
"Heh? Aku suaminya." (ucap Ziban lirih)
Semua menatap Dokter Ferana. Dan yang ditatap pun, menyadarinya.
"Ada apa?" (ucapnya)
"Dokter Ferana, Nyonya Andin adalah istrinya tuan muda."
Sekretaris Chan menjelaskan. Dokter Ferana mendengarkan Sekretaris Chan dengan raut wajah yang tidak bermakna. Biasa saja. Lalu, ia tersenyum kepada semuanya. Akan menjelaskannya.
"Yang sedang hamil itu Bu Kumala. Dan mengenai Bu Andin, dia tidak sedang hamil."
Mendengarkan penjelasan Dokter Ferana, semua terkejut. Sebuah jawaban yang tidak disangka-sangka oleh siapapun. Bahkan, bagi Arga dan Kumala sekalipun. Siapa sangka, mereka yang sengaja pulang ke rumah lebih awal untuk mendengarkan kabar baik dari dokter untuk putrinya, justru Kumala lah yang sebaliknya.
"Aaaa mamah, akhirnya aku akan punya adik."
Andin beranjak dari baringan nya dengan penuh semangat. Ia memeluk Kumala dengan gemas dan penuh kasih sayang. Semua yang ada di kamar itupun, mengucapkan selamat pada Kumala dan Arga. Mereka benar-benar turut berbahagia atas kabar baik tersebut.
Ziban meminta Dokter Ferana mengikutinya untuk keluar dari kamarnya itu.
"Mungkin hasilnya tertukar dok. Coba kau cek sekali lagi."
Dokter Ferana merasa diposisi yang tidak enak untuk berbicara. Ia tahu, laki-laki di hadapannya itu memang terlalu mengharapkan harapannya itu. Jadi, ia memutuskan hanya untuk menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban atas pertanyaan Ziban.
Ia berusaha menjelaskan padanya, lewat gelengan kepalanya itu. Bahwa, ia memastikan hasilnya tidak tertukar.
"Tapi dok, istriku tadi siang ngidam jambu air. Oleh karena itulah, aku memanggilmu kesini. Hanya untuk memberikan kabar baiknya untuk kami berdua."
"Eh, tapi bukankah ini kabar baik juga? Ibu mertua anda hamil."
Ziban melengoskan wajahnya. Guratan kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Dokter Ferana merasa tidak enak hati atas ucapannya tadi.
"Tenanglah, pak. Kalian berdua harus tetap berusaha. Yakin bahwa, kabar baik itu, akan kalian dengar secepatnya."
Ia tersenyum. Berusaha meneguhkan hati Ziban. Berusaha membuatnya sadar, akan kesempatan dan waktu yang masih banyak.
Dan yang ada dibenak Ziban kali ini, adalah panggilan "pak" untuk dirinya. Terasa aneh dan asing ditelinganya. Tetapi ia menyingkirkan hal yang tidak perlu dipikirkan olehnya itu. Ziban hanya menanggapi dengan satu anggukan. Lalu ia dan Dokter Ferana kembali masuk ke dalam.
Jam berlalu begitu cepat. Semua yang datang ke rumah tersebut, telah pulang semuanya. Tentunya, setelah makan malam bersama. Semuanya baru dibolehkan pulang oleh Kumala, setelah perutnya terisi.
Dan akhirnya semua pun hanya bisa menurut saja. Begitupun dengan Ziban. Hatinya, sebenarnya tengah benar-benar tidak baik. Tetapi, ia menghormati perintah mertuanya itu.
Jam menunjukkan pukul 23.15. Hanya ada kegelapan Andin dan Ziban. Tidak biasanya. Benar-benar tidak biasanya. Ziban mematikan semua lampu termasuk lampu yang biasa menemani mereka dalam keremangan.
Andin berkali-kali berpindah posisi baringan nya. Mencari tempat yang nyaman untuk menghantarkan dirinya ke alam bawah sadar secepatnya. Tetapi tidak. Ia sepertinya terlihat susah, gundah, dan gelisah.
__ADS_1
Ditambah, kamarnya itu yang penuh gelap gulita. Dadanya rasanya sedikit sesak, layaknya kehabisan oksigen.
Aku tidak bisa tidur jika gelap sekali seperti ini.
Andin menyalakan lampu remang-remang didekat ranjangnya itu. Lalu ia dapat melihat dengan jelas, Ziban yang tidur miring mengungkurinya.
"Mas, kau sudah tidur?"
Beberapa saat, tak ada jawaban sekalipun dari seseorang yang diajak berbicara olehnya. Ia pun mendengus kesal. Mengingat dirinya yang entah mengapa susah tidur. Tiba-tiba, ia baru merasa Ziban tengah marah padanya.
"Mas, kau marah padaku, ya?"
"Huah!"
Andin membalikkan badannya. Ikut mengungkuri Ziban. Saling bertolak belakang. Ziban membuka matanya. Ia memang hanya berpura-pura tertidur saja. Sejatinya, rasa kantuknya bahkan tak kunjung menghampirinya.
Rasa kasihan melihat Andin yang kesusahan tertidur pula, membuatnya akan mengangkat suara.
"Pejamkan matamu. Jika tidak, bagaimana kau bisa tidur." (lirihnya)
Andin menyipitkan matanya. Rupanya, suaminya itu memang belum tidur. Dan rupanya, Ziban tahu bahwa dirinya tidak berusaha menutup matanya untuk tidur. Andin membalikkan badannya. Begitupun dengan Ziban.
"Kau marah karena aku tidak hamil, kan?"
Ziban menggelengkan kepalanya. Andin dapat melihatnya dengan jelas.
Ziban tersenyum dibalik remangnya cahaya, dan menggeleng kembali. Lalu mengecup kening istrinya itu.
Bagaimanapun, ia memang tidak marah pada siapapun. Ia hanya tengah dipatahkan dengan ekspektasi indahnya. Itu saja.
Berbanding terbalik dengan suasana di kamar Andin dan Ziban. Di kamar Kumala dan Arga, cahaya masih terpancar didalam kamar mereka. Cahaya yang terlihat indah ketika terpantul didinding dan seluruh kamar. Rupanya cahaya yang indah pun terlihat pula di wajah sepasang suami istri itu.
Bagaimana tidak. Mereka tengah merasakan kebahagiaan yang tidak mereka duga-duga sebelumnya. Kejutan yang sangat luar biasa.
Kumala dan Arga masih saling tersenyum. Sesekali mengobrol tiada hentinya. Menyiratkan kebahagiaan yang tengah membanjiri mereka. Tiba-tiba, Kumala diam sesaat. Arga yang menyadarinya pun, langsung bertanya.
"Kenapa?"
"Semoga Andin juga akan segera hamil ya, pah."
Arga mengangguk-angguk sembari mengamini dalam hati, ucapan Kumala. Ia memang sempat melihat, ekspresi Ziban pada saat mengetahui yang hamil adalah Kumala bukanlah Andin.
"Semoga saja, mah. Pasti papah akan sangat bahagia melihat istri dan putri papah hamil bersamaan. Kalian berdua, pasti akan sama-sama manja."
Kumala dan Arga tersenyum membayangkannya. Mereka pun terlihat menaruh harap dengan obrolan mereka itu.
__ADS_1
Matahari telah terbit. Pagi yang cerah sangat membahagiakan bagi siapapun yang menikmatinya. Tak pernah bosan manusia yang bersyukur akan selalu mengagumi semua ciptaan Tuhan. Semua ciptaannya yang berada pada tempatnya dengan elok. Singkat cerita, pilihan Tuhan memang selalu akan menjadi yang tepat dan terbaik. Apapun itu.
"Pagi ini terlihat sangat cerah."
Ucap Kumala sembari melihat keluar jendela kamarnya. Arga memeluknya dari belakang.
"Ya, sama seperti wajahmu."
Kumala tersenyum mendengar ucapan Arga. Ia selalu bahagia ketika Arga memujinya. Bahkan mungkin saja, semua perempuan di dunia.
Kumala memejamkan matanya. Ia benar-benar menikmati pelukan hangat dari Arga.
"Mah, pah, ayo kita sarapan bersama."
Kumala menyikut Arga dengan pelan.
"Iya sayang, mamah dan papah akan turun."
Di meja makan, Andin dan Ziban tengah duduk menunggu Kumala dan Arga turun untuk sarapan. Sekretaris Chan tiba-tiba muncul.
"Maaf tuan muda, saya datang menganggu sarapan kalian,"
Belum selesai Sekretaris Chan berbicara, Andin memotongnya. Ia meminta Sekretaris Chan untuk duduk dan sarapan bersama. Sekretaris Chan menggelengkan kepalanya dengan arti menolak. Ziban yang melihat tolakan darinya, sontak berbicara.
"Sudahlah, sayang. Dia tidak memakan makanan lezat seperti dirumah ini. Seleranya sangat rendahan."
Sekretaris Chan seketika merasa tidak dalam posisi yang menyenangkan. Setelah mengetahui Ziban terlihat kesal.
"Tidak, nyonya muda. Sebenarnya saya sudah sarapan dengan Dik Meta."
"Di kosnya? Kau datang ke kosnya sepagi ini?" (tanya Andin)
Sekretaris Chan hanya diam saja. Dan dengan kediamannya itu, berarti adalah iya.
"Sudahlah, sayang. Tidak usah terkejut seperti itu. Lagipula, laki-laki yang baik di dunia hanyalah suamimu ini." (ucap Ziban)
Kumala dan Arga sudah sampai di meja makan. Sekretaris Chan segera berbicara melanjutkan ucapannya yang terpotong.
"Ada hal yang sangat penting yang perlu saya bicarakan."
Ziban melipat kedua tangannya didepan dada. Seakan menunggu ucapan Sekretaris Chan. Sekretaris Chan terlihat tidak yakin untuk mengatakannya. Tetapi dia memang harus mengatakannya.
"Dua ibu-ibu paruh baya tengah menunggu anda di depan gerbang. Mereka memaksa ingin menemui anda."
Mendengar ucapan Sekretaris Chan, bukannya terlihat khawatir, justru Andin terlihat kesal pada Ziban. Ziban yang menjadi sorotan empat pasang mata, seketika mengelus punggung tangan Andin.
__ADS_1
"Sayang, mereka berdua hanya ibu-ibu." (ucapnya lirih)
BERSAMBUNG...