila-gila dengan pesonaku."
"Ya, benar sekali. Itu adalah alasanku yang masuk akal hingga sampai detik ini, aku masih betah dengan istriku ini. Ya, mau alasan yang bagaimana lagi. Masak? Ah, istriku ini bahkan masakannya sangat tidak enak."
Andin menonjok perut Ziban untuk kedua kalinya. Sebal. Benar-benar sebal. Tetapi yang diucapkan oleh Ziban memang tidak salah. Andin pun mengakui, masakannya sangat buruk ketika beradu di lidahnya.
__ADS_1
Ziban terus saja merias wajah Andin dengan bertahap. Kali ini tinggal lipstik. Ia mengambil dan memilih warna lipstik kesukaannya.
"Warna pink ini, terlihat sangat cantik di bibirmu."
Ziban telah selesai dalam memakaikan lipstik di bibir istrinya.
Cup!
Andin membulatkan matanya. Sontak ia mendorong badan Ziban untuk menjauhinya.
"Pergi sana!"
Ziban tersenyum melihat istrinya yang selalu bersikap menggemaskan menurutnya.
"Sayang."
Ziban duduk dipinggir ranjang. Sedangkan Andin masih duduk di depan meja riasnya.
"Apa?"
"Salah satu temanku di sekolah menengah pertama dahulu, ada yang melamar sebagai sekretarisku di kantor."
Andin sedikit memiringkan kepalanya.
"Lalu?"
Mendengar ucapan Ziban, Andin tidak terlalu berminat menanggapinya. Dan Ziban yang melihat Andin yang tidak merespon ucapannya sesuai harapannya, Ziban memandang ke segala arah dan menggigit bibirnya sendiri. Ia tengah berfikir.
"Eh sayang."
"Apa?"
"Kau tahu kan, sekretaris dan atasannya sedekat apa?"
"Tahu."
"Baguslah. Jadi aku harap, kau tidak cemburu melihatku dekat dengan sekretaris baruku ya."
Ziban terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan Andin padanya. Andin justru tersenyum sangat manis padanya. Lalu meninggalkan dirinya dan keluar dari kamar. Andin keluar dengan membawa ponsel miliknya.
Melihat ekspresi Andin yang biasa-biasa saja, Ziban mendengus sebal. Ia hanya berniat membuatnya cemburu, tetapi justru sebaliknya.
Setelah Andin menutup pintu kamarnya dari luar, ia langsung membuka ponselnya ketika masih di depan pintu. Ia mengirimkan pesan pada seseorang. Andin kembali menggerakkan kakinya. Baru dua langkah di depan pintu, tiba-tiba seseorang yang baru ia kirimi pesan sudah membalasnya. Ia membacanya dalam hati.
"Benar sekali, nyonya muda. Sekretaris baru Tuan Muda Ziban memang adalah teman dekatnya dahulu. Namanya adalah Selena. Dan mengenai pertanyaan anda, mengenai cantik tidaknya Selena, saya tidak pantas untuk menjawabnya. Karena anda pasti sangat tahu, siapa wanita cantik di kehidupan saya. Yang pasti, Selena adalah perempuan yang baik dan berbakat."
__ADS_1
"Ada pertanyaan lagi, nyonya muda?"
Andin membalikkan badannya menatap pintu. Menggerutu sebal. Yang ditujukan kepada seseorang yang berada dibalik pintu dalam. Alias di dalam kamar. Ziban, suaminya.
......................
Siang telah menjelma menjadi malam. Dan malam pun telah lenyap dengan hadirnya pagi. Hari ini, Ziban berniat untuk datang ke kantornya. Selain ada pekerjaan yang memang harus diselesaikan di kantor, hari ini pula, Selena mulai menjadi sekretaris barunya.
Ziban tengah berisiap-siap. Berpakaian rapi layaknya atasan pada umumnya. Andin tidak membantunya bersiap-siap sama sekali. Tak dapat dipungkiri, dalam hatinya terdapat rasa sebal karena Ziban akan menemui sekretaris barunya, hari ini. Oleh karena itulah, Andin tidak membantu Ziban bersiap-siap, tidak seperti biasanya.
"Sayang, kau tidak mau membantuku. Biasanya kau hobi sekali cari perhatian dengan memasangkan dasiku." (ucap Ziban)
Ia mengucapkan sembari memasang dan merapikan dasinya sendiri, tanpa mengalihkan perhatiannya dari dasinya.
"Aku sedang malas." (jawab Andin)
Ziban terlihat memercayainya begitu saja. Kali ini, Andin yang mendengus sebal.
Suamiku, bahkan tidak peka. Aku kan sedang berusaha mogok dan protes karena dia akan ke kantor dan bertemu sekretaris barunya. Dasar memang tidak peka!
"Sayang, nenek pulang kapan?" (tanya Ziban)
"Pulang kemana maksudnya?! Inikan juga rumah nenek!"
Andin menjawab pertanyaan Ziban dengan nada tinggi. Ziban menyadari bahwa dirinya salah berbicara.
"Bukan seperti itu, istriku sayang. Sebenarnya aku tidak masalah jika selamanya nenek tinggal disini,"
"Dengan catatan, nenek tidak tidur berada di tengah-tengah kita."
Nenek Jeje memang sudah mengatakan bahwa ia akan selalu tidur dengan Andin selama berada di rumah tersebut. Dan hal itu, tentu sangat dianggap masalah oleh Ziban.
"Kenapa tidak kau yang mengalah saja? Nenek kan disini hanya beberapa hari saja."
Ziban mengembuskan nafasnya. Ia tidak habis fikir, mengapa istrinya masih belum juga memahami segala maksud dari ucapannya. Ia mendekati Andin.
"Apakah kau lupa, aku tidak bisa tidur tanpa memegang ini."
Seketika Andin melepaskan tangan Ziban yang memegang salah satu bagian sensitifnya, di dada.
"Sudah sana pergi ke kantor, saja!"
Andin mendorong paksa Ziban keluar dari kamar. Kali ini ia menyudahi mogok dan protesnya kepada Ziban. Ia tahu, itu tidak akan berguna. Jadi ia memilih menyudahinya karena telah menemukan cara lainnya.
Sekretaris Chan sangat bisa diandalkan. Aku akan memintanya untuk mengawasi suamiku. Dan ah ya, sekretaris barunya, Selena.
__ADS_1
Andin mengangguk-angguk, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
BERSAMBUNG...