Just One Feeling

Just One Feeling
Sudah Saya Katakan, Tuan Besar


__ADS_3

Mereka berdua telah sampai di depan rumah Andin. Mereka pun berjalan beriringan hendak masuk kedalam. Rumah terlihat sepi. Menandakan, tak ada yang berkeliaran. Termasuk para pelayan. Meta dan Rossie memahaminya. Karena, keluarga ini memang tengah menghadapi masalah.


Mereka berdua pun memutuskan untuk langsung ke kamar Andin. Ketika mereka berdua sedang berjalan, langkah Meta tiba-tiba terhenti. Rossie menanyakannya.


"Ada apa?"


Tak langsung menjawab pertanyaan Rossie, Meta justru menarik lengan Rossie menjauh dari tempat mereka berhenti. Yang ditarik pun, tentu saja dibuat bingung.


Setelah Meta merasa sudah menjauh, ia segera menjawab kebingungan Rossie.


"Ada Mas Chan disini."


Rossie mengangkat satu alisnya. Ada dua pertanyaan didalam benaknya. Pertanyaan yang pertama, "Bagaimana Meta tahu disini ada Sekretaris Chan, sedangkan aku tidak melihatnya?" Pertanyaan kedua, "Jika iya sekalipun, memangnya apa masalahnya?"


Layaknya mendengar benak Rossie berbicara, Meta menjawabnya tanpa mulut Rossie harus berepot-repot berbicara.


"Aku mencium bau parfum Mas Chan ada di rumah ini."


"Apa kau benar-benar yakin itu adalah parfum Sekretaris Chan?"


Sangat yakin, Rossie. Aroma soft masih teringat jelas dalam memori penciumanku. Saat kemarin. Saat dia memelukku. Dan saat...


"Pantas saja kau sangat yakin dengan bau parfum Sekretaris Chan."


"Apa aku mendengar sesuatu?" (tanya Meta)


"Maksudmu? Kau kan tidak mengatakan apapun."


Meta menghembuskan nafasnya lega. Ternyata, hatinya yang berbicara. Dan tidak diucapkan melalui mulutnya.


"Kau pasti memahami bau parfumnya. Karena kau sangat mencintainya. Tentu saja, kau memahami segalanya." (ucap Rossie lagi)


Meta hanya tersenyum tak berarti. Ia lalu mengatakan pada Rossie, mengapa ia menarik lengannya. Tentu untuk membicarakan sesuatu.


"Kau pergilah menemui Andin terlebih dahulu. Dan jika kau bertemu dengan Mas Chan, bertindaklah seakan-akan kau datang ke rumah ini sendirian saja. Saat ini, aku tidak ingin bertemu dengan Mas Chan terlebih dahulu. Aku akan bersembunyi. Untuk menghindari bertemunya kami berdua. Tolong, Rossie."


Melihat gelagat dari Meta, Rossie langsung mengetahui maksud pembicaraannya. Bahwa, Meta dan Sekretaris Chan sedang bertengkar. Tentu saja. Apalagi jika bukan karena itu. Begitulah pikirnya. Karena setiap pasangan pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri, Rossie menghargai permintaan dari Meta. Ia pun menyetujuinya.


Rossie pun meninggalkan Meta untuk menemui Andin di kamar. Kedua bola mata Meta, celingukan. Tetapi ia rasa, tempatnya tidak cukup aman untuk bersembunyi. Jadi, ia memutuskan untuk bersembunyi di toilet dekat dapur. Itu adalah tempat teraman. Pikirnya. Tentunya ia berjalan dengan pelan-pelan.


Rossie telah sampai didalam kamar Andin. Ia masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Siapa?"


Terdengar suara dari dalam kamar. Itu adalah suara Kumala.


"Rossie, tante."


Pintu pun dibuka oleh Kumala. Rossie dapat melihat Andin yang duduk dengan memegangi kedua lututnya. Dengan rambut yang terurai rapi. Dan menyadari bahwa Kumala tengah memegang sisir di tangan kanannya.

__ADS_1


Dapat disimpulkan, Kumala sedang menyisir rambut putrinya itu. Atau bahkan, sudah selesai menyisirnya.


"Tante Kumala." (ucap Rossie)


Wajah Rossie ragu. Ternyata, setelah melihat keadaan Andin, ia sedikit sungkan berkata banyak. Hanya sedikit.


"Andin masih belum berbicara. Dia tidak mengizinkan semua orang masuk kedalam kamar ini. Oleh karena itulah, pintunya dikunci. Tante harus bertanya dahulu ke Andin, jika ada yang mengetuk pintu. Termasuk kau tadi. Itu pun, hanya dengan jawaban anggukan dan gelengan saja."


Rossie semakin prihatin mendengarnya. Ia yang ingin mendekati dan mencoba berbicara pada Andin pun bertanya kepada Kumala melalui kode darinya. Kumala mengangguk. Jawaban itu sangat cukup untuk dirinya.


Rossie duduk didekat Andin. Memegang kedua tangan Andin yang berpaku dengan lututnya.


"Bicaralah, Ndin. Kami semua ada untukmu. Dan, atas nama Bang Ziban, aku meminta maaf padamu. Tapi menurutku, dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia berhak marah padamu." (ucap Rossie)


"Ehem!"


Kumala berdehem dengan agak keras. Hal itu membuat Rossie menggigit ujung lidahnya sendiri.


......................


"Lepaskan." (perintah Arga)


Lima anak buah Arga melepaskan semua ikatan yang mengikat Sekretaris Chan.


"Sudah saya katakan. Saya mengatakan apa adanya, tuan besar." (ucap Sekretaris Chan)


Arga mengangguk. Menyetujui ucapan Sekretaris Chan.


Arga memberikan berkas yang sengaja ia ambil tadi. Sekretaris Chan menerimanya dan segera keluar dari ruangan kerja Arga. Yang sebelumnya, memang hanya orang terpilihlah yang boleh memasuki.


Sebelum Sekretaris Chan sepenuhnya keluar dari ruangan itu, ia berbalik badan.


"Apa saya boleh menumpang toilet, tuan besar?"


Sebelumnya, Sekretaris Chan tidak perlu meminta izin akan hal itu. Tetapi, kali ini berbeda. Karena rumah itu adalah rumah Arga. Bukan rumah Ziban. Tentu setelah Arga kembali, ia tidak bisa seenaknya seperti sebelumnya.


"Tentu. Kau tahu dimana toilet tamu?" (jawab Arga)


"Tahu, tuan besar."


Sekretaris Chan pun segera berjalan dengan sedikit cepat. Tak dapat dielak, ia tak dapat membendung lagi rasa ingin buang air kecilnya.


Sesampainya di toilet tamu, Sekretaris Chan dihadapkan dengan kekecewaan. Melihat satu pelayan sedang membersihkan toilet.


"Maaf tuan, toiletnya sedang saya bersihkan. Tunggu sebentar, tuan. Saya akan membersihkannya dengan cepat."


Karena sudah tidak tahan lagi, Sekretaris Chan mengibaskan tangannya. Tak mau menunggu.


"Di dekat dapur, ada toilet kan?"

__ADS_1


"Betul, tuan. Tapi itu toilet khusus pelayan."


Untuk kedua kalinya, Sekretaris Chan mengibaskan tangannya. Kali ini bermakna, "Aku tidak peduli."


Ia pun bergegas menuju toilet dekat dapur. Ia memang terlalu lama menahan rasa ingin buang air kecilnya. Itu terjadi karena ia diikat di ruangan kerja Arga tadi.


Ceklek!


Pintu toilet sudah terbuka. Toilet yang cukup luas untuk ukuran khusus pelayan. Ia lalu menutup pintu toilet dan menguncinya dari dalam.


Dan setelah pintu terbuka tadi, ada satu orang yang terlihat sangat shock. Ya, Meta. Ia tengah berdiri di pojok jauh dari pintu.


Ya, Tuhan. Mas Chan!


Ia tiba-tiba takut ketahuan karena kebohongannya pada Sekretaris Chan. Tetapi, ketakutannya sirna seketika. Tergantikan dengan perasaan yang lain.


Apa yang dia lakukan? Aaa, dia buang air kecil didepan mataku.


Meta memejamkan matanya sedalam-dalamnya. Dengan ketegangan yang tak terkira. Ditambah, ketakutannya yang muncul kembali.


Semoga Mas Chan tidak melihatku.


"Dik? Kau disini?"


Deg!


Siap tidak siap, Meta harus membuka matanya. Lalu ia memunculkan ekspresi wajahnya yang cengengesan. Mungkin hal seperti itu terjadi, ketika sudah terlanjur ketahuan berbohong.


"Ah, iya. Aku baru akan mengabarimu, Mas Chan. Ini kejutan untukmu."


Sekretaris Chan terlihat memercayainya begitu saja. Atau lebih tepatnya, tidak memperpanjang.


"Dan, kenapa kau tiba-tiba sudah ada di toilet ini, dik?"


Meta hanya tersenyum kaku. Ia tak mampu memikirkan kata-kata lain yang lebih mudah dicerna. Pikirannya sedang susah untuk diajak berpikir.


"Sudahlah, lupakan." (ucap Sekretaris Chan)


Sekretaris Chan memilih untuk melupakannya. Itu adalah keberuntungan bagi Meta. Tetapi ada satu hal yang Meta lupakan sejak tadi. Ya, tentang pesan Sekretaris Chan tadi pagi.


Hanya hitungan beberapa detik, tubuh Meta sudah sepenuhnya dalam pelukan Sekretaris Chan. Aroma soft dari Sekretaris Chan, membuat hatinya tenang dan melupakan segalanya dengan seketika.


"Mas Chan."


"Hemm."


Sekretaris Chan hanya bergumam menjawab panggilan dari Meta. Ia terlihat menikmati pelukannya.


"Apa kau belum menutup resleting celanamu?" (tanya Meta)

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2