Just One Feeling

Just One Feeling
Panik!


__ADS_3

Malam semakin larut. Sekretaris Chan mematikan mobil yang dikendarainya tepat di dalam garasi yang luas. Meta turun terlebih dahulu. Disusul oleh Sekretaris Chan.


Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Dengan Sekretaris Chan yang menenteng kantong plastik berisi daun sirih pesanan Nenek Jeje.


Sekretaris Chan membuka pintu rumah tersebut. Lagi-lagi, pintu tidak dikunci.


Terlihat Raditya yang mendengkur pulas di sofa. Mereka berdua menyapukan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada orang lain. Tidak ada tanda-tanda keberadaan yang lainnya. "Lagipula ini sudah larut malam. Semua pasti sudah tidur." Batin mereka berdua masing-masing.


Sekretaris Chan meletakkan kantong plastiknya di atas meja. Ia merogoh ponselnya di sakunya. Terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Raditya.


"Nenek Jeje sudah tidak menginginkan daun sirih. Pulanglah."


Sekretaris Chan menepuk jidatnya kali ini. Ia tidak mengira bahwa dirinya tidak mendengar bunyi notifikasi walau hanya sesaat. Jika ia mendengar bunyi notifikasi sedikit saja, hal kesusahan dalam mencari daun sirih yang masih bertangkai tidak akan pernah terjadi.


Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Begitu pepatah mengatakan.


Sekretaris Chan menyuruh Meta untuk beristirahat di kamar dengan Rossie. Meta mengangguk. Ia juga sudah merasa sangat lelah. Ia masuk ke dalam kamar yang memang sudah disiapkan oleh Andin sejak sore tadi, untuk dirinya dan Rossie beristirahat.


Sekretaris Chan mulai merebahkan badannya di sofa yang memanjang yang satunya lagi. Menatap Raditya yang masih lelap tertidur dengan dengkuran yang masih sama. Sekretaris Chan mulai memejamkan matanya. Lalu beberapa saat, ia menarik garis senyum di bibirnya itu. Ada sesuatu yang tidak biasa, hingga berhasil membuatnya mengulas senyum dalam diam.


Bersama denganmu, Dik Meta, membuat pendengaranku tidak normal.


Ah, benar kata orang. Seseorang akan tuli dan buta karena cinta. jika orang tersebut memang bersungguh-sungguh dalam mencinta.


Sekretaris Chan perlahan membuka matanya. Duduk dalam keheningan yang hanya ditemani dengkuran dari Raditya. Matanya terus terjaga. Tidak ada tanda-tanda dirinya mengantuk dan membutuhkan tidur kali ini. Tidak ada pilihan lain, selain menyalakan televisi. Lalu melirihkan volume suara televisi tersebut, supaya tidak akan ada yang terganggu olehnya.


Sedangkan di kamar. Terlihat Andin, Ziban dan Nenek Jeje yang tengah membentangkan badannya masing-masing. Dengan Nenek Jeje yang berada diantara Andin dan Ziban. Ya, benar sekali. Ditengah.


Dibalik gelapnya malam. Dan gelapnya kamar karena lampu yang dimatikan. Ziban masih membuka matanya dibalik kegelapan.


Setelah beberapa saat dan setelah memastikan Nenek Jeje sudah benar-benar memejamkan mata dan tertidur, Ziban mengangkat suaranya pelan. Bahkan pelan sekali. Lebih tepatnya bisik-bisik.


"Sayang, kau sudah tidur?"

__ADS_1


Tak menunggu waktu yang lama, Andin langsung menjawab pertanyaan Ziban. Itu menandakan, Andin tidak bisa tertidur sama sepertinya. "Bagus!" Ucapnya dalam hati.


Ziban memberi kode pada Andin, untuk segera bangun dan meninggalkan Nenek Jeje yang sudah tertidur. Tak berlama-lama, Andin mengikuti Ziban yang sudah terlebih dahulu berjalan dalam kegelapan.


Dan ketika Andin sudah turun dari ranjang, Nenek Jeje tiba-tiba mengeluarkan suara serak. Ia menyebut nama Andin.


Seketika Ziban menghentikan langkahnya.


Andin kembali merebahkan badannya di ranjang. Hanya saja, posisi Andin kali ini, adalah posisi yang ditempati Ziban tadi.


Ziban akhirnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Ia tentu tidak akan pindah kamar, jika Andin tidak ikut dengannya.


Ia mengambil bantal dan selimutnya. Ia menggelar selimutnya persis berjejeran dengan ranjang bagian Andin merebahkan badannya. Ya, persis dibawah Andin.


Ziban meringkukkan badannya yang hanya beralaskan selimut. Resah. Hal yang kali ini dirasakan oleh Ziban walau beberapa saat telah berlalu.


"Sayang."


"Hemm."


Setelah mendengar sautan dari Andin, ia langsung menarik lengan Andin pelan. Andin sedikit terkejut. Tetapi ia tetap diam saja dan menurut. Ia mengikuti gerakan tangan Ziban yang membuatnya turun dari ranjang dengan pelan.


Ziban mengambil satu bantal lagi untuk Andin. Mereka merebahkan badannya di lantai dengan beralaskan selimut berdua. Saling memeluk erat satu sama lain.


Ziban mengelus-elus manja rambut Andin. Ia mulai meraba-raba bagian yang sangat indah menurutnya. Dua gundukan favoritnya. "Dua bentuk yang terkadang besar satu ini, adalah bentuk terindah yang Tuhan titipkan lewat dirimu, hanya untukku." Ucap Ziban suatu waktu. Dahulu. Ketika pernikahan mereka yang baru berusia beberapa minggu.


Mereka berdua kembali dihanyutkan dengan saling peluk mesra. Kemudian saling kecup-mengecup bergantian.


Hingga berujung pada kenikmatan yang berhasil mereka capai bersama. Atas nama saling cinta dan mencinta. Atas nama saling sayang dan menyayang. Dan tidak lupa, atas nama ibadah dan beribadah. Surga dunia yang kebanyakan orang dambakan.


Kenikmatan yang tak mudah untuk digambarkan. Tak pantas untuk diceritakan. Serta tak mampu untuk dijelaskan. Puncak nikmat yang mereka arungi bersama. Hingga selalu berhasil membuat mereka hanyut dalam lelap yang berbeda. Dalam mimpi yang berbeda. Tapi dalam selimut yang sama.


Jam alarm yang bertempat di meja samping ranjang, berdering keras. Menandakan penghuni kamar tersebut harus lekas bangun. Pagi sudah siap menyambut.

__ADS_1


Andin yang terlebih dahulu membuka mata. Menyadari jam alarm berdering keras. Dan ya, lampu kamar yang sudah menyala.


Suamiku ada disini, lalu siapa yang menyalakan lampu kamar!


Andin memekik dalam hati ketika bola matanya terlebih dahulu menangkap Ziban yang berada dalam satu selimut dengannya. Panik. Tentu tidak ada orang lain yang lebih dicurigai olehnya, selain Nenek Jeje.


Andin tidak berani menyapukan pandangannya kemanapun. Ia masih menatap lurus. Menatap Ziban yang memang tidak berjarak dengan dirinya.


"Mas." (bisik Andin)


Berulangkali Andin berbisik kepada Ziban. Tetapi Ziban tidak bangun dari tidurnya. Kali ini, Andin memencet hidung Ziban. Membuat Ziban supaya susah bernafas. Dan lekas bangun karena kesusahan bernafas.


Dan benar saja. Ziban gelagapan membuka matanya. Andin tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia memberi kode pada Ziban mengenai lampu kamar yang sudah menyala, melalui gerakan matanya dan alisnya yang naik turun.


Ziban langsung memahami kode yang diisyaratkan oleh Andin. Ia lalu memberanikan dirinya menyapukan pandangannya.


Nenek Jeje!


Ia terkejut karena benar perasannya mengatakan. Pandangannya langsung saja mengarah ke ranjang yang memang diungkuri oleh Andin, tetapi tidak dengan dirinya. Yang memang berhadapan dengan Andin.


Terlihat Nenek Jeje yang tengah fokus membaca lembaran kertas yang tengah dipegangnya. Entah lembaran berisi bacaan apa. Yang pasti, Nenek Jeje sangat fokus dalam menatap. Dengan kacamata yang membantu penglihatan sambungannya supaya terlihat jelas.


Ziban memberi kode kembali pada Andin. Bahwa Nenek Jeje sudah bangun. Mereka berdua sempat panik bersama. Tetapi setelah melihat Nenek Jeje yang tengah sangat serius dan fokus dengan dirinya sendiri, akhirnya mereka berdua sepakat untuk langsung ke kamar mandi.


Ziban melilitkan sarungnya sembari masih tetap merebahkan badannya. Sedangkan Andin melilitkan selimut menyeluruh sampai ke leher.


Mereka berdua merangkak beriringan dengan pelan-pelan menuju ke kamar mandi.


Tinggal beberapa rangkakkan lagi sampai di depan kamar mandi, Nenek Jeje tiba-tiba mengeluarkan suara. Mereka berdua sangat panik!


"Kalian berdua sedang apa?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2