Just One Feeling

Just One Feeling
Kau Adalah Satu Cintaku


__ADS_3

Berbulan-bulan telah berlalu. Menghadirkan kisah yang baru. Dengan kebahagiaan yang memburu. Rossie dan Raditya telah bertunangan cukup lama. Tinggal satu bulan lagi, pernikahan akan berlangsung. Semua keluarga berbahagia akan kabar pernikahan mereka.


Siang hari yang cerah, terlihat Rossie dan Raditya yang turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam kantor Ziban. Dengan membawa setumpuk sample undangan. Mereka ingin membicarakannya dengan Ziban.


Sesampainya mereka berdua di ruangan Ziban, mereka langsung masuk ke dalam. Mereka memang sudah mengatakan pada Ziban, akan menemuinya di kantor. Ziban tengah menyibukkan diri dengan berkas-berkas.


Rossie dan Raditya melihat Sekretaris Chan yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.


"Apa kalian membutuhkan sesuatu?" (tanya Sekretaris Chan)


Ia memang tidak mengetahui alasan mengapa mereka berdua datang ke kantor. Oleh karena itu, ia berhak menanyakannya. Karena, ia sekretaris pribadi Ziban.


"Ehem."


Raditya berdehem. Sembari mengangkat tinggi-tinggi setumpuk sample undangan yang ada ditangannya.


"Kami bertiga, akan memilih undangan yang bagus untuk pernikahan aku dan Rossie. Ya, hanya kami bertiga saja. Tidak ada sangkut pautnya dengan orang luar. Apalagi, dengan sekretaris."


Sekretaris Chan tak mengambil hati ucapan Raditya. Setelah mengetahui tujuan datangnya Rossie dan Raditya, Sekretaris Chan pun berbalik badan hendak keluar dari ruangan tersebut. Karena, ia masih memiliki pekerjaan lain.


Tetapi, Rossie menghentikannya. Dengan lontaran pertanyaan darinya.


"Apa kau juga akan segera menikah dengan Meta, Sekretaris Chan?"


Ziban yang sejak tadi sibuk dengan berkasnya pun, berhenti. Ia juga penasaran dengan jawaban Sekretaris Chan.


"Saya..."


"Ah, dia itu tidak normal, beb."


Raditya memontong ucapan Sekretaris Chan.


Walau Raditya terbiasa seperti itu padanya, tetapi Sekretaris Chan kali ini merasa beruntung karena Raditya memotong ucapannya. Dan ada sedikit rasa kesal pada Raditya di dalam diri Ziban. Karena Raditya lah, Sekretaris Chan tak mengatakan jawabannya.


Akhirnya, Sekretaris Chan keluar dari ruangan itu. Dan sebelum Sekretaris Chan benar-benar jauh dari ruangan itu, Raditya sempat berteriak padanya.


"Dasar sekretaris tidak normal."


Rossie menyikut lengan Raditya.


"Sudah beb!"


"Haha, biarkan saja beb. Dia adalah manusia teraneh yang pernah aku ketahui."


Setelah selesai menyibukkan diri dengan berkasnya, Ziban memerintahkan pada Rossie dan Raditya untuk duduk didepannya.


Mereka bertiga pun, mulai berdiskusi untuk memilah milih undangan yang bagus versi mereka. Rupanya, mereka bertiga pun memiliki selera masing-masing. Yang tentunya, selalu dikomentari oleh yang lain jika salah satu menunjukkan pilihannya.


Setelah beberapa saat melalui pro dan kontra, akhirnya mereka sudah memutuskan undangan mana yang akan mereka pilih untuk pernikahan Rossie dan Raditya.


"Baiklah bang, kami akan langsung pulang saja." (ucap Rossie)


"Tunggu."

__ADS_1


"Ada apa kakak ipar?" (tanya Raditya)


"Pernikahan kalian berdua, akan diadakan bersamaan dengan nikah massal karyawan di kantor ku, ini ya? Apa kalian setuju?"


Seketika kedua mata Raditya membulat.


"Apa kau sudah kehilangan akal?! Aku mampu menyelenggarakan pernikahan yang sangat mewah. Dan aku bahkan sudah berniat akan mengambil foto prewedding di atas menara Eiffel."


"Mungkin maksudmu, di menara Eiffel, beb. Bukan di atas menara Eiffel." (ucap Rossie)


Raditya mengibaskan tangannya.


"Di menara Eiffel itu sudah biasa. Jika di atas menara Eiffel, itu baru luar biasa, beb. Foto prewedding kita, akan menjadi obrolan hangat dunia selama dua puluh tahun mendatang."


"Pernikahan massal yang aku adakan, juga akan mewah. Dan mengenai kalian yang akan mengambil foto prewedding di atas menara Eiffel, itu tidak masalah. Kalian tetap akan menikah di pernikahan massal." (ucap Ziban)


"Sudahlah beb. Tidak apa-apa. Lagipula, kau bisa menghemat pengeluaran." (ucap Rossie)


"Aku kaya. Aku punya banyak uang. Aku tidak perlu menghemat apalagi karena nikah massal. Benar-benar dibawah levelku!"


Astaga, kenapa aku harus mempunyai calon kakak ipar sinting sepertinya.


......................


Hari sebelumnya...


"Kebahagiaan, menghampiri kita cukup banyak akhir-akhir ini. Dan aku juga bahagia karena Rossie akan segera menikah." (ucap Andin)


Ziban menyisir rambutnya sambil bercermin. Dengan tetap mendengarkan istrinya. Yang sejak tadi, tak henti-hentinya mengungkapkan kebahagiaan yang menyelimutinya.


Andin tersenyum mendengar ucapan Ziban. Yang rupanya, sama-sama merasakan kebahagiaan.


"Papah dan mamah sangat bahagia dengan kelahiran anak kedua mereka. Benar kan, mas?"


Ziban meletakkan sisirnya. Lalu ia hendak pergi keluar kamar. Tanpa menjawab ucapan Andin. Karena menyadari, ponsel Ziban tergeletak diatas ranjang, Andin pun mengatakannya.


"Kau lupa membawa ponselmu, mas."


"Sebelum berangkat ke kantor, aku akan menemui adik kecil terlebih dahulu."


"Eh, kenapa kau terlihat sangat bersemangat menemuinya?"


"Memangnya kenapa? Dia kan adikku juga."


Ucap Ziban tanpa menunggu Andin menjawabnya lagi. Andin menyusul Ziban sambil tersenyum.


Ziban mengetuk pintu kamar Arga dan Kumala. Arga yang membuka pintunya. Setelah melihat Andin dan Ziban datang, Kumala dan Arga keluar dari kamar mereka.


"Bagus sekali. Kalian datang. Sekarang, jaga adik kalian, ya? Mamah dan papah akan sarapan pagi terlebih dahulu. Kami sudah lapar." (ucap Kumala)


Mereka memang sengaja memberikan waktu kepada Andin dan Ziban untuk menemui bayi kecilnya. Mereka tahu, semakin sering Andin dan Ziban dekat dengan bayi tersebut, maka jiwa kesiapan mempunyai anak akan semakin tinggi.


Ziban masuk terlebih dahulu. Andin menutup pintu kamar tersebut. Perlahan, Ziban naik ke atas ranjang. Mencium kening dan pipi adik mereka.

__ADS_1


"Kau tahu, mas? Adikku ini, sangat tampan. Dia terlihat seperti putra raja."


Andin ikut naik ke atas ranjang. Mereka berdua mengapit adik mereka yang ada ditengah.


"Ya, tentu saja. Dia mengikuti jejakku. Sangat tampan. Aku yakin, pada saat mamah Kumala hamil, dia mengangumi ketampanan menantunya ini. (ucap Ziban membanggakan diri)


"Darimana kau tahu?"


"Itu sudah pasti."


"Baiklah. Nanti aku akan menanyakan tentang hal ini, kepada mamah."


Ziban lalu memegang tangan Andin.


"Jangan kekanak-kanakan seperti itu, sayang. Aku hanya bercanda."


Andin menahan tawanya. Melihat, adik kecilnya masih memejamkan matanya. Ia tak mau, karena dirinya tertawa, adiknya akan terganggu.


"Lihatlah, kau menurunkan hobi tidurmu kepada adik kita. Sudah jam berapa ini? Dia masih tetap tidur."


Andin tiba-tiba diam saja. Ia melihat kebahagiaan yang terpancar jelas di mata Ziban. Kesedihan akan dirinya yang belum juga hamil, mengganggu dirinya. Ziban terlihat sudah sangat siap menjadi seorang ayah. Sedangkan dirinya, masih belum dapat memberinya anak.


"Kau sedih karena ucapanku?" (tanya Ziban)


Andin menggeleng. Ia lalu duduk di samping ranjang. Ziban mengikutinya.


"Mas."


Melihat Andin yang tiba-tiba serius, Ziban terus menatap wajahnya.


"Apa kau tidak ingin menikah lagi?"


Bola mata cantik itu, mulai berkaca-kaca. Sangat berat dalam mengucapkannya. Tetapi, ia juga terganggu akan kesedihan.


"Apa yang kau katakan?"


Ziban mengerutkan keningnya. Tidak menyukai pertanyaan Andin.


"Aku belum bisa membuatmu menjadi seorang ayah. Dan mungkin saja jika kau..."


Shut!


Jari telunjuk Ziban menempel di bibir manis Andin.


"Aku sudah mengatakan. Jangan kekanakan seperti ini. Jika dalam hal ini, kita belum mempunyai anak karena aku yang bermasalah, lalu aku menyuruhmu untuk menikah lagi, apa kau akan melakukan hal itu?"


Andin menangis sembari menggelengkan kepalanya cepat.


"Kau tahu, diantara kita berdua, sama-sama tidak memiliki masalah. Semua sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kita akan tetap bersama, hingga maut memisahkan. Setuju?"


Andin mengangguk. Lalu memeluk Ziban erat. Ziban memejamkan matanya. Mengelus kepala Andin dengan penuh rasa sayang.


Kau adalah satu cintaku. Bersanding denganmu, adalah kebahagiaanku. Dipisahkan darimu, adalah kematian terbesarku.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2