Just One Feeling

Just One Feeling
Ngidam


__ADS_3

Andin pun terburu-buru dalam kembali ke rumahnya. Ia tahu, ia harus segera sampai ke rumahnya, sebelum Ziban sampai terlebih dahulu. Tentu itu ia lakukan, sesudah melihat lawan bicaranya mengangguk. Hal itu sudah cukup bagi Andin. Cukup baginya bahwa, laki-laki yang tadi ia temui di kafe itu, mengijinkannya untuk bergegas pergi.


Andin berlarian kecil keluar dari kafe tersebut. Mendekati pangkalan ojek, yang memang berada tak jauh dari kafe tersebut. Ia harus, naik ojek. Mengingat, sopir yang mengantarkannya tadi, sudah ia suruh pulang. Dan akan menjemputnya lagi, nanti. Jika Andin sudah mengabarinya. Dan jika, Andin mengabarinya sekarang, itu adalah sia-sia. Karena, akan menyita banyak waktunya untuk menunggu sopir menjemputnya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang naik ojek apapun yang terjadi. Ia pun mengabaikan kembali, larangan Ziban kepada dirinya. Yang melarang, untuk naik ojek. Yang terpenting saat ini adalah, pulang ke rumah sebelum Ziban. Hanya itu.


Beberapa saat berlalu. Andin membayar tukang ojek yang mengantarnya sampai di depan gerbang. Bola matanya masih belum ia edarkan ke sekitarnya. Ia hanya fokus pada tukang ojek saja. Setelah membayar, tukang ojek tersebut pergi meninggalkan Andin. Andin tentu segera membalikkan badannya dan masuk melewati gerbang. Yang sudah dibuka oleh satpam ketika Andin baru sampai.


Baru beberapa langkah melewati gerbang rumahnya, Andin meneguk salivanya berat. Melihat kendaraan mobil yang amat dikenalinya, terparkir sembarangan. Ia lalu menghadapkan wajahnya pada satpam yang masih berdiri tegap di sekitar gerbang.


"Suamiku sudah pulang?"


Tanya Andin was-was. Berharap satpam tersebut menggelengkan kepalanya. Sia-sia. Ya, pertanyaan yang sia-sia saja. Tentu saja.


"Sudah Non Andin. Baru saja sampai. Mungkin selisih dua menitan dengan Non Andin."


Tanpa menjawab atau bahkan merespon lagi, Andin langsung melangkahkan kakinya meninggalkan satpam tersebut. Itu bukanlah Andin. Yang meninggalkan orang lain seenaknya sendiri. Walau, pekerja di rumahnya sekalipun. Ia selalu menghargai mereka semuanya. Hanya saja, kali ini Andin memang tengah gugup. Menyadari fakta, bahwa Ziban telah sampai di rumah mendahuluinya.


Sudah dekat di ambang pintu utama, jantung Andin berdegup kencang. Juga perutnya, yang tiba-tiba terdapat jutaan kunang-kunang berterbangan. Ia menarik nafasnya panjang. Dan mengeluarkannya secara perlahan. Tetapi, hal tersebut sama sekali tak memberinya ketenangan barang sedikitpun. Rasa cemasnya masih tetap ada pada dirinya.


Berani tidak berani, ia harus membuka pintunya. Pintu utama pun, sudah terbuka sempurna. Dengan Andin yang masih tak bergerak melangkahkan maju kakinya. Tangannya sedikit gemetar, melihat Ziban yang tengah berdiri di depannya persis. Dengan tangan yang dilipatkan ke depan dadanya. Sorot mata yang tajam juga ditunjukkan olehnya.


Andin memberanikan diri, untuk menatapnya lebih jelas. Ia melihat, Ziban yang masih memakai pakaian rapinya sejak pagi. Itu menandakan, bahwa Ziban yang memang baru saja sampai di rumah. Andin sangat menyayangkan dirinya sendiri, yang sempat menepi di pinggir jalan. Walau ia tahu, ia sedang terburu-buru.


"Darimana?"


Jelas. Pertanyaan yang pasti akan diucapkan pertama oleh Ziban. Andin tahu itu.


"Dari itu...dari..."


Jawab Andin terbata-bata. Ia tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia baru saja, menemui seseorang di kafe. Dan seseorang itu, adalah laki-laki. Ziban tidak akan menyukainya. Tentu hal itu, akan mengundang masalah baru baginya.


"Darimana?"


Ziban masih menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya.


"Dari itu...apa...emm...beli buah."


Beli buah. Ya. Jawaban yang tepat. Akhirnya, Andin mengatakan hal yang tepat. Tidak sepenuhnya salah. Karena Andin, memang sempat berhenti di pinggir jalan, untuk membeli buah.


"Buah? Bukannya banyak, di rumah?"


"Buah yang ini, tidak pernah ada di rumah, mas. Lagipula, aku juga sebenarnya tidak terlalu suka. Tetapi, entah mengapa, tiba-tiba saja, aku ingin memakannya."

__ADS_1


Andin merasa dirinya lebih rileks dibandingkan sebelum-sebelumnya. Karena yang dikatakan olehnya, adalah kebenaran. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati Ziban. Ia membuka ransel hitamnya yang ia gendong di punggungnya sejak tadi. Sudah lama, ia tidak memakai ransel kesayangannya itu. Mungkin sejak ia lulus dari bangku perkuliahan.


Andin pun mulai membuka ranselnya tanpa diperintah. Ia mengambil kantong plastik sedang. Dan membukanya, dengan tujuan Ziban dapat melihatnya. Ziban pun menyipitkan matanya. Melihat kedalam kantong plastik itu.


"Jambu air?"


Andin mengangguk. Ziban diam beberapa saat. Lalu tiba-tiba saja, matanya berbinar-binar. Kali ini, Andin dibuat bingung olehnya. Ditambah, Ziban justru malah memeluknya.


"Ada apa sih, mas?"


Andin tentu tak membiarkan dirinya, larut dalam kebingungannya.


"Kau sedang ngidam, sayang."


Ngidam?


Tak langsung memilih untuk merespon Ziban, Andin justru lebih memilih diam. Memikirkannya dengan baik. Mengingat pil yang ia minum.


"Lain kali, kalau mau apa-apa, jangan beli sendiri. Kalau tidak mau menyuruhku, suruh siapa saja yang ada di rumah ini."


Ucapan Ziban membuatnya tak memikirkan perihal ngidam. Ia menghembuskan nafasnya lega. Karena Ziban tidak menanyakan pertanyaan kepadanya lagi.


Ziban melepaskan pelukannya.


Ziban mengapit kedua pipi Andin dengan kedua tangannya.


"Bukannya kita mau pergi keluar?"


Andin memicingkan matanya. Ziban justru tersenyum padanya.


"Si Mbok..."


Tak memberi jawaban atas pertanyaan Andin, Ziban memanggil Si Mbok dengan suara sedikit teriak. Dengan sedikit tergopoh-gopoh, Si Mbok datang tak berselang waktu lama.


"Ada apa tuan muda?"


"Antar istriku ke kamar ya. Pastikan dia makan lalu berisitirahat."


Si Mbok tersenyum mengiyakan. Sedangkan Andin terlihat tidak menyetujui.


"Tapi mas..."


Cup!

__ADS_1


"Diam."


Seketika Andin membelalakkan kedua matanya. "Benar-benar tidak tahu malu! Lihat, ada Si Mbok disini!" Seperti itulah, maksud keterkejutan Andin.


Ziban tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun. Disini, hanya Andin yang terlihat malu. Ia pun mengontrol dirinya untuk biasa saja, seperti Ziban.


"Dah, aku pergi dulu ya. Ingat! Jangan kemana-mana. Tetaplah beristirahat di kamar."


Terlihat Ziban yang hendak meraih tubuh Andin. Hanya saja, Andin bergerak lebih cepat dengan mendorong tubuh Ziban. Itu ia lakukan, tentu supaya Si Mbok tidak melihat kelakuan Ziban padanya lagi.


Ziban tak mengambil pusing perihal dorongan Andin. Wajahnya justru terlihat baik-baik saja. Ia pun mulai meninggalkan Andin dan Si Mbok. Andin mencegatnya sebentar.


"Tapi kau belum makan siang kan, mas?"


"Ah, suamimu ini, sudah kenyang, sayang. Terlebih setelah mengetahui bahwa kau sedang ngidam."


Ziban berlarian kecil keluar rumah tanpa mendengar jawaban lagi dari Andin.


Apa dia benar-benar merasa bahwa aku sedang ngidam?


"Mari non, Si Mbok antar ke kamar..."


Si Mbok tak memberi kesempatan pada Andin, untuk berfikir. Akhirnya, Andin hanya mengangguk. Lalu mereka berdua menuju ke kamar.


Beberapa saat, mereka berdua sampai.


"Non Andin, istirahat di kamar saja. Sesuai perintah suami non. Si Mbok akan membawakan makanan untuk Non Andin."


"Pil nya masih disimpan aman, Si Mbok?"


"Tentu masih, non. Kenapa memangnya, non? Bukannya belum jadwalnya minum pil lagi?"


"Ah, hanya bertanya saja."


Si Mbok tersenyum hangat, mengangguk, lalu meninggalkan Andin di kamarnya sendirian. Tiba-tiba ponsel Andin yang di dalam ransel berdering. Ia mengembuskan nafasnya sebal.


"Huh, baru saja pergi. Sudah menelepon. Dia pasti merindukanku, dasar."


Gerutu Andin pelan. Mengingat Ziban baru saja pergi belum lama. Ia mengambil ponselnya. Dan menatap layar ponselnya. Ia mengernyitkan keningnya. Ternyata dugaannya salah.


"Halo?"


"Kau sudah sampai dirumah, Nona Andin?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2