
Satu bulan kemudian. Suasana di aula gedung tempat diadakannya pernikahan massal, begitu ramai. Tamu undangan yang mulai berdatangan, dan para mempelai wanita dan laki-laki sudah mulai bersiap-siap semua.
Tak terkecuali Rossie dan Raditya. Mereka tengah di rias di ruangan yang berbeda dengan calon mempelai lain. Ruangannya begitu luas. Andin dan Ziban pun berada di ruangan tersebut. Melihat Rossie dan Raditya bersiap-siap.
"Malang sekali nasibku ini. Menikah sekali seumur hidup, dan menikah di pernikahan massal. Huah!" (ucap Raditya mengeluh)
Andin dan Rossie menertawai Raditya yang tak berhenti mengeluh sejak ia menyetujui untuk menikah di pernikahan massal yang Ziban adakan. Ia menyetujuinya, setelah semua membujuk rayunya. Ia tak memiliki pilihan lain, selain mengiyakan saja. Itupun ia lakukan, karena ingin menikah dengan Rossie.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Ziban diam-diam tersenyum geli. Keluhan Raditya yang selalu ia dengarkan hampir di setiap harinya. Ziban justru menganggapnya kekonyolan. Awalnya, ia sejujurnya hanya bercanda. Yang menyuruh Rossie dan Raditya untuk menikah di pernikahan massal yang ia adakan.
Tetapi, ia tak menyangka. Jika semua justru mendukungnya. Semua menganggap, Rossie dan Raditya akan sangat menyukseskan acara pernikahan massal.
Ziban sejak tadi, terus memandangi pintu. Sepertinya, ia tengah menunggu seseorang yang dinanti.
Nah, itu mereka.
Meta dan Sekretaris Chan melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan beriringan. Semua memandang kedatangannya.
"Hai, Meta. Apa kabar? Semoga baik-baik saja. Kau masih betah dengan Sekretaris Chan? Ah, sayang sekali. Kau mungkin tidak akan pernah diajak menikah olehnya. Dia tidak memiliki cita-cita untuk menikah. Dia itu tidak normal."
Ucap Raditya sembari menunjuk-nunjuk ke arah Sekretaris Chan.
"Hai, Raditya. Dengar-dengar, kau akan mengadakan resepsi pernikahan yang sangat mewah sendiri. Dan dengar-dengar, pernikahan massal seperti ini, sangat dibawah level mu."
Untuk pertama kalinya, Sekretaris Chan berani menyinggung perasaan Raditya. Biasanya, ia tidak pernah memperdulikannya. Raditya pun dibuat bungkam dengan jawaban Sekretaris Chan.
"Cepat bersiap-siap." (ucap Ziban)
Ziban memerintahkan kepada Meta dan Sekretaris Chan. Andin, Rossie, dan Raditya bertanya-tanya.
"Bersiap-siap untuk apa, mas?" (tanya Andin)
"Bersiap-siap untuk menikah." (jawab Ziban ringan)
Semuanya terkejut dengan ucapan Ziban. Mereka seketika menatap Meta dan Sekretaris Chan. Wajah Meta terlihat tersipu malu. Sedangkan Sekretaris Chan tersenyum walau hanya sedikit.
__ADS_1
Andin berlari ke arah Meta.
"Apa benar kau akan menikah?!"
Ucapnya sembari mengguncang-guncangkan tubuh Meta. Meta pun mengangguk mantap lalu tersenyum manis. Ia terlihat sangat bahagia.
"Aaa, Meta. Aku sangat senang mendengarnya."
Andin memeluk Meta dengan gemas. Kabar yang tiba-tiba itu, membuatnya sangat terkejut dan juga bahagia. Dengan hubungan Meta dan Sekretaris Chan yang akhirnya menikah, tentu Meta tidak perlu bekerja keras lagi.
Terimakasih Tuhan. Semoga ini adalah awal kebahagiaan Meta sahabatku.
Rintihnya dalam hati. Setelah merasa puas menyalurkan kebahagiaan lewat pelukan, ia lalu melepasnya.
"Selamat ya, Met. Kita akan menikah di hari, di tempat, dan di acara yang sama." (ucap Rossie tersenyum)
Meta mengangguk. Tak ada kata-kata lagi, yang mampu mewakili perasaan bahagianya.
"Ah, ya Tuhan, sungguh lengkap rasanya hari ini."
Raditya menguap lebar. Kejutan menikahnya Meta dan Sekretaris Chan di pernikahan massal, membuatnya terkejut tak terkira. Tetapi, keterkejutannya itu, tak bermakna luas. Artinya, tak membuatnya bahagia, pun tak membuatnya bersedih.
Andin menatap Ziban dengan tatapan tidak suka. Ia berfikir, seharusnya Ziban membicarakan padanya. Karena seperti ini, sangat tidak adil baginya.
"Sayang, ini atas permintaan dari Sekretaris Chan. Dia ingin memberikan sedikit kejutan. Katanya."
Jawab Ziban membela dirinya. Dan faktanya, pada dasarnya itu memang permintaan Sekretaris Chan. Dan ia mengiyakan, karena berfikir, ide Sekretaris Chan sangat menarik.
"Wow Sekretaris Chan. Kejutan mu memang sukses. Tetapi, apa kau tahu? Gara-gara kejutan mu ini, aku tidak membelikan hadiah apapun untuk kalian. Terutama untuk Meta. Kau tahu kan? Dia itu sahabatku. Dan di hari pernikahannya, aku tidak memberinya hadiah istimewa."
"Maaf nyonya muda." (jawab Sekretaris Chan)
"Sudahlah, Ndin. Itu tidaklah masalah. Lagipula, kau kan bisa memberikan aku hadiah istimewa besok-besok kan? Aku pasti akan menerimanya."
Meta menunjukkan deretan giginya. Tiba-tiba Andin merasa, Meta adalah Meta yang dulu ia kenal. Dengan mengatakan hal tersebut, Andin senang mendengarnya. Itu artinya, Meta akan kembali menjadi pribadi yang riang dan menyenangkan. Tidak banyak diam seperti kemarin-kemarin lamanya.
__ADS_1
"Haha, sahabatku sudah kembali ke jalan yang benar." (ucap Andin menggoda)
Ziban kembali mengatakan pada Meta dan Sekretaris Chan untuk bersiap-siap. Dengan semua yang sudah disiapkan tentunya. Mereka berdua tinggal memakainya, dan dirias oleh make up artist professional.
"Baiklah. Aku dan istriku akan ke depan. Menyambut para tamu yang datang." (ucap Ziban)
Meta dan Sekretaris Chan mulai bersiap-siap. Rossie dan Raditya pun masih belum sepenuhnya siap. Mereka berada di ruangan yang sama. Sedangkan Andin dan Ziban sudah terlihat menyambut tamu-tamu.
"Mas, itu dokter Ferana dan dokter Ferdian."
Bisik Andin di telinga Ziban, karena musik romantis yang bervolume keras di putar di aula tersebut. Ziban melihatnya, dan mengangguk. Mereka berdua pun berjalan menuju ke arah meja dokter Ferana dan dokter Ferdian. Dan tak lupa, Ziban memutarkan tangan kanannya ke pinggang Andin. Senyum merekah mereka terus terhias selama mereka berjalan beriringan. Membuat siapapun yang melihatnya, akan iri. Dengan pasangan yang selalu romantis itu.
"Wah, pasangan terbaik menyambut kita." (ucap dokter Ferdian)
"Benar sekali. Aku setuju. Mereka membuat mata yang melihat, menjadi iri." (jawab dokter Ferana)
Andin dan Ziban tersenyum malu. Tetapi, mereka segera mengontrol wajahnya.
"Senang bertemu denganmu, dokter Ferdian."
Ziban memeluk dokter Ferdian kayaknya sahabat. Dokter Ferdian memang pernah berjasa besar bagi dirinya waktu itu. Dan jasanya itu, tak akan pernah Ziban lupakan.
Yang dilakukan Ziban, juga Andin lakukan pada dokter Ferana. Ia memeluk dokter Ferana.
"Kami sangat senang, disambut oleh Pak Ziban dan Bu Andin. Selaku, penyelenggara acara pernikahan massal ini. Acaranya sangat mewah. Ini adalah pernikahan massal luar biasa yang pernah saya lihat. (ucap dokter Ferana sembari menyapukan pandangannya ke sekeliling)
"Ya, benar. Acara ini sangat mewah." (dokter Ferdian menyetujui)
"Tentu saja. Ini bukan hanya pernikahan massal biasa. Tetapi, adikku dan Sekretaris Chan juga akan menikah disini. Tentu aku tidak akan mengecewakan mereka." (ucap Ziban)
Andin bertanya-tanya dalam hati mengapa dokter Ferana dan dokter Ferdian tidak terkejut mendengar nama Sekretaris Chan disebut sebagai mempelai.
"Sayang, semua kerabat Meta dan Sekretaris Chan bahkan sudah diundang. Kami hanya menyembunyikannya darimu, Rossie, Raditya, dan keluarga kita. Dan aku katakan lagi, ini ide Sekretaris Chan."
Ziban berbisik menjawab kegelisahan Andin sebelum Andin bertanya padanya.
__ADS_1
Sekretaris Chan itu, benar-benar ya. Pertama kalinya, dia bertindak tidak jelas seperti itu. Ah sudahlah, yang terpenting, hari ini, Sekretaris Chan akan menikahinya.
BERSAMBUNG...