
Sekretaris Chan mengajak Meta untuk meninggalkan tiga perempuan itu. Meta hanya menurut saja. Dalam hatinya, ia bersyukur akan kedatangan Sekretaris Chan. Dan mengenai tiga perempuan tadi, mereka hanya acuh melihatnya. Mereka pun pergi dengan tertawa tanpa beban.
"Aku akan mengantarmu pulang, dik."
Meta mengangguk. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan pulang, Meta tak membuka suaranya. Ia masih memikirkan hal tadi.
"Kau baik-baik saja, dik?"
Sekretaris Chan berbicara tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tetap memandang lurus ke depan.
"Mas Chan, apa aku terlihat sangat kuno? Dan terlihat ketinggalan zaman?"
"Mereka bertiga yang terlalu melampaui zaman, dik. Karena mereka lah, zaman menjadi sangat berlebihan."
"Tapi kau tidak malu jika berduaan denganku, mas Chan?"
"Sangat bangga. Perempuan sederhana seperti dirimu itu sebenarnya diidamkan oleh banyak laki-laki. Terlebih, kau berasal dari asrama pesantren. Aku mengagumi akan hal itu, dik."
Meta tersenyum mendengar jawaban yang menenangkan bagi dirinya. Setidaknya, Sekretaris Chan mengangumi dirinya. Itu sudah cukup bagi Meta.
"Tapi, kenapa tiba-tiba kau mengetahui keberadaan ku tadi?"
"Memangnya apa yang aku tidak ketahui, tentang dirimu, dik?"
Pertanyaannya tidak dijawab Sekretaris Chan dan justru ia memberikan pertanyaan pula untuk dirinya. Meta tersenyum akan hal itu.
Kerena lokasi yang tidak jauh dari kos-kosan Meta, mereka telah sampai tanpa membutuhkan waktu lama. Sekretaris Chan mengatakan pada Meta, bahwa dirinya akan langsung pergi ke kantor.
Sekretaris Chan menyodorkan bungkusan berisi dua box makanan. Ia memang berniat untuk sarapan pagi dengan Meta. Tetapi tidak jadi. Karena waktunya cukup terbuang dengan dirinya mencari dan menemukan Meta tadi.
Dan tentu karena ia merasa akan terlambat ke kantor, jika ia sarapan dengan Meta. Tentu saja. Sarapan sendiri, dan sarapan dengan pasangan memang berbeda. Akan lebih membutuhkan waktu yang lebih banyak. Karena pada dasarnya, laki-laki yang akan enggan untuk meninggalkan pasangannya sebelum dirinya puas. Walau hanya pergi ke kantor untuk bekerja.
Hal seperti itu, selalu terjadi pada laki-laki yang baru mengenal perempuan dengan nyaman. Atau lebih tepatnya baru mengenal cinta. Itu terbukti. Dalam satu pasang kekasih, laki-laki dan perempuan akan sama-sama merasakan kerinduan. Tetapi, bedanya adalah, perempuan lebih memilih diam akan kerinduannya itu. Sedangkan laki-laki, akan meminta bertemu jika iya memungkinkan. Selebihnya, hanya Tuhan yang maha tahu.
......................
Pukul 10.00 WIB. Terlihat Ziban dan Sekretaris Chan yang keluar dari kantor. Dan dibelakangnya, Bejo mengikuti. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama. Dan mobil itu, bergerak menjauhi kantor.
"Halo sayang. Aku akan ke kantor polisi. Untuk menemui mantan karyawan ku yang ditahan disana. Bejo juga ikut."
Ziban menjelaskan pada Andin tujuan dirinya, Sekretaris Chan, dan juga Bejo datang ke kantor polisi. Untuk, mencabut tuntutan dirinya atas mantan karyawannya yang menjadi tersangka atas kasus Bejo.
Itu ia lakukan, tentu setelah berpikir matang-matang. Faktor utama mengapa Ziban mencabut tuntutannya itu, karena ibu paruh baya, yaitu ibu mereka, yang datang ke rumah. Dan setelah Sekretaris Chan menyelidiki, rupanya memang benar. Keadaan ekonomi dua ibu tersangka, sangat memprihatikan. Pertanyaannya, ada pada dua tersangka, yang sebagai anaknya.
"Iya mas. Hati-hati."
__ADS_1
Andin memahaminya. Ia lalu menutup teleponnya. Karena, ia akan segera kembali ke rumah. Kumala telah selesai memeriksa kandungannya. Maka dari itu, Andin dan Kumala akan segera pulang.
Sesampainya di kantor polisi, Ziban, Sekretaris Chan, dan Bejo langsung disambut oleh pengacara Ziban yang sudah sampai terlebih dahulu lebih awal. Ziban dan Sekretaris Chan berbicara dengan pengacara tersebut. Hanya Bejo yang tidak terlibat. Ia hanya cukup mendengarkan. Walau tak terlalu memahaminya.
Pembicaraan mereka, sudah tak mudah Bejo bayangkan. Dalam hatinya, ia merasa beruntung dan bangga berada di sekeliling mereka. Ia merasa, Ziban dan Sekretaris Chan adalah tokoh inspiratif bagi dirinya. Terlebih pemimpinnya itu.
Tuan muda memang selalu hebat. Dia mengerti akan segalanya. Dan yang aku tahu, dia sangat baik kepada karyawannya. Disaat pemimpin lain ingin mendapatkan keuntungan yang terus meningkat saat sedang pesat, tuan muda Ziban justru selalu membagikannya dengan karyawannya.
"Heh! Kenapa melamun?!" (ucap Ziban)
Bejo menggelengkan kepalanya cepat.
Ya, walau terkadang, sedikit galak.
Tak berlama-lama, Ziban, Sekretaris Chan, dan Bejo menemui dua mantan karyawannya. Tentu setelah mendapat izin dari polisi yang bertugas.
Melihat dua mantan karyawannya itu sudah dekat, Ziban duduk di kursi. Sekretaris Chan dan Bejo tetap berdiri disampingnya.
"Heh, cepat jalannya!" (perintah Ziban)
Mereka berdua pun sedikit mempercepat jalannya. Dan mengusir keraguan. Mereka berdua langsung berlutut dihadapan Ziban.
"Tuan muda, tolong maafkan kami berdua. Kami mengaku bersalah."
Ziban melengoskan wajahnya. Seperti mengatakan, "Sudah terlambat."
Mereka berdua pun langsung memegang kaki Bejo. Meminta maaf kepadanya. Bejo langsung melarang mereka berdua menyentuh kakinya.
"Sudah, sudah. Aku sudah memaafkan kalian." (ucapnya)
"Kalian mau kami bebaskan?" (tanya Sekretaris Chan)
Mereka berdua sontak mengangguk dengan cepat dan dengan rasa penuh harap.
"Baiklah. Jawab jujur terlebih dahulu. Selama kalian bekerja di kantor, apakah gajinya sangat kecil?"
Mereka berdua menggeleng.
"Apa yang kalian lakukan dengan gaji yang seharusnya cukup itu?"
"Kami hobi berfoya-foya."
"Dan juga bermain wanita."
Jawab mereka bergantian.
__ADS_1
"Apa ibu kalian, yang melahirkan kalian, tidak pernah kalian berikan persenan?"
Lagi-lagi, mereka berdua menggeleng.
"Bagus. Karena kalian menjawabnya dengan jujur, kalian berdua akan dibebaskan. Pengacara tuan muda, sudah mengurusnya."
"Terimakasih tuan muda. Terimakasih Sekretaris Chan. Terimakasih Bejo."
Ucap mereka bersama-sama. Dengan memegang kaki Ziban, Sekretaris Chan, dan Bejo secara bergantian.
"Berdiri." (perintah Sekretaris Chan)
Mereka berdua, berdiri dengan semangat baru yang terlihat di wajah.
PLAK!!!
Sekretaris Chan menampar pipi kanan dan kiri mereka berdua secara bergantian.
"Dua tamparan, untuk satu orang. Satu tamparan untuk perbuatan kalian ke Bejo. Dan satu tamparan lagi, untuk ketidakadilan kalian ke ibu kalian."
Bejo meneguk salivanya. Melihat Sekretaris Chan menampar mereka berdua sekuat tenaganya. Hingga dipinggir bibir mereka sampai berdarah. Walau dirinya lah yang menjadi korban disini, tentu Bejo tak sampai tega hati jika menampar mereka berdua itu.
Tiba-tiba, dua ibu-ibu paruh baya berlari memeluk mereka berdua. Itu adalah ibu mereka masing-masing. Mereka berdua pun meminta maaf pada ibu mereka, karena telah membuatnya susah. Ibu dari mereka pun, memaafkannya. Dan mereka berdua, berjanji untuk berubah. Menjadi anak yang berbakti pada orangtuanya.
"Kenapa ini berdarah?"
Salah satu ibu dari mereka menanyakan pada anaknya. Mereka memang tidak melihat, Sekretaris Chan yang menampar.
"Saya yang menampar." (jawab Sekretaris Chan)
"Tidak apa-apa. Ini bisa disembuhkan dengan cepat. Terimakasih karena kalian sudah sangat rendah hati. Membebaskan anak kami. Kami akan selalu mengingat kebaikan kalian seumur hidup." (ucap ibunya yang lain dengan tersenyum)
"Setelah ini, rawat ibu kalian masing-masing dengan baik. "
Ucap Ziban sembari menepuk pundak mereka berdua. Lalu, ia pergi keluar. Diikuti oleh Sekretaris Chan dan Bejo.
Saat mereka baru keluar dari pintu utama kantor polisi, tiba-tiba Rossie dan Raditya sudah ada di luar.
"Hai, kakak ipar. Kami datang kesini, karena tidak sabar untuk menemui mu."
"Kakak ipar?" (tanya Ziban)
"Terimalah diriku ini, sebagai adik ipar mu. Karena diriku ini, akan melamar adik mu yang cantik jelita ini. Betul kan beb?"
Ucap Raditya mengedipkan matanya ke Rossie.
__ADS_1
BERSAMBUNG...