
"Istriku ada disini, jadi aku tidak bisa melanjutkan diskusi bersama kalian berdua. Aku memberikan waktu untuk kalian berdiskusi. Banyak yang harus didiskusikan. Sekretaris Chan, aku serahkan padamu. Kau atur segalanya."
Ziban mengucapkan kepada dua sekretarisnya, sembari melirik Andin. Setelah Sekretaris Chan dan Selena mengangguk, Ziban menggandeng tangan Andin. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan Sekretaris Chan menuju ruangan kerja Ziban.
Sekretaris Chan tidak sengaja melihat tatapan Selena yang ditujukan Andin dan Ziban yang sudah keluar dari ruangannya. Ia mengernyitkan keningnya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dengan melihat tatapan mata Selena. Ada sesuatu yang bisa ia rasakan.
"Ada apa Selena?" (tanya Sekretaris Chan)
Selena tersentak dengan pertanyaan Sekretaris Chan. Sekretaris Chan semakin mengernyitkan keningnya. Pertanyaannya itu, bukanlah sesuatu yang sangat mengejutkan hingga akan membuat seseorang tersentak. Kecuali ada sesuatu. Ya, ada sesuatu.
Selena merasakan Sekretaris Chan yang tengah menatapnya lekat-lekat seperti halnya mencari sesuatu didalam dirinya. Ia segera menyadarkan dirinya dan mengendalikan dirinya sendiri pula.
"Ah, mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Aku hanya masih tidak menyangka bahwa Ziban teman dekatku dulu, saat ini sudah menikah,"
Selena sempat menggantungkan kalimatnya. Sekretaris Chan mengartikan semua ucapan Selena dengan sebaik mungkin.
"Astaga, Sekretaris Chan. Apa kau tahu, aku ini teman dekatnya yang perempuan. Dia melangkahiku, dasar."
Selena membuatnya dirinya tertawa di hadapan Sekretaris Chan. Melihatnya tertawa, justru Sekretaris Chan semakin merasakan ada sesuatu.
"Kau cemburu?"
Selena hampir kesusahan menelan salivanya. Berharap Sekretaris Chan memahami maksud ucapannya tadi dengan baik.
"Emm, bukan seperti itu maksudku, Sekretaris Chan." (ucap Selena membantah)
Sekretaris Chan sedikit menarik garis senyum di bibirnya. Kali ini Selena yang mengernyit.
"Tidak apa-apa, Selena."
Selena dibuat tidak percaya dengan jawaban Sekretaris Chan.
"Maksudnya?"
Sekretaris Chan berdiri dari tempat yang tengah didudukinya. Kali ini, ia beralih ke tempat duduknya yang semestinya. Kursi Sekretaris Chan. Mata Selena, terus saja mengikuti gerakan Sekretaris Chan. Masih menunggu jawaban darinya lagi.
"Setelah aku mendengarkan ucapanmu, mungkin posisimu dan kekasihku adalah sama,"
__ADS_1
Apa yang sedang sekretaris ini bicarakan?
Selena memilih untuk diam saja walau ia kali ini benar-benar kebingungan. Dan ah ya, lebih tepatnya mungkin penasaran. Ia tidak tahu, mengapa Sekretaris Chan membuatnya semakin penasaran dengan berucap kalimat yang terus digantungkan.
Sekretaris Chan kembali melanjutkan ucapannya. Sebelumnya, ia tertawa kecil sejenak. Hal yang lucu, yang sangat jarang dianggap olehnya adalah ada, tengah dirasakannya.
"Kau dan Dik Meta, kekasihku sama saja. Sama-sama cemburu kepada teman dekatnya. Dik Meta, bahkan pernah mengatakannya padaku. Bahwa dia sangat cemburu dengan pernikahan tuan dan nyonya muda,"
"Dik Meta pun ingin memiliki pernikahan yang bahagia sama seperti halnya tuan dan nyonya muda,"
"Kau pun sama kan? Aku tahu, walau kau tidak mengucapkannya secara langsung sekalipun, aku memahami maksudnya. Kau dan Dik Meta ku, sama saja. Dasar perempuan."
Sekretaris Chan mengucapkan panjang lebar pada Selena, sembari menggelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan dua perempuan yang tengah dibicarakannya itu. Cemburu dan ingin memiliki kebahagiaan yang dimiliki oleh teman dekatnya, dianggap lucu dan konyol oleh Sekretaris Chan.
Memang benar, standar lucu, memang setiap pribadi memiliki levelnya masing-masing.
Sedangkan di ruangan Ziban. Terlihat Andin dan Ziban duduk di sofa berjejeran. Yang sejak tadi berbicara dan bercerita tidak berhenti-henti. Mereka memang selalu banyak berbicara, jika bersama. Jika, mereka memang terlihat baik-baik saja. Hampir semua hal mereka sematkan dalam obrolan mereka. Hal besar, dan hal kecil sekalipun.
Pasangan yang serasi. Ya, julukan tersebut memang cocok diberikan kepada mereka berdua.
Tiba-tiba Ziban baru menanyakan pada Andin yang datang ke kantor dengan tidak memberitahunya terlebih dahulu. Terutama yang terdapat dibenaknya kali ini adalah, bagaimana Andin sampai ke kantor. Mengingat istrinya tersebut, yang memang lebih suka pesan ojek online.
"Eh sayang, tadi kau kesini naik taksi?" (ucap Ziban)
Andin menggeleng pelan. Ziban yang melihat gelengan Andin pun, sontak saja membulatkan matanya.
"Jadi kau naik ojek lagi?! Sudah kubilang kan, bahwa aku melarangmu!" (ucap Ziban dengan nada tingginya)
Dan mendengar Ziban yang berbicara dengan nada tinggi kepada Andin, yang bahkan Andin belum menjawabnya sepenuhnya, ia mengerucutkan bibirnya. Sembari memainkan ujung kerudungnya.
"Aku menyetir sendiri." (jawab Andin dengan nada rendah)
Seketika Ziban menurunkan dirinya yang duduk disebelah Andin. Kali ini ia berjongkok di hadapan Andin, yang masih terduduk. Ia menatap dan memegang jemari Andin, erat.
"Sayang, kau tidak boleh menyetir sendiri. Kau tahu, aku sangat menghawatirkan dirimu."
Suara Ziban melemah kali ini. Berusaha berbicara lagi pada istrinya, dari hati. Dan berharap, akan sampai di hati pula.
__ADS_1
Andin membalas tatapan suaminya.
"Aku itu sudah lihai menyetir sejak dahulu. Dan kau tahu itu, kan?"
"Iya sayang, aku tahu. Tapi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagaimana? Tentu kita tidak tahu apa yang akan terjadi di jalanan."
"Aku akan berhati-hati, mas."
Ziban menggelengkan kepalanya pelan, dengan mengelus jemari Andin. Tidak menyetujui ucapan Andin.
"Kita tetap tidak akan tahu, apa yang akan terjadi. Jika misal sang sopir atau Sekretaris Chan yang menyetirkan untukmu, maka ada yang akan ku salahkan. Aku akan menyalahkan mereka. Dan karena itulah, aku pun tidak mengizinkan mu menyetir. Karena jika ada hal kecil sekalipun terjadi padamu dijalan, aku tidak akan akan berani memarahi mu. Aku tidak menyukai itu."
"Lalu bagaimana jika kau yang menyetir?" (tanya Andin)
Tak langsung menjawab pertanyaan Andin, Ziban justru bertanya balik pada istrinya tersebut.
"Kau meragukan kepiawaianku dalam menyetir?"
Andin hanya mengangkat satu alisnya. Seperti tidak berminat menjawab pertanyaan Ziban.
"Jika sampai kau kenapa-kenapa walau karena aku yang menyetir sekalipun, aku tetap akan menyalahkan diriku sendiri. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri." (ucap Ziban lagi)
Andin yang melihat Ziban terlihat tidak main-main dalam mengucapkan kalimat tersebut kepadanya, Andin tersenyum manis. Ia mencium pipi kanan dan pipi kiri Ziban. Lalu mengacak-acak rambutnya tak beraturan.
Ziban mendengus kesal. Karena rambutnya saat ini sudah berantakan karena Andin. Tetapi Ziban tentu tidak mengalah begitu saja. Ia menarik kerudung Andin beserta ikat rambut hingga terlepas. Membuat rambut hitam Andin terlihat dan terurai. Andin mendorong badan Ziban. Tidak menerima semua yang dilakukan Ziban padanya.
Ziban menyeringai puas karena merasa telah berhasil membalas Andin. Sedangkan Andin membuang mukanya dari tatapan Ziban.
Ziban mendekatinya lalu memeluknya hangat.
"Maafkan mas, ya?"
Tiba-tiba terdengar pintu ruangan tersebut terbuka. Andin dan Ziban terkejut. Lalu Ziban melepas pelukannya. Mereka berdua menatap siapa yang telah membuka pintu. Andin menatap Ziban yang melihat amarah didalam matanya. Yang ditujukan kepada seseorang yang baru saja membuka pintu ruangannya.
"Heh! Lancang sekali kau. Memangnya ini ruangan umum apa?! Seenaknya saja, kau masuk tanpa mengetuk pintu. Pergi keluar dari kantorku, sana! Jangan kembali lagi!"
Andin menggenggam erat lengan kanan Ziban.
__ADS_1
"Mas..."
BERSAMBUNG...