Just One Feeling

Just One Feeling
Sumber Masalah


__ADS_3

"Cepat telepon bos mu, itu!" (pekik Sekretaris Chan)


Itu terjadi setelah mereka selesai makan bersama, tak terkecuali Si Mbok. Walau ia tak menyentuhnya sedikitpun. Andin, Meta, Rossie, dan Raditya sangat terkejut. Sekretaris Chan membentak Si Mbok. Wajah tua yang terlihat ketakutan. Dengan tangan bergetar tiada henti.


Andin lah yang berbicara menanyakan. Mengenai ada hal apa sebenarnya.Tak ada yang langsung menjawabnya. Arga justru berteriak sangat keras. Memanggil semua pelayan yang bekerja di rumah itu. Tanpa terkecuali. Termasuk satpam. Mereka semua pun benar-benar langsung berlarian. Berbaris menjadi dua baris. Dengan total dua puluh pelayan termasuk satpam. Mereka diam menunduk.


"Ya ampun, beb. Darimana datangnya semua pelayan sebanyak ini? Aku tidak pernah melihatnya. Sembunyi dimana mereka, ketika aku datang kesini. Dan lihatlah, beb. Diantara mereka semua, ada beberapa yang masih muda dan lumayan manis-manis." (bisik Raditya)


"Diam, beb! Kau tidak lihat, papahnya Andin sedang marah?!" (jawab Rossie)


Arga memberikan kode kepada Sekretaris Chan untuk menjawab pertanyaan dari putrinya itu. Tak berlama-lama, Sekretaris Chan menceritakan semuanya yang Si Mbok lakukan. Semuanya.


Diantara yang lain, yang baru mengetahui akan hal itu, Andin lah yang terlihat paling terkejut. Butiran demi butiran air matanya mulai bertetesan bagai sisa air hujan yang menempel pada dedaunan dan ranting.


Rupanya, tuduhannya adalah benar faktanya. Kekecewaan bahkan tak cukup mampu mewakilkan perasaannya.


Ziban menyeka air mata istrinya. Andin tak melakukan hal-hal aneh apapun kepada Si Mbok untuk memberontak tak terima. Mengingat, Si Mbok yang memang sudah tua. Ia juga tak mengatakan apapun. Hanya air mata yang tak mampu ia bendung.


"Saya tanya pada kalian,"


"Apakah putriku ini bersikap tidak baik kepada kalian?!"


Tanya Arga tegas. Semua pelayan hanya menjawab dengan secara bersama-sama. "Tidak." Satu diantaranya, berani berbicara tanpa dipersilakan.


"Maaf tuan jika saya lancang ingin berbicara. Non Andin adalah perempuan berhati malaikat, cantik, juga berbakat. Kami semua sebagai pelayan, bahkan sepertinya tak dianggap pelayan olehnya. Non Andin sangat menghargai kami, walau kami dan Non Andin jauh berbeda. Dan maafkan kami, karena kami tidak mencurigai Si Mbok. Walau kami kerapkali bersamanya."


Ia menyatukan kedua tangannya untuk meminta maaf. Diikuti oleh pelayan lainnya. Mereka sepakat akan ucapannya itu. Cukup mewakilkan bagi mereka semua.

__ADS_1


Arga mengalihkan pandangannya ke Si Mbok. Kemudian semua pun ikut memandangnya dengan pandangan tidak suka. Atau lebih tepatnya, membenci.


"Dan termasuk laki-laki yang aku temui pada saat itu, Si Mbok?!"


Andin mulai berani berbicara. Dengan bibir bergetar menahan tangisnya akan pecah. Mengingat saat itu. Pertemuannya dengan laki-laki tanpa sepengetahuan dari Ziban untuk pertama kalinya. Ia adalah seorang ahli pembuat jamu. Kata Si Mbok. Dan Si Mbok yang merekomendasikan orang tersebut padanya.


Dengan keberhasilan hamil dengan cepat setelah meminum jamu darinya. Andin kembali menyesali untuk hal yang sama. Si Mbok bahkan menyuruhnya, untuk merahasiakannya dari Ziban dengan atas nama sebuah kejutan. Seharusnya ia tidak menyembunyikan hal apapun dengan Ziban.


Beruntungnya, di hari itu, Andin tidak berlama-lama bertemu dengan laki-laki itu. Nomor laki-laki itu pun, bahkan di daftar hitam oleh Andin. Karena, ia putuskan untuk meminum pil rekomendasi dari Si Mbok saja. Hingga pada akhirnya, terbongkar semuanya. Dan pil itu, adalah pil kontrasepsi. Sungguh menghancurkan hati Andin.


Saat ini, dihadapan semuanya, Andin menceritakan akan hal itu. Dalam hatinya, ada rasa malu. Karena, salah dalam bertindak. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena kecerobohannya itu. Dan Ziban pun tak ingin Andin menyalahkan dirinya. Karena ia tahu, Andin hanya ingin memberikan kejutan padanya.


"Tidak apa-apa, sayang. Ini belum terlambat. Untung saja, Sekretaris Chan memang selalu dapat diandalkan. Dia mudah mencurigai orang. Dengan kecurigaan yang selalu tepat. Dia mengetahui segalanya dengan waktu yang singkat." (ucap Ziban)


Beberapa saat, tak ada yang berbicara. Itu tandanya, Sekretaris Chan harus kembali berbicara. Karena ia yang tengah bertanggungjawab menyidang Si Mbok di hadapan semuanya. Ia memberi perintah kepada Si Mbok untuk menelepon bos nya dan memintanya untuk datang kesini.


Si Mbok pun mengambil ponselnya dengan ragu-ragu. Sekretaris Chan memerhatikan semuanya. Termasuk Si Mbok yang menelepon satu nomor.


Si Mbok semakin gemetaran. Ia menghentikan panggilannya itu. Awalnya, ia memang berniat merencanakan hal baru lagi. Tetapi, rupanya Sekretaris Chan sudah mengetahui semuanya. Dan termasuk nomor yang disebut sebagai, bos nya itu.


Tak memiliki pilihan lain, Si Mbok menelepon nomor yang berbeda dari tadi. Terlihat Sekretaris Chan yang diam saja. Itu artinya, nomornya memang benar.


Panggilannya bergetar cukup lama. Dalam hati Si Mbok, ia berharap semoga tidak diangkat. Tetapi, dalam detik terakhir, panggilan diangkat dari seberang. Sekretaris Chan memberikan kode kepada Si Mbok untuk mengeraskan panggilannya, dan untuk berbicara seolah semuanya baik-baik saja.


"Halo, Si Mbok? Apakah ada kabar terbaru? Apa semuanya sesuai rencana kita?"


Deg!

__ADS_1


Andin mengenali suaranya. Saat ia hendak membuka suaranya, Ziban menutup mulutnya. Ia menggelengkan kepalanya. Meminta Andin untuk diam dan bersabar.


"Datanglah kesini cepat. Disini non Andin sedang bertengkar hebat dengan suaminya. Sepertinya, hubungan mereka tidak akan bisa diselamatkan lagi. Disini banyak juga yang menyaksikan pertengkaran hebat Non Andin dan suaminya." (ucap Si Mbok)


"Wah hebat. Tentu saja aku akan datang. Terimakasih, Si Mbok atas informasinya. Semoga saja, aku tidak terlambat."


Jawaban dari seberang sana terdengar senang dan bersemangat dengan nada bicaranya itu. Hingga ia mengakhiri penggilan tersebut.


Beberapa saat telah berlalu. Seseorang yang tengah dinantikan pun akhirnya datang. Semua pasang mata memandangnya.


"Selamat malam, semua." (ucapnya tersenyum)


Ia berjalan mendekati semuanya. Tak ada yang bereaksi atau hanya sekedar menjawab ucapannya. Itu membuat ia senang. Karena ia belum terlambat. Wajah mereka terlihat panas dan emosi, ketika memandangnya.


Aku belum terlambat. Aku akan menonton pertengkaran yang hebat dengan mataku. Ah, senangnya.


"Sudahlah, Ziban. Kau tidak perlu marah dan kecewa lagi. Semuanya pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik."


Ucapnya menasihati Ziban. Tiba-tiba, yang lain bertepuk tangan dengan bersamaan. Kecuali Andin dan Si Mbok.


"Kenapa kalian semua bertepuk tangan? Aku tidak pantas kalian beri apresiasi."


Ia tersenyum percaya diri. Dalam tangkapannya, mereka semua bertepuk tangan untuk dirinya yang mengatakan hal bijak kepada Ziban tadi.


"Kapan kau akan sadar diri, Selena!"


"Apa kau tidak tahu malu?! Bagaimana jika kau ada di posisiku? Aku diam-diam membuatmu meminum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan darimu. Apa yang akan kau rasakan?! Apa kau akan tertawa dan bahagia?!"

__ADS_1


Andin mendorong tubuh Selena dengan keras. Ziban menahannya supaya tidak mendorong Selena kembali. Sedangkan Selena tiba-tiba terlihat pias. Matanya langsung tertuju pada Si Mbok. Dan Si Mbok langsung menunduk tak berani menatap Selena.


BERSAMBUNG...


__ADS_2